MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 89. Bertemu dengan keluarga Nana



Imam berpamitan dengan pak lek Hasan dan bulek Tantri, untuk menemui Nana dan keluarga nya.


“Aku pamit pak lek, bulek”. Imam mencium tangan mereka


“Iyo, hati-hati yok lek. Ini untuk bekal perjalanan mu”. Kata bulek Tantri sambil menyelipkan uang di tangan Imam.


“Matur nuwun bulek, pak lek”.


“Yo wis, hati-hati”. Kata pak lek


Imam menuju rumah Nana dengan menggunakan angkot, tanpa memberi kabar pada Nana atas kedatangan nya. Imam tiba di depan rumah Nana


“Assalamu’alaikum..................”. Suara Imam terdengar hingga dapur.


“Wa’alaikum salam warroh matullah, sebentar”. Teriak Nana.


Nana membuka pintu dan di lihatnya ada cowok  berkulit sawo matang, bertubuh kerempeng, berambut sedikit panjang dan berpenampilan biasa saja, dengan kemeja lengan pendek berwarna army yang terlihat sedikit pudar, serta celana berbahan jeans berwarna hitam. Sungguh, Imam jauh berbeda dengan laki-laki yang pernah ia kenal dan pernah datang ke rumah nya.


Arjuna laki-laki cerdas yang selalu berpenampilan stylist, dengan kemeja lengan panjang lengkap dengan dasi, serta sepatu yang selalu mengkilat dan parfum sebagai pelengkap penampilan nya. Affan yang berpenampilan


agak santai, dengan kaos dan jaket kulit nya, Wira pria dengan kulit sawo matang dan berbadan gendut, yang selalu berpenampilan rapi dengan kemeja pendek dan celana berbahan jeans, dan terakhir Ihsan pun demikian.


Nana memperhatikan laki-laki itu dari ujung rambut hingga kaki nya.


“Cari siapa ya?”. Tanya Nana dengan wajah bingung


“Nana?”. Tanya Imam


“Mas kenal dengan saya? Mas ini si.................”.


“Saya Imam”. Imam menjulurkan tangan nya


“Oh...............Mas Imam?”. Nana menyambut ujung tangan Imam dan masih dengan wajah polos dan bingung.


“Mas Imam yang di messanger? Kok datang tanpaa memberi kabar terlebih dahulu?


“Iya maaf untuk itu”. Jawab Imam singkat


Imam terkenal dengan laki-laki cuek dan dingin serta tak pandai dalam berkata-kata, apalagi bersikap romantis seperti kebanyakan laki-laki yang pernah Nana kenal sebelumnya.


“Oh............., ya ya......”. Nana menganggukkan kepala nya dan masih terlihat bingung.


“Mari masuk mas. Silahkan duduk. Nana siapkan minum ya................”.


Imam duduk di ruang tamu dan Nana pergi ke dapur untuk membuatkan Imam teh hangat.


“Mah, mah, ada mas Imam”. Bisik Nana


“Imam? Imam siapa?”. Tanya mamah


“Imam yang pernah Nana ceritakan waktu itu, dia pernah mengirimkan emoticon love di messanger Nana, kemudian dia menyatakan suka dengan Nana lalu Nana minta dia untuk bertemu mamah dan papah sebagai bukti dari ucapan nya itu, dan ternyata beneran datang”.


“Ya Allah.............kok gak kasih kabar?”. Mamah terkejut


“Nana juga gak tahu. Mamah bisa temui sebentar? Nana mau membuatkan teh”.


“Iya sayang”.


Mamah menemui Imam yang sedang duduk di ruang tamu.


“Nak Imam?”. Kata mamah


Imam berdiri dan memberi salam pada mamah


“Assalamu’alaikum buk”.


“Wa’alaikum salam. Perkenalkan saya mamah nya Nana”.


“Iya buk. Saya Imam”.


“Ini minum nya mas. Silahkan di minum”. Nana menawarkan minuman pada Imam


“Terimakasih”.


“Silahkan di minum nak Imam. Biar ibu panggilkan bapak ya...........”.


Nana dan Imam berdua di ruang tamu namun tidak saling menyapa, Nana tertunduk malu begitu juga dengan Imam. Nana sama sekali tidak berpikir bahwa Imam benar-benar akan menemui keluarga nya karena jarak antara Malang dan Jakarta bisa dikatakan sangat jauh. Setelah kurang lebih tiga puluh menit mereka berdua, Nana pun


mulai bicara.


“Apakah kedatangan mas ke sini, untuk membicarakan kelanjutan dari emoticon yang mas kirimkan waktu itu?”.


“Iya Na. Jika kamu bersedia, mas ingin melamar dan menikah dengan mu”.


“Apakah mas yakin dengan apa yang mas katakan barusan?”


Jantung Nana berdebar lebih kencang dari biasa nya.


 “Ya Allah........jika ini takdir mu, ikhlas kan hamba dan mudahkan semua nya”. Do’a Nana dalam hati


 “Assalamu’alaikum”.


“Mas, perkenalkan ini papah”. Kata Nana


Imam memberi salam dan senyum pada bapak


“Ini nak Imam?”. Tanya bapak


“Iya pak”.


“Nak Imam asli dari daerah mana?”


“Malang-Jawa Timur, pak”.


“Oh..............jauh ya?”.


Sebelum membicarakan maksud kedatangan Imam, Bapak dan Imam berbincang-bincang sebentar untuk membuka percakapan inti. Mulai dari perjalanan menuju Jakarta, lalu bicara tentang keluarga, pendidikan hingga pekerjaan, dan bapak pun mulai bertanya mengenai maksud kedatangan Imam.


“Kalau boleh bapak tahu, maksud dan tujuan kedatangan nak Imam ke sini, apa ya?”. Tanya bapak to the point


“Bismillah................, saya ingin meminta restu pada bapak dan ibu untuk melamar putri bapak dan ibu”. Jawab Imam tegas


“Apakah kalian sudah saling mengenal?”.


“Kebetulan kami pernah satu kampus pak, namun sayang nya saya pulang kampung dan tidak melanjutkan kuliah saya di Jakarta”.


“Oh........................ya ya ya”. Bapak menganggukan kepalanya


“Begini nak Imam. Bapak dan ibu sangat menghargai kedatangan dan niat baik nak Imam. Namun, sebelum bapak memberi restu ada satu hal yang harus nak Imam tahu, bahkan keluarga nak Imam pun harus tahu”


“Jika boleh tahu, apa itu pak?”.


“Apakah nak Imam bersedia menerima semua kekurangan Nana?”.


“InsyaAllah................”. Jawab Imam


“Siap menerima dan menikahi perempuan mandul seperti Nana?”. Tanya bapak kedua kali nya


“InsyaAllah siap pak”. Jawab Imam masih dalam keadaan tegas


“Bapak terima kesiapan mu, namun sebaik nya nak Imam bicarakan semua  ini pada orang tua nak Imam, agar kedepan nya tidak ada tuntutan anak atau cucu pada Nana, karena Nana mengalami kelainan pada rahim nya sehingga dia di vonis mandul”.


Imam berrpikir sejenak..................


“InsaAllah, saya akan berdiskusi dengan keluarga. Jika di izinkan, apakah saya boleh bicara dengan Nana berdua akan hal ini?”.


“Iya silahkan, agar semua nya jelas dan tidak ada penyesalan dikemudian hari. Kalau begitu, bapak dan ibu ke belakang sebentar ya...............”.


“Terimakasih pak”.


Bapak dan ibu memberi Imam waktu untuk bicara dengan Nana, karena bapak tidak mau. Anak perempuan satu-satu nya kecewa yang kesekian kali nya karena sebuah penolakan.


“Na, apa kah yang di bilang sama bapak barusan itu benar? Kamu tidak sedang menguji mas kan?”. Tanya Imam


“Iya mas. Semua nya benar. Maka dari itu, bicarakan semua ini baik-baik kepada keluarga mas. Pikirkan lebih jauh lagi, baik dan buruk nya. Apapaun keputusan mas dan keluarga, insyaAllah kami siap menerima”.


Sulit bagi Imam membicarakan ini semua, karena setiap orang tua pasti menginginkan cucu dari pernikahan anak-anak nya. Imam pun tidak begitu yakin, apakah keluarga nya dapat menerima Nana.


“Baik, mas akan diskusikan semua ini pada keluarga. Beri mas waktu satu bulan”. Kata Imam


“Silahkan mas”.


“Kalau begitu mas pamit”.


“Nana panggil mamah papah dulu ya mas”.


“Mah, pah, mas Imam mau pamit”.


Kedua orang tua Nana menemui Imam kembali di ruang tamu


“Saya izin pamit pak buk, terimakasih sudah menerima kedatangan saya. Saya akan membicarakan semua nya pada keluarga di Malang”.


“Iya, sama-sama nak Imam. Pikirkan masak-masak, dan bicara apa ada nya pada keluarga, bicarakan semua tentang kekuraangan Nana. InsyaAllah kami siap dan ikhlas menerima keputusan dari keluarga nak Imam”.


“Saya pamit Pak, Buk, Na. Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam warroh matullah”.