
Sudah beberapa hari ini Nana memulai hidup baru tanpa masa lalu nya. Juna dan keluarga kecilnya telah berpindah dan menjauh dari Nana. Nana belajar melupakan semua kenanganya bersama Juna dan menyadari bahwa Juna hanya lah mimpi buruk bagi nya. Study magisternya pun hampir selesai, semua berkas tesis nya telah rapi dan mendapat tanda tangan dari pembimbing nya dan siap di sidangkan minggu depan. Nana salah satu
mahasiswi S2 yang bisa dikatakan aktif dan dikenal banyak dosen, sehingga Prof. Alex pun sangat sayang dan menganggap Nana seperti anak nya sendiri.
Sore itu sehabis sholat asar, Nana sedang duduk di serambi masjid Istiqlal, pasti nya di tempat khusus akhwat/wanita. Dia memperhatikan setiap wanita yang masuk ke dalam masjid. Sampai akhirnya, dia melihat sekelompok wanita dengan jilbab panjang menutupi tubuhnya sedang mengikuti kajian agama, ada yang mengenakan penutup wajah, ada juga yang tidak. Nana mengikuti kajian itu dari kejauhan karena dia belum
mengenal satu sama lain, selain itu pakaian yang ia kenakan tidak sama dengan mereka. Nana hanya memakai jean dan kemeja serta kerudung yang melingkar di leher nya. Nana melihat ketenangan pada wajah wanita-wanita itu, ketenangan yang selama ini belum pernah Nana rasakan. Tiba-tiba handphone Nana berdering dan mengharuskan Nana keluar dari serambi masjid untuk mengangkat panggilan yang masuk di handphone nya.
“Halo, prof”. Sapa Nana
“Halo, Nana. Siap untuk sidang minggu depan?”. Tanya prof. Alex
“Yes, sir. I will”.
“Good. By the way, malam ini saya ada acara. Kamu datang ya.....?”. Lanjut prof. Alex
Nana berpikir sejenak dan seraya berkata dalam hati nya, “Prof. Alex mengundang aku ke pesta nya? Aku ini siapa? Seorang prof mengadakan pesta, pasti tamu nya juga sekelas prof. Gak salah?”.
“Halo, Nana? Are there?”.
“Yes, sir. I am. Sorry for that”.
“I invite you to come to my party tonight”. Tegas prof. Alex sebelum menutup telepon nya.
“Kehormatan bagi saya untuk memenuhi undangan prof. Thank you”. Nana menutup telepon nya.
Nana menoleh ke arah masjid dan ingin sekali mengikuti kajian itu sampai akhir, namun dia harus pulang dan
bersiap-siap untuk ke pesta malam ini. Nana ingin tampil cantik dan elegan di perta prof. Alex karena dia tahu tamu-tamu beliau pasti sekelas profesor.
Nana memilih dress berwarna hitam dengan ikat pinggang berwarna gold yang membuat diri nya terlihat langsing dan jenjang, high heels hitam penuh manik yang terlihat mewah saat terkena cahaya lampu, serta pasmina gold sepadan dengan ikat pinggang nya, polesan make up natural dengan lipsteen cokelat membuat nya terlihat anggun dan menawan.
Nana turun dari taksi tepat di depan gedung pesta, Nana melihat banyak mobil mewah yang terparkir di halaman gedung. Dia menaiki anak tangga satu persatu dengan anggun nya, tak ada satu orang pun yang Nana kenal selain dosen-dosen nya. Tak ada lawan bicara yang sepadan dengan nya, sehingga situasi seperti itu membuat Nana duduk sendiri di kursi paling pojok sambil melihat-lihat sekeliling pesta.
“Welcome Nana, thank you for coming”. Prof. Alex menyapa
Nana menundukkan kepala nya seraya memberi hormat,
“Prof, kalau boleh tau ini pesta apa? Profesor ulang tahun?”. Tanya Nana penasaran.
“Saya sudah memasuki masa pensiun Na, kamu mahasiswi terakhir yang saya bimbing. Saya sudah tidak lagi mengabdi pada negara. Ini pesta perpisahan saya kepada teman-teman sejawat lain nya”. Jelas prof. Alex
Nana hanya bisa menganggukkan kepala nya, “Mohon maaf prof, saya tidak membawa kado untuk prof”.
“It’s OK. Selamat menikmati hidangan nya, saya kembali menyambut tamu lain ya.....”. sambil menepuk-nepuk punggung Nana.
Prof. Alex memang sudah terlihat tua dan sudah saatnya pensiun, pembawaan nya yang kalem dan berwibawa membuat banyak orang sungkan pada nya. Kata-katanya yang lembut dan penuh motivasi, membuat orang yang berada di sekitarnya merasa percaya diri dan bersemangat. Nana tidak mengira bahwa prof. Alex sudah tidak lagi aktf di kampus nya, dan hanya menunggu Nana menyelesaikan S2 nya saja.
Dari kejauhan Nana melihat sesosok laki-laki tinggi hitam memakai jas hitam dengan kemeja putih yang berdiri
beberapa meter di depan Nana, Nana tidak melihat jelas wajah laki-laki itu karena terhalang oleh tamu lain nya.
“Hai, dosen muda. Akhirnya anda datang juga. Loh, anak dan istri gak ikut?”. Terdengar suara prof. Alex menyapa
laki-laki itu.
“Mereka ingin bermanja di rumah saja prof”. Jawab laki-laki itu.
“Juna? Apakah dia Juna?”. Tanya Nana dalam hati
“Oh, ya..... ada Nana juga loh disini”. Kata prof Alex.
“Astaga........kenapa prof. Alex memberitahu nya”. Gumam Nana.
Nana memutar badan agar tidak terlihat oleh Juna. Juna terlihat seperti mencari keberadaan Nana seperti yang
di bilang prof. Alex.
“Nana dimana prof?”. Bisik Juna
“Di sudut sana, mengenakan dress hitam”. Jawab prof Alex sambil menunjuk kearah Nana.
Juna tersenyum melihat Nana kembali,
“Ok. Thank you”. Juna bergegas menghampiri Nana.
Juna melangkah menuju Nana
“Selamat malam Nana?”. Sapa Juna lalu duduk di kursi sebelahnya
Nana masih memalingkan badan nya dan tertunduk tanpa menjawab sapaan Juna.
“Na..........”.
Nana berdiri tanpa menoleh sedikitpun lalu meninggalkan Juna.
“Tunggu!”. Juna menarik tangan Nana
“Aku minta maaf”. Kata Juna
Tanpa berkata-kata, Nana melepaskan tangan Juna dan melanjutkan langkah nya. Nana tidak mau lagi bicara ataupun bertemu Juna, dia hanya ingin hidup lebih tenang tanpa bayang-bayang Juna dalam
hidup nya. Nana meninggalkan Juna yang masih berdiri di belakangnya.
Farewell party berjalan lancar dari awal hingga akhir, semua tamu membawa kado istimewa untuk prof. Alex, mereka memberikan kado terbaik nya untuk pak profesor. Nana mengikuti acara dari awal hingga akhir demi menghargai profesor sekaligus pembimbing tesis nya itu, walaupun sebenarnya dia ingin segera pulang karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Juna.
sampaikan pada Nana, namun Nana selalu menghindar dari nya. Waktu sudah menunjukan jam dua belas malam dan pesta pun selesai, satu persatu tamu mulai berpamitan termasuk Nana.
“Sekali lagi terimakasih atas segala pengorbanan profesor pada kami, atas bimbingan serta pengandian profesor. Saya mohon pamit. Saya akan merindukan profesor”. Nana memeluk prof. Alex dan meneteskan air mata nya.
“Sukses nak..........!”. Prof. Alex menepuk-nepuk punggung Nana.
“Pulang naik apa Na?”. Tanya prof. Alex sambil melepaskan pelukan nya.
“Taxi prof”. Sambil menghapus air mata nya.
“Excuse me, prof. Saya mohon pamit”. Kata Juna sambil memeluk prof. Alex
“Thank you, sir. Lanjutkan perjuangan anda. Saya senang anda datang malam ini”. Balas prof. Alex
Juna mengangguk-anggukan kepala nya,
“By the way, boleh titip Nana pulang? Kasian anak gadis pulang naik taxi tengah malam begini. Saya lebih percaya pada anda Mr. Juna”. Kata prof. Alex
Perkataan prof. Alex mengagetkan Nana, sorot mata nya seperti menunjukan bahwa dia tidak ingin pulang bersama Juna.
“Dengan senang hati prof. Saya akan antarkan Nana sampai depan rumah. insyaAllah aman”. Jawab Juna
“Thank you”.
“Baik lah, kalau begitu. Kami pamit. Permisi”.
“Hati-hati”.
Juna dan Nana melangkah ke pintu depan sampai menuju mobil.
“Aku naik taxi aja”. Kata Nana
“Turunkan ego mu, keselamatan mu jauh lebih penting dari keegoisan mu Na”. Kata Juna yang sedang membukakan pintu mobil untuk Nana.
“Prof, menitipkan mu pada ku. Jika kamu pulang sendirian lalu terjadi sesuatu, aku yang bertanggung jawab di depan prof. Paham!”. Tegas Juna.
“Aku janji tidak akan berkata apapun dan berbuat apapun selama perjalanan dan sekarang masuk”.
Nana menuruti apa yang Juna katakan dan masuk dalam mobil. Dalam perjalanan Juna menyalakan lagu
Micheal Learn to Rock yang berjudul “That’s why you go away” dan ikut melantunkan reff nya.
I won’t forget the way your kissing.
The feeling’s so strong were lasting for so long
But i’m not the man your heart is missing
That’s why you go away i know
Nana tersenyum sedikit di bibir nya mendengar suara Juna yang sangat jelek, dia teringat waktu melihat Juna diminta untuk bernyayi di kelas waktu dulu, dia membawakan lagu itu dengan wajah memerah dan bercucuran keringat.
“Kamu ingat lagu ini?”. Tanya Juna yang sedari tadi curi-curi pandang
“Lagu itu pernah aku nyanyikan susah payah di depan perempuan yang sangat aku cintai. Dengan suara
jelek ku, wajah memerah seperti kepiting rebus dan keringan yang bercucuran, aku berhasil menyelesaikan reff nya saja dan aku bangga”. Goda Juna
Nana tidak menghiraukan semua perkataan Juna, dia memalingkan wajahnya kearah kaca mobil. Setelah kurang lebih 30 menit, Mobil pun terhenti di depan gang, karena gang yang sempit sehingga mobil tidak dapat memasuki nya.
“Aku antar sampai depan rumah”. Kata Juna
“Tidak usah, rumah ku sudah bisa terlihat dari sini jadi kamu gak usah khawatir”. Balas Nana.
Nana mencoba untuk membuka pintu mobil yang masih terkunci.
“Nana, sebelum turun. Aku ingin bicara”. Kata Juna
Nana mengurungkan niatnya dan memberi kesempatan pada Juna untuk bicaca.
“Only in ten seconds”. Kata Nana
“Yes, I will”.
“1,2,3,4,5,6...”. Nana menghitung waktu yang ia tentukan.
“I LOVE YOU”. Tanpa aba-aba Juna berhasil memberi kecupan di bi*ir Nana.
PRAKKKKK............Tangan Nana mendarat di pipi Juna.
“Jangan pernah ada di hadapan aku lagi Juna”. Kata Nana penuh emosi.
Nana berjalan cepat menuju rumah nya sedangkan Juna masih mengelus-elus pipi nya yang masih perih
bekas tamparan Nana
“Anggap saja itu kenangan terakhir ku Na! Kamu wanita pertama yang ada dalam hidup ku dan kamu
adalah cinta pertama bagi ku, aku tahu bahwa kamu merasakan hal sama”. Teriak Juna
Juna masuk dalam mobil setelah Nana masuk dalam rumah, Juna melanjutkan perjalanan pulang.