MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 16. Dear Diary



Dear Dairy......


Kamu adalah


sahabatku sejak dulu, sahabat pertama ku, sebelum aku bertemu Riyan dan juga Lia. Kamu yang mengerti aku, bahkan jauh lebih mengerti dari diriku sendiri.


Kamu yangmenjadi pelampiaskan semua amarah, kecewa, suka dan duka ku. Kamu yang lebihdahulu tahu perasaan ku.


Kamu yang selalu mendengarkan semuaa isi hati ku dan kamu yang pertama merasakan tetesan air mata ku.


Hari ini, aku melakukan sebuah kesalahan, kesalahan yang akan membawaku kepada sebuah kerendahan. Aku malu, tetapi.....hati ku selalu berpaling dari rasa itu.


Dairy.....


Ada secercik cinta dalam hati ini, namun ada segumpal rasa yang bersarang.  Rasa yang ada lebih besar dari percikan cinta. Percikan ini hampir padam karena rasa.


Ya....rasa malu, rasa tidak percaya diri, rasa berbeda. Sahabatku itu benar, ada cinta dalam hati ini untuknya, untuk pria berkulit hitam. Namun, cinta ini terhalang oleh malu.


Kamu tahu dairy.....


Aku pernah ditinggalkan karena kekurangan ku dan itu membuat aku dan keluarga ku malu. Apakah aku harus memalukan diri ini serta memalukan keluarga ku untuk yang kedua kali?


Ah....


Aku ini bodoh, tidak berkaca pada sebuah peristiwa. Hanya kamu yang tahu tentang percikan dalam hati ini.


I LOVE YOU JUNA


By. Ardiana


Riyan benar, ada cinta diantara mereka. Nana yang mulai tertarik pada Juna membuat tingkahnya jauh


berubah begitupun dengan Juna yang diam-diam selalu mencuri pandangan Nana.


Nana tidak ingin rasanya itu terus tumbuh dan tumbuh. Dia sadar bahwa dia tidak layak untuk dicintai. Perasaan itu, mengembalikan ingatannya pada Rahman. Rahman yang pergi meninggalkan dia dengan sebuah janji, janji yang hingga saat ini belum bahkan tidak akan pernah ditepati.


Jadwal belajar Nana dengan Juna masih sisa dua pertemuan lagi, rasanya Nana ingin menyelesaikan


hukuman ini dengan segera mungkin. Nana merasa bahwa dirinya harus jaga jarak dengan Juna, tidak boleh sering bertemu apalagi ngobrol. Nana tahu betul, apa yang sedang ia rasakan. Dia mengerahkan sekuat tenaga dan pikiran untuk menolak rasa itu, percikan cinta sudah mulai menyebar keseluruh tubuhnya bahkan masuk kedalam jiwanya.


Malam ini, malam ketiga Nana belajar dengan Juna. Berat rasanya kaki Nana untuk melangkah ke


kampus, namun makin cepat dia menyelesaikan hukuman ini maka makin cepat juga rasa ini berakhir, pikir Nana.


Dengan perasaan gelisah dan takut, Nana berusaha untuk menguatkan kakinya berjalan dari terminal hingga depan gerbang kampus, seanjang perjalan dari terminal menuju kampus, pikiran Nana berkelana entah kemana.


“Na....” sepeda motor biru itu berhenti persis didepan Nana yang sedang berjalan santai menuju kampus.


Langkah Nana terhenti, “Astaghfirullah.....”. nana kaget dan mengelus dada nya.


“Kak Juna....?”. Tanya Nana


Juna mematikan mesin motornya, “Bareng yuk....daripada jalan kaki, cape loh”.  Juna mencoba mencari perhatian Nana.


Nana berusaha menenagkan dirinya, dia tidak ingin terjebak oleh perasaannya. Nana meundukan kepalanya, “Maaf kak, saya jalan kaki aja”. Jawab Nana lembut.


“Ayo lah Na....., kamu kenapa sih?” Juna masih tetap merayu Nana.


“Gak baik nolak rezeki loh.....”.


“Hari ini kamu terlihat berbeda, kamu sakit?” Juna memberikan perhatian lebih pada Nana.


Nana memalingkan wajahnya dari tatapan Juna, dia berusaha untuk menghindar. “Kamu cantik”. Tambah Juna.


Mendengar kalimat itu, ada rasa yang semakin bergejolak dalam diri Nana, namun Nana terus menahan dan berusaha terlihat biasa saja.


“Kak, Aku jalan kaki aja ya.... see you at campus”. Nana melanjutkan langkahnya walapun itu terasa berat.


Juna terus mengikuti Nana dari belakang, dia menaiki motornya dengan perlahan agar tetap berada dibelakang Nana.


Sesampai di kampus, Nana segera masuk ke ruang 201 berpura-pura tidak pernah terjadi dengan hatinya bahkan dengan peristiwa barusan. Juna masih tetap berada dibelakang Nana, memperhatikan Nana dari jauh dan berusaha mencari tahu tentang dia.


Beberapa menit Nana duduk di kursi dalam ruang 201 itu, Juna masuk. Kali ini, Juna tidak segera memberi materi akan tetapi, dia menghampiri Nana yang terlihat aneh dan duduk dua kursi dari kursi Nana.


“Kamu tersinggung dengan saya, Na?”. Tanya Juna penasaran.


“Aku baik-baik aja kak, terimakasih”.


“Bisa kita mulai belajarnya agar hukuman ku cepat selesai”. Jawab Nana.


Juna terdiam, namun masih duduk di kursi dekat Nana. “Tidak ada yang dusta dari kalimat ku yang menyatakan kamu cantik malam ini”. Jawab Juna.


“Maaf kak, tidak seharusnya kita bahas soal itu, yang aku pikirkan hanya, bagaimana hukuman ini segera berakhir”. Jelas Nana.


“Apakah itu artinya kamu ingin segera mengakhiri pertemuan kita?”. Tanya Juna kembali.


Nana berkali-kali menghela nafas berusaha untuk selalu tenang melawan semua gejolak hati nya. “YA Allah..... permainan apa yang akan Juna berikan pada ku?”. Pikir Nana dalam hati.


“Saya bisa mengakhiri hukuman mu malam ini, jika kamu benar-benar ingin mengakhiri pertemuan kita”. Ucap Juna


Juna seperti mendesak perasaan Nana, namun Juna sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Nana. Nana seperti dipermainkan, Nana hanya merasa baper terhadap sikap Juna.


Mata Nana mulai berkaca-kaca, terlihat kristal jernih jatuh dari pelupuk matanya. Entah apa yang membuat Nana menangis, apakah dia memang tidak ingin mengakhiri pertemuannya dengan Juna atau dia takut Juna pun akan mempermalukan dia seperti Rahman.


“Boleh aku tanya sesuatu Kak?”. Tanya Nana.


"Kenapa sikap kakak begitu aneh?”


“Sikap kakak seperti mempermainkan perasaan ku”.


“Aku minta maaf kak, aku yang baper, aku yang terlalu halu, aku juga yang terlalu berharap, sehingga aku egois dan berusaha merawat rasa ini dengan baik, sehingga semakin hari, rasa ini pun semakin tumbuh”.


“Aku kagum pada mu Na, kamu menenangkan segala pikiran ku” jawab Juna.


“Hanya kagum yang Kakak rasakan?”. Tanya Nana kembali.


“Entah lah......”. Jawab Juna singkat.


“Baiklah, segera akhiri hukuman ku malam ini seperti janji kakak barusan”. Nana bangun dari duduknya dan meninggalkan Juna di ruang 201.


Nana berhenti di anak tangga, kakinya tak kuat lagi untuk berlari. Gejolak hatinya tumpah mengeluarkan semua pilu yang ia rasakan.


“Ya Allah....aku yang salah, aku yang terlalu berharap, aku telah menghinakan diriku untuk yang kedua kalinya”.


“Ampuni aku ya Allah...............”.


“Aku malu”. Nana terlarut dalam tangis dan kesedihannya malam itu.


Juna melihat Nana yang sedari tadi duduk dianak tangga dan menumpahkan semua air mata jernihnya itu. Juna, menghampiri Nana, memegang bahu Nana dengan tangan kanannya.


“Maafkan saya, Na”.


“Mungkin ada yang salah dengan sikap dan ucapan ku”.


"Saya tidak bermaksud......”.


Nana menoleh kearah Juna, “Semua yang kakak lakukan benar, tidak ada yang salah. Aku dan perasaan ku yang salah memandang sikap kakak”.


Nana berdiri dari duduknya, begitupun dengan Juna. “Terimakasih atas bimbingan kakak, aku minta kakak segera mengurus surat berakhirnya masa hukumanku”.


Nana melangkahkan kaki nya dan segera meninggalkan Juna tanpa kata-kata.