MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 80. Perpisahan



Hampir enam bulan Nana mengenal ustadz Farid, komunikasi mereka terjalin dengan baik. Ustadz Farid seperti


kakak bagi Nana yang selalu siap mendengarkan keluh kesah dan selalu siap menjadi smart solution disetiap permasalahan yang Nana hadapi, tanpa pernah bertemu dan telepon namun mereka begitu dekat. Rasa kagum dan bangga pun muncul dalam diri Nana, bagi Nana ustadz Farid adalah terbaik. Namun kabar yang menggemparkan hati Nana datang dari ustadz Farid sendiri.


Siang itu ketika Nana perjalanan pulang dari kantor, dia begitu lelah, menyandarkan tubuh dan kepala nya pada kursi bus dan memejamkan mata nya sejenak, suara handphone pun bunyi. Nana mengambil handphone dari tas nya dan ada pesan masuk dari ustadz Farid.


“Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh. Mohon maaf jika selama ini ana banyak salah, ana mohon pamit


karena besok jam 8.00 pagi ana akan pulang kampung dan tidak akan kembali lagi ke Jakarta, karena bulan depan ana akan menikah dengan gadis Riau. Terimakasih sudah menerima ana di sini dan menjadikan ana teman. Ana titipkan buku-buku ana untuk antum di ustadz Jamal, semoga bermanfaat”.


Nana mengucek-ucek mata nya dan membaca pesan itu berkali-kali, rasa tak percaya muncul dalam hati nya, dia


seakan ingin berlari menemui ustadz Farid sebelum kepergian nya. Nana tidak dapat menahan bendungan air mata yang sudah sangat berat di pelupuk mata nya, sehingga Air mata Nana mengalir deras setelah membaca pesan dari ustadz Farid.


“Ya Allah.......Ustadz, saya belum pernah melihat wajah kamu bahkan mendengar suara mu aja saya belum hafal,


tetapi kenapa ada perpisahan. Nasehat-nasehat Ustadz adalah penenang dan penyejuk hati saya, semenjak kenal dengan ustadz, saya seperti tak berdaya, saya seperti bergantung pada ustadz, ustadz selalu menjadi solusi disetiap permasalaha saya. Sesungguhnya saya membutuhkan ustadz”. Gumam Nana dalam tangis nya


Nana menggengam handphone nya erat didepan dada, isak tangis nya terdengar oleh penumpang lain yang ada di dalam bus sehingga mata-mata aneh dan penasaran tertuju pada nya.


Nana tidak melanjutkan perjalananya sampai rumah, dia berhenti di jalan dan mencari angkot ke arah kosan Lulu. Air mata Nana masih terus mengalir tanpa henti, sungguh rasa penasaran terhadap ustadz Farid belum terobati karena selama enam bulan kenal, Nana belum sempat melihat wajah ustadz Farid kecuali di foto yang ada pada biodata saat ta’aruf waktu itu.


“Assalamu’alaikum Lulu”. Nana mengetuk pintu kosan Lulu


“Wa’alaikum salam”. Lulu membuka pintu


Melihat Lulu berdiri didepan pintu, Nana segera memeluk Lulu dan Lulu pun membawa Nana masuk.


“Astaghfirullah..........istighfar kak. Ada apa?”. Tanya Lulu sambil terus memeluk Nana.


Tanpa berkata, Nana memberikan handphone nya dan menunjukan pesan dari ustadz Farid. Lulu membaca pesan itu dalam hati.


“Ya Allah.....sabar kak. Allah sedang mempersiapkan laki-laki yang jauh lebih baik dari beliau. Yakinlah bahwa ini takdir NYA. Sabar ya kak”. Lulu terus mengingatkan dan menenangkan Nana.


Lulu membantu Nana mengelap air mata nya dan membantu nya duduk di sofa, lalu menyiapkan teh hangat untuk Nana.


“Diminum teh nya kak. Malam ini kakak temani Lulu belajar ya............karena besok pagi Lulu mau tes kerja. Sekarang Lulu sudah lulus dan siap bekerja membanggakan mama papah di Aceh”. Suara ceria dan bahagia terdengar dari Lulu.


Nana tersenyum dan memeluk Lulu


“MasyaAllah.......selamat ya sayang............. mohon maaf jika kakak seperti anak kecil. Terimakasih banyak selalu mengingatkan kakak. Sekali lagi selamat ya....”.


“Thank you”. Jawab Lulu.


“Kak, kita keluar yuk cari makan, Lulu lapar”. Berusaha menghibur Nana yang terlihat masih sedih.


“Kita delivery aja ya.....kakak pingin istirahat”. Nana merebahkan tubuh nya pada sofa.


“Lu...”.


“Hmmm”. Jawab Lulu


“Ustadz Jamal itu siapa?”. Tanya Nana


“Oh, Ustadz Jamal itu senior ustadz Farid di pesantren. Beliau sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Kenapa?”. Sambil memijit kaki Nana


“Ustadz Farid menitipkan buku-buku nya pada beliau dan meminta kakak untuk mengambil nya”. Jawab Nana dengan suara lemas tak berdaya


“Ahhh.........!!!". Sambil mengacungkan jari nya seraya menemukan ide cemerlang


"Bagaimana jika besok pagi kita ke pesantren, ambil buku sekalian lihat ustadz Farid untuk terakhir kali. Kakak kan penasaran dengan beliau kan?”. Lanjut Lulu


Nana bangun dari tidur nya,


“Tapi besok pagi kamu ada tes kerja dan kakak gak berani ke pesantren sendirian”. Sambil menatap wajah Nana dan mencubit hidung nya yang mancung.


“Astaghfirullah............Lulu lupa. Makannya ayo keluar cari makan agar ingatan ku kembali pulih”. Goda Lulu


“Yasudah lah kak, ada atau gak jawab nanti aja. Ayo bangun.....”. Lulu menarik tangan Nana.


“Iya iya......”. Nana bangun dari duduk nya dan mengambil tas yang ia simpan di atas meja dan pergi meninggalkan kosan.


Nana dan Lulu mencari makan dengan berjalan kaki karena mereka hanya mencari sekitar kosan sambil sedikit jogging, merefresh otak mereka.


“Kak, aku sebenarnya mau cerita sama kakak tapi.............”. Lulu menghentikan langkah kaki nya


“Tapi apa?”.


“Kak, aku di lamar sama anak teman mama aku di Aceh”. Lulu tertunduk


“Hah! Di lamar? MasyaAllah......... beruntung nya anak sholeha........... belum pernah pacaran, baru lulus kuliah langsung ada yang mengkhitbah. Selamat ya sayang.........”. Nana memeluk Lulu dengan erat dan bahagia.


“Maaf yak kak, disaat kakak sedih aku malah kasih kabar ini”. Lulu merasa bersalah


“Ya bagus dong........kamu memberikan kakak kabar bahagia. Kakak ikut seneng denger nya. Semoga besok Allah mengirimkan laki-laki sholeh untuk mengkhitbah kakak”.


“Aamiin..”. Mereka mengaminkan bersama dan melanjutkan perjalanan nya.


Setelah mereka mendapatkan menu makan sore, mereka kembali ke kosan. Lulu sibuk dengan persiapan tes kerja nya besok pagi dan Nana memilih untuk istirahat, memanjakan mata nya yang lelah.


Pukul 4.30


Waktu sholat subuh pun tiba, mereka bangun dari tidur nya dan bersiap-siap untuk menjalankan aktifitas nya


masing-masing. Lulu pergi ke tempat tes pukul 5.30 begitu juga dengan Nana. Namun pagi itu Nana sedang tidak ada jadwal ke kantor sehingga Nana berniat untuk ke pesantren menemui ustadz Jamal untuk mengambil buku yang dititipkan oleh ustadz Farid.


Nana sampai di depan gerbang pesantren pukul 7.30 itu arti nya Nana masih mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan ustadz Farid. Security pesantren mempersilahkan Nana masuk untuk menunggu di ruang tamu.


Nana duduk di ruang tamu menunggu kedatangan ustadz Jamal, Nana duduk di kursi sambil membaca buku-buku yang disediakan di rak buku yang ada di ruang tamu.


“Selamat jalan ustadz, ana do’a kan semoga semua nya berjalan dengan baik, sehat selalu sampai ijab qobul ya tadz. Ana bangga punya sohib seperti antum. Kalau sudah jadi warga Riau, ajak ana silaturahmi dong”. Suara laki-laki terdengar jelas di depan ruang tamu.


“Syukron ustadz atas do’a nya, antum lebih hebat karena sudah memiliki dua jagoan hebat seperti antum”. Jawab laki-laki satu nya.


Tanpa melihat wajah laki-laki itu, Nana yakin jika laki-laki itu adalah usadz Farid. Nana segera menutup buku nya dan berdiri dari duduk nya, dia ingin sekali keluar dari ruang tamu bahkan ingin mengintip dibalik jendela, namun dia malu untuk melakukan nya.


“Sekali lagi hati-hati di jalan ya ustadz, afwan ana gak bisa antar sampai stasiun karena ada jam mengajar dan barusan pak Ahmad telepon dari pos depan, kata nya ada tamu menunggu ana”.


“Iya, alhamdulillah ana sudah di jemput di depan oleh teman. Syukron atas semua nya ustadz. Ana berangkat


ya”. Ustadz Farid memeluk ustadz Jamal.


Ustadz Farid melangkah menuju gerbang dan Nana melihat dari belakang karena dia tidak berani keluar dari ruang tamu.


“Assalamu’alaikum”. Ustadz Jamal masuk dalam ruang tamu


“Wa’alaikum salam”. Nana berdiri seraya memberi hormat pada ustadz Jamal.


“Maaf sudah lama menunggu, silahkan duduk”. Dan ustadz Jamal pun duduk di depan Nana


Nana duduk kembali,


“Terimakasih ustadz”. Jawab Nana


“Kalau boleh tau, ukhty ini siapa?”.


“Astaghfirullah, mohon maaf ustadz. Saya Nana dan kedatangan saya ke sini untuk mengambil buku-buku yang di titipkan oleh ustadz Farid”. Jawab Nana


“Oh iya............afwan sebelum nya. Beliau memang menitipkan buku-buku itu pada ana. Sebentar ana ambilkan, kebetulan barusan ustadz Farid baru saja meninggalkan pesantren ini”. Ustadz Jamal kembali ke ruangan nya untuk mengambil buku.


“Ya Allah.........apakah ini yang nama nya bukan jodoh? Walaupun suara sudah terdengar ada di balik tembok, namun kami tidak saling bertemu”. Pikir Nana dalam hati