
Juna memang laki-laki yang cerdas, dia menyelesaikan pendidikan S1 hanya tiga tahun saja, hari ini adalah sidang skripsi nya. Nana mendampingi Juna sidang dengan penuh bangga dan bahagia. Juna menyelesaikan pendidikannya begitu cepat dan lancar.
Sidang sarjana Juna merupaka sidang terbuka yang dihadiri oleh banyak audience dalam ruang sidang, dengan lima penguji yang berada di depan Juna. Juna terlihat sangat santai dan tepat dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kelima dosen penguji yang berlatar belakang pendidikan doktor dan profesor.
Nana berpenampilan sangat cantik, dengan gaun berwarna gold, perpaduan kain dengan brokat dibagian dadanya, high heels penuh manik-manik yang ia pakai juga sangat senada dengan gaunnya dan membuatnya semakin anggun.
Nana duduk di kursi barisan paling depan, dia menyaksikan momen yang paling bersejarah didunia
pendidikan itu dengan hati penuh doa, harapan juga perasaan sangat bangga terhadap Juna. Perjuangan Juna selama tiga tahun di kampus membuahkan hasil yang luar biasa.
Setelah kurang lebih satu jam proses sidang skripsi, Juna dinyatakan lulus dengan IPK tertinggi dan sebagai lulusan terbaik. Acara sidang skripsi Juna di tutup dengan standing applause (tepuk tangan berdiri) yang sangat meriah karena kepuasan audience yang menyaksikan sidang tersebut. Tak terasa, air mata Nana menetes bahagia, melihat keberhasilan kekasih nya itu.
Setelah sidang selesai, Nana menghampiri Juna yang masih berdiri didepan audience dan dosen pengujinya. Nana membawakan selendang bertulisakan nama Arjuna lengkap dengan gelar akademiknya
(Arjuna, SS). Nana memakaikan selendang tersebut kepada Juna yang dibalas dengan senyuman bahagia dibibirnya.
“Selamat ya.....Arjuna ku”. Nana mengucapkan selamat pada Juna sambil memakaikan selendang serta memberikan rangkaian bunga mawar yang sudah ia siapkan secara khusus.
“Thank you, geulis (cantik)”. Jawab Juna bahagia dan mencium bunga pemberian Nana.
Suasana ruang sidang semakin meriah dengan Nana memakaikan selendang tersebut. Satu persatu
teman Juna yang ikut menyaksikan sidang skripsi itu, keluar dari kursi nya dan menghampiri Juna untuk memberikan doa selamat atas keberhasilan Juna.
Juna adalah mahasiswa pertama yang menyelesaikan kuliah sarjananya selama tiga tahun, dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya bahkan seangkatannya.
“Aku bangga, bahkan sangat bangga dengan keberhasilan kakak”. Kata Nana
Juna menatap mata Nana, “Terimakasih atas semuanya”. Kata Juna.
“Aku tidak melakukan apa-apa kak”. Jawab Nana sambil membalas tatapan kekasihnya itu.
“Kamu yang membuat aku, lulus satu tahun lebih awal dari prediksi”
“Setiap kali aku memikirkan kamu, aku mempunyai semangat baru untuk segera menyelesaikan kuliah ku”. Kata Juna sambil terus menatap kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
Nana tersenyum, “Kenapa?”. Tanya Nana.
“Karena kamu menginspirasiku untuk segera menyelesaikan pendidikan ku”
“Karena aku ingin segera menikahi gadis cantik ku”. Jawab Juna.
“Sungguh aku beruntung memiliki kamu kak Juna, kamu selalu membuat hati ini bahagia. Terimakasih”.
Juna melangkahkan kaki keluar dari ruang sidang sambil menggandeng Nana yang ada disampingnya. Di
depan ruang sidang, sudah ada kak Yudha dan istrinya serta ibu dan bapak Juna.
Ibu Juna menyambut anak bungsunya itu dengan suka cita, dia memeluk dan mencium Juna berkali-kali sambil mengucapkan selamat atas keberhasilannya.
“Selamat ya sayang.....mama dan papa sangat bangga pada kamu”. Ibu Juna lagi-lagi mencium pipi dan kening anak bungsunya itu.
“Ia ma...., terimakasih selalu support Juna”.
“Terimakasih pa, kak Yudha dan gadis cantik paling spesial buat aku, yaitu Ardiana”. Juna menggenggam tangan Nana lalu mencium tangan lembut itu di depan keluarga nya.
“So sweet banget, adik ku yang satu ini”. Goda Yudha pada adiknya
Semua keluarga Juna tertawa mendengar perkatan Yudha..................
“Sudah Yudha, jangan goda terus adik mu ini”.
“Dia pasti lelah, ayo kita cari restaurant yang paling enak, kita makan siang biar papa yang traktir”. Kata papah Juna.
“Terimakasih pa...”. Kata Juna.
Juna tidak pernah jauh dari Nana bahkan sedari ruangan sidang, Juna selalu menggenggam tangan Nana, “Jangan pernah jauh dari aku....”. Bisik Juna pada Nana dan Nana hanya tersipu malu.
Sesampainya di restauran, mereka memilih meja dan tempat duduk paling baik dan nyaman, meja dan kursi yang mereka pilih menghadap ke taman sekitar restauran, sehingga pandangan mereka luas keluar restauran.
Papa duduk di kursi paling depan berhadapan dengan Yudha, mama duduk disebelah kanan papa berhadapan dengan Juna, lalu di samping mama ada Titi, istri Yudha berhadapan dengan Nana yang duduk di samping Juna.
Juna dan keluarga nya sangat asik menyantap makan siang, ini waktu yang pas buat Juna untuk meminta izin menikahi Nana.
Juna meneguk ice lemon tea yang ada di hadapanya itu, “Hmmm....ma, pa, Juna boleh bicara?”. Tanya Juna.
Mama dan papa Juna saling menatap, “Ya boleh dong sayang.....?”. Kata ibu Juna.
“Ma, pa, bukan kan janji itu hutang dan kita wajib menepati janji itu?”. tanya Juna kembali.
Pertanyaan Juna membuat papa, mama, Yudha, Titi dan juga Nana berhenti mengunyah.
“Aku punya janji sama seseorang dan aku ingin menepati janji itu”. Lanjut Juna.
“Juna.... papa tidak mengerti maksud kamu”.
“Kamu punya janji dengan siapa dan janji apa, nak....?”. Tanya papa Juna.
“Aku berjanji dengan perempuan yang paling aku sayang, paling aku hormati dan paling aku cintai”.
“Aku janji akan melamar dan menikahinya setelah aku lulus dan perempuan itu yang sejak tadi pagi mendampingi aku sidang sampai ke meja makan ini”.
“Juna ingin menikahi Nana, pa....ma.....”.
Mendengar perkataan Juna, mama Juna meletakkan garpu dan sendok yang dia pegang diatas piring lalu mengambil gelas berisikan air mineral dan meneguknya.
“Juna sayang..............apa tidak terlalu cepat nak............?”. Tanya mama Juna.
“Atau sebaiknya kamu lanjut S2 terlebih dahulu baru kemudian menikah”. Bujuk mama.
Suasana meja makan menjadi hening, Nana hanya tertunduk dan diam. Ingin rasanya ia meninggalkan meja makan itu, namun tidak mungkin. Mama juna bangun dari duduknya dan meninggalkan meja makan lalu berjalan kearah taman.
Juna bangkit dari duduknya, seakan ingin menyusul mama nya. Namun papa juna melarang.
“Juna.....sabar nak.... biar papa yang bicara dengan mama mu”. Kata papa menenagkan hati Juna.
“Mungkin mama mu sedang capek”. Sambung papa Juna.
Papa Juna melangkah mengikuti mama Juna yang sudah beberapa menit duduk di kursi taman. Dari meja makan terlihat papa mendekati mama lalu duduk di sampingnya.
“Ma.... sepertinya mama tidak menyukai Nana, apa betul begitu?”. Tanya papa. Mama membuang wajahnya dari hdapan suaminya itu.
“Juna sudah dewasa, dia berhak menentukan pilihannya”.
“Lagi pula, Nana anak yang baik dan Juna nyaman bersama Nana”. Papa berusaha bicara dengan nada
lembut pada mama.
“Sebaiknya kita kembali kemeja makan, gak enak sama Nana dan juga customer yang lain. Nanti kita
bahas di rumah saja, ya.............”. Bujuk papa
Mama Juna mengikuti apa yang dikatakan sama suaminya itu. dalam waktu beberapa menit, papa Juna berhasil membawa mama kembali kemeja makan. Mereka duduk ditempat semula.
“Juna.............sebaiknya kita lanjutkan bicara di rumah saja ya...............”. Kata papa.
“Ia, pa........... dan Juna minta maaf ma...............”. Juna meraih tangan mama nya dan meminta maaf.
“Boleh mama tanya sesuatu sama kamu, Juna.............?”. Tanya mama Juna
“Ia ma...............”.
“Pertanyaan pertama, apa istimewanya Nana buat kamu?”. Tanya mama kembali
Juna kembali menggenggam tangan Nana dan menatap wajah Nana dengan penuh cinta.
“Bagi Juna, Nana tidak hanya istimewa tetapi sangat istimewa. Tidak ada kata-kata yang lebih pantas untuk dipersembahkan kepada Nana selain janji suci dihadapan Allah dan keluarganya serta keluarga kita ma..........”
“Juna sangat amat mencintai dan menyayangi Nana lebih dari apapun”.
“Maka dari itu, Juna meminta surat izin untuk menikahi Nana”.
Mama hanya terdiam mendengar perkataan anak bungsunya itu.
“Pertanyaan kedua, apakah Nana bisa menjadi istri dan menantu yang baik?”
“Pasti ma, Juna jamin seratus persen. Juna sudah sangat tahu tentang Nana dan mama serta papa, kak Yudha, kak Titi juga bisa lihat sendiri kan?” jawab Juna
“Pertanyaan ketiga, apakah dia bisa memberikan kamu keturunan?”
“Menjadi ibu dari anak-anak mu nanti?”. Tanya mama kembali
“Apa maksud pertanyaan mama?”
“Apakah mama menanyakan hal yang sama kepada kak Yudha seblum kak Yudha menikah?”
“Juna, ketiga pertanyaan mama itu sangat penting. Apalagi yang ketiga”.
“Kamu anak mama yang paling cerdas, jika kamu menikah dan istri mu tidak bisa memberikan kamu keturunan, lalu siapa yang akan mewariskan ilmu mu nanti?”. Tanya mama kembali dengan nada lebih tinggi.
“Ma.....istighfar..............”. Papa menenangkan mama.
Mendengar pertanyaan nomer tiga, Nana bangkit dari duduknya dan ikut bicara.
“Maaf ibu, ibu benar. Kak Juna adalah laki-laki yang sangat cerdas, sangat disayangkan jika tidak ada keturunannya yang mewarisi kecerdasan ia kelak”. Kata Nana.
“Apa maksud kamu, Na....?”. Tanya Juna.
“Biarkan Nana berkata jujur, kak”. Jawab Nana
“Nana akan jawab pertanyaan ibu yang pertama, Nana tidak istimewa bahkan Nana tidak pantas untuk di istimewakan. Kak Juna hanya berlebihan memandang Nana. Nana hanya perempuan biasa yang tidak memiliki kelebihan, hanya memiliki banyak kekurangan saja”. Suara Nana mulai bergetar dan mata Nana mulai berkaca-kaca.
“Jawaban dari pertanyaan ibu yang kedua adalah Nana tidak akan bisa menjadi istri yang baik buat kak Juna karena tidak akan pernah bisa membuatnya bahagia dan Nana juga tidak bisa menjadi menantu yang baik karena pasti akan mengecewakan ibu”. Air mata Nana mulai menetes di pipinya.
“Dan jawaban dari pertanyaan ketiga adalah................”. Nana berhenti sesaat dan menarik nafasnya serta menatap Juna, bibirnya bergetar seakan dia tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya.
“Stop Na..... cukup. Tidak usah dilanjutkan”. Juna membentak Nana dan terus menggenggam tangan Nana sambil terus menatap Nana.
Nana terisak, air matanya tumpah membasahi pipinya yang bersih. Nana melepaskan genggaman Juna dan menutup matanya.
“Jawaban dari pertanyaan ibu yang ketiga adalah.............Nana tidak akan pernah bisa memberikan keturunan buat kak Juna karena Nana divonis mandul”. Nana terus menangis.
“Nana minta maaf karena merusak suasana yang membahagiakan buat kak Juna dan keluarga. Ibu dan bapak tidak usah hiraukan perkataan kak Juna, tidak usah pikirkan tentang pernikahan. Terimakasih kak....sudah undang Nana hari ini”. Nana mmenghapus air matanya lalu pergi meninggalkan mereka.
Yudha, Titi, mama dan juga papa terkejut mendengar penjelasan Nana. Juna berlari mengejar Nana.
“Na....tunggu....Na....jangan pergi Na.....”. Juna terus mengejar Nana.
Nana terus berlari sehingga tak terlihat lagi............
“Na....aku akan memperjuangkan mu”.
“Aku akan menepati semua janji-janji ku”. Juna teriak lalu berlutut lemas dan menangis.
Yudha menghampiri Juna dan memeluk Juna dari belakang, “Sabar.....Jun....”. Kata Yudha.
“Juna sangat mencintai Nana kak.....”. Juna menangis dalam pelukan kakaknya.