
Nana sangat terpukul dengan kepergian Ummi Hana, pertemuan mereka terbilang singkat karena belum genap mereka bertemu namun mereka sudah berpisah. Ummi Hana membawa pengaruh besar dalam hidup Nana,
terutama dalam bidang keagamaan. Selama perjalanan menuju rumah duka, Nana hanya termenung mengingat semua kebaikan dan kesholehaan Ummi Hana, air mata terus mengalir di pipi nya diiringi dengan doa untuk almarhummah Ummi Hana.
“Lu, sebenarnya Ummi sakit apa?”. Tanya Nana
“Ummi sudah lama terkena kangker dan pernah operasi juga, namun menurut abi suami ummi, ummi meninggal terkena serangan jantung”.
“Innalillahi............... tadi siang kakak sempat berbincang-bincang dengan beliau di rumah, beliau meminta
kakak menggantikan beliau mengisi kajian di Menteng dan beliau bilang bahwa beliau hendak ke rumah sakit, tetapi beliau terlihat sehat-sehat saja”. Sambut Nana seraya membalas perkataan Lulu
“Iya kak. Menurut abi hari ini jadual ummi kontrol namun tadi abi bilang bahwa tiba-tiba ummi di temukan
pingsan di kamar lalu abi segera membawa ummi ke rumah sakit dan ternyata................”. Lulu tidak sanggup lagi melanjutkan perkataan nya.
“Kita semua berduka, kita harus kuat dan sabar. Doa kan ummi selalu”. Jawab Khadijah yang masih fokus menyetir.
Sesampainya di rumah almarhum ummi, Nana, Khadijah, dan juga Lulu melihat ummi yang terkujur kaku berbalut kain putih yang tergeletak di hadapan jamaah yang fokus membacakan yasin dan doa untuk nya. Nana segera memeluk dan mencium kening ummi Hana untuk yang terakhir kali nya.
“Maafkan atas semua kesalahan Nana ya ummi..........., terimakasih ummi telah membawa Nana kejalan yang benar, sunggu ummi sangat berarti bagi Nana. Maafkan Nana ya ummi, syurga menanti ummi”.
“Sabar kak...........istighfar..... doa kan saja untuk umi”. Lulu memeluk Nana dan membawa Nana menjauh dari jasad
ummi.
Beberapa jam kemudian jasad ummi pun di makamkan di tempat pemakaman keluarga, Nana dan yang lain nya mengikuti proses pemakaman hingga usai dan kembali ke rumah ummi untuk berpamitan pada abi dan keluarga yang lain nya dan Khadijah mengantarkan Nana sampai rumah.
“Malam ini kamu menginap di rumah ku saja, lagi pula sudah malam dan kamu terlihat lelah. Aku butuh teman”. Pinta Nana pada Khadijah
“Iya kak”.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu, tiba-tiba mama Nana keluar karena mendengar suara suara
Nana dan Khadijah.
“Na...............”. Sapa mama
Nana memeluk mama dan menangis dalam pelukan nya, melihat ekspresi Nana mama tidak dapat bertanya lebih. Mama hanya membalas pelukkan Nana dan mengelus-elus punggung nya.
“Ummi Hana meninggal ma”.
“Innalillahi wainna ilahi rojiun. Sabar sayang...........perbanyak istighfar dan doa”. Mama mengajak Nana dan Khadijah masuk.
“Bawa Nana ke kamar nya. Mama akan siapkan teh hangat untuk kalian”. Kata mama pada Khadijah
“Baik ma.............”. Khadijah mengantar Nana ke kamar nya.
“Minum teh hangat dulu Na”. Mama memberikan Nana secangkir teh hangat.
“Sabar sayang.............tuhan tau yang terbaik untuk kita semua. InsyaAllah ummi mendapatkan tempat yang terbaik. Maafkan segala khilaf dan ikhlas kan kepergian nya”. Mama terus menasehati Nana sambil terus mencium kening dan memeluk anak semata wayangnya itu.
“Setelah bersih-bersih, sholat lalu istirahat. Mama sayang sama kamu”. Mama meninggalkan Nana dan Khadijah.
Malam kian larut dan Khadijah sudah terlelap tidur namun Nana masih terjaga dan berdzikir untuk menenangkan hati nya. Sulit bagi Nana menerima kenyataan, Nana berharap semua ini hanya mimpi yang akan hilang ketika dia membuka mata. Nana teringat semua kenangan bersama ummi, pertama Nana melihat ummi dari serambi Istiqlal sampai ummi menerima kehadiran Nana dan membina sampai akhirnya Nana hijrah. Malam itu benar-benar
membuat Nana tidak dapat memejamkan matanya hingga subuh tiba.
Subuh pun tiba, suara adzan dari masjid sebrang jalan terdengar sangat merdu dan membangunkan Khadijah, Khadijah membuka mata nya.
“Ya Allah kak Nana!”. Khadijah melihat Nana terselungkup diatas sajadah dan masih mengenakan mukena.
Khadijah segera turun dari tempat tidur dan membangunkan Nana, “Kakak....bangun kak......”. Khadijah
menggerak-gerakan tubuh Nana yang masih terselungkup.
Nana membuka mata yang terasa perih, pandangan nya masih blur karena mata Nana berat untuk di buka.
“Aku gak apa-apa, hanya lelah dan mengantuk aja”. Jawab Nana
“Alhamdulillah............... mari Khadijah bantu kakak tidur di atas saja ya.....!!”. Khadijah membantu Nana untuk
berdiri dan berjalan menuju tempat tidur.
“Istirahat ya kak”. Khadijah menyelimuti Nana dan membiarkan Nana beristirahat.
Khadijah kembali ke rumah setelah bermalam di rumah Nana karena dia harus mengikuti kuliah pagi ini, sedangkan
Nana, tertidur lemas diatas kasur nya.
“Ma, Khadijah pamit ya............”.
“Gak sarapan dulu? Eh, Nana mana?”. Tanya mama
“Aku sarapan di rumah aja, dari semalam aku lupa gak hubungi mama aku dan HP ku juga lowbat. Kak Nana sedang tidur, kayaknya semalam kak Nana gak tidur deh karena tadi subuh, aku lihat kak Nana tertidur diatas sajadah”.
Mama hanya menganggukkan kepalanya,
“Aku pamit ya ma......Assalamu’alaikum”. Khadijah mencium tangan mama Nana.
“Wa’alaikum salam. Hati-hati ya Khadijah.......terimakasih sudah menemani Nana.
Mama segera menuju kamar Nana dan memastikan bahwa anaknya baik-baik saja. Mama membuka pintu kamar Nana sedikit dan melihat Nana tertidur lelap lalu menutup kembali pintu kamar dan kembali ke meja makan.