
Setelah menjalankan perawatan selama dua minggu, Nana diizinkan pulang oleh dokter dengan syarat harus istirahat total dan memberi kesempatan pada Nana untuk memberi keputusan mengenai operasi nya. Nana masih menyembunyikan semua yang ia alami dari Imam. Nana tidak tahu harus bicara apa kepadanya sementara pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi.
“Na............sebaiknya kamuberitahu Imam”. Kata mama
“Nana harus bilang apa ma? Nana gak sanggup untuk mengatakan semua nya”. Jawab Nana
“Hidup itu sebuah pilihan sayang..............mau atau pun tidak, kita harus tetap memilih”. Sambil terus menciumi kening Nana
“Kring..................”. Handphone Nana berbunyi
Mama mengambilnya dari atas meja yang ada di dalam kamar Nana.
“Imam”. Kata mama
“Jawab sayang, mungkin ini waktu yang tepat untuk berkata jujur pada nya”.
Nana hanya dapat meneteskan air mata, sungguh kebingungan menyelimuti pikiran Nana saat itu.
“Sayang.............., bicaralah. Kamu pasti bisa!”. Mama terus menyemangati Nana
Nana mengambil handphone nya dengan tangan gemetar, air mata terus mengalir di pipi nya begitu juga dengan mama.
“Halo, assalamu’alaikum mas”. Nana memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari Imam
“Wa’alaikum salam. Kamu kenapa Na? Ko nangis?”. Tanya Imam
Nana memejamkan mata nya dan menarik nafas dalam berusaha menenangkan diri nya sendiri.
“Ada yang ingin Nana bicarakan mas”. Suara nya terbata-bata
“Iya, katakan Na”. Jawab Imam
“Nana mohon maaf jika ini menyakitkan mas dan keluarga. Nana memutuskan untuk mundur dari pernikahan
kita”. Nana memberikan handphone nya pada mama dan dia pun menangis sejadi-jadi nya.
“Halo Na, apa mas gak salah dengar? Kamu bicara apa? Bagaimana bisa kamu bicara demikian sedangkan pernikahan kita minggu depan. Kamu bercanda kan? Na, please.............jawab mas”. Suara Imam penuh kepanikan dan bingung
“Nak Imam, ini ibu”. Kata mama
“Maafkan Nana dan maafkan kami semua. Ini terpaksa Nana lakukan demi kebaikan kalian”.
“Apa maksud nya bu? Kami di sini sudah mempersiapkan semua nya. Kenapa tiba-tiba Nana mundur. Apa salah saya?”.
“Maafkan ibu karena tidak dapat menjelaskan semua nya. Jika kamu bersedia, datang lah ke Jakarta. Nanti kamu
akan tahu alasan Nana”. Mama menutup telepon nya
“Bu? Halo bu?”.
Imam mencoba menghubungi Nana berkali-kali namun hanya suara operator yang terdengar.
“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Coba lah beberapa saat lagi (The number you are calling switch off, please try again later)”. Begitulah suara yang terdengar setiap kali Imam menghubungi Nana.
“Ya Allah.......apa yang terjadi pada Nana”. Gumam Nana
Keesokan hari nya, Imam berangkat ke Jakarta untuk menemui Nana dan keluarga nya dan mencari tahu
apa yang sebenarnya yang sedang di alami oleh Nana. Hati penuh kegelisahan dan sejuta pertanyaan yang akan ia sampaikan pada calon pengantin nya itu. hingga pada akhirnya, perjalanan pun berjalan dengan lancar dan kereta mengantakan Imam sampai tujuan dengan aman.
Sampai di Jakarta, Imam segera menuju rumah Nana.
“Assalamu’alaikum............... Na........... Buk.............”.
Imam mengetuk pintu berkali-kali namun tidak ada satu orang pun yang menjawab salam Imam. Imam mencoba untuk menghubungi Nana, namun handphone nya tidak aktif.
“Ya Allah...........apa yang terjadi? Semoga kamu baik-baik saja, Na”. Imam duduk lemas di teras depan rumah sambil menunggu kedatangan Nana.
Imam menyandarkan tubuhnya di kursi kayu depan rumah, seraya melepas lelah hingga tertidur. Waktu terus berputar dan Nana pun tidak kunjung datang, beberapa jam kemudian, mama pulang untuk mengambil beberapa pakaian untuk Nana.
“Nak Imam?”. Tanya mama
“Astaghfirullah........... ibu?”. Imam terbangun, bola matanya terus bergerak mencari Nana.
“Nana dimana bu?”. Tanya Imam
“Kamu pasti cape dan haus, mungkin juga lapar. Ibu siapkan makanan dulu ya. Istirahat aja dulu”. Jawab ibu santai seperti tidak terjadi sesuatu.
“Nana dimana bu?”.
Pertanyaan Imam tidak di hiraukan oleh mama, mama segera menuju dapur menyiapkan makanan dan minuman untuk Imam. Selang beberapa menit, ibu kembali menemui Imam di teras dengan membawa semangkuk mie rebus dan teh hangat.
“Di makan dulu mie rebusnya. Sudah satu minggu ini ibu sibuk sekali, bapak dan juga Nana. Sehingga
ibu tidak sempat belanja kebutuhan dapur, jadi hanya ada mie di lemari. Di makan ya...............”. Kata mama
“Baik buk. Oh iya, sedari tadi saya bertanya tentang Nana, tetapi ibu seperti mengalihkan pembicaraan. Nana baik-baik aja kan bu?”. Tanya Imam sambil mencicipi mie rebus buatan mama
“Dihabiskan mie nya nak Imam, setelah ini ikut ibu ya!”. Kata ibu tak berirama
“Iya bu”.
Imam berusaha untuk terus bersikap tenang, sambil menikmati mie rebus dan segelas teh hangat. Membiarkan
pikiran nya terus diselimuti oleh berjuta pertanyaan yang mungkin sudah tidak sanggup lagi ditampung oleh nya. Tanpa sadar, Imam sudah meghabiskan satu mangkuk mei rebus buatan mama.
“Sudah makan nya nak Imam?”. Tanya ibu masih dengan ekspresi yang sama
“Iya buk”. Jawab Imam
Ibu bangkit dari duduk nya dan membawa mangkuk dan gelas kosong ke dalam, dan lima menit kemudian ibu keluar kembali.
“Ikut ibu nak”.
Ibu menyeret kaki nya menuju ujung gang, seakan tidak sanggup lagi untuk kembali ke rumah sakit dan melihat Nana kesakitan dan Imam mengikuti langkah ibu tanpa sepatah kata pun.
“Ya Allah...tenangkan hamba, sebenarnya ada apa? Semoga Nana baik-baik saja”. Gumam Imam dalam hati, walau hati nya semakin tidak karuan namun dia berusaha untuk selalu tenang.
Mama mengajak Imam untuk naik angkot menuju rumah sakit, dalam perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mama, begitu juga dengan Imam. Tidak berapa lama, angkot berhenti di depan rumah sakit. Kaki Imam bergetar, lemas dan tidak sanggup untuk berdiri, keringat di tubuhnya seakan sirna dan berganti dengan dingin.
Imam menatap pekat ke arah rumah sakit, dan berusaha untuk terus berdiri.
“Nak Imam.............”. Suara mama terdengar
Imam menoleh ke arah mama dan mama melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah sakit diikuti oleh Imam. Mama membawa Imam ke ruang perawatan tempat Nana di rawat.
“Assalamu’alaikum.................”. Suara Imam bergetar, air mata nya berjatuhan ketika melihat calon istrinya berbaring tak berdaya diatas tempat tidur pasien.
Nana menoleh ke suara dan menjawab salam dari Imam “Wa’alaikum salam”.
“Apakah ini alasan mu mundur dari pernikahan kita Na? Mas sudah memilih mu untuk menjadi istri dan apapun yang terjadi mas tidak akan pernah mundur selangkahpun dari pernikahan kita”.
Suasana kamar Nana menjadi hening dan penuh haru serta air mata.
“Jika dari awal mas tau keadaan mu, mas pasti akan mempercepat pernikahan kita agar mas bisa menjaga dan merawat mu”. Lanjut Imam
“Sebaik nya mas cari wanita lain, yang sehat dan sempurna. Nana tidak mau menjadi beban mas”. Kata Nana lirih
“Demi Allah, kamu bukan beban. Berprasangka baik lah, yakin bahwa kamu akan kembali sembuh dan kita bisahidupbahagia bersama”. Imam meyakinkan Nana
“Dua hari lagi, Nana operasi mas. Kanker usus ku sudah masuk stadium 4, setelah Nana operasi, Nana tidak bisa menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Jadi Nana mohon, carilah pengganti ku”.
“Gak Na. Kita akan tetap menikah. Demi Allah, mas sayang sama kamu Na”.
Tangis Nana semakin pecah dan tidak tahu lagi harus berkata apa, entah apa yang harus dia katakan, bersyukur karena telah diprtemukan oleh laki-laki baik seperti Imam atau menyesal karena dia tidak sesempurna wanita lain nya.
“Pak, Buk, boleh saya mengajukan permohonan?”. Tanya Imam pada mama yang sedari tadi duduk di sofa
bersama bapak, ikut terharu dan menangis menyaksikan kisah Nana dan Imam.
“Izinkah saya untuk menikah dengan Nana besok agar saya dapat merawat dan menjaga Nana selama Nana
di rumah sakit. Jadi ibu dan bapak bisa istirahat, biarkan itu menjadi kewajiban saya sebagai suami nya”.
“Kami ikhlaskan kamu untuk menikah dengan putri ibu satu-satu nya”. Jawab mama
“Jika kamu benar-benar mencintai Nana, menikah lah. Jaga dan rawat Nana dengan baik”. Kata bapak
“Terimakasih Pak Buk”. Imam mencium kedua tangan mereka
“Kamu dengar Na, besok kita akan menikah dan mas janji akan menjadi suami yang baik untuk kamu”.
“Alhamdulillah............. Ya Allah........engkau telah mengirimkan laki-laki sholeh untuk menjadi
pendamping hamba”. Ucap syukur Nana dalam hati.
********
Pagi ini Nana menikah, tanpa hiasan pengantin di wajahnya dan tanpa tamu undangan. Gedung rumah sakit yang menjadi gedung pernikahan mereka, papa sebagai wali sekaligus yang menikahkan Nana dengan Imam, mama, paman Nana (adik dari papa), dan pak lek Hasan, bulek Tantri serta dokter yang menjadi saksi nya. Imam menggelar acara pernikahan tersebut di ruang perawatan dengan menghubungkan video call pada keluarga nya di Malang.
Acara pernikahan Nana dan Imam pun berjalan dengan khidmat dan lancar. Kini mereka resmi menjadi suami istri yang SAH. Nana mencium tangan Imam sambil berbaring diatas tempat tidur dan Imam mengecup kening istri nya itu. semua saksi memberi ucapan selamat dan do’a kepada mereka.
“Selamat ya sayang............. semangat dan lekas sembuh”. Begitu kata mama, papa dan bulek Tantri
“Selamat ya Nana............ lekas sembuh”. Kata dokter
“Terimakasih ma, pak, paman, bulek, pak lek dan juga dokter. Terimakasih atas do’a kalian semua. Terimakasih Mas”. Nana terus memegangi tangan suami nya dan suami nya pun terus mendekap istri dan sesekali mengecup kening nya.
“Iya sayang............. semangat ya............. mulai hari ini, Mas yang akan menjadi malaikat pelindung dan
penjaga mu”. Sambil mencubit hidung istri nya itu.
Semua orang yang berada di ruangan itu ikut bahagia melihat kebahagiaan Imam dan Nana.