
Setelah kejadian satu bulan lalu, Juna memberanikan diri menemui Nana di rumahnya. Juna tahu bahwa Nana sangat membutuhkan dia waktu itu, tetapi ibu Juna meminta Juna untuk pulang ke Tangerang, sehingga Juna harus ikut ibu dan keluarganya selama satu bulan demi ibunya dan tinggal di Tangerang.
Juna datang dengan membawakan Nana bunga mawar kesukaannya dan cokelat. Juna selalu membawakan Nana cokelat dalam moment apapun.
“Assalamu’alaikum..................”. Suara Juna terdengar dr kamar Nana yang berada di depan.
Nana yang sedang berbaring lemas tanpa semangat, berusaha untuk bangun dari tidurnya, berjalan tertatih menuju jendela kamar dan membuka sedikit gorden jendela itu, untuk memastikan bahwa suara yang dia dengar adalah milik Juna.
Ibu Nana membuka pintu................
“Wa’alaikum salam................, Nak Juna..... masuk nak....”. Sambut ibu Nana.
“Mau minum apa? Biar ibu siapkan”.
Juna yang sudah berada di ruang tamu, duduk sebentar lalu bediri kembali.
“Bu, jika diizinkan. Saya ingin bertemu dan bicara dengan Nana”. Kata Juna.
“Oh......, ia. Nana ada di kamar, tapi maaf nak Juna...........sepertinya dia tidak mau diganggu”. Ibu Nana duduk di sofa berwarna cream yang ada di ruang tamu itu. Ibu Nana terlihat berpikir sebentar..............
“Sudah satu bulan ini, dia tak banyak bicara, dia juga tidak ke kampus, dia cuma dikamar aja. Sebenarnya ada apa nak................?”. Tanya ibu pada Juna.
Mendengar pertanyaan ibu Nana, Juna duduk kembali. Juna meletakkan tangan kanannya pada dahi seakan berpikir.
“Kedatangan Juna kesini, ingin membicarakan tentang itu pada Nana bu”.
“Ada hal yang harus kita bicarakan dan selesaikan”. Kata Juna
“Ibu coba ya...............”. Ibu Nana berusaha untuk membujuk Nana agar dia mau membuka pintu dan menemui Juna.
Ibu dan Juna berdiri didepan pintu kamar Nana, ibu mulai mengetuk pintu itu..........
“Tok...tok...tok, Na....Nana.... ada Arjuna, buka pintunya sayang...............”.
“Kasihan lo Na..... Juna sudah datang, malah dari Tangerang langsung kesini loh. Jika kalian ada
masalah, sebaiknya dibicarakan, sayang..................”. Bujuk ibu.
Suara ibu menggugah hati Nana untuk membuka pintu kamar, ibu tersenyum melihat anak gadisnya itu
keluar dari kamar dan menemui Juna.
“Bisa kita bicara Na............?”. Tanya Juna.
Nana tidak menjawab apa-apa, dia hanya melangkahkan kakinya menuju teras depan, Nana terlihat pucat
dan sakit. Dia menggunakan sweater berwarna cokelat susu pemberian Juna dihari ulang tahunnya.
Nana duduk kursi yang berada di halaman rumahnya, pandangan Nana kosong tanpa tujuan dan mimpi,
kemudian di susul oleh Juna yang sejak tadi ingin sekali memeluk Nana dan meminta maaf atas kejadian bulan lalu di restauran.
Juna duduk di samping sebelah kiri Nana, menyilangkan tangan kanannya ke bahu Nana dan membiarkan kepala Nana bersandar di bahunya.
“Aku kangen sama kamu Na.........”. Juna berbisik di telinga Nana sambil memberikan bunga mawar dan cokelat yang ia bawa.
Air mata Nana membasahi kemeja Juna, “Apapakah kedatngan mu ini untuk yang terakhir?”. Tanya Nana dengan suara lirih.
Juna memegang kedua bahu Nana dan menatap wajahnya yang pucat, “Apa maksud pertanyaan mu?”. Tanaya Juna kembali pada Nana.
“Bukankah, mama mu tidak menginginkan aku?”. Tanya Nana dengan mata sembab dan suara serak.
“Astaghfirullah..........., harus nya kamu tahu bahwa aku sangat mencintai mu dan harusnya kamu tahu bahwa sampai kapanpun, aku akan berjuang demi kamu, demi mimpi dan tujuan kita, Na.....”. Jawab Juna.
“Tapi aku ini siapa, kak? Aku tidak berharga bagi keluarga mu”.
“Aku..............”. Nana memalingkan pandangannya dari Juna, dia tidak bisa melanjutkan perkataanya karena tertahan oleh tangis.
Juna memutar posisi duduknya, agar dia dapat melihat wajah cantik kekasihnya yang sudah satu bulan ini tidak ia temui.
“Beri aku waktu untuk bicara dengan mama”. Kata Juna
“Aku butuh Nana yang dulu, Nana yang selalu mensuport ku, Nana yang selalu mendampingiku, Nana yang selalu ada kapan pun dan dimanapun aku butuhkan”.
“Percaya pada ku, please.....beri aku kesempatan”. Juna berlutut di hadapan Nana dan terus memegang tangan Nana.
“Pulanglah kak.......”. Kata Nana
Juna tercengang mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir manis Nana dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk di depan Nana.
“Apakah itu artinya kamu menyerah?”. Tanya Juna
“Aku akan selalu menunggu mu jika kamu pergi untuk memperjuangkan ku”. Jawab Nana
Juna tersenyum bahagia, seakan memiliki kekuatan baru dalam dirinya.
“Aku janji, aku akan datang membawa kabar gembira buat kita”. Juna mencium tangan Nana yang sedari tadi ia genggam lalu pergi meninggalkan Nana sendiri di halaman rumahnya. Nana memejamkan matanya dan membiarkan air matanya terus mengalir di pipinya yang bersih.
Setalah Yudha menikah, Juna tinggal sendiri di Jakarta. Juna berpikir keras untuk mengambil hati ibu nya agar ibu nya mau menerima Nana. Juna hanya mempunyai waktu kurang lebih satu bulan untuk revisi skripsi hasil sidangnya agar dia bisa ikut wisuda bulan depan. Sehingga setelah wisuda nanti, dia memiliki banyak waktu untuk fokus pada Nana.
Sesekali di tengah-tengah kesibukannya dalam merevisi skripsi, Juna menghubungi Nana lewat handphone nya, kadang mengirim pesan pendek hanya untuk mengatakan I miss you atau I love you. Juna ingin memberikan kekuatan pada Nana dan mengembalikan rasa percaya diri dan keceriaanya seperti dulu.
Juna ingin Nana percaya bahwa dia sangat berarti dan istimewa buat Juna, Juna ingin Nana pun tahu bahwa dia layak untuk diperjuangkan. Setelah urusan kampusnya selesai, Juna kembali menemui ibunya di Tangerang untuk membicarakan tentang Nana dan meminta doa serta restu dari ibunya.
Juna menghampiri ibu nya ayang sedang duduk diteras sambil membawakan teh hangat kesukaan ibunya.
“Di minum tehnya ma....”. Juna menyuguhkan teh hangat yang ia buat untuk ibunya. Ibu Juna hanya melirik pada teh itu lalu memalingkan kembali pandangannya.
“Ma............”, Juna memeluk ibunya dari belakang.
“Maafin Juna ya..... Juna hanya..........”.
“Kamu masih berhubungan Nana, Jun?”. Pertanyaan ibu Juna memotong perkataan Juna.
Juna melepaskan pelukannya lalu duduk di hadapan ibunya.
“Ia, ma..... Juna minta maaf”.
“Juna sayang dengan Nana ma..... Juna.........”. Kata Juna
“Apa yang kamu harapkan dari perempuan mandul seperti Nana, Juna...........”. Ibu Juna mulai emosi
“Dia tidak akan bisa membuat mu bahagia. Pernikahan tanpa anak itu hampa Juna........”.
Juna terdiam dan menundukan kepalanya.
“Tapi selama ini Juna bahagia bersama Nana”. Kata Juna lirih
“Nana gadis yang baik, dia yang selama ini menemani Juna dari nol, dia yang selama ini setia mendampingi Juna kemanapun Juna pergi, dia yang selalu ada buat Juna, ma.........”. Juna menangis di pangkuan ibu nya.
“Nana layak untuk Juna perjuangkan”. Tambah Juna
Bapak Juna yang menyaksikan adegan romantis dua insan itu, ikut menangis dibalik jendela. Bapak Juna sangat paham dengan watak ibu Juna nya.
“Lalu apakah mama tidak pantas untuk kamu perjuangkan seperti Nana?”. Tanya ibu Juna.
“Mama yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kamu Juna, lalu hanya karena perempuan
yang baru dua tahun kamu kenal, kamu melupakan mama?”. Ibu Juna nangis terisak.
“Ma.....Juna sayang sama mama dan Juna juga sayang sama Nana”.
“Juna hanya ingin mama merestui hubungan kami”. Juna memohon pada ibu nya.
“Sampai kapanpun Juna akan terus memohon dan memperjuangkan cinta Juna. Jadi Juna mohon, perlakukan Juna sebagai laki-laki dewasa yang punya hak untuk memilih ma..............”.
Ibu Juna bangkit dari duduknya dan berdiri, menghapus air mata yang jatuh dipipinya.
“Baik... mama akan restui kalian tapi setelah kamu lulus S2”. Jawab Ibu Juna
“Ma..... Ya Allah..... Juna baru sidang S1 bulan lalu, bulan depan Juna baru akan di wisuda ma............ S2 kan bisa setelah Juna menikah”. Juna merengek pada ibunya layaknya anak balita.
Ibu Juna tidak mau kompromi lagi soal Nana. Dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang tengah
tanpa menoleh dan mendengarkan rengekan anak bungsunya itu.