MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 28. LDR (Long Distance Relationship)



            Sudah enam bulan Juna dan Nana menjalankan hubungan jarak jauh, Juna fikus dengan S2 nya di Jogja dan Nana fokus dengan kuliahnya di Jakarta. Namun mereka saling memberi motivasi jarak jauh. Kini Nana sudah masuk semester  enam, program diploma yang ia jalani akan segera berakhir di semster ini.


            Nana sibuk menyiapkan sidang dari tugas akhirnya minggu depan. Dia menjalankan aktifitas tanpa Juna, dia masih teringat dengan kata-kata ibunya Juna di acara wisuda enam bulan yang lalu, namun Nana lebih percaya akan kesungguhan dan kekuatan cinta Juna padanya.


            Hubungan mereka masih cukup baik walaupun terpisah oleh jarak, namun Juna masih sering menghubungi Nana, memberi dukungan atas sidang nya dan masih bersikap romantis seperti biasanya, walaupun hanya melalui handphone.


            “Kak..........minggu depan aku sidang tugas akhir ku”. Kata Nana dalam telfonnya.


            “Wah.....hebat dong. Artinya sebentar lagi lulu dan bisa lanjut untuk program Sarjana”. Kata Juna yang selalu memberi support pada Nana.


            “Lakukan yang terbaik, walaupun tanpa aku. I love you neng geulis”.


            “Thank you Arjuna ku”. Jawab Nana


            Nana terdiam dalam perbincangannya di telfon.........


            “Halo.... Neng, are there?”. Tanya Juna memastikan bahwa Nana baik-baik saja dan masih terkoneksi padanya.


            “Hmmm....., yes. I am Ok”. Jawab Nana kaget. Nana larut dalam lamunan seketika.


            “Kamu kenapa, sayang?”. Tanya Juna.


            “Aku hanya terbayang, ketika aku wisuda kamu datang menjadi pendamping wisuda ku”. Suara Nana terdengar tak bersemangat.


            “Oh...ia, akan kakak usahakan ya......... maaf jika ini membuat mu bersedih”. Kata Juna


            “Gak apa-apa. Aku tahu kakak sibuk dan aku juga tahu kakak sayang aku. I love you”. Nana menutup telfonnya.


            Jarak mereka memang jauh, namun hati mereka terasa dekat, Nana sering menangis menahan rasa rindu pada kekasihnya. Juna yang dulu selalu menemani dia dan sebaliknya, kini terpisah oleh jarak dan waktu demi cita-cita dan sebuah komitmen.


            Juna memang laki-laki yang sangat mengutamakan pendidikan. Dia orang yang sangat gigih dan memiliki jiwa antusias yang sangat tinggi. Dimanapun Juna berada, prestasi selalu mengikuti langkahnya. Tidak heran, jika akan banyak wanita yang menginginkan Juna.


            Sidang tugas akhir Nana pun berjalan dengan lancar walau tanpa Juna. Nana ditemani oleh Riyan dalam sidang itu. Riyan yang siap menunggu proses sidang dari awal hingga akhir, Riyan yang siap membawakan makan siang dan jus kesukaan Nana.


            Nana keluar dari ruang sidang dengan wajah yang berseri, artinya dia melewati proses itu dengan mudah.


            “Hai, neng.......... sukses?”. Tanya Riyan yang sudah tidak sabar menunggu Nana keluar dari ruang sidang.


            Sidang tugas akhir Nana bukan sidang terbuka seperti Juna waktu itu, Nana hanya mempresentasikan


semua hasil tulisan ilmiahnya kepada beberapa penguji di dalam ruang sidang dan hanya dilakukan seerta dihadiri oleh Nana dan beberapa dosen penguji saja. Sehingga membuat Nana lebih relax dibandingkan dengan menyaksikan sidang terbuka Juna waktu itu.


            “Alhamdulillah..........semuanya berjalan dengan lancar dan aku dapat nilai A”. Jawab Nana bahagia.


            “Selamat ya....buddy (sebutan untuk teman terbaik)”. Kata Riyan.


            “Tapi...............”. Nana menundukan kepalanya dan bernada sedikit sedih.


            “Aku tidak sehebat Juna. Dia sungguh sempurna”. Kata Nana teringat dengan kekasih nya.


            “Yang pentingkan sudah lulus dan bisa lanjut lagi. Kejar pendidikan mu, seperti Juna”. Hibur Riyan.


            “Aku sudah siapkan makan siang, pasti lapar”. Kata Riyan sambil menyodorkan nasi box yang ada


ditangan kanannya.


            Nana melirik ke arah nasi box itu..........


            “Buat ku?”. Tanya Nana dengan nada semangat.


            “Buat kita karena aku beli dua”. Jawab Riyan sambil menunjukan satu porsi lagi nasi box ada ditangan kirinya.


            “Wah.... keren. Makasih ya.......... hidung besar”. Kata Nana menggoda Riyan.


            Mereka asik makan siang bersama, suasana sidang Nana dan Juna sangat berbeda, Juna begitu


istimewa dengan dihadiri oleh orang-orang yang mencintai dia. Tetapi Nana hanya ditemani oleh teman terbaik yang ia punya. Namun, Riyan selalu memberi motivasi pada Nana untuk selalu bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.


            Lagi-lagi Nana larut dalam lamunan.............


            Riyan yang sedang asik menyantap makan siang, tiba-tiba berhenti karena teman disampingnya seakan


            “Kenapa lagi, neng...........?”. Tanya Riyan


            Air mata Nana menetes hingga jatuh ke nasi box yang ada didepannya.


            “Aku kangen sama Juna.............” Jawab Nana lirih.


            “Dia tahu kalau hari ini aku sidang, tapi dari semalan dia tidak menghubungi ku”. Kata Nana terbawa emosi.


            “Neng, mungkin Juna sibuk. Mengerti lah............”. Hibur Riyan


            “Sekarang habiskan makanannya, lalu fokus dengan revisi tugas akhir mu agar kamu bisa ikut wisuda


bulan depan”. Nana menganggukan kepalanya.


            Pikiran Nana tak lepas dari bayangan Juna, rasa rindu nya pada Juna mengganggu selera makan dan


tidur Nana. Nana mencoba memejamkan matanya, namun pikiran dan hati Nana belum dapat ia pejamkan. Nana mengambil handphone nya, lalu mengetik pesan singkat untuk Juna.


            “Kak.... tadi siang sidangku lancar dan aku dapat nilai A”. Kata Nana dalam pesannya.


             Dia meletakan kembali handphone nya diatas tempat tidur, Nana membaringkan tubuhnya sambil menunggu jawaban dari Juna. Beberapa menit sudah berlalu dan Juna belum membalas pesan Nana.


            Nana kembali mengambil handphone dan mengetik pesan kedua untuk Juna.........


            “I miss you so much”. Kata Nana


            Pesan kedua pun tidak mendapat balasan dari Juna. Nana memang gadis yang manja dan sedikit kurang


bersabar dalam segala hal, dia lebih cenderung kepada ceroboh. Rasa kesal sudah kumpul di dadanya, ingin rasanya dia teriak sekuat tenaga, memanggil nama Juna agar terdengar sampai kota Jogja, namun tidak akan pernah bisa.


            Nana pun membawa rasa rindu dan kesalnya itu dalam mimpinya..........


            Esok pagi nya, Nana mendapat telfon dari sang Arjuna,


            “Hai, neng geulis. Gimana sidangnya kemarin?”. Tanya Juna dalam telefonnya.


            “Maaf, kakak baru sempat baca pesan dari kamu. Please.....maafin ya!”. Juna terus membujuk Nana. Dia


tahu bahwa Nana kecewa dan marah padanya


            Nana masih terdiam dalam percakapannya di telefon.........


            “Halo....sweety....., honey....., sayang....., geulis......, come on jangan diam”. Juna terus bicara dalam telefon nya menunggu suara kekasihnya itu.


            “Ia, Nana yang salah karena Nana yang gak mengerti kakak”. Jawab Nana yang masih berbaring diatas tempat tidur.


            “Alhamdulillah..............akhirnya gadis cantik ku bicara”. Suara Juna terdengar bahagia mendengar suara Nana di telefon.


            “Siap untuk revisi, honey?”. Tanya Juna kembali.


            “Yes”. Jawab Nana singkat


            “Kalau begitu, sekarang bersiaplah, keperpustakaan, bawa laptop dan kerjakan revisi mu di sana. Semoga sukses dan segera wisuda”. Kata-kata Juna penuh semangat dan Nana bahagia mendengarnya.


            “Apakah kakak akan datang di acara wisuda ku bulan depan?”. Tanya Nana seakan mengingatkan Juna.


            “Ia, pasti sayang....... sabar ya geulis”. Jawab Juna


            “Aku tunggu. I love you Arjuna ku”. Kata Nana lembut


            “I love you too”. Jawab Juna membalas kata cinta dari kekasihnya.


            Suara Juna pagi itu memberikan semangat baru bagi Nana, Nana tidak menghiraukan semua perkataan dan peringatan ibu Juna waktu itu. Nana yakin bahwa Juna akan memperjuangkan cintanya dan meluluhkan hati ibunya.


            Dua tahun setengah mereka menjalin kasih tanpa restu ibu Juna. Juna yang selalu meyakinkan Nana


akan kekuatan cintanya, membuat Nana semakin yakin bahwa Juna lah jodohnya. Juna akan selalu membahagiakan, menyayangi dan menjaganya. LDR tidak membuat hati mereka rapuh, justru membuat mereka semakin yakin akan mimpi dan tujuannya.