MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 77. Awal Kenal



Nana sungguh bahagia dengan kesendirian nya, dia mempunyai waktu lebih banyak untuk bekerja, dan silaturahim kepada teman-teman serta lebih banyak waktu untuk mencari ilmu agama.


Sehabis sholat isya, Nana berdiam di dalam kamar nya. Rasa lelah dan kantuknya tak dapat ia abaikan. Nana mematikan lampu kamar, dan mulai membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk, perlahan mata nya mulai terpejam. Tetapi............


“Titut............”.


Suara pesan dalam whatsapp memaksa Nana untuk membuka kembali mata nya. Dia mengambil HP nya yang


ada diatas meja kerja nya. Nomer baru masuk dalam whatsapp, dengan mata berat dia memaksakan diri untuk membaca isi pesan itu dengan seksama.


“Assalamu’alaikum ukthi.............. ini ana ustadz Farid”.


Nana terkejut dengan membuka mata nya lebar-lebar dan menyalakan lampu kamar nya.


“Ustadz Farid?”. Tanya Nana dalam hati


“Bagaimana bisa ia mengirimkan pesan, dapat nomer ku dari siapa?”.


“Jangan-jangan Lulu yang memberikan nya”. Pikir Nana.


Nana membiarkan HP nya tergelak diatas kasur tanpa menjawab salam dari ustadz Farid.


“Katanya ingin kenalan?”. Ustadz Farid melanjutkan perkataanya.


“Hah? Aku harus jawab apa?”. Gumam Nana.


Nana mulai nervous dan salah tingkah sendiri karena dia merasa tidak enak dengan ustadz Farid dan merasa lancang karena ingin berkenalan dengan nya. Nana memberanikan diri untuk membalas pesan ustadz Farid.


“Bismillahirrohmanirrohiim”. Katanya dalam hati


“Wa’alaikum salam warrohmatullah Ustadz. Maaf jika saya lancang. Perkenalkan nama saya Ardiana, panggil saja Nana”. Jawab Nana


“Nama ana Muhammad Farid Hakim. Panggil saja Farid. Terimakasih karena ukhti ingin berkenalan dengan ana”. Jawab Ustadz Farid.


“Apakah ukhti ingin mengenal ana lebih lanjut atau hanya sekedar kenal?”. Tanya ustadz Farid.


Nana bergetar luar biasa membaca pertanyaan yang diajukan Ustadz Farid.


“Mohon maaf ustadz, jika Allah meridhoi saya ingin mengenal ustadz lebih jauh”. Balas Nana


“Na’am. Jika demikian, kita lajutkan perkenalan kita ini dengan saling mengirimkan biodata. Nanti akan ana titipkan biodata serta foto ana pada Lulu”. Jawab ustad Farid


“Baik, ustadz. Terimakasih. insyaAllah saya akan titipkan biodata saya pada Lulu secepatnya”.


“Mohon maaf sudah menganggu, wassalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh”. Ustadz Farid mengakhiri percakapan nya.


“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarokatuh”.


Nana mulai gelisah setelah ia berbincang dengan ustadz Farid di whatsApp. Nana bingung harus menulis biodata seperti apa untuk diajukan pada ustadz Farid, sementara Nana belum pernah melakukan nya. Percakapan itu membuat Nana tidak bisa tidur, ada perasaan senang bisa berkenalan dengan orang baik seperti yang dikatakan Lulu, tetapi ada rasa sungkan dalam hati karena Nana merasa dirinya belum baik.


Siang itu Nana mengundang Lulu untuk makan siang di resto dekat kampus nya. Nana ingin menceritakan tentang percakapan nya dengan ustadz Farid, Nana bingung harus berbuat apa. Hanya Lulu yang kenal dan paham tentang ustadz Farid.


“Assalamu’alaikum Lulu. Temui kakak siang ini, ba’da dzuhur di resto dekat kampus mu ya.... ada yang ingin kakak bicarakan”. Nana mengirim pesan pada Lulu.


Pesan Nana tidak ada jawaban dari Lulu namun, checklist dua berwarna biru menandakan bahwa Lulu sudah membaca nya, mungkin saja dia masih sibuk dengan kuliah nya saat itu. Satu jam setelah Nana mengirim pesan pada Lulu, Lulu pun menjawab pesan tersebut.


“Afwan kak, tadi aku masih sibuk bimbingan. Selesai bimbingan aku langsung ke resto ya..........”. Jawab Lulu


Setelah Nana menyelesaikan pekerjaan nya, Nana segera bergegas menuju resto telah ia janjikan, menunggu adzan juhur berkumandang, Nana istirahat sejenak di musholah resto, sampai akhirnya waktu sholat juhur pun tiba. Selesai sholat juhur, Nana memesan jus mangga sambil menunggu kedatangan Lulu.


“Kak Nana”. Suara Lulu terdengar dari pintu masuk resto


Nana melambaikan tangan nya pada Lulu,


“Assalamu’alaikum kak. Maaf telat karena..........”.


“Sudah sholat juhur?”. Nana memotong pembicaraan Lulu dan Lulu menggelengkan kepala nya.


“Baik kak”. Lulu meletakkan buku dan ranselnya diatas meja dan melangkah menuju mushola yang terletak di taman belakang resto.


Selesai sholat, Lulu segera kembali menemui Nana dan dilihat nya sudah ada makan siang favotit Lulu di atas meja.


“Wah.....rezeki Lulu siang ini. Syukron kak”. Kata Lulu


Nana tersenyum membalas perkataan Lulu,


“Sambil menikmati makan siang, kakak boleh membuka pembicaraan?”. Tanya Nana


Lulu mengacungkan kedua jempolnya bertanda OK dan segera menyantap makan siangnya.


“Semalam Ustadz Farid japri kakak”. Kata Nana


Lulu ternganga mendengar perkataan Nana.


“Kamu yang memberikan nomer kakak pada nya?”.


“Maaf”. Memasang wajah meringis dan memelas.


“Gak apa-apa. Terimakasih”. Jawab Nana


“Jadi.......?”. Tanya Lulu penasaran


“Jadi......., beliau ingin melanjutkan perkenalan kita dengan saling bertukar biodata dan ini biodata kakak”. Nana menyodorkan amplop cokelat berisi biodata diri nya.


Lulu terlihat sangat terkejut namun bahagia dan merasa langkahnya untuk memperkenalkan Nana


dengan ustadz Farid mulai ada jalan.


“Beliau bilang akan menitipkan biodatanya pada mu juga”. Kata Nana


“Alhamdulillah..........Lulu senang menjadi washilah antara kalian. Semoga berujung dengan indah ya kak”. Kata


Lulu


“Aamiin....... makasih ya Lu”.


Sepulang dari resto, Lulu segera menemui ustadz Farid di pesantren dengan membawa amplop cokelat berisi biodata Nana dan meminta biodata ustadz Farid untuk diberikan kepada Nana. Nana pergi ke perpustakaan nasional untuk membaca buku karena sudah lama Nana tidak berkunjung ke sana.


Diperpustakaan Nana bertemu dengan ProfesorAlex yang kebetulan sedang duduk santai di sofa sambil membaca buku.


“Profesor Alex”. Sapa Nana


Profesor Alex sedikit mengangkat kaca mata nya dan menatap Nana yang masih berdiri di depan


nya, mulai dari kepala hingga ujung kaki nya.


“Nana”. Kata Prof. Alex


“Apakabar prof”. Nana duduk di sofa depan Prof. alex


“Alhamdulillah baik. Saya hampir tidak mengenali kamu loh”. Kata Prof. Alex


“Do’akan Nana ya prof, agar istiqomah”.


“Aaamiin. By the way sudah nikah belum?”.


“Mohon do’a agar segera dipertemukan dengan laki-laki sholeh”.


“Oh iya pasti itu. Kamu anak baik, insyaAllah mendapatkan yang baik juga”.


“Oh boleh saya bertanya sesuatu?”. Tanya Prof. Alex


“Iya Prof, silahkan”. Jawab Nana


“Apa betul, kalau Mr. Juna itu pernah menjadi orang spesial kamu”.


Nana terdiam dan tertunduk, lalu mengangkat kepala nya kembali.


“Iya Prof. Dulu waktu kami di D3”. Jawab Nana


“Wow.........perjalanan yang sangat panjang. Sebelum Mr. Juna pindah, beliau menemui saya dan bercerita


sedikit tetang kisah kalian dimasa lalu. Mohon maaf jika saya mengingatkan kamu kembali”.


Nana tersenyum tipis, “Iya Prof. It’s OK”.


“Mohon maaf Prof, saya tidak bisa berlama-lama karena buku yang saya cari ada di lantai 4”.


“Oh iya, silahkan. Sukses ya Na”.


“Terimakasih Prof. Nana pamit ya. Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam”.


Nana meninggalkan Prof. Alex, beberapa langkah Nana meninggalkan Prof. Alex, Profesor Alex kembali memanggil Nana.


“Nana”. Kata Prof, Alex


Nana menoleh kearah Prof. Alex


“Ada salam dari Mr. Juna”.


“Wa’alaikum salam, terimakasih Prof”.


Nana segera mempercepat langkahnya karena dia tidak ingin berlama bicara tentang Juna.