
Hari-hari Nana kembali bersinar bersama Tika dan Affan, entah kenapa Nana tidak memiliki banyak teman namun
teman Nana bagaikan sebuah berlian yang tak ternilai harganya.
Tika dan Affan menjadi pengobat disaatnya hati nya sedang galau, mereka selalu membuat Nana tersenyum bahagia walaupun kadang suka menjengkelkan, Tika yang mecicilan dan sibuk dengan make up nya, sedangkan Affan yang selalu bikin Nana risih dengan sikap nya genit. Namun, itu lah mereka. Tidak ada syarat dalam bersahabat yang ada hanyalah menerima semua kekurangan kita masing-masing.
Hubungan mereka bertiga makin hari semakin terlihat solid, mereka selalu ada dan saling membantu, menyempurnakan setiap kekurangan yang mereka miliki. Layaknya seperti Nana, Riyan, dan Lia, mereka saling support satu sama lain dalam segala hal, terutama dalam kebaikan. Ketika itu, mereka sedang makan siang di aula masjid, tiba-tiba Nana teringat dengan Riyan dan juga Lia.
“Kalian mengingatkan aku dengan dua sahabatku di kampus lama ku dulu”.
“Mereka selalu menghibur dan selalu ada saat aku butuhkan, bahkan Lia, dia selalu bersedia membantu aku disaat aku tidak ada uang untuk bayar kuliah ataupun hanya untuk sekedar ongkos, padahal Lia kuliah di Bandung, namun dia pulang ketika aku butuh”. Mata Nana mulai berkaca-kaca mengingat dua sahabatnya itu.
“Selain Riyan dan Lia, apakah ada teman yang lain?”. Tanya Tika.
Nana tersenyum asam...............
“Bagi ku, Riyan dan Lia sudah lebih dari seribu teman sekalipun”. Jawab Nana
“Teman cowok lain? Maksud aa, pacar”. Tanya Affan
Nana terdiam dan menutup box makan siangnya, dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan pelan-pelan dari mulutnya.
“Aku pernah jatuh cinta, tetapi................ aku rasa itu suatu kesalahan”.
“Kenapa?”
“Karena karena cinta, aku menyakiti banyak orang. Menyakiti perasaan ku, perasaan dia bahkan keluarganya, atau
mungkin menyakiti sahabatku sendiri”.
“Kok bisa?”. Tanya Affan penasaran seperti ingin mencari tahu lebih dalam tentang Nana.
“Sudah lah.............”.
Nana melihat jam dinding yang berada di aula masjid, “Yuk siap-siap untuk sholat dzuhur”. Kata Nana lalu pergi menuju tempat wudhu.
“Seperti ada yang dia sembunyikan”. Kata Affan semakin penasaran
“Yang jelas, dia pernah patah hati dan mungkin sampai saat ini hatinya masih terluka. Itu artinya, kamu harus bisa menjadi obat bagi dia, buktikan kalau kamu suka, jika perlu langsung lamar”. Bisik Tika.
Tika pergi menyusul Nana ke tempat wudhu sementara Affan masih termenung memikirkan perkataan Tika.
Beberapa menit kemudian, Affan pun meninggalkan aula dan bersiap untuk melaksanakan sholat dzuhur berjam’ah.
Raut wajah Nana berubah setelah mendengar pertanyaan Affan, entah kenapa dia teringat dengan kisahnya bersama Juna. Kisah indah yang mungkin tidak akan pernah Nana lupakan. Cinta Nana begitu besar dan kuat kepada Juna, sehingga Nana belum bisa move on sepenuhnya.
Selesai sholat dzuhur, Nana masih terdiam, expresi tak bersemangatpun mulai muncul di wajahnya.
“Kamu kenapa, Na?”. Tanya Tika
“Oh, good. I’m Ok, I’m fine. Thank you”. Jawab Nana dengan senyum yang masih asam.
Tika hanya bisa menganggukan kepalanya sambil merapikan mukena yang telah ia pakai dan menyimpan kembali pada lemari yang berada di sudut masjid. Nana keluar dari masjid dan melihat Affan yang masih bersandar di tiang masjid menunggu Nana dan Tika.
“Abang, ayo ke atas! Sebentar lagi masuk”. Kata Nana dengan nada sedikit tegas.
“Males neng, ngantuk. Titip absen ya...........”. Jawab Affan
“Males ah, kebiasaan banget sih kalau habis makan ngantuk dan males masuk kelas. Besok-besok gak usah makan deh”. Jawab Nana ketus.
“Abang, ayo.............!!!”. Nana mulai kesal pada Affan.
Affan berbaring dan menjadikan tasnya sebagai bantal serta menggunakan jaketnya untuk menutup wajahnya.
“Astaghfirullah..............ini orang males banget sih!!!”. Nana menarik tas Affan yang sedang ia gunakan.
“Aww...!!!”. kepala Affan terbentur lantai masjid.
“Neng..... ngantuk. Panggil aa dulu deh biar seger............”. lagi-lagi Affan membuat Nana risih dengan tingkahnya yang aneh.
“Terserah!”. Nana melempar tas Affan dan mengenai tubuhnya yang sedikit bulat.
Nana dan Tika meninggalkan Affan di masjid. Sikap Affan membuat Nana jengkel, “Ih...aku sebel deh lihat cowok males!”. Kata Nana sambil berjalan menuju kelas.
“Apakah itu artinya, kamu berharap Affan menjadi laki-laki rajin dan penuh semangat”. Kata Tika.
Perkataan Tika membuat Nana terhenti secara spontan dan menoleh pada Tika serta menatap mata sahabatnya itu.
“O O.......sepertinya aku salah bicara. Forget it. It’s OK”. Kata Tika.
Tika menepukan tangannya didepan wajah Nana agar tatapan Nana pudar.
“Aku tidak berkata begitu”. Kata Tika
“Astaghfirullah......... gak, kita Cuma teman. No love between us”. Kata Nana bengong.
“Jika Affan mencintai mu, lalu mengatakan perasaannya apakah kamu menerima dia?”. Tanya Tika
Nana duduk di kursi sisi koridor, “Entah lah......., aku akui dia laki-laki baik dan dewasa, akupun nyaman didekatnya. Tapi..............apakah dia mencintai ku?”. Tanya Nana pada Tika.
“Hmmm.....menurut ku, dia sangat mencintai mu. Cara dia memperlakukan mu begitu sabar dengan segala amarah mu, cara dia menggoda mu seakan dia siap untuk menikahi mu tanpa melalui proses pacaran”. Jawan Tika
Pikiran Nana mulai terisi penuh dengan bayang Affan, senyum manis mulai terlihat di bibirnya, pandangan tajam kini berubah mencari cinta.
“Aku tunggu dia menyatakan aja”. Kata Nana
“Artinya kamu suka?”.
Nana tersenyum dan melanjutkan perjalannya menuju kelas.......
“Neng, tunggu!!!”. Suara Affan terdengar.
Nana menoleh pada suara itu, Tika yang masih duduk di kursi berdiri dan meninggalkan Affan dan Nana berdua, seakan memberi peluang kepada mereka untuk saling bicara.
“Aku duluan ya.....”
“Be calm”. Bisik Tika pada Nana
Nana tersenyum melihat Affan berdiri didepannya...............
“Ih, kamu kenapa neng?”
“Tadi marah-marah, jelek, kayak monster. Sekarang cantik dan manis kayak bidadari”. Goda Affan
“Emang abang pernah lihat bidadari?”.
“Pernah dong............”. Jawab Affan
“Kapan dan dimama? Bohong paling. Emangnya Jaka Tarub”.
“Ih...., gak percaya”. Jawab Affan dengan nada santai sedikit tersenyum.
“Mau tahu?”.
“Iya”. Jawab Nana
“Ini, sekarang aa sedang bertemu bidadari surga yang berdiri tegap dan tersenyum manis di depan aa”. Suara Affan lembut.
Nana tersipu malu mendengar perkataan Affan, begitu juga dengan Affan yang tersenyum lebar kepada Nana.
“Kenapa sih suka gombal?”.
“Tapi kamu suka kan?” Tanya Affan
Nana menghela nafas................
“Sebagian perempuan mungkin suka dengan kata-kata gombal tapi.........aku bukan termasuk sebagian dari perempuan itu”. Jawab Nana
“Sayang ya.....itu hanya gombal? Seandainya yang barusan aku dengar adalah kenyataan, mungkin hati ini akan lebih bahagia”.
Nana meninggalkan Affan yang masih berdiri memikirkan perkataan Nana.
“Nang, tunggu!”. Affan mengejar Nana sehingga dia berada didepan Nana
“Maafin aa, aa gak bermaksud. Sebenarnya...... aa, tadi.....aa”. Affan terlihat gugup dan wajahnya memerah didepan Nana.
“Tet................tet..................tet.....................!!!”
Suara bel masuk berbunyi, semua mahasiswa memasuki kelas masing-masing. Nana mempercepat langkah
kaki nya menuju kelas yang berada di lantai dua tanpa menghiraukan Affan yang sedang berusaha mengakatakan sesuatu.
“Neng, aa....... ahhhhh.......!!!” Affan kesal terhadap dirinya sendiri
“Katakan Affan.......katakan!!”. Affan terus menampari pipinya sendiri.
Tanpa diketahui Affan, Nana melihat aksi Affan dari tangga. Nana tersenyum melihat tingkah Affan yang menyalahkan dirinya sendiri. Nana yakin kalau apa yang telah Affan katakan di koridor itu dari hati bukan sebuah gombalan.