MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 64. Email



Sepulang dari kantor Juna, Nana begitu bahagia. Diaterlihat bersemangat dan senyum-senyum sendiri membuat mama nya heran kana sikap anak gadis nya itu.


“Sore ma.............”. Sapa Nana pada mama yang sedang asik duduk sambil nonton sinetron ke sayangan nya.


“Sore..............”. Bola mata mama mengikuti gerak Nana dan menunjukan expresi heran.


“Mama kenapa? Seperti baru lihat aku?”. Tanya Nana


“Sayang.............justru harus nya mama yang tanya. Kamu kenapa? Ceria sekali. gimana hari ini di kampus?”. Sambil menarik tangan Nana dan mengajaknya duduk santai di ruang keluarga.


Nana duduk di samping mama nya, “Wonderful!”. Jawab Nana dan mama tersenyum, “Syukurlah”.


Nana menatap kedepan memancarkan aura cinta dari mata nya, lalu tersenyum bahagia.


“Aku bertemu Juna”. Kata Nana


“Hah? Jadi ini yang membuat kamu bahagia? Sayang............dia itu suami orang bahkan ayah dari anak nya. Ibu


gak suka kalau kalian masih sering bertemu. Jaga harga diri!”. Mama mulai mengeluarkan senjata pamungkas pada Nana yaitu memberi nasehat.


“Gak kayak gitu cerita nya ma........... dengerin aku dulu!”. Bantah Nana


“Apa pun alasan nya, Juna itu masa lalu dan dia suami orang. Paham!”. Tegas mama.


“Aku masih akan bertemu Juna sampai projek ini selesai. Prof. Alex meminta ku bekerjasama dengan nya untuk membuat penelitian singkat yang akan kami tulis di jurnal dan di seminarkan bulan depan. Awalnya ku kerja sendiri dari beberapa bulan yang lalu, namun Juna tertarik dengan ide-ide ku dan meminta pada prof. Alex untuk berkolaborasi dan beliau seyuju”. Jawab Nana dengan wajah masih penuh semangat.


“Kenapa kamu tidak menolaknya?”. Tanya mama


“Gak bisa ma...... Nana gak bisa menolak permintaan prof. Alex. Beliau pembimbing tesis Nana. Mama tenang aja,


kami baik-baik saja”.


"Bagaimana dengan istri Juna?”.


“Ya ampun mama............ ini masalah kerjaan. Juna profesional ko. Ya sudah diskusi kita stop. Aku mau mandi


dan mempersiapkan semua nya dengan sempurna”. Nana beranjak ke kamar nya.


Setelah dia bersih-bersih dan merasa segar, Nana membuka email nya memastikan bahwa Juna telah mengirimkan file yang ia janjikan siang tadi dan betapa bahagia nya Nana walaupun hanya mendapatkan email dari mantan kekasih nya itu walaupun hanya bentuk tulisan ilmiah.


“Ya tuhan.........apakah kami berjodoh? Atau kah ini kisah jodoh yang sempat tertunda?”. Nana mulai berhalusinasi kembali dan memberi harapan palsu pada dirinya.


Nana membaca dan memahami setiap kalimat yang ada pada file yang Juna kirim, serta memadukan nya dengan ide-ide yang dia miliki agar ketika besok bertemu Juna. Dia sudah siap menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan diberikan oleh Juna. Nana bekerja keras malam ini demi proyek nya. Dia ingin membuat prof. Alex bangga pada nya lebih lagi, ingin membuat Juna kagum dengan diri nya.


Nana tidak memperdulikan jarum jam yang terus berputar dan semakin larut malam, sampai akhirnya dia tersadar bahwa jam dinding sudah menunjukan pukul 2.30 dini hari. Ini lah Nana sedikit ambisius dan pekerja keras namun egois. Dia tidak memikirkan kesehatan jika sedang bekerja. Mata Nana mulai terasa perih melihat monitor pada laptopnya dan akhirnya dia tertidur dengan laptop yang masih dalam keadaan menyala.


Jam 8.00


“Kring......................” suara handphone Nana berdering.


Dengan mata yang masih sangat perih dan pandangan samar-samar, Nana mengambil handphone nya dan menjawab telepon yang masuk. Tanpa dia sadari bahwa telepon itu dari Juna.


“Halo...........”. Suara Nana masih terdengar sangat mengantuk.


“Kamu sudah di jalan?”. Tanya Juna


“Hmmm..... jalan mana?”. Dengan mata terpejam


“Kamu masih tidu? Ini sudah jam berapa? Jadi diskusi lagi gak?”. Suara Juna mulai terdengar jelas di telinga Nana.


Nana terkaget dan sadar bahwa itu suara Juna, Nana bangkit dari tidur nya, lalu melihat jam di dinding kamar nya.


“Astaga............aku kesiangan. Maaf. Iya aku segera datang. Bye”. Nana mematikan handphone nya.


“Untung aku lagi haid, jadi aman deh gak sholat subuh”. Kata Nana sambil garuk-garuk kepala nya.


Nana teringat dengan laptop yang masih menyala, “Ya Allah............lowbat!”. Nana mengecharge laptop nya


selama dia mandi dan bersiap-siap untuk menemui Juna kembali di kantor nya. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya Nana siap ke kampus.


“Ya ampun.........sial banget hari ini, kesiangan, laptop lowbat, ojek yang biasanya mangkal, sekarang gak ada


Tak ada pilihan lain bagi Nana selain naik angkot, Nana pun memberhentikan angkot yang lewat di depan nya,


setelah tiga puluh menit angkot itu melaju, Nana pun terjebak macet.


“Kring.............”. Handphone Nana berdering kembali.


“Sudah sampai mana?”. Tanya Juna


“Baru keluar dari rumah 30 menit yang lalu dan terjebak macet”. Dengan nada memelas.


“Hmmmmmm, kita ketemu di cafe A aja, agar tidak terlalu lama”. Kata Juna


“OK”.  Nana menutup telepon nya.


Nana terus melihat jarum jam di tangan nya dan dengan perasaan cemas dia terus berusaha menenangkan hati nya agar dia terlihat fresh di depan Juna. Akhirnya angkot mengantarkan Nana sampai ke depan cafe A. Nana segera turun dari angkot, lalu masuk dalam cafe. Nana melihat Juna telah duduk sambil minum kopi dan Nana menghampiri nya.


“Maaf. Semalam aku mengerjakan projek kita sampai jam 2.30 dini hari, lalu ketiduran dan akhirnya kesiangan”. Dengan nada memelas dan sedikit bersedih.


“Nyerocos aja. Siapa yang tanya? Duduk, sebentar lagi jus mangga datang”. Kata Juna ketus. Nana duduk di hadapan Juna sambil menunggu jus nya datang.


“Mana laptop nya?”. Tanya Juna dengan melihat ke arah Nana yang tidak membawa apa-apa.


“Ya ampun.............sedang aku charge di kamar, karena dari semalam aku lupa mematikan nya lalu lowbat dan


tadi pagi aku charge, tapi........... masih di kamar. Xixixixi...........”. Nana teriak kesal dan menangis di depan Juna.


“Permisi pak, ini jus mangga nya”. Pelayan memberikan jus mangga


“Lupakan laptop. Tenangkan dirimu dengan minum jus”. Kata Juna. Nana membuka mata nya, “Kamu gak marah?”. Tanya Nana


Juna menggelengkan kepala nya,


“Hari ini kita lupakan projek itu, kita santai sambil minum kopi”. Kata Juna


“Terimakasih tuhan, telah mempertemukan kami kembali”. Gumam Juna dalam hati sambil memandang Nana


yang sedang minum jus mangga.


“Hey.... Ko bengong?”. Tanya Nana


“Oh, gak apa-apa. Aku cuma mikir, seperti nya kamu cape”. Juna mengalihkan pikiran nya.


“Bagaimana kabar istri dan anak mu?”. Tanya Nana berbasa basi karena sebenarnya Nana tahu kalau Juna sedang memandang nya.


“Mereka baik”. Juna mulai salah tingkah.


“Boleh aku tanya sesuatu?”. Tanya Juna


“Hmmm, boleh”.


“Kenapa sampai saat ini kamu belum menikah?”.


“Huk....huk....huk....”. Nana tersedak mendengar pertanyaan Juna.


“Aku..... aku..........aku ingin menyelesaikan S2 terlebih dahulu, setelah itu akan aku pikirkan soal menikah”.


“Apa itu arti nya kamu masih mencintai ku?”. Tanya Juna kembali.


“Apa maksud pertanyaan mu? Apa pantas aku mengharapkan suami orang? Sudah lah Juna, itu masa lalu. Jika pertemuan ini hanya untuk mengingatkan aku dengan masa lalu kita, sebaiknya aku pulang”. Nana berdiri lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Juna memanggil pelayan, lalu membayar semua tagihan dan segera mengejar langkah Nana.


“Nana, wait.......... maaf jika pertanyaan aku tadi membuat kamu tersinggung. Aku minta maaf”.


“Aku antar ya............ please”.


Juna mengarahkan Nana menuju mobilnya yang sedang terparkir di halaman cafe, tanpa bicara Nana berjalan menuju mobil Juna dan masuk ke dalam nya.