MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 39. TTM (Teman Tapi Mesra) Part 2



Satu tahun sudah Nana belajar d ikampus baru, satu tahun pula Nana kenal dengan Affan. Hubungan mereka cukup baik bahkan sangat baik, semakin hari Nana terlihat semakin nyaman dengan Affan begitu pun dengan Affan yang terlihat semakin sayang bahkan dia sering menunjukan jika dia menganggap Nana lebih dari seorang teman, walaupun hanya sekedar modus atau bercanda. Namun Nana tahu bahwa semua itu dari hati.


 Hubungan mereka yang bisa dikatakan lumayan lama, akan tetapi Affan tidak pernah menyatakan cinta pada Nana, entah apa alasannya. Nana merasa bahwa Affan menyayangi dia lebih dari seorang teman, Nana dengan sabar menunggu kepastian untuk melegalkan hubungan mereka.


Sore itu Nana yang sedang asik membantu Affan menyelesaikan skripsi nya di kontrakan Affan, tiba-tiba dikejutkan dengan nasi goreng spesial buatan Affan. Tidak disangka, Affan pria sunda, pandai memasak.


“Nasi goreng special rasa cinta siap disantap oleh bidadari”. Affan menyuguhkan nasi goreng buatannya dihadapan


Nana.


“Wow.....sepertinya enak banget!”. Kata Nana sambil mencium aroma nasi goreng yang baru saja matang.


“Mau disuapin atau makan sendiri?”. Tanya Affan sambil menggerakan alis nya keatas dn kebawah dengan senyum nakal di bibirnya.


“Modus!!”. Jawab Nana ketus sambil mengambil nasi goreng yang ada didepannya.


Nana menyantap nasi goreng itu dengan lahap, sepertinya dia sangat lapar karena seharian didepan laptop. Affan memang cenderung laki-laki pelit dan tidak peka karena dia akan menyediakan sesuatu jika dipinta terlebih dahulu.


“Enak banget.....kok bisa masak bang?”. Tanya Nana


“Ia dong. Calon imam ideal. Pinter masak, pinter ngaji, pinter nyenengin istri, insyaAllah”. Jawab Affan dengan rasa


percaya diri.


“Tapi pelit!”. Balas Nana sambil terus mengunyah.


“Kata siapa aku pelit?”.


“Abang itu gak peka, kenapa harus dipinta baru memberi. Aku dari pagi bantu mengerjakan skripsi mu tetapi baru


sekarang di kasih makan, itupun harus diberi kode. Sudah jam berapa ini? Sebentar lagi masuk asar”. Jawab Nana masih bernada ketus.


“Ya....maaf. By the way, suka gak dengan nasi gorengnya?”. Bisik Affan di telinga Nana


“Suka dong”. Jawab Nana


“Kalau sama orangnya suka juga?”. Jawab Affan kembali.


“Su.............”.


Nana berhenti mengunyah lalu menoleh ke Affan yang berada disampingnya bahkan hidung mereka hampir


bersentuhan karena tidak ada jarak diantara mereka.


“Astaghfirullah...........”. Nana terkejut ketika melihat Affan tersenyum persis didepan wajahnya.


Nana meletakan piring di atas lantai kontrakan dan meneguk air putih yang ada di depannya.


“Maaf bang”. Nana gugup.


“Kamu cantik, baik, periang, pintar dan aa suka”. Affan terus menatap wajah Nana yang memerah.


“Hm...., kita lanjutkan besok aja ya.....skripsinya. Sudah sore, aku harus pulang”. Nana mengalihkan pembicaraan.


Perkataan Nana membuyarkan pandangan Affan yang sejak tadi menatap Nana. Affan menarik pandangannya dan berdiri,


“Oh....ia, terimakasih neng. Aa antar sampai terminal ya”. Kata Affan sedikit grogi.


“Ia, terimakasih”. Jawab Nana


Nana merapikan semua buku-buku yang berserakan dilantai, mematikan laptop dan bersiap-siap untuk pulang. Sementara Affan menunggu Nana di depan pintu sambil terus memandang Nana.


“Neng, aa boleh tanya sesuatu?”.


“Boleh”. Jawab Nana


“Kamu sudah punya pacar?”. Tanya Affan


Nana terseyum.........


“Menurut abang?” Nana kembali bertanya


“Jawab serius atuh neng.............!”.


Nana berjalan mendekati Affan yang sejak tadi berdiri didepan pintu, sehingga Nana berada didepan Affan sekarang.


“Abang sayang.............baik hati dan tidak sombong. Kalau aku punya pacar, buat apa aku selalu minta ditemani sama abang jika ada keperluan”.


Nana menggelengkan kepalanya, “Tapi...........aku sedang menunggu lamaran seseorang”. Kata Nana dengan nada sedih.


“Oh.....sebenarnya sudah ada yang punya ya?”. Nada Affan mulai lemas.


Nana duduk teras kontrakan,


“Dulu aku pernah pacaran dengan laki-laki bernama Juna. Hubungan kami sangat baik dan sempurna, dia sangat mencintai ku begitu juga dengan aku. Kami saling support dan melengkapi. Namun............hubungan kami kandas”.


Affan terdiam dan masih berdiri didepan pintu, banyak pertanyaan yang ingin Affan katakan namun Affan takut menyinggung perasaan Nana.


“Ibu nya tidak merestui kami, lalu ibunya menjodohkan dia dengan perempuan lain dan mereka pun menikah”. Lanjut Nana


Affan mulai bergerak dan melangkah kearah teras, lalu duduk didepan Nana.


“Kenapa? Dia tidakmemperjuangkan mu?” Affan mencoba untuk bertanya.


“Dia berjuang namun menyerah”. Jawab Nana


“Jika dia benar-benar mencintai kamu, harusnya dia berjuang tanpa henti”. Kata Affan


Nana tersenyum, “Andai itu abang, aku yakin abang akan melakukan hal yang sama”. Kata Nana dengan senyum sinis dibibirnya.


“Beda dong.....aa ini laki-laki yang bertanggung jawab, setia sampai akhir hayat”. Kata Affan


“Aku boleh tanya?”. Kata Nana


“Apakah abang suka sama aku? Maksud aku, apakah abang menyukai aku lebih dari seorang teman?”.


Affan terdiam, “Aa......., aa......”. Jawab Affan gugup


“Aku tahu kalau abang suka sama aku, rasa sayang abang lebih dari seorang teman, aku juga tahu kalau semua perkataan mu, gombalan dan modus abang itu adalah perwakilan dari hati abang yang belum berani berkata jujur”. Nana menatap mata cokelat Affan namun Affan memalingkannya.


“Tidak usah lagi berpura-pura, menyembunyikan hati dibalik persahabatan. Tatapan mata dan detak jantung kita sudah berkata sebelum kita memulai”. Lanjut Nana.


Affan hanya bisa terdiam, jantung nya seakan berhenti berdetak, darah nya seakan berhenti mengalir dan nadi nya seakan berhenti berdenyut. Sungguh perkataan Nana membuatnya lumpuh seketika.


“Abang, jika kamu benar-benar sayang aku, aku tunggu lamaran mu, namun jika kamu ragu, jangan mempermainkan ku sebelum rasa ini semakin besar”.


“Ardiana yang abang kenal, tidak sesempurna seperti yang kamu katakan. Aku mengidap MRKH dan di vonis mandul. Itu sebabnya, Juna tidak bisa memperjuangkan dan mempertahankan aku”.


“Aku tidak mau, cerita Nana dan Juna kembali terjadi pada cerita Nana dan Affan nantinya”.


Affan masih membisu dengan semua yang telah ia dengar. Nana benar-benar membuatnya tak berdaya. Nana


bangkit dari duduknya dan melangkah untuk pulang.


“Neng..................”. Suara Affan terdengar lemas.


Nana menghentikan langkahnya dan menoleh pada Affan yang masih duduk lemas diteras dan menyandarkan


tubuhnya pada tiang kontrakan.


“Izin kan aa untuk memikirkan semua yang telah kamu katakan. Terimakasih sudah mewakili kata hati aa dan terimakasih sudah mau jujur”.


“Kamu benar, aa memang suka sama kamu tetapi aa juga belum tahu apakah rasa ini tulus dari hati atau sekedar nafsu, yang jelas aa ingin melamar mu, someday”.


Nana meneteskan butiran bening yang ada di kedua sudut matanya yang hitam.


“Izin kan aku untuk dicinta ya Allah.................”. Kata Nana dalam hati.


Nana segera menghapus air matanya sebelum Affan melihat.


“Abang, jadi antar aku sampai terminal?”. Tanya Nana


“Astaghfirullah................ia neng, maaf. Aa siap-siap dulu”. Jawab Affan


Nana menunggu Affan di depan kontrakan sambil terus menghapus air matanya yang masih menetes. Nana berharap hatinya berlabuh pada Affan, Nana juga berharap Affan adalah laki-laki terakhir dalam masa-masa pencarian cintanya.


Beberapa menit setelah menunggu, “Siap!”. Suara Affan terdengar jelas dibelakang Nana. Nana masih menunduk dan menghapus air matanya sambil menganggukan kepalanya.


Affan memutar badan Nana dengan kedua tangannya, sehingga mereka saling berhadapan, namun Nana masih saja menunduk.


“Kamu kenapa neng...........? Maafin aa jika salah”. Kata Affan sambil menghapus air mata Nana dan membiarkan kepala Nana bersandar di dadanya.


Affan mengelus kepala Nana dengan lembut, berusaha menenangkannya lalu mengantarnya pulang.