
Hari ini adalah hari pertama Nana mengikuti kelas Mr. Juna, Nana datang sepuluh menit sebelum kelas dimulai sesuai dengan aturan yang tertera di map waktu itu. Nana belajar bersikap manis
kepada seniornya itu walaupun hati Nana sangat kesal.
Jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh malam, jam kuliahpun di mulai. Terdengar suara hentakan sepatu dari balik pintu, lalu perlahan pintu itu terbuka dan Nana yang sedang asik membaca buku, melihat pria berkulit hitam, dengan kemeja kotak-kotak berwana cream, berlenganpanjang lengkap dengan dasi dan celana cutbray berwarna hitam, serta buku tebal di tangannya dan tas yang berada di bahu sebelah kiri, memasuki ruang kelas 201.
“Wow....poin nomer satu sudah berjalan dengan baik”. Tanpa basa basi Mr. Juna memulai pembicaraan,
mengingatkan bahwa datang sepuluh menit sebelum jam dimulai, adalah poin nomer satu yang tertera didalam aturan yang sudah disepakati oleh Nana.
Nana tidak membalas sapaan Mr. Juna, Nana memeperhatikan laki-laki itu yang sedang berdiri
didepannya, dari atas hingga ujung kakinya. Mr. Juna memulai pelajarannya, dia menjelaskan materi dengan santai namun jelas dan mudah dipahami. Tetapi hati Nana masih belum bisa menerima Mr. Juna sebagai mentornya.
Nana terus melirik ke arah jam dinding, menandakan bahwa dia ingin segera keluar dari ruangan itu,
belum lagi dia harus menahan kantungnya. Berkali-kali dia izin untuk ke kamar kecil hanya untuk melepas penat sebentar, lalu masuk kembali.
“Permisi pak..... boleh izin ke kamar kecil sebentar?” nana meminta izin untuk keluar sebentar.
“Silahkan”. Mr. Juna mengizinkan Nana.
Nana beranjak dari temapt duduknya, perlahan menuju kepintu lalu menghilang dibalik pintu
tersebut. Dia tidak pergi ke kamar kecil, akan tetapi Nana duduk di mushola, bersandar di dinding mushola sambil meluruskan kakinya.
Nana sengaja mengulur waktu agar waktu dia di dalam ruangan lebih sedikit dan segera
berakhir, Mr. Juna dengan sabar menunggu kedatangan Nana kembali. Tiga puluh menit kemudian, Nana kembali ke kelas.
“Permisi pak.....”. Nana membuka pintu perlahan
Tidak ada suara yang terdengar dari Mr. Juna, Nana terdiam dan bingung, lalu kembali ke kursinya. Mr. Juna bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Nana dan memperlihatkan percakapannya dengan pak Nino.
Nana membaca percakapan singkat antara Mr. Juna dengan pak Nino melalui SMS yang isinya bahwa hukuman Nana akan ditambah jika tidak mengikuti aturan dengan baik atau dia akan mendapatkan SP (Semester Pendek).
Nana kaget membaca percakapan itu “Ih....nih orang, udah nyebelin, pengaduan juga”. Tatapan Nana
sinis pada Mr. Juna
“Maaf pak, tadi sebenarnya saya turun ke lobi lalu kedepan sebentar untuk membeli roti, saya lapar pak”. Nana berusaha memberi alasan pada Mr. Juna.
Mr. Juna tidak berkata apa-apa, dia hanya duduk di kursinya sambil membuka buku nya lembar demi lembar.
“Rumah saya jauh pak, jadi belum sempat makan”. Nana melanjutkan pembicaraannya
“Ini pertama dan terakhir pak, janji”. Nana terus berusaha memberi alasan logis agar Mr. Juna memaafkannya dan tidak mengadukannya pada pak Nino.
Mr. Juna masih tetap saja membisu, dia hanya terdiam sambil memutar-mutar balpoint yang ada ditangannya.
“OK.... saya harap kamu lebih serius dan dapat menghargai saya”. Tegas Mr. Juna.
“Baik pak”. Nana membalas peringatan Mr. Juna
Waktu cepat berlalu, tak terasa jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam. Nana merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan, seakan memberi isyarat bahwa dia telah merdeka. Mr. Juna segera meninggalkan kelas namun Nana masih terdiam di tempat duduknya.
Beberapa menit setelah Mr. Juna turun, Nana menyusul turun kelantai satu. Dilihatnya Mr. Juna
yang masih asik mengobrol di lobby dengan wanita di front office. Nana berjalan perlahan, melewati Mr. Juna dan wanita itu hingga Nana berhasil keluar lobby tanpa sepengetahuan Mr. Juna.
Malam minggu itu menjadi malam yang sangat membosankan bagi Nana, dia harus menghabiskan
waktunya bersama seniornya itu dan tanpa teman satupun karena teman-teman Nana masuk normal seperti jadwal biasanya.
“Tit......tit.....”. terdengar suara klakson motor dari belakang dan lampu yang menyinari tubuh Nana
dari belakang. Nana menghentikan langkahnya dan motor itupun berhenti didepan Nana.
“Mau ikut?”. Terdengar suara laki-laki yang sedang berada diatas motor shogun berwarna biru.
Nana masih belum menjawab, hanya menebak-nebak siapa laki-laki yang wajahnya masih bersembunyi
dibalik helm biru itu. Laki-laki itu mematikan mesin motor yang masih dalam keadaan menyala lalu membuka helmnya.
Nana sangat terkejut, tidak pernah dibayangkan oleh Nana bahwa Mr. Juna yang menyebalkan memberikan tawaran untuk menumpang.
“Gak usah pak.... sebentar juga sampe terminal”. Nana mengeluarkan suara lembutnya dan tersipu malu.
“Yakin?”. Mr. Juna kembali menawarkan tumpangan pada Nana
“Pulangnya kemana sih?” tanya Mr. Juna
Jantung Nana berdebar kencang mendengar pertanyaan Mr. Juna, wajahnya berubah merah jambu,
getaran dikakinya mulai terasa, seakan-akan dia tak sanggup lagi berdiri, pikirnya melayang entah kemana.
“Aduh.....mau nya apa sih ni orang?” Nana bertaanya pada hati nya dan mengalihkan padangannya dari Mr. Juna.
Nana terdiam, menatap wajah Mr. Juna penuh kekosongan seakan jiwanya telah terbang membawa
kebahagiaan. Mr. Juna memetikan jari telunjuknya didepan wajah Nana yang sedang melamun, seperti ingin mengembalikan alam sadar Nana kembali.
“So,..... mau ikut?” tanya Mr. Juna kembali
“Tapi pak...........”. jawab Nana gugup lalu menundukan kepalanya seakan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Hmmmm..... OK, jika ragu untuk naik, gak apa-apa. Saya duluan ya.... hati-hati”.
Mr. Juna menghidupkan mesin sepeda motornya itu, langsung tancap gas meninggalkan Nana ditepi jalan. Dengan sekejap, Mr. Juna sudah menghilang dari pandangan Nana. Nana mengangkat kepalanya, menggerakan kekiri dan kanan, terlihat seperti sedang mencari seniornya itu. Namun, tidak nampak sama sekali walau hanya
batang hidungnya.
“Pak..... Pak....” Nana mencoba memanggil akan tetapi tak ada jawaban.
“Ih.....nyebelin banget sih”.
“Dasar jomblo”. Teriak Nana kesal.
“Eh....tapi tadi beneran dia kan?” Nana menggerakan bola matanya keatas, seakan memikirkan dan
memutar kembali kejadian barusan.
“Dia kok bisa berubah jadi baik ya atau sifat aslinya memang baik?”
“Mungkin aku yang terlalu underestimate (meremehkan)dia”. Nana terus berpikir dalam kesunyian.
“Ya ampun Nana......sadar!”
“Jangan biarkan dirimu terjebak oleh sihirnya”. Nana memukul-mukul kepalanya dan terus bicara
sendiri.
Langkah kaki Nana berubah menjadi sangat ringan, senyum melengkung terlihat dari bibirnya, suara
nyanyian kecil terdengar sayup-sayup dari mulutnya mengiringi langkah kecil menuju terminal. Sungguh perbuatan Mr. Juna tadi menyulap tingkah Nana seketika.