MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 103. Semakin Curiga



Pikiran Imam mulai terusik oleh rasa curiga terhadap istrinya. Matanya pun kini sulit untuk terpejam, pikiran nya


mengganggu semua aktifitas Imam, bahkan selera makanpun ikut hilang.


“Mas...........kok akhir-akhir ini, Nana lihat kamu berubah?”. Sambil memeluk Imam dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung.


“Masa sih? Gak ah”. Bantah Imam yang yang sedang asik di depan laptop sambil membuka akun facebook nya.


“Cari apa sih?”. Tanya Nana


“Pingin lihat profil pak Juna aja”. Jawabnya datar


Nana mengerutkan dahi nya...................


“Ada apa dengan pak Juna?”.


“Mas denger sih, dia dosen yang cukup terkenal. Pingin tahu profilnya aja, mulai dari keluarga sampai mantan


nya. Karena beliau pernah bercerita kalau kamu itu mirip dengan mantan nya”. Imam memberikan tatapan mematikan pada Nana


“Buat apa mas............? Gak boleh kepo dengan urusan orang lain”.


“Oh ya? Kalau kepo dengan istri, boleh?”.


Nana semakin tidak enak hati mendengar nada suaminya yang mulai meninggi.


“Sudah malam, tidur yuk!”. Ajak Nana


“Mas boleh bertanya sama kamu?”.


“Iya mas?”.


“Apakah yang dimaksud dengan pak Juna itu kamu, Na?”.


Nana kaget mendengar pertanyaan suami nya


“Apa maksud kamu menyembunyikan dari mas? Kamu yang tidak mengizinkan mas bekerja dengan pak Juna, tetapi sekarang kamu malah mau menggantikan kelas Vita. Mas tahu jika atasan kamu itu pak Arjuna”.


“Mas, Nana gak bermaksud menyembunyikan semua ini sama mas. Nana hanya gak mau lagi mengingat masa lalu


bahkan Nana juga tidak mau bertemu kembali dengan dia. Nana minta maaf jika ini membuat mas cemburu”.


“Lalu kenapa sekarang kamu malah menerima tawaran Vita? Harusnya kamu menolak”.


“Nana sudah berusaha menolak mas, tetapi Nana tidak berani menolak Vita. Dia sahabat baik ku, Nana punya hutang budi pada nya”.


“Lalu dimana kamu memposisikan mas sebagai suami mu? Tidak kah kamu memikirkan perasaan suami mu ini?”.


“Iya mas, Nana minta maaf. Jika mas menginginkan Nana untuk resign, besok Nana akan menyampaikan surat pengunduran diri”.


Imam meninggalkan Nana di ruang tamu......................


Nana pun tertidur di ruang tamu dan Imam tidak dapat terpejam, sungguh Imam suami yang sangat baik, dia tidak akan pernah tega melihat istrinya tidur di ruang tamu. Imam menggendong istrinya lalu memindahkannya ke tempat tidur.


Pertengkaran semalam pun membuat Nana lelah, sehingga ia bangun lebih siang dari sebelumnya.


“Pagi sayang..................”. Imam membangunkan Nana dengan segelas teh hangat di tangan nya.


“Mas”. Mata Nana mulai terbuka


“Sudah jam 5.30 sholat subuh lalu minum teh nya”. Imam meletakan teh hangat di samping tempat tidur


“Nana kesiangan? Kok gak dibangunin?”.


“Kamu terlihat capek, jadi sengaja gak mas bangunkan. Habis sholat, minum teh lalu sarapan. Mas sudah buatkan


sarapan untuk kamu”.


“Mas sudah gak marah?”.


“Gak dong................ maafin mas ya. Semalam mas terlalu egois, dan cemburu. Mas sayang sama kamu”. Peluk Imam


“Iya mas. Nana juga minta maaf. Nana sholat dulu ya”.


“Iya sayang......................”.


Selesai sholat dan bersih-bersih, Nana segera menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Imam.


“Hari ini kamu ke kampus?”.


“Istirahat aja mas, sepertinya badan ku lemas. Lagi pula, aku juga kan mau resign”.


“Hmmm...............menurut mas, gak usah resign. Mas percaya sama kamu bahwa kamu setia”.


Nana terdiam dan menatap suami nya yang duduk persis didepan nya


“Serius?”.


“Iya, mas tau dari dulu kamu pingin berkarir kan? Jika karir mu sekarang membuat mu bahagia, lakukan”.


“Maafin Nana ya mas. Terimakasih...........”.


“Mas.................mas...............kok bengong?”. Nana melambaikan tangan nya pada Imam


“Ah..........maaf, mas hanya membayangkan betapa indahnya hidup kita jika kita selalu bersama”.


“Aamiin..............”.


“Jadi, hari ini di rumah aja?”. Tanya Imam kembali


Nana mengangguk..................


“Kalau begitu, mas temani”.


Imam menggendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur


“Istirahat ya...............biar semua pekerjaan rumah hari ini, mas yang beresin”.


“Makasih ya mas”.


“Iya sayang”.


“Kring.....................”. Handphone Nana berbunyi


“Biar mas ambilkan”.


“Siapa mas?”.


“Pak Juna”. Imam menyodorkan handphone pada Nana yang sedang berbaring di atas tempat tidur


“Mas saja yang angkat”.


“Ya gak bisa dong........siapa tahu ini soal kerjaan. Kan kamu belum izin kalau hari ini gak masuk”.


“Astaghfirullah................Nana lupa mas”.


Nana mengambil handphone nya dari tangan Imam


“Halo, assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam. Kamu ko belum datang? Kesiangan?”. Tanya Juna


“Maaf pak, sepertinya hari ini saya izin karena kurang enak badan. Tapi maaf sebelumnya jika saya belum sempat


memberi kabar”.


“Kamu sakit? Sakit apa? Sudah ke dokter?”. Suara Juna terdengar panik dalam telepon yang sengaja di loud speaker oleh Nana


“Alhamdulillah cuma kecapean aja pak. Terimakasih atas perhatian nya dan insyaAllah ada suami saya yang dengan setia selalu menjaga saya dengan baik”.


Tubuh Juna tiba-tiba kaku mendengar perkataan Nana, betapa terbakar cemburu nya ia. Dada nya mendadak sesak dan jantungnya seperti berhenti. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain ucapan, oh..............


“Oh........baik lah. Salam buat pak Imam”. Juna menutup telepon nya


“Maafin Nana ya mas. Apa sebaiknya Nana resign aja?”.


“Mas gak apa-apa. Selagi kamu nyaman, bekerja lah secara profesional. Mas percaya kamu”.


“Mas sadar bahwa penghasilan mas sebagai kepala keluarga belum dapat memenuhi semua kebutuhan kita, jadi mas rasa niatkan bekerja untuk ibadah, insyaAllah berkah”.


“Aamiin............ terimakasih mas”.


Malampun tiba


Info mengenai keadaan Nana rupanya membuat Juna tidak fokus kerja hari ini, rasanya ingin segera ia melajukan


mobilnya dengan kencang ke kontrakan Nana, akan tetapi jadwal rapat di kampus membuatnya tidak dapat pulang lebih awal.


Tepat pukul 11 malam, Juna membawa mobilnya mampir ke kontrakan Nana, tidak peduli dengan keberadaan Imam malam itu. juna memarkir mobilnya di depan kontrakan dan melangkahkan kaki nya ke depan pintu. Tangan Juna seakan ringan ingin mengetuk pintu, namun berkali-kali ia urungkan. Ia kemudian mengambil handphone nya dan mengirim pesan singkat pada Nana.


“Assalamu’alaikum Na. Aku di depan pintu”.


“Astaghfirullah............mas, apa yang dilakukan Juna?”. Nana memberikan handphone nya pada Imam.


“Mungkin Cuma mau bersilaturahmi aja. Gak apa-apa. Biar bagaimanapun dia tamu kita”.


Imam turun dari tempat tidur lalu keluar membukakan pintu


“Pak Juna? Ada apa pak?”.


“Hmmm......., maaf jika mengganggu. Saya hanya ingin memberikan berkas ini pada Nana”.


“Tapi maaf pak Juna, istri saya sudah tidur. Boleh saya ambil berkas nya?”


“I.....iya baik, terimakasih pak”.


Juna kembali ke mobil tanpa berbasa basi lebih lama.


“Pak Juna sebaiknya anda segera pulang, kasian anak-anak anda menanti bapak”. Teriak Imam dari depan pintu lalu masuk ke dalam kontrakan dan membiarkan Juna di dalam mobil yang masih terparkir di depan kontrakan.


“Argh......Juna ada apa dengan mu? Bodoh! Kenapa kamu harus datang malam-malam begini. Nana sudah tidak sendiri lagi. Dasar laki-laki bodoh!”. Juna memaki dirinya sendiri sambil memukul-mukul setir mobil lalu ia pergi.