
Hukuman Nana telah berakhir, kini Nana kembali ke jadwal semula bersama teman-teman lainnya. Sudah satu bulan Nana tidak lagi bertemu dengan Juna walapun mereka satu kampus dan satu departemen.
Nana masih berat pada hatinya, dia merasa apa yang ada pada hatinya adalah sebuah kesalahan besar. Seharusnya, dia tidak merasa baper dan tidak juga berharap. Yang Nana rasakan saat ini adalah, bagaimana dia harus bersikap dan bertanggung jawab atas kesalahannya itu.
Kejadian malam itu, membuat Nana belajar dan terus belajar. Nana tahu bagaimana cara menghormati dirinya sendiri dan orang lain. Menyayangi seseorang itu tidak harus menjadi sepasang kekasih, seperti halnya dia, Riyan dan juga Lia. Mereka tetap saling menyayangi walaupun itu hanya sebatas sahabat.
“Sebaiknya, aku belajar memposisikan Juna sebagai dosen favorit ku saja, tidak kurang dan tidak juga lebih. Seperti dia yang memposisikan aku sebagai teman yang ia kagumi”. Pikir Nana dalam lamunannya.
Nana lebih banyak diam di kelas, tidak rame seperti dulu, bahkan dia hanya bicara seperlunya saja. Riyan
merasakan perubahan yang ada pada diri Nana. Nana yang biasanya duduk selalu berdampingan dengan Riyan, kini terpisah. Nana lebih suka duduk di barisan paling belakang.
Riyan hanya bisa melihat Nana dari tempat duduknya semula, sesekali Riyan menoleh pada Nana,
melempar tutup balpoint atau sesutu ke arah Nana, namun Nana bersikap cuek akan hal itu. Bahkan Riyan sempat melempar gumpalan kertas pada Nana yang berisikan sebuah tulisan “Kamu terlihat cantik dengan dress itu, neng”, tetapi Nana pun tidak memperdulikannya.
“Ada apa Nana?”
“Kenapa saya begitu khawatir dengan sikap dia yang seperti itu, ya?” tanya Riyan pada dirinya sendiri.
Tiga puluh menit sebelum kelas berakhir, Nana meminta izin keluar kelas. Ini hal pertama yang dilakukan Nana. Dia selalu mengikuti kuliah dari awal hingga akhir, namun malam ini, entah apa yang membuat Nana bersikap demikian.
Melihat tingkah Nana, Riyan melakukan hal yang sama. Riyan menyusul langkah Nana dari belakang.
Riyan terus memperhatikan Nana dari kejauhan dengan penuh tanda tanya.
Riyan melihat Nana duduk di dalam mushola, menyandarkan tubuhnya pada dinding mushola itu, melipat
kakinya didepan dada lalu dipegangnya erat, dan pandangannya lurus kedepan tanpa arah tujuan.
Riyan bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Sikap Nana berubah sejak baksos itu, “Apakah dia masih
marah pada ku?”. Tanya Riyan dalam hati. Riyan melanjutkan langkahnya perlahan hingga sampai tepat disamping Nana.
Riyan membuka sepatu yang ia kenakan, dan ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding mushola. Nana tidak merespon, bahkan tidak menoleh sedikitpun.
“Hhmm....ada yang ingin kamu ceritakan, neng?”.
“Kalau kamu masih marah, aku minta maaf ya...”. Riyan membuka pembicaraan pada Nana.
“Yan, usia ku sudah cukup untuk menikah, dulu aku pernah gagal. Apakah akan ada laki-laki yang mau
menikahi ku nanti?”. Tanya Nana dengan nada pesimis.
“Neng....ilmu agama mu jauh lebih banyak dari aku dan kamu pasti sudah tahu jawabanya. Jangan
berprasangka buruk pada tuhan”. Jawab Riyan.
“Apakah itu artinya aku tidak bisa memilih dengan siapa aku menikah?”
“Bahkan aku juga tidak bisa memilih, aku harus mencintai siapa?” tanya Nana kembali.
“Kamu suka sama Juna?” Tanya Riyan
“Dia hanya kagum pada ku, Yan”. Jawab Nana
“Kalau begitu, kamu juga bisa mengagumi nya”.
Mendengar penjelasan Riyan, Nana tahu apa yang harus dia lakukan. Tidak sepantasnya Nana
berharap lebih dari sekedar kagum.
Disisi lain, Juna yang super jaim dan cuek diam-diam mencari Nana satu bulan ini. Dia sadar bahwa
apa yang dia rasa lebih dari sekedar rasa kagum. Ada cinta dalam hati Juna yang sampai saat ini masih terbungkus rapat oleh rasa jaim yang ada pada diri Juna.
“Apa yang sudah saya lakukan pada Nana?”. Tanya Juna pada dirinya sendiri.
“Tidak seharusnya saya berbohong, menutupi rasa yang memang Nana pun merasakan nya”.
Juna memberanikan diri untuk menemui Riyan di kampus, karena dia tahu hanya Riyan yang dapat
Juna tahu bahwa malam ini ada jadwal kuliah Riyan dan Nana, Juna menunggu di lobby, dia menunggu jam kuliah selesai sambil membaca buku yang dia pegang. Lima belas menit menunggu kuliah usai, adalah waktu yang sangat lama bagi Juna saat itu.
Sesekali dia berdiri dari duduknya, berjalan ke kanan ke kiri, matanya mulai menerawang kearah tangga, menanti Riyan turun dari kelasnya. Juna melihat arloji yang ada ditangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, saatnya jam kuliah selesai.
Juna mulai merapihkan kemeja kotak-kotak hitam serta celana yang dia pakai, suara gemuruh mahasiswa pun mulai terdengar, suara setiap langkah kaki yang menuruni anak tangga semakin terdengar jelas, itu artinya semua mahasiswa sudah keluar meninggalkan kelasnya.
Juna terpesona ketika melihat Nana berjalan dengan anggun bersama dress violet yang ia kenakan. Wajahnya yang bersih membuat dia terlihat semakin menarik.
Nana menghentikan langkahnya seketika, menarik badannya ke belakang Riyan. Tanpa sengaja, Riyan
pun ikut menghentikan langkahnya. “Jangan biarkan dia menemui ku”. Bisik Nana pada Riyan.
Riyan terus berjalan, seakan tidak melihat Juna yang sudah lama menantinya. Nana dengan wajah seperti ketakutan, berada di belakang Riyan dan memalingkan pandangannya dari Juna.
“Hai.....” Sapa Juna pada Riyan dan Nana.
“Oh... hai”. Jawab Riyan, dan Nana masih menyembunyikan wajahnya di belakang Riyan.
“Hmm, bisa bicara sebentar”. Tanya Juna
Riyan mngerutkan dahi nya, “Bicara sama siapa? Aku atau Nana?” Riyan melontarkan pertanyaan
kembali pada Juna.
“Sama kamu Yan”. Jawab Juna singkat.
“Neng, kamu pulang duluan ya.... takut kemaleman, hati-hati dan maaf gak bisa antar sampai terminal”. Riyan berbisik pada Nana. Nana mengangguk-anggukan kepalanya kemudian meninggalkan Riyan dan Juna di lobby.
Juna yang terus menatap Nana, seakantidak rela melihat Nana jalan sendirian. Akan tetapi, dia sudah mengatakan bahwa dia ingin bicara dengan Riyan.
“Ada apa Jun?” tanya Riyan.
“Yan, aku ingin bicara dengan Nana. Aku tahu, aku melakukan kesalahan padanya”. Juna bicara dengan nada cepat.
“Loh, kenapa tadi gak bicara sama dia?”. Tanya Riyan dengan gaya bodohnya.
“Dia gak akan mau bicara dengan ku Yan”.
“Menatap saja dia gak berani”.
“Lalu, apa hubungannya dengan ku?”. Tanya Riyan.
“Aku minta kamu yang mempertemukan aku dengan nya”. Juna memohon pada Riyan.
“Laki-laki yag baik dan gentle adalah laki-laki yang mau mengakui perasaannya, berkata jujur dan bertanggung jawab atas apa yang dia rasa selama ini”,
“Aku tahu, kamu mencintai Nana
sebelum Nana mencintai kamu tetapi kenapa kamu tidak pernah mengakui itu?”. Riyan menahan amarahnya pada Juna.
“Sampai akhirnya, Nana merasa dirinya bodoh dan terhina”.
“Jangan libatkan aku dengan kebohongan mu”. Riyan berkata dengan nada kesal tertahan. Ingin rasanya Riyan teriak di telinga Juna agar dia sadar dan mengerti. Riyan meninggalkan Juna tanpa menoleh sedikitpun pada nya.
Juna mengikuti langkah Riyan dan terus memohon pada Riyan agar Riyan mau mempertemukan dia dengan Nana.
“Justru karena aku sadar aku salah, makanya aku minta bantuan mu untuk mempertemukan aku dengan Nana, Yan”. Juna berjalan setengah berlari mengikuti langkah Riyan, namun Riyan tetap tidak perduli.
“Aku mengakui kalau aku suka pada Nana, aku ingin bicara jujur, Yan”.
Riyan menghentikan langkahnya dan menoleh pada Juna yang sedari tadi mengikuti dia dari belakang.
“Tunggu Nana besok malam di sini, katakan semuanya pada Nana”.
“Jangan pernah bikin Nana kecewa”. Tegas Riyan.
Riyan mempercepat langkahnya agar Juna tidak lagi mengikuti dia.
“Ia, Yan. Aku janji. Thanks”. Teriak Juna beberapa meter dari Riyan yang telah pergi meninggalkannya.