MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 11. Salah Kelas part 2



            Nana segera keluar dari ruang 302 itu dan hilang dibalik pintu, namun Nana masih berdiam diri didepan ruang kelas itu, dia bingung pindah kemana kelasnya. Nana turun ke lantai dua untuk melihat jam dinding yang ada di mushola. Jam yang menempel di dinding mushola itu, sudah menunjukan pukul delapan malam, masih ada sisa waktu satu jam kedepan untuk bisa mengikuti mata kuliah Cross Culture Understanding.


            Sebenarnya, dilantai tiga terdiri dari sepuluh ruang. Mulai dari ruang 301 sampai dengan 310, namun Nana enggan mengetuk pintu demi pintu yang ada di lantai tersebut.


            “Oh.....aku baru ingat, kenapa aku tidak tanya sama front office aja atau lihat dimading lantai 1, pasti


ada pemberitahuan”. Pikir Nana


            Nana segera turun satu lantai lagi dan mendapatkan mading tersebut. Bola matanya mulai berputar cepat kesana kemari, kesetiap sudut mading tetapi tidak dia dapatkan informasi tentang kelas CCU malam itu. Segera Nana menghampiri FO yang berada di depan, tidak jauh dari mading tersebut.


            “Malam ibu...............”. Nana menyapa FO yang sedang bersantai sambil minum kopi.


            “Ya....ada yang bisa dibantu mbak”. Tanya FO itu.


            “Saya mencari kelas CCU bu”. Jawab Nana dengan nada tergesa-gesa


            “Sebentar ya......”. Jawab FO kembali.


            FO mulai memegang mouse komputer yang ada didepannya dan mulai pencarian.


            “Oh.....CCU di lantai tiga, ruang 306”.


            “Baik ibu. Terimakasih”. Nana segera berlari naik menaiki anak tangga hingga ke lantai tiga agar segera masuk ke ruang 306 itu.


            Sampai didepan pintu ruang 306, Nana menarik nafas dalam-dalam lalu mengelarkan kembali lewat mulutnya secara perlahan, agar dirinya lebih santai dari sebelumnya. Nana mulai mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu tetapi


            “Loh.....Na” Pak Nino dosen CCU Nana keluar dari kelas dengan wajah terkejut melihat Nana sedang


berdiri didepan pintu.


            Nana menelan air ludahnya dan membuka matanya dengan lebar kearah pak Nino. Ingin rasanya dia terjun dari lantai tiga tersebut karena malu dan takut, wajahnya mulai pucat, tangannya dingin serta kakinya mulai bergetar. Pak Nino adalah dosen yang sangat disiplin dan tegas, didukung denganpostur  tubuhnya yang tinggi berisi, serta kumis nya yang tebal membuat pak Nino semakin terlihat menyeramkan.


            Pak Nino terkenal sangat ketat dalam aturan yang ia buat selama perkuliahannya. Dia tidak akan pernah memberi ampun kepada siapa saja yang bolos atau terlambat di mata kuliahnya.


            Pak Nino masuk ke dalam kelas, kembali ke meja nya dan mengambil sebuah amplop dari dalam tas yang ada diatas meja. Nana yang masih berdiri didepan pintu sambil tertunduk takut, sudah berpikir bahwa dosennya itu akan memberikan dia surat skorsing yang harus dia tanda tangani.


            Beberapa menit kemudian, pak Nino kembali menemui Nana yang masih berdiri didepan pintu.


            “Baca surat skorsing kamu, lalu tanda tangani dan bawa ke ruangan saya setelah jam saya berakhir”. Tegas pak Nino.


            Nana hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Dia kembali ke lantai satu sambil membawa amplop cokelat yang berisi surat skorsing dari pak Nino barusan. Langkah kakinya tak lagi terdengar, dia menapaki satu persatu anak tangga dengan begitu lambat. Badannya lemas, mukanya pucat, pikiran nya kemana-mana. Ingin rasanya dia menangis, namun tak bisa.


            Nana membuka amplop berwarna cokelat yang ada di tangannya secara perlahan, lalu dia mulai membaca isi surat tersebut baris demi baris dalam keadaan tatapan mata yang kosong. Dia mulai berpikir, apa yang akan terjadi dengannya nanti setelah dia menandatangani surat tersebut.


            “Ah........bodoh...bodoh...bodoh.....!” Nana teriak sambil memukul-mukulkan kepalanya dengan kepal kananya, tanpa menghiraukan orang disekitarnya.


            Perbuatan Nana membuat semua orang yang ada di lobby tertuju padanya. Suasana kampus malam


minggu itu lumayan ramai karena bukan hanya kelas Nana yang ada jadwal make up class, namun memang ada beberapa jurusan yang memiliki jadwal permanen dimalam minggu. Begitu lah suasana kelas karyawan.


            Tiga puluh menit setelah Nana membaca surat tersebut, saatnya Nana menemui pak Nino di ruangannya yang berada di lantai satu. Nana menghitung setiap langkahnya untuk sampai didepan pintu pak Nino, kaki Nana mulai terasa berat, namun dia harus tetap menyeret kakinya agar masalahnya tidak bertambah.


            Sesampainya didepan pintu, Nana berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Bismillah......”. Nana mulai mengetuk pintu pak Nino.


            “Tok...tok...tok.... permisi pak”. Nana memberanikan diri membuka suara.


            “Masuk”. Suara pak Nino terdengar tegas dan lantang dari dalam ruangannya.


            “Duduk”. Suara pak Nino terdengar kedua kalinya.


            Nana masih saja tidak bersuara dan masih tetap menundukan kepalanya, dia melakukan apa yang


diperintahkan oleh dosennya.


            “Kamu sudah baca dan menandatangani surat tersebut?” tanya pak Nino sambil menunjuk surat yang


ada digenggaman Nana.


            Nana mengangguk-anggukan kepala nya lagi dan masih membisu.


            “Berarti kamu bersedia untuk belajar CCU selama satu bulan ini dengan Juna”. Pak Nino mengingatkan salah satu bagian dari isi surat tersebut.


            Nana kaget mendengar perkataan pak Nino dan mengangkat kepalanya dengan cepat. Nana melihat


ada laki-laki muda yang berdiri disebelah kiri pak Nino, laki-laki berkulit hitam, dengan kemeja dan celana cutbray yang dia lihat di ruang 302 beberapa jam yang lalu. Nana berpikir sejenak sambil menatap wajah laki-laki muda tanpa senyum itu.


            “Apa ini yang bernama Juna, yang dibilang pak Nino barusan?” pikir Nana. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepalanya berharap ini Cuma mimpi.


            “Tapi pak......”. Nana berusaha untuk menolak


            “Buka surat itu kembali lalu lihat point dua puluh”.


            Nana segera membuka kembali dan mencari point dua puluh yang dibilang pak Nino. Mulut Nana


ternganga karena memang dia tidak membaca semua aturan yang tertera di dalam surat tersebut. Tanpa basa basi, Nana mengiakan semua yang pak Nino jelaskan.


            “Baik pak. Saya bersedia”. Jawab Nana singkat seakan-akan ingin segera meninggalkan ruangan tersebut.


            “Hhhmmmm...... saya boleh bertanya pak”.


            “Juna ini bukannya kakak kelas saya, yang masih semester enam pak? Ko bisa dia yang mengajar?” tanya Nana penasaran, karena Nana merasa masih banyak yang lebih recommended yang bisa menggantikan pak Nino.


            Dari awal Nana melihat Juna didepan kelasnya beberapa minggu lalu, Nana tidak menyukainya dan sekarang harus belajar dan bertemu dia selama satu bulan, Nana makin kesal dengan aturan yang dibuat oleh dosennya itu..


            “Minggu depan saya dinas keluar kota selama dua bulan, kelas saya digantikan dengan assisten saya,


bukan Juna. Juna hanya saya tugaskan untuk membimbing semua mahasiswa saya yang tidak disiplin dan kamu salah satunya”. Jelas pak Nino yang sedari tadi masih duduk di kursinya.


            “Nama lengkapnya Arjuna, dia mahasiswa terbaik saya. Pencapaiannya dari awal masuk sampai saat ini sangat memuaskan, jadi saya rasa Juna pantas mengembangkan pengalamanya untuk membimbing junior-junior nya”. Lanjut pak Nino


            “Jadi, mulai minggu depan, kamu ikuti aturan yang dibuat Juna dan semua kegiatan kamu selama


belajar dengannya, akan dilaporkan ke saya dan itu ada di surat poin dua puluh dua. Paham?”


            Nana masih terdiam mendengarkan penjelasan pak Nino, namun hatinya makin bertambah. “Kenapa


gak dikasih yang yang agak manisan, gitu”. Gumam Juna dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


            “Jika tidak ada lagi pertanyaan lagi, silahkan keluar dari ruangan saya”. Pak Nino bangkit dari kursinya dan berjalan kearah pintu serta mempersilahkan Nana meninggalkan ruangannya.


            “Baik pak. Terimakasih. Selamat malam dan mohon maaf atas kejadian malam ini”. Nana memberikan salam penghormatan, sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut.