
Pagi itu Nana terlihat begitu segar dan penuh semangat untuk pergi ke kantor seperti biasanya. Tidak ada
tanda-tanda bahwa dia mempunya masalah dengan Wira.
“Pagi sayang......”. Sapa mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
“Pagi mama cantik.......”. Jawab Nana dengan ekspresi wajah begitu bahagia.
Nana duduk di kursi yang biasa dia tempati untuk bersiap-siap menikmati hidangan yang ada di depan nya.
“Wow.....bahagia sekali! Ada apa?”. Tanya mama yang sedang duduk di kursi depan Nana
“Hmmm.................sedapppp......!” Nana mencium wangi aroma hidangan yang baru saja matang.
Dia mengambil sesendok Nasi serta menambahi nya dengan lauk pauk lain nya.
“Kamu baik-baik saja?”. Tanya mama dengan nada sedikit khawatir
“Yeah...... aku baik ma............... Kenapa?’. Sambil memasukan makanan dalam mulutnya.
“Bagaimana dengan pekerjaan mu?”.
“Hari ini terakhir karena aku memilih untuk resign”.
Mama terkejut, “Ada apa sayang.........? Bukan kah kamu sangat enjoy bekerja disana? Tidak ada apa-apa kan?”. Mama menatap Nana dengan tatapan tidak percaya.
“Ma......I’m OK. Aku resign karena aku mempunyai kabar baik”.
Nana membuka ponsel nya, lalu menunjukan email dari departemen dalam negeri yang menyatakan bahwa Nana mendapatkan beasiswa S2 program study sastra di Universitas Indonesia.
“MasyaAllah.......Alhamdulillah sayang.......akhirnya mimpi kamu untuk melanjutkan kuliah tercapai”. Peluk mama
haru
“Thank you ma.....”.
Tak terasa Nana sudah menghabiskan sarapan yang ada di piringnya. Nana melihat arloji di lengan nya.
“Wow, sudah jam 6.30. Nana berangkat ya ma.....”. Dengan meneguk sisa air di gelasnya lalu mencium tangan mama dan berangkat ke kantor.
Nana pergi ke kantor menggunakan ojek pengkolan yang biasa mangkal di depan gang rumahnya.
“Pagi Nana......”. Sapa tukang ojek
“Pagi.....antar aku ke kantor ya!”. Nana mendekati salah satu abang ojek.
“Gak di jemput? Biasanya ada cowok ganteng yang jemput”. Jawab abang ojek sedikit menyindir.
“Gak......mungkin dia lelah”. Senyum Nana.
Nana naik di motor abang ojek itu, “Gaspol bang..............!!!”. Sambil menepuk
punggung abang ojek.
“Asshhhiiiaapppp........!!!!”. Jawab abang ojek penuh semangat.
“Duluan ya abang-abang.......semoga hari ini rezeki nya lancar. Aamiin!”.
“Aamiin.........hati-hati Nana”. Jawab semua abang ojek.
Ojek yang di tumpangi Nana pun melaju dengan kecepatan 50km/jam, hingga dalam hitungan satu jam Nana sudah
sampai di kantornya. Nana turun dari ojek, melepaskan helm yang ia kenakan dan membayar ongkos ojeknya.
“Makasih ya bang......hati-hati”.
“Terimakasih”.
Ojek itu berlalu dan Nana pun masuk gerbang dan berjalan menuju lobby. Nana menyalami setiap orang yang ia temukan di kantor pagi itu termasuk Wira. Langkah dan senyum Nana begitu ringan tanpa beban walaupun semalam dia baru saja memutuskan hubungannya dengan Wira.
“Isabel.....pak Guntur hari ini masuk gak?”. Tanya Nana pada Isabel sekretaris pribadi pak Guntur.
“Hari ini beliau izin tidak masuk karena sakit”.
“Hmm......”. Nana menganggukan kepala nya
“Ada apa Bu?”. Tanya Isabel sambil melirik ke map merah yang ada di tangan Nana.
“Saya titip ini buat pak Guntur”. Nana menyerahkan map itu pada Isabel.
“Apa ini bu?”.
“Sampaikan sama pak Guntur, bahwa hari ini saya mengundurkan diri dan itu surat pengunduran diri saya”.
“Baik bu. Akan saya sampaikan. Kebetulan sore ini saya langsung ke rumah beliau sekaligus membawa beberapa berkas untuk beliau tanda tangani. Jadi saya bisa bawa surat pengunduran diri ibu juga”.
“Ya, terima kasih”. Nana tersenyum dan mengelus bahu Isabel.
Wira yang sedari tadi berdiri dibalik tembok yang jaraknya tidak jauh dari Isabel dan Nana, tercengang mendengar ucapan Nana barusan.
Wira menghampiri Nana yang masih asik berbincang-bincang dengan Isabel.
“Bu Nana, bisa ke ruangan saya sebentar!”.
Nana menoleh kaget dan melihat ada Wira di belakangnya.
“Baik pak”.
Wira berjalan terlebih dahulu menuju ruangan nya kemudian di ikuti oleh Nana. Wira duduk di sofa dalam ruangan nya dan Nana masih berdiri di dekat pintu.
“Tutup pintu nya!”. Kata Wira
“Maaf, mulai hari ini kita bukan satu tim dan saya bukan bawahan kamu lagi, bapak Wira Pratama”. Jawab Nana.
Wajah Wira terlihat kesal dengan tangan mengepal, lalu dia berdiri dan menghampiri Nana yang masih berdiri pada
posisi semula.
“Jadi, kamu benar-benar resign dari perusahaan ini?”. Tanya Wira dengan nada emosi.
“Kamu ingin meninggalkan aku?”. Sambil berjalan mengelilingi Nana yang masih dalam posisi berdiri dan wajah Wira seketika berubah menjadi sangat menyeramkan.
“Iya”. Jawab Nana tegas dengan mendongakan wajah nya
“Kamu pikir segampang itu? Aku sangat mencintai kamu Na”.
“Maaf saya tidak punya banyak waktu untuk membicarakan soal ini”. Nana memutar badan dan menuju kearah pintu untuk segera meninggalkan Wira.
Wira berusaha menahan Nana dengan menarik salah satu tangan Nana dan membuatnya terjatuh pada pelukan Wira. Wira mendekap erat tubuh Nana yang tinggi langsing dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
“Tok....tok....tok.........”. Suara Ayu di depan pintu.
“Lepaskan aku!”. Nana berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Wira namun tidak berhasil.
“Ada Ayu...... aku tidak mau ada yang melihat kita dengan posisi seperti ini.Aku malu dan takut menjadi fitnah”.
Wira tidak memperdulikan ucapan Nana, dia semakin erat mendekap tubuh Nana.
“Lepaskan aku! Jika tidak, aku teriak”. Nana mencoba mengancam Wira.
“Masuk!!”. Wira mengizinkan Ayu masuk dalam ruangan nya.
“Wira, jangan gila kamu. Lepasin aku!!”.
Ayu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Wira. Betapa terkejutnya Ayu melihat Wira dan Nana sedang berpelukan.
“Maaf, jika saya mengganggu. Permisi”. Ayu kembali menutup pintu.
“Ayu.....aku mohon, ini salah faham”.
Ayu segera berlari meninggalkan Wira dan Nana dan Wira mendorong tubuh Nana hingga jatuh ke sofa.
“Fitnah apa lagi yang akan kamu lakukan terhadap ku Wira?”.
“Baik lah, jika kamu ingin kita putus. Aku berjanji suatu saat, aku akan membuat mu kembali pada ku”. Kata Wira
Nana segera berlari keluar meninggalkan Wira di ruangan nya dan mengejar Ayu untuk menjelaskan kepada Ayu
bahwa semua yang dia lihat itu tidak benar. Nana mendapati Ayu sedang menangis di ruangan nya, ruangan Nana juga.
“Ayu....... maafin aku. Kami tidak..............”.
“Stop!”. Ay mengacungkan telunjuk nya pada wajah Nana.
“Jadi selama ini kalian pacaran? Kalian mesra-mesraan atau jangan-jangan kalian sudah melakukan.............”.
Kata Ayu sambil terisak nangis
“Astaghfirullah.....Istighfar Ayu”. Nana berusaha bicara baik-baik pada Ayu.
“Kami tidak seburuk yang kamu bayangkan”.
Nana memeluk Ayu namun Ayu mendorong nya.
“Kamu tahu, Wira itu pacar aku. Dia sangat mencintai ku dan dia tidak akan pernah mengkhianati aku jika tidak kamu mulai”.
“Ya Allah......Ayu. Aku tidak seperti itu. Justru kami baru putus tadi malam. Dia mengkhianati aku dengan
Siska, mantan nya dulu dan hari ini aku resign dari kantor karena aku tidak ingin melihatnya kembali”. Nana menjelaskan dengan Nada sangat lembut agar Ayu dapat menurunkan amarahnya.
“Bohong! Pergi kamu Nana, pergi!!!”. Ayu mendorong Nana sampai keluar pintu dan menutup pintu ruangan nya
rapat-rapat.
Nana hanya bisa menangis dibalik pintu dan sangat menyesal telah bertemu dan mencintai Wira.