
Keeskon harinya, Lia mengundang beberapa teman dikelas untuk datang ke rumahnya, termasuk Nana dan Riyan. Undangan itu bukan undangan resmi seperti ulang tahun atau pernikahan. Lia hanya ingin rumahnya ramai, punya teman untuk diajak ngobrol dan sharing. Nana sungguh kaget melihat rumah megah nan mewah itu. Rumah dua lantai dengan garasi yang luas, lantai marmer yang mengkilat seperti cermin, sofa bagus dan empuk, serta
penuh dengan pernak pernik mewah lainnya. Siapa yang mengira, rumah mewah berwarna ungu itu milik keluarga Lia.
Tidak nampak sedikitpun pada Lia bahwa dia anak pengusaha kaya, Lia anak bungsu dari lima bersudara yang semua kakaknya adalah seorang pengusaha sukses. Nana masih berdiam diri didepan gerbang rumah berwarna ungu itu, Lia yang dia kenal dikampus selalu berpenampilan biasa saja, hanya mengenakan celana jeans dan kaos yang tak terlihat mahal, bahkan tak ada satupun perhiasan yang menempel ditubuhnya, ternyata Lia seorang putri istana.
Nana mengamati setiap pertemuannya dengan Lia, Lia sangat ramah menyambut kedatangan teman-temannya, tak terlihat dalam dirinya sifat angkuh sedikitpun. Namun, kepala Nana masih penuh tanda tanya, apakah benar Lia orang yang baik dan ramah atau Lia hanya sedang memilih teman yang cocok dengan nya atau dengan ekonomi nya. Entah lah..... pikir Nana dalam hati.
Langkah demi langkah, Nana memasuki rumah mewah itu dengan penuh rasa takjub. Nana mulai merasa tidak nyaman, mungkin karena perbedaan status sosial. Nana malu dan minder berteman dengan orang cerdas, cantik, kaya dan baik seperti Lia. Bagi Nana teman jail seperti Riyan sudah cukup menyenangkan hidupnya.
Beberapa hari setelah undangan itu, Nana dan Riyan mendapat undangan kembali dari Lia. Lia meminta Nana dan Riyan untuk datang ke rumahnya. Mereka datang tepat waktu sesuai yang dijanjikan Lia. Kali ini, ada yang beda dengan undangan itu, ternyata Lia hanya mengundang Nana dan Riyan. Nana hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang yang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya selama ini.
“Ko sepi?” tanya Riyan memulai percakapan
“Yang lain gak di undang Li?” lanjut Riyan mengajukan pertanyaannya.
Ini kedua kali nya Nana memasuki rumah mewah itu, namun Nana masih kagum melihat isi rumah Lia serta
menikmati dinginnya AC yang berada di ruang tamu.
“Aku hanya undang kalian berdua”. Jawab Lia
Mendengar jawaban Lia, Nana menaruh kembali gelas berisi sirup yang sudah menempel ditepi
bibirnya, seakan kaget mendengar jawaban Lia.
“Kenapa Cuma kami?” tanya Nana penuh rasa penasaran
“Karena aku merasa, kalian adalah orang yang pas untuk dijadikan teman sekaligus sahabat buat aku”.
Jawab Lia.
Nana dan Riyan hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa bertanya lebih. Lia memperkenalkan Nana
dan Riyan pada keluarganya, mereka cukup ramah namun tak banyak berkata, gerak gerik mereka terlihat sungguh tertata, cara bicara, langkah laki, bahkan cara mereka makan terlihat bahwa mereka adalah keluarga berpendidikan dan seperti bangsawan.
Ada satu wanita yang terlihat kurang hangat kepada Nana dan Riyan, tidak ada senyum dibibir wanita itu sama sekali, tatapan matanya begitu dingin dan terlihat angkuh, dia sepertinya tidak suka pada Nana dan Riyan.
“Lia.....!!!” wanita itu memanggil Lia dengan lantang.
“Ia kak”. Jawab Lia
Lia yang sedang asik membaca novel, segera meletakan novel diatas meja lalu bangun dari duduknya dan berjalan menemui kakanya di ruang keluarga.
“Sepertinya ada hal yang akan dibicarakan oleh keluarga Lia dengan nya”. Nana berbisik pada Riyan.
Riyan hanya menggerakan bahunya bertanda dia tidak tahu. Nana dan Riyan hanya terdiam di ruang tamu, menunggu lia kembali sambil membuka daun telinga nya lebar-lebar seakan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Terdengar sayup-sayup seperti orang yang sedang berdiskusi yang diiringi oleh perdebatan kecil, namun
Nana dan Riyan tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Sepuluh menit kemudian, Lia keluar dari ruang keluarga dan kembali ke ruang tamu menghampiri
Nana dan Riyan.
“Yan, Na, maaf ya....sebaiknya kalian pulang”.
Tanpa banyak tanya, Nana dan Riyan segera bangun dari duduknya dan melangkah kepintu depan lalu Lia
menutup pintu rapat-rapat.
Beberapa langkah dari gerbang, terdengar suara gaduh seperti orang yang sedang bertengkar. Riyan
dan Nana hanya mendengar suara Lia dari depan gerbang.
“Aku gak punya teman disini, aku hanya punya mereka”.
“Aku tahu, mereka itu tulus. Tidak seperti teman-temanku sebelumnya”.
Riyan dan Nana tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka merasa kasihan dengan Lia lalu meninggalkan rumah itu.
Dua hari setelah kejadian itu, Nana dan Riyan tidak lagi melihat Lia di kampus. Tiba-tiba, handphone
Nana berdering “Kring....kring.....” Nana segera mengambil handphone nya dari dalam tas.
“Pulang kuliah temui aku di kafe mall depan terminal ya....ajak Riyan”. Lia mengirim pesan
singkat.
Riyan dan Nana memenui Lia ditempat yang sudah ditentukan oleh Lia. Nana dan Riyan melihat Lia
sedang duduk di sudut kafe yang berada di mall depan terminal itu. Dari kejauhan Lia nampak bingung dan sedih. Nana dan Riyan segera menghampiri Lia yang duduk sendiri ditemani oleh es teh manis didepannya.
“Hai....” sapa Riyan
“Hai....” Lia nampak kaget, mendengar suara Riyan
Nana dan Riyan duduk didepan Lia sambil meletakan buku-buku yang mereka bawa diatas meja. Lia
segera memesan minuman untuk mereka. Lia masih terdiam sambil memainkan sedotan yang ada diminumannya itu, Nana dan Riyan pun ikut diam dan hanya mata mereka yang bergerak saling melirik satu sama lain, seakan-akan memberi instruksi kepada keduanya untuk mulai bicara.
“Maafkan sikap kakak ku dua hari yang lalu ya”. Lia mulai bicara tanpa melihat kearah Nana dan Riyan yang berada didepannya. Lia masih saja menatap dan memainkan sedotan yang ada diminumannya itu.
“Aku sepertinya berhenti kuliah ditempat kalian”. Lia melanjutkan perkatannya.
Nana dan Riyan saling memandang namun belum berani mengajukan pertanyaan, walapun hanya
sekedar bertanya “kenapa”.
“Kakak ku ingin aku kuliah ditempat yang lain, yang......”. Lia terhenti sejenak.
“Yang setara dengan keluarga mu, yang teman-temannya juga sama dengan keluarga mu?”
" Keluarga mu tidak mau kamu berteman dengan kami kan? karena kami tidak sama dengan kalian?" sambung Nana seakan sudah mengetahui apa yang akan Lia katakan.
Riyan, menarik baju yang Nana kenakan seakan meminta Nana untuk tidak bicara. Lia menoleh kearah
mereka.
“Tapi aku suka kalian, aku ingin kita menjadi sahabat”
“Aku akan tetap menemui kalian diluar rumah. Aku tahu, dari semua teman-teman yang aku undang
kerumah ku waktu itu, hanya kalian yang memang tulus dan pantas dijadikan sahabat”. Lia melanjutkan perkataanya
“Aku harap kalian bisa mengerti, aku butuh teman sharing. Jadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian”. Perkataan Lia seperti memberi penegasan kepada Riyan dan Nana bahwa Lia memang suka pada mereka dan percaya bahwa mereka adalah orang baik dan tulus.
“Tapi................” Riyan memberanikan diri untuk bicara.
“Aku duluan ya..... minumannya sudah aku bayar. Thanks”. Lia memotong perkataan Riyan seakan tak
ingin memperpanjang maslah ini.
Lia pergi meninggalkan Riyan dan Nana yang masih merasa aneh pada Lia. Kejadian di rumah mewah berwarna ungu itu, perkataan Lia dan berhentinya Lia dari kampus membuat Nana dan Riyan semakin penasaran dan ingin dekat dengan Lia, seakan ingin tahu banyak tentang Lia dan keluarganya.