MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 76. JOJOBA (Jomblo-Jomblo Bahagia)



Dalam perjalanan pulang dari pesantren, Lulu terlihat sangat menyesal. Entah apa yang ada dalam hati dan


pikiran nya, raut wajahnya tidak lagi sesemangat atau seceria waktu berangkat menuju pesantren. Lulu yang banyak bicara, kini tiba-tiba berubah menjadi sangat diam.


“Kamu kenapa lu? Bukankah seharusnya kamu bahagia? Kamu bertemu dengan teman-teman seangkatan mu yang sudah lama tidak bertemu. Kamu bertemu dengan ustadz dan ustadzah mu. Apa yang sedang kamu pikirkan? Atau................?”. Bibir Nana seakan terhenti tiba-tiba.


“Atau mungkin kah dia tidak bertemu dengan favoritnya yaitu ustadz Farid?”. Tanya Nana pada diri nya sendiri.


“Maafin Lulu kak?”. Nada Lulu terdengar sedih


“Buat apa? Harus nya kakak yang minta maaf karena gak bisa menggantikan mu menyetir. Hihihi...........”. dengan


nada santai dan sedikit bercanda agar Lulu tidak terlalu serius.


“Kakak tau tujuan ku datang ke pesantren untuk apa?”. Tanya Lulu


“Tau dong sayang.........., kamu ingin bersilaturahmi dengan teman-teman dan para pengajar di sana kan?”. Jawab Nana santai


“Aku gagal memepertemukan kakak dengan ustadz Farid”. Wajah Nana murung.


“MasyaAllah........Lulu gak baik bicara seperti itu. insyaAllah Allah akan mempertemukan kami pada waktu dan


saat yang tepat. Sabar ya.......”. Hibur Nana.


 “Menurut ku kakak cocok loh dengan ustadz Farid, sama-sama pintar dan baik. Semoga kalian berjodoh”. Kata Lulu


“Aaamiin..... insyaAllah, doakan saja ya”.


Nana termenung sejenak memikirkan perkataan Lulu, “Kenapa aku mengaminkan doa Lulu, sementara aku saja belum kenal dan bertemu dengan ustadz Farid itu tapi...........insyaAllah yang baik-baik diaminkan saja”. Nana tersenyum menatap ke arah jalan.


Perjalana pulang pun terasa sebentar karena terbawa oleh suasana pembicaraan mereka. Malam ini Nana yang menginap di rumah Lulu karena sudah larut malam dan Nana tidak akan membiarkan Lulu pulang sendiri dengan mobilnya, sedangkan jika Lulu yang menginap di rumah Nana, tidak ada lahan parkir untuk mobil Lulu.


“Bagaimana jika malam ini kakak yang menginap di rumah mu, maksud kakak di kosan mu?”. Kata Nana


“Benar kah?”. Tanya Lulu bahagia


Nana tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


“Yes, aku ada teman nya”. Jawab Lulu


“Seneng banget?”. Goda Nana


Lulu terlihat ceria kembali ketika Nana memutuskan untuk bermalam di kosan nya malam ini. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan kosan Lulu. Lulu ngekost di kosan terbilang elit, berbentuk seperti perumahan cluster, dengan exterior minimalis bergaya modern, tersedia lahan parkir untuk mobil yang sangat luas lengkap dengan taman.


“MasyaAllah..........ini kosan atau hotel?”. Goda Nana


“Hmmm...........sudah dong kak..... aku tau kakak Cuma ledek aku kan?”. Sambil membuka pintu mobil dan keluar.


“Hhhhmmmm, suudzon kan? WaAllahi, kakak bertanya. Jawab dong!”.


“Iya kakak sayang..........ini kosan sekaligus hotel. Lihat aja nnti di dalam, fasilitasnya kayak apa”. Lulu


mengunci mobil lalu melangkah menuju rumah nomer 4.


“Ahlan wasahlan ukhty”. Lulu mempersilahkan Nana masuk


Mata Nana di takjubkan dengan fasilitas yang serba ada di dalam rumah kosan itu, mulai dari ruang kamar yang


nyaman, ruang tamu, dapur, kamar mandi yang terbilang mewah lengkap dengan air panas dan dingin.


“Kamu sendirian?”. Kata Nana


“Yak gak dong, aku berdua dengan sepupu ku. Dia di kamar satu nya tetapi sekarang dia sedang nginep di rumah


kakaknya di Ciledug”. Jawab Lulu


“Oh....”. Sambil duduk di sofa ruang tengah.


 “Gak usah, sudah jam 00.30 kakak sudah capek dan mengantuk. Kakak mau sholat isya’ lalu istirahat”. Jawab Nana


“Ok. Baik lah..............”. Lulu menyiapkan keperluan sholat untuk Nana.


Lulu mulai tertidur pulas disaat Nana masih terjaga, mata Nana seakan sulit untuk dipejamkan. Nana masih saja


terpikirkan oleh  sikap dan usaha Lulu untuk mempertemukan diri nya dengan ustadz Farid. Namun, apa yang harus Nana lakukan untuk membahagiakan Lulu dan membuat dia merasa bahwa diri nya berhasil mempertemukan Nana dengan ustadz Farid.


“Aku tahu niat mu sangat baik Lu, aku juga percaya bahwa ustadz Farid itu orang sholeh karena aku mendapat


rekomendasi dari kamu yang insyaAllah sholeha, tetapi aku juga tidak berharap jika kamu merasa bersalah atas semua ini”. Sambil memandangi Lulu yang sudah tergeletak diatas kasur empuk.


Nana berbaring disamping Lulu dan memaksakan mata nya untuk terpejam, sampai akhirnya mereka berdua tertidur pulas hingga subuh tiba. Suara adzan subuh membangunkan tidur mereka, mereka melaksanakan sholat subuh berjama’ah di kosan Lulu kemudian meluruskan badan nya kembali sambil menunggu waktu jogging tiba.


Jam 5.30 pagi, Lulu mengajak Nana untuk jogging di halaman kosan, walaupun hanya berlari-lari kecil keliling


taman dan parkiran kosan, namun sangat berarti untuk kebugaran tubuh mereka.


“Kak, jadi jomblo itu asik ya.......kita tidak terikat oleh pacar, tidak diawasi, apalagi di cemburui. Kalau


denger teman-teman aku curhat tentang cowok. Mereka seperti stress berat deh”. Sambil melakukan gerakan pemanasan sebelum jogging.


“Oh ya?”. Respon Nana


“Pantas saja kakak terlihat enjoy sendiri”. Lanjut Lulu


“Iya, kakak bangga sama kamu”. Sambil tersenyum


“Oh iya Lu, kamu punya nomer ustadz Farid?”. Tanya Nana


Lulu meghentikan gerakan nya dan tercengang mendengar pertanyaan Nana.


 “Gak salah? Kakak minta nomer ustadz Farid?”. Dengan wajah melongo tak percaya.


“Bukan minta sayang.........kakak tanya, kamu punya nomer ustadz Farid?”. Nana mengklarifikasi pertanyaan nya.


Lulu masih tercengang dan terlihat sedikit bingung.


“Kalau kamu punya, bisa kah kamu kirimkan pesan pada nya dan bilang bahwa kakak ingin berkenalan”.


“Hah?!!! Serius kak?”.


"Iya. Serius. Ustadz Farid sholeh kan? Pintar? Baik? Laki-laki seperti itu wajib di ajak serius”. Jawab Nana mantap


“SubhanaAllah.............! Aku terharu denger nya. Siap kak! Nanti siang aku hubungi beliau. Semangat JOJOBA”.


Lulu mengepalkan tangan kanan nya lalu mengangkatnya tinggi sambil mulai berlari kecil dengan wajah berbinar binar bahagia.


Nana tersenyum melihat kebahagiaan


Lulu, “Terimakasih ya Lu”. Kata Nana setelah Lulu berada 3 meter di depan nya.


Siang ini, tepatnya selesai sholat juhur. Lulu mengirimkan pesan singkat pada ustadz Farid dan menyampaikan pesan serta salam dari Nana untuk beliau, bahkan Lulu tanpa izin telah memberikan nomer HP Nana pada ustadz Farid.


“Assalamu’alaikum Ustadz, Afwan mengganggu waktu antum”. Kata Lulu dalam pesan singkat nya.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokaatuh. Ada yang bisa ustadz bantu?”. Jawab ustadz Farid. “Jika ada yang ingin kenalan dengan antum, apakah antum bersedia?”.


“Tafadhol. Ana senang jika banyak saudara”. Jawab ustadz Farid.


“Alhamdulillah...syukron tadz. Ini nomer handphone nya, save dan silahkan antum chat sendiri ya. Mohon maaf sebelumnya. Syukron dan wassalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh”.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh”.


Salam tadi pun mengakhiri percakapan mereka. Ustadz Farid paham betul akan sikap dan sifat Lulu selama enam tahun di pesantren. Mulai dari tingkat Madrasah Tsanawiyah sampai dengan Madrasah Aliyah.