MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 47. Tawaran Kerja



Hari ini Nana merayakan hari wisuda sarjana nya. Wisuda nya hanya di hadiri oleh kedua orang tua dan sahabat nya Tika. Nana tidak lagi memikirkan pendamping wisuda nya, bagi Nana semua itu sudah tidak penting lagi. Kehadiran keluarga dan Tika saja itu sudah lebih dari cukup.


Wisuda Nana kali ini pun tidak begitu spesial seperti wisuda diploma nya. Tidak ada pendamping, tidak ada make up, dan tidak ada persiapan apa-apa. Namun, Nana menikmati acara demi acara mulai dari awal hingga akhir. Acara wisuda kali ini berjalan dengan lancar, wajah Nana terlihat berseri-seri, penuh harapan dan keoptimisan untuk dapat melanjutkan pendidikan nya kejenjang berikutnya.


Setelah acara wisuda selesai, Nana dan keluarga memasuki stand photo session yang telah di sediakan oleh pihak kampus di aula sebelah gedung wisuda.


“Na, sekali lagi selamat dan sukses ya..... aku seneng deh kamu sudah sampai ke tahap ini”. Kata Tika penuh bangga


“Iya, terimakasih. Kamu juga semangat ngejar revisi nya”. Balas Nana


“Kamu gak undang Affan untuk menjadi pendamping wisuda kamu?”. Tanya Tika


“Dia akan menjadi pendamping hidup wanita lain”. Jawab Nana santai, sambil menunggu antrian untuk berfoto bersama keluarga.


“What!!!!!”. Teriak Tika dengan mata melotot kaget.


Suara Tika berhasil membuat orang di sekitarnya menoleh pada Nana dan Tika.


“Ssssstttt.......!!! Jangan keras-keras, berisik”. Bisik Nana


“Aku kaget loh.......... spontan. Aku gak salah denger?”. Tanya Tika kembali


“Iya”. Jawab Nana dengan nada bete


“Kok, bukan kamu. Aku pikir...................”. kata-kata Nana terhenti dengan suara asisten fotografer.


“Nomer antrian 50 atas nama Ardiana”. Suara asisten fotgrafer terdengar memanggil nama Nana.


“Iya, pak”. Nana melambaikan tangan kearah asisten fotografer tersebut.


“Pak, bu ayo kita berphoto”. Ajak Nana kepada kedua orang tua nya.


“Na..............”. Tika masih dalam keadaan melotot dengan mulut ternganga.


Nana tidak menjawab apa-apa, dia hanya menarik tangan teman nya itu dan mengajak untuk berfoto bersama.


“Ayo............ nanti kita lanjutkan di rumah. Jangan rusak acara ku”. Bisik Nana dengan terus menarik tangan teman nya.


Setelah selesai foto bersama, Nana dan keluarga nya memilih untuk segera pulang karena lelah dan Tika ikut bersama nya karena masih dalam keadaan kepo dengan cerita Nana dan Affan.


Sesampainya di rumah, Nana dan Tika segera masuk ke dalam kamar, melemparkan tas nya di atas kasur lalu mereka merebahkan tubuhnya.


“Alhamdulillah.............semua nya berjalan dengan lancar”.


“Na..............”. Suara Tika terdengar kembali seperti masih menyimpan rasa penasaran nya.


“Tok......tok.....tok...... Na, ayo makan. Ibu sudah siapkan makan siang”. Suara ibu terdengar dari balik pintu.


“Iya bu, setelah sholat, aku menyusul”. Jawab Nana yang masih berbaring di atas tempat tidur nya.


“Na.................”. Rengek Tika, sambil memutar badan nya menjadi posisi tengkurab.


Nana duduk lalu turun dari kasur dan berdiri.................


“Sholat dzuhur lalu makan siang, terus istirahat, setelah itu baru kita lanjutkan lagi soal Affan”. Jawab Nana sambil merapihkan tas dan toga nya


“Yah............. aku gak sabar, pingin tahu ceritanya”. Tika duduk dan turun dari tempat tidur.


Tika menarik tangan Nana dan masih ingin menanyakan soal Affan.


“Ya ampun..............kenapa sih, kepo amat?”. Tanya Nana dengan nada sedikit bete.


“OK, listen. Intinya Affan mempermalukan aku di depan keluarga nya dengan mengatakan bahwa aku menolak dia, padahal dia yang menolak aku karena kekurangan ku. Nah, kebohongan Affan membuat keluarganya tersinggung dan marah kepada ku, mereka mengira aku menolak anaknya, aku jual mahal. Lebih jahatnya lagi, aku pulang ke


Jakarta sendirian dan Affan tidak menemani ku, padahal dia yang menjemput aku di depan orang tua ku”. Suara Nana terdengar santai dan jelas tanpa beban atau cemburu sedikitpun.


Tika tercengang dan merasa geram dengan sikap Affan


“Beberapa minggu lalu, dia menelepon ku dan mengajak ketemuan di taman belakang kampus, ternyata dia bilang kalau dia akan melamar seorang gadis asal Magelang bernama Desi”. Lanjut Nana


“Lalu?”. Tanya Tika makin penasaran


“TAMAT”. Jawab Nana singkat dan berjalan keluar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Tika tidak berkata apa-apa, dia seperti terhipnotis oleh cerita Nana. Tika sedikit tidak percaya bahwa Affan setega itu karena Tika tahu bahwa sejak pertama bertemu, Affan sudah jatuh cinta pada Nana dan mantap ingin melamar Nana.


Beberapa menit setelah Nana berwudhu, Nana masih mendapatkan Tika yang masih berdiri di depan pintu kamar dengan wajah bengongnya.


“Ya ampun................ni anak. Hey!!! Bengong melulu, keburu masuk ashar nanti”. Teriak Nana dari depan pintu kamar.


Teriakan Nana membuyarkan lamunan Tika, Tika segera bergegas untuk mengambil wudhu dan sholat dzuhur. Setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur, mereka segera beranjak ke meja makan yang berada dapur, ibu Nana sudah menyediakan makan siang spesial untuk mereka berdua, yaitu jengkol balado ala Betawi, cah kangkung dan telur dadar.


“Hhhhmmmm....... sedap.....”. Nana mencium aroma jengkol balado.


“Kamu harus coba jengkol balado buatan ibu aku Ka”. Kata Nana sambil menuangkan sesendok nasi di atas piring yang sudah ibu sediakan di atas meja.


“Aku gak suka jengkol, di daerah ku mana ada jengkol”. Jawab Tika terlihat bergidinggan (merinding) melihat jengkol.


“Ya sudah, kamu ambil cah kangkung dan telur dadar aja”.


Nana menyantap makan siang dengan lahap, sementara Tika, dia masih saja memikirkan perkataan Nana tentang Affan, sehingga mengganggu selera makan siang nya.


“Ka....., kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan, bengong terus?”. Tanya Nana sambil terus melahap makan siangnya.


Tika meletakan sendok dan garpu di atas piring,


“Na, bagaimana perasaan mu setelah tahu sikap Affan?”. Tanya Tika sedikit berbisik agar ibu Nana tidak mendengar nya.


“Biasa aja!”. Jawab Nana singkat


“Gak marah atau cemburu atau kesal?”.


Nana meneguk air mineral yang ada di depan nya,


“Aku punya hati dan aku juga punya perasaan. Awalnya aku kecewa, marah, sedih tapi......setelah aku pikir-pikir


buat apa? Aku lebih fokus mengejar beasiswa S2 ku ketimbang memikirkan laki-laki yang belum pasti”.


Nana merapihkan kursi dan membawa piring kotor serta gelas ke wastafel lalu mencuci nya.


“Aku balik ke kamar ya........., mau searching beasiswa”. Nana beranjak ke kamar melanjutkan pencarian nya yang sempat tertunda waktu itu.


Baru beberapa menit Nana searching, tiba-tiba handphone Nana berdering.


Dilihatnya panggilan masuk dari nomer yang tidak dia kenal, Nana menjawab telepon itu.


“Halo?”. Tanya Nana dengan suara lembut


“Halo, neng ini pak Sidik”.


“Oh....iya pak, apa kabar?”.


“Alhamdulillah baik. Kata nya sudah lulus S1?”


“Iya pak, alhamdulillah. Tadi pagi wisuda”.


“Selamat....selamat”


“Terimakasih pak” Jawab Nana


“Kamu sudah bekerja?”.


“Alhamdulillah selama kuliah, saya juga sambil membantu mengajar di SMP”. Jawab Nana.


“Oh......begini, teman bapak perusahaannya sedang membutuhkan penerjemah. Kalau neng mau, besok bapak antar”.


“Iya pak, Nana diskusi sama keluarga dulu ya pak. InsyaAllah secepatnya Nana kabari”.


“Iya, bapak tunggu ya neng. Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam, pak”. Nana menutup telpepon nya.


Pak Sidik adalah guru serta wali kelas Nana di SMA waktu itu, tempat tinggalnya pun tidak jauh dari tempat tinggal Nana. Nana sering meilhat pak Sidik ketika Nana ingin berangkat ke kampus atau kesekolah karena angkot yang Nana naiki melewati rumah beliau.


Setelah mendapat telepon dari pak Sidik, Nana segera keluar kamar menemui ibu nya yang sedang santai sambil menonton FTV siang di ruang tamu.


“Ouchhhhh!”. Nana menabrak Tika yang berada di depan pintu dan ingin masuk ke dalam kamar.


“Aduh..... Nana, buru-buru amat. Mau kemana sih?”. Tanya Tika yang masih meringis mengelus dahi nya kesakitan.


“Sorry”. Nana menyeringai dan segera ke ruang tamu.


“Bu....ibu”. Panggil Nana dengan nada bahagia.


“Ada apa sayang....?” Happy banget.


“Barusan pak Sidik, guru SMA Nana dulu telepon dan menawarkan Nana kerja di perusahaan milik teman nya bu, menjadi penerjemah. Menurut ibu gimana?”. Tanya Nana.


“Alhamdulillah......bukan nya itu cita-cita kamu sejak SMP?”.


Nana menganggukan kepalanya penuh suka cita.


“Tapi......aku ingin lanjut S2 bu. Aku ingin seperti Juna”. Suara nya berubah menjadi sedikit tak bersemangat.


“Sayang.......sambil bekerja sambil terus menjari beasiswa kan bisa nak......”. Kata ibu.


“Benar kata ibu kamu Na.......”. Sambung Tika yang masih meringis kesakitan.


“Aku dukung. Semangat!”. Tika mengangkat mengacungkan kepalnya memberi semangat pada Nana.


“Jadi menurut ibu, Nana ambil saja tawaran pak Sidik?. Tanya Nana


“Iya sayang.....sukses ya.....”. Ibu pun memberi semangat pada Nana.


Nana menoleh pada Tika yang berada di sampingnya dan memeluk teman nya itu dengan erat.


“Selamat ya Na.......semoga Allah memudahkan langkah mu”. Do’a Tika menyertai


“Aamiin.....makasih ya Ka”. Jawab Nana


“Makasih ya bu.....”.


“Iya sayang......”. Ibu tersenyum


“Kalau gitu Nana hubungi pak Sidik sekarang”.


Nana berjalan menuju kamar untuk menelepon pak Sidik dan memberi kabar bahwa besok dia bersedia menemui teman pak Sidik di kantornya.


“Tika.....kamu kenal Affan?”. Tanya ibu berbisik, sambil sesekali menoleh ke kamar Nana


memastikan bahwa Nana tidak mendengar pertanyaan nya.


Tika terkejut mendengar pertanyaan ibu pada nya, dia menelan air ludah nya untuk menghilangkan rasa tegang yang ia rasakan.


“I......iya bu”. Jawab Tika gugup


“Mereka pacaran?”. Tanya ibu kembali


“Maksud ibu, Nana dan Affan?”.


Ibu menganggukan kepala nya,


“Setau Tika, nggak bu”. Jawab Tika


“Tapi ibu melihat ada cinta di mata Affan”.


“Iya bu. Seperti nya Affan belum siap menerima Nana apa adanya”.


Ibu menghela nafas......dan memejamkan matanya. Raut wajah ibu terlihat sedih dan kecewa mendengar cerita dari Tika.


“Maaf ya bu. Tika gak bermaksud membuat ibu sedih”. Suara Tika lirih


“Gak apa-apa Tika.... ibu hanya kasian dengan Nana. Dia pasti sedih, dia sudah sering kecewa. Rahman, Juna, dan sekarang Affan”. Tatapan ibu kosong


“Sabar ya bu....mungkin belum saat nya. Rencana Allah lebih indah kok”.


“Iya, kamu benar. Makasih ya.....”. Jawab ibu


“Ya sudah. Temani Nana


di kamar ya.....”. Ibu menghapus air matanya yang sempat jatuh di pipi nya.


“Iya, buk. Permisi”.


Tika pamit untuk menemani Nana di kamar.