
Nana duduk di samping Juna masih dalam keadaan membisu, Juna berusaha untuk membuka percakapan kembali agar suasana menjadi cair. Namun, seperti nya Nana masih kesal dengan pertanyaan Juna di cafe.
"Ok, fine. Aku minta maaf jika pertanyaan ku membuat mu tersinggung. Aku memang bodoh, jahat bahkan jahat
karena mempermainkan perasaan mu, membuat kamu mengingat masa lalu yang tidak pantas untuk di kenang”. Juna memulai untuk membuka percakapan kembali, namun Nana masih membisu.
“Bicara lah.............Na, aku gak bisa kamu diamkan seperti ini. Aku.....aku......... Argh.....!!”. Juna memukul stir dengan kepal nya.
“Apa kamu masih mencintai ku?”. Nana melontarkan pertanyaan yang sama dengan Juna dan sontak Juna tercengang tak menjawab.
“Kamu berani bertanya soal cinta di hati ku, tetapi kamu sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan ku, egois. Kamu
hanya ingin dicintai namun tidak bisa mencintai bahkan tidak mau”. Kata Nana ketus dengan pandangan masih fokus kedepan tanpa menoleh pada Juna yang ada disampingnya.
“Aku....... a...aku.....”. Suara Juna gugup, wajahnya memerah dan berkeringat.
Juna meraih tangan Nana, menggenggam nya erat seperti dulu, “Apakah kamu percaya jika jawaban dari pertanyaan mu itu YA? Aku masih sama seperti dulu, aku tahu ini tidak adil namun tidak mudah bagi ku untuk melupakan semua tentang kita”
“Lalu mengapa kamu tidak berusaha
mencari ku dan membawa ku kembali ke hati mu, memposisikan aku menjadi wanita
satu-satu nya yang kamu cintai dan menjadi ratu dalam istana cinta mu. Mengapa
harus Eva?”. Air mata Nana menetes di pipi nya yang bersih.
“Aku menikah dengan Eva karena mama, aku tidak mencintai nya. Namun aku punya kewajiban untuk menghormati dan menjaga nya. Dia ibu dari anak ku. Hubungan kami terbenteng oleh pernikahan”.
“Lalu mengapa kamu masih membahas soal cinta dengan ku? Kamu ingin aku tetap sendiri dengan menjaga dan merawat cinta ini sendiri? Jahat kamu Juna”. Nana Menangis, menumpahkan semua air mata nya.
Juna mendekatkan posisi duduk nya pada Nana lalu memeluk Nana dengan erat, memberi kecupan hangat di kening nya dan berusaha membuatnya tenang kembali.
“Maafkan aku, andai aku bisa kembali pada mu seperti dulu. Aku sayang dan masih mencintai mu, Na”.
Nana menarik nafas dan menghapus air matanya namun masih merasakan kenyamanan dalam dekapan Juna.
“Dulu, kamu selalu membuat ku bahagia, tetapi sekarang berubah. Kenapa harus ada air mata setiap kali kita
berjumpa? Tidak bisakah kebahagiaan itu datang kembali dalam pertemuan kita?”. Tanya Nana yang masih dalam pelukan Juna.
“Iya, pasti. Aku akan membawa kebahagiaan itu kembali. Maaf kan aku”. Sambil terus memberi kecupan di kening
Nana.
Nana melepaskan pelukan itu, mata nya memerah dan masih terlihat basah. Hidung nya pun terlihat merah jambu
karena tangis nya dan membuat Nana terlihat menggemaskan. Juna memandang wajah Nana yang terlihat ranum, dengan senyum di bibir nya.
“Lucu!”. Juna mencubit hidung Nana yang merah jambu itu.
“Lucu apa nya?”. Tanya Nana dengan senyum di bibir nya dan semakin tersipu malu.
“Hidung nya kayak meong, merah jambu. Haaa.......”.
“Dari pada kamu, hitam”. Balas Nana
“Hitam tapi manis, iya kan?”. Tanya Juna
“Dasar egois!”. Nana melipat kedua tangan nya di dada, memasang wajah ketus dan memalingkan wajah nya.
Juna mengembalikan pandangan Nana dengan ke dua tangan nya, membawa wajah itu di hadapan Juna, namun Nana masih tetap tidak mau melihat kearah Juna.
“Hey, look at me!”.
Nana melihat ke arah Juna dan menatap mata nya
“Aku rindu dengan tatapan mata indah mu dulu, terus lah menatap ku seperti ini agar kamu tahu bahwa ada cinta yang selalu menanti mu”. Juna membawa tangan Nana mendarat di jantung nya.
Juna berhasil membuat Nana terhipnotis oleh kata-kata romatis nya dan membuat nya terus menatap Juna. Perlahan Juna mendekatkan bibirnya dan mencoba meraih bibir tipis Nana yang hanya tinggal beberapa inci saja.
“Tidak”. Nana menarik wajah nya dan melepaskan tangan Juna
“Kenapa?”.
“Aku gak bisa”.
“Please..........sekali saja”. Juna memohon.
“Gak!! Please Juna”. Nana berusaha membuka pintu mobil namun Juna menarik tangan nya.
“Bilang sama aku Na bahwa kamu tidak mencintai aku lagi. Bilang sama aku bahwa kamu tidak merasakan hal yang sama. Dan bilang sama aku bahwa aku sudah tidak ada di hati mu. Bilang Na! Ayo bilang!”. Juna tersulut emosi
“Cukup Juna!! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan apalagi membenci mu dan kamu tahu itu, tetapi gak gini cara nya. Apa dimata mu aku hanya lah wanita rendah yang pantas kamu perlakukan seenaknya? Jika kamu bisa menghargai Eva, kenapa kamu tidak bisa menghargai aku?”. Nana membuka pintu mobil dan meninggalan Juna.
“Arrrrggghhh.........!!!! Juna...... apa yang ada di pikiran mu? Tidak seharusnya kamu melakukan itu pada wanita yang kamu cintai?”. Juna menyalahkan diri nya sendiri.
“Aarrggghhh................Na, tunggu Na...........”. Juna mengejar Nana namun dia sudah terlanjur masuk dalam angkot.
Juna mengurungkan niat nya untuk kembali ke kampus, dia putar arah menuju taman kota, dia tau betul kemana Nana pergi saat dia sedang galau. Nana selalu menghabiskan waktu nya di taman terdekat, jika sedang ada masalah. Setelah menghabiskan waktu lima belas menit, Juna sampai di taman kota yang tidak jauh dari cafe. Juna menemukan Nana yang sedang duduk di taman dengan wajah lesu, pucat dan mata sembam. Juna berjalan
menghampiri Nana.
“Hapus air mata mu!”. Juna menyodorkan tisu dari belakang Nana.
“Tinggalkan aku Juna. Aku butuh sendiri”. Jawab Nana tanpa menoleh pada Juna.
Juna duduk di samping Nana, “Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku salah karena tidak dapat mempertahankan
kamu, aku tau aku salah karena aku hadir kembali. Aku.............”. Juna merasa menyesal.
Nana tidak mau mendengar apa-apa lagi dari Juna, Nana bangkit dari duduk nya dan ingin meninggalkan Juna, namun Juna menarik tangan Nana.
“Please jangan pergi Na, aku minta maaf”. Juna memeluk Nana erat dan terus meminta maaf.
“Lepaskan aku Juna, malu di lihat orang”. Bisik Nana yang masih ada dalam pelukan Juna.
“Aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kamu memaafkan aku”.
“OK, baik. Aku sudah maaf dan sekarang lepaskan aku”.
“Janji tidak akan pergi?”. Pinta Juna
“Juna, stop. Jangan seperti ABG. Aku malu”.
“Jawab pertanyaan ku”.
“OK, OK. Aku janji”.
Juna melepaskan pelukan nya, “Aku minta maaf ya............”. Juna memasang wajah melas dan memohon.
“Ya ampun...........mengapa kamu lakukan ini pada ku Juna? Kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa marah
apalagi benci pada mu”. Gumam Nana dalam hati sambil memandangi wajah mantan nya itu.
“Iya, Arjuna ku. Aku maafkan semua nya”. Nana tersenyum.
“Thank you neng geulis”. Juna memonyongkan bibir nya sambil menggerakkan kedua alis nya serta mengedipkan
mata nya.
“Iiihh......”. Nana mendorong wajah Juna dengan tas nya dan mereka tertawa bersama.