
Affan mengejar kepergian Nana, hati memang tidak dapat dipungkiri bahwa Affan merasa bersalah atas semuanya, tetapi rasa pengecut nya begitu besar sehingga dia belum berani mengakui kesalahannya didepan mama.
“Na, tunggu!”. Teriak Affan
Teriakan Affan menghentikan langkah Nana tetapi Nana enggan menoleh pada Affan.
“Please, maafin aa”.
Nana terus berjalan lebih cepat dari sebelumnya tanpa menghiraukan perkataan Affan.
“Na, aa sayang sama kamu. Aa cinta sama kamu tapi...........”.
“Aaarrrggghhhhh.........................”.
Affan menekuk lututnya dan larut dalam tangis penyesalan, harusnya Affan tahu bahwa cinta sejati itu adalah cinta tanpa syarat tapi sayang, Affan belum berani masuk dan memahami arti cinta yang sebenarnya.
Nana meninggalkan rumah Affan dalam keadaan terluka, luka yang ia rasakan jauh lebih besar dibandingkan dengan sikap mama Juna waktu itu. Namun, apa yang dapat Nana lakukan? Nana tidak dapat menyesali jalan hidupnya, Nana juga tidak dapat menyalahkan takdir tuhan. Nana hanya berpikir bahwa semua yang terjadi pada dirinya mutlak kesalahan dari dalam dirinya sendiri, dia yang tidak bisa tegas, dia yang tidak dapat menahan diri
dan bersabar, sehingga dia harus terluka untuk yang kesekian kali nya.
Nana pulang dengan bus Agra berwarna merah jurusan Bogor-Jakarta, dia duduk di kursi ke tiga dari sisi kiri, dan
memilih kursi dekat dengan jendela bus agar Nana dapat menghilangkan penat dengan melihat pemandangan jalan dari jendela bus.
Nana memejamkan matanya sejenak agar matanya dapat beristirahat dan berhenti dari tangisnya, namun sisa-sisa air mata masih membekas di kedua matanya yang masih terlihat merah dan bengkak. Baru beberapa menit Nana memejamkan Mata, tiba-tiba Nana merasa, ada seseorang yang duduk di kursi sebelahnya yang masih kosong, namun Nana tidak tahu dan tidak mau tahu siapa yang duduk disampingnya itu.
Mata Nana masih terpejam walaupun sebenarnya dia tidak tidur, dia hanya ingin relax sebentar saja agar dia bisa
fresh kembali jika dia sampai Jakarta.
“Nana”. Laki-laki itu memanggil namanya.
Nana terkejut mendengar suara itu, seperti nya Nana hafal dengan suara itu, namun dia enggan membuka mata.
“Aku yakin kalau kamu Nana yang pernah aku kenal”. Suara itu terdengar kembali.
Kali ini, suara itu memancing Nana untuk membuka mata agar Nana yakin bahwa dia tidak sedang bermimpi disiang bolong.
“Juna?”. Kata Nana dalam hati tetapi Nana takut untuk membuka matanya. Dia masih saja terpejam.
“Jika kesalahan ku waktu itu membuat kamu melupakan aku, bahkan lupa dengan suara ku, tidak apa-apa. Aku tahu, aku yang salah”. Lanjut laki-laki itu, lalu laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi bus, terdengar seperti menghela nafas panjang.
Nana membuka mata perlahan, lalu diliriknya laki-laki yang berada disampingnya itu dan, tara...................
“Kak Juna?”. Teriak Nana bahagia.
Kebahagian Nana membuat Nana lupa bahwa Juna adalah masa lalu nya, Nana menyentuh tangan Juna lalu menggenggamnya erat.
“Kak Juna? Ini benar kak Juna kan?”. Nana menepuk-nepuk pipinya memastikan bahwa dia dalam keadaan sadar.
Sejak mereka putus dan Juna menikah, mereka sudah tidak lagi saling berhubungan, tidak saling menanyakan kabar, bahkan cerita cinta diantara mereka pun seolah-olah sudah punah, hancur lebur, menjadi butiran debu yang terbang terbawa oleh angin. Kini, tuhan mempertemukan mereka kembali dalam sebuah perjalanan pulang.
Juna membuka mata, lalu tersenyum kepada Nana. Juna menyentuh pipi sebelah kiri Nana dengan lembut,
“Kamu masih sama cantiknya seperti dulu Ardiana, neng geulis yang pernah ada dalam hidup ku”.
Nana melepaskan tangan Juna dari pipi nya dan teringat bahwa Juna sudah milik orang lain,
“Maaf, aku............”. Nana segera berdiri dan ingin mencari kursi lain agar dia tidak duduk bersama Juna.
Juna menarik tangan Nana sehingga Nana terjatuh di pangkuan nya, mata Juna menatap Nana hangat seperti dulu, wajah Nana memerah, detak jantungnya terdengar kencang sampai ketelinga Juna. Mata Nana menunjukan kerinduan yang begitu dalam yang tidak dapat ia pungkiri.
“Kak, aku......aku minta maaf, biarkan aku duduk di kursi lain”.
Bibir tipis Nana bergetar, nada suara Nana pun terbata-bata. Juna melemparkan senyuman manis pada Nana dan membuat seluruh tubuh Nana lemas tak berdaya.
“Ya tuhan..........kenapa harus bertemu kembali”. Gumam Nana dalam hati.
“Duduklah disamping ku”. Kata Juna lembut
“Tapi..................”. Nana semakin gugup.
Kata-kata Juna seperti sihir bagi Nana, Nana tidak dapat menolak permintaan Juna saat itu, Nana kembali duduk disamping Juna. Dia tidak berani melihat wajah Juna yang seakan-akan menghipnotisnya, wajahnya selalu menatap kearah jendela berusaha untuk menenangkan hati dan dirinya.
Tangan kiri Juna mengambil tangan kanan Nana dan meletakannya di atas jantung Juna agar Nana tahu dan merasakan getaran jantung Juna saat itu.
“Tidak kah kamu merasakan getaran ini masih ada untuk mu, Ardiana?”. Tanya Juna
Nana masih menatap kearah jendela bus,
“Aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku, aku ingin kamu tahu bahwa sampai kapan pun kamu masih hidup di dalam jantung ini”. Tambah Juna
Juna memang cowok cerdas paling romantis yang pernah Nana kenal dulu, kata-kata Juna membuat Nana
teringat akan masa lalu nya, air mata Nana jatuh kembali mengenang masa-masa indah dulu bersama sang Arjuna.
“Cukup kak......aku tidak ingin kembali ke masa lalu, sudah aku kubur kisah mu dan aku”. Kata Nana dalam hati.
Tangan kanan Juna meraih wajah Nana, lalu membantu nya untuk bersandar di bahu Juna, lagi-lagi Nana seperti terhipnotis oleh Arjuna. Nana menyandarkan kepalanya di bahu Juna dan memejamkan kedua matanya.
Nana masih sangat nyaman dengan bahu kekar itu yang kini terasa lebih empuk dari beberapa tahun yang lalu. Dulu sebelum Juna menikah, tubuh Juna kurus tinggi, sehingga terasa keras jika Nana bersandar di bahu nya, tetapi bahu keras itu sekarang berubah menjadi bahu yang empuk dengan lemak, namun kenyamanan yang Nana rasakan masih sama seperti dahulu.
Setelah menikah, tubuh Arjuna kini menjelma menjadi tinggi dan berisi, pipinya terlihat chubby dan wajahnya terlihat semakin menggemaskan.
“Bahu ini kini berubah seperti sofa empuk yang sangat nyaman untuk menjadi sandaran”. Kata Nana
“Kamu suka dan nyaman?”. Tanya Juna
“Iya”. Jawab Nana dan tersenyum
“Kak.........”.
“Iya.............”.
“Boleh aku bertanya?”
“Mau tanya apa, neng?”
“Seandainya tuhan membawa kita kemasa lalu, apakah kamu akan tetap memilih aku untuk menjadi neng geulis mu seperti dulu?”.
Juna terdiam mendengar pertanyaan Nana, pertanyaan yang sulit bagi nya. Dia memang masih mencintai Nana, namun ada Eva yang menjadi cinta SAH Arjuna.
Nana mengangkat kepalanya dari bahu Juna, Nana menatap Arjuna penuh pertanyaan dan penasaran menunggu jawaban Juna.
“Aku tahu, kamu laki-laki baik, kamu tidak akan pernah tega membagi hati kamu kepada wanita lain. Aku hanya masa lalu, kisah cinta yang sangat indah untuk dikenang dan tidak pantas untuk dimiliki”. Tambah Nana
“Maafkan aku Na. Eva sedang mengandung anak pertama kami. Aku tidak akan meninggalkan dia”. Jawab Juna
Hati Nana sakit mendengar jawaban Arjuna, air matanya kembali membasahi pipi nya yang bersih.
“Ia, kak. Aku mengerti”.
“Selamat untuk calon buah hati kakak”.
Tiba-tiba bus berhenti, tak terasa kami sudah sampai di terminal Rambutan dan kami harus segera turun dan mencari bus lain sesuai jurusan kita masing-masing. Nana mencari angkot yang menuju rumahnya dan Arjuna mencari bus jurusan Tangerang.
“Biar aku antar kamu sampai menemukan angkot”.
“Ia kak”.
“Itu angkotnya kak”.
“Hati-hati ya.............”.
Nana melangkah kerah angkot yang berada di depan nya dan segera masuk ke dalam, namun Arjuna memanggil Nana kembali.
“Neng........”. Arjuna menghampiri Nana lalu mengecup keningnya.
“I LOVE YOU”. Kata Juna
Nana tidak membalas kata cinta dari Juna, dia hanya melambaikan tangan dan memberi salam perpisahan.