
Waktu hujan deras, Nana tidak berani untuk pergi kekampus dalam keadaan hujan yang begitu deras. Nana memutuskan untuk naik kendaraan umum, namun kendaraanpun tak kunjung Nana temui. Sesekali Nana melihat jam dari ponselnya,menandakan bahwa Nana dalam keadaan buru-buru, kondisi jalanpun sangat sunyi, tak ada satu kendaraan yang melintas di jalan itu. Tidak seperti biasanya memang, mungkin dikarenakan hujan yang begitu deras mengguyur kampung Nana dan sekitarnya sedari siang tadi.
Waktu terus berjalan, sebagian pakaian Nana sudah basah karena hujan yang mampir ke tubuhnya terbawa oleh angin. Nana masih berdiam diri diserambi toko tepi jalan, tempat yang dulu dia gunakan untuk mencari tumpangan jika ingin ke kampus. Tiba-tiba, Nana melihat dari kejauhan seperti ada yang datang menghampirinya. Tidak terlihat siapa yang datang, karena semua nampak putih oleh air, hanya cahaya dari lampu motor yang terlihat sayup.
Nana melambaikan tangan seolah-olah memberi isyarat agar pengendara berhenti di depannya.
“Ojek Na....?” tanya pengendara itu
“Oh...ia bang”. Jawab Nana
Nana segera menaiki motor yang dibawa oleh abang ojek itu
“Mau kemana Na?"
"Kelihatannya buru-buru?” sapa abang ojek itu pada Nana.
Nana memang anak yang ramah, sebelum dia memiliki motor doyok itu, dia sering juga naik ojek sehingga semua abang ojek dipangkalan dekat rumah Nana mengenalinya. Nana sering berbincang-bincang dengan abang ojek selama perjalanan.
Nana mau kuliah bang. Sudah dua jam Nana menunggu ojek tapi gak ada yang mangkal”. Jawab Nana.
“Sebentar lagi jadwal kuliah akan dimulai, Nana pasti telat”. Lanjut Nana
“Kenapa gak bawa motor?” tanya abang ojek itu
“Nana gak berani kalau hujan begini, selain itu kebetulan motor Nana mati, maklum doyok”. Jawab Nana
“Kenapa gak telepon pacar?” tanya abang ojek kembali
Nana terdiam mendengar pertanyaan abang ojek itu, entah kenapa dia selalu kesal jika ada orang yang membahas tentang pacar.
“Na...ko diam?”
“Wah....belum punya pacar ya?” goda abang ojek sambil tertawa
Ingin rasanya Nana menjitak si abang ojek dari belakang namun tidak berani. Nana semakin kesal dengan abang ojek itu.
“Stop! Disini aja bang”. Teriak Nana
“Kan masih jauh Na?” tanya abang ojek itu
“Gak apa-apa bang, hujannya sudah mulai reda”.
“Nanti Nana bisa nunggu ojek lain”.
“Terimakasih ya....”. Nana terlihat kesal sambil memberikan ongkos ojek nya.
Perjalanan Nana masih jauh namun Nana harus berhenti ditengah-tengah perjalannya itu kesal. Nana harus menunggu ojek berikutnya atau mencari tebengan jika ada orang yang melintas dijalan itu.
“Kring....kring.....”. Suara HP nana berbunyi, ada pesan masuk dalam handphone nya.
"Neng,kamu dimana? Ko belum datang?" tanya teman Nana dalam SMS
"OTW, ceritanya panjang" Jawab Nana membalas pesan temannya itu
Tidak lama kemudian, Nana melihat ada mobil pick up yang melintas didepan Nana. Nana
melambaikan tangan dan minta tumpangan. Nana pun ikut bersama rombongan pedagang sayur yang akan menuju kepasar induk untuk belanja dagangan mereka.
“Alhamdulillah ya Allah....pertolongan mu selalu datang diwaktu yang tepat”. Ucap syukur Nana dalam hati
Nana menumpang di pick up sampai dengan depan kampusnya karena kebetulan mobil itu melintas tepat
didepan kampus. Nana segera membersihkan sepatu dan gamisnya yang agak kotor dan basah karena cipratan hujan. Tanpa sadar, Nana telat hampir satu jam. Tanpa menyapa orang yang ia temui, Nana langsung menuju kelasnya yang berada dilantai tiga.
Nana menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kelas, dia tidak berani mengetuk pintu, sesekali
dia mengintip pak dosen yang sedang asyik mengajar dikelasnya. Nana hanya berdiri didepan pintu kelas, menunggu waktu yang pas untuk mengetuk pintu.
“Hei....sedang apa?”.
Nana kaget mendengar suara persis dibelakang telinganya, kemudian menoleh kesuara tersebut. Nana
memperhatikan cowok yang sekarang berada didepannya tanpa mengedipkan matanya yang hitam. Cowok tinggi, kurus, agak hitam, dengan celana cutbray, serta kemeja dan....buku yang ada ditangannya, membuat Nana melotot kaget.
“Anak baru?” tanya cowok itu.
Nana masih terheran-heran karena Nana belum pernah melihat cowok itu sebelumnya.tanpa
menghiraukan pertanyaan cowok kurus itu, Nana langsung masuk kelas.
Kehadiran Nana membuat teman sekelasnya bengong dan heran karena tidak biasanya Nana telat,
selain itu Nana terlihat lelah dengan pakaian dan sepatu basah. Namun, masih ada sisa-sisa semangat yang terpancar pada wajahnya.
“Excuse me sir, I am so sorry i am late”. Nana meminta izin masuk
“You’re too late”. Jawab dosen
Nana segera mencari kursi yang masih kosong, kebetulan hari itu kelas Nana tidak terlalu penuh, mungkin karena hujan. Sehingga banyak mahasiswa yang enggan datang atau juga karena mereka lembur ditempat kerjanya.
Kelas Nana memang kelas karyawan, namun kelas tersebut selalu full dengan jumlah mahasiswa yang ada di kelas itu. Nana memilih duduk di pojok karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian teman-teman yang lain.
“Kamu kehujanan?”
“Telatnya banyak banget”. Tanya Riyan sambil menyodorkan buku miliknya agar Nana mencatat dan
mempelajari materi yang telah disampaikan dosen.
Riyan teman yang paling dekat dengan Nana dikelas. Dia selalu membantu Nana dalam mengerjakan
tugas-tugas kuliah,Riyan juga yang selalu meminjamkan buku kepada Nana, dan menjadi dosen privatnya jika Nana tertinggal mata kuliah seperti hari itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Riyan, Nana segera memindahkan semua materi yang ada di buku Riyan
ke buku miliknya.
“Sudah makan, Neng?” tanya Riyan kembali, namun Nana masih sibuk dengan catatannya.
“Masih ada waktu lima belas menit untuk menunggu jadwal berikutnya, makan yuk?” Ajak Riyan. Namun Nana masih saja tidak menghiraukannya.
Riyan mengambil balpoint Nana dan menutup buku yang ada didepan Nana.
“Neng...mau makan nggak?” tanya Riyan sambil mendekatkan mukanya didepan muka Nana.
Riyan selalu panggil Nana dengan sebutan Neng, mungkin karena perbedaan usia. Usia Riyan dan
Nana terpaut empat tahun. Harusnya Riyan adalah senior Nana, namun dikelas karyawan ini semua usia bisa ikut kelas.
“Kamu makana aja, aku mau menyelesaikan catatan ku dulu”. Jawab Nana
Sifat Riyan yang jail, membuat dirinya kurang berkesan atau tidak bahagia jika dia tidak berbuat jail pada Nana. Setiap mereka bertemu, selalu ada hal yang membuat Nana kesal yang dilakukan Riyan. Riyan juga laki-laki yang penyabar, baik, mudah bergaul, dan disenangi banyak teman.
Riyan lahir di keluarga kristiani, kemudian memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Perawakannya tinggi, hidungnya besar, berkulit putih bersih, berwajah bulet, dan bermata sipit. Nana sering memanggil Riyan dengan sebutan si hidung besar.
Dia dan keluarganya merantau ke Jakarta sejak Riyan masih kecil. Perbedaan agama yang ada
dikeluarga Riyan tidak membuat mereka kehilangan keharmonisan, justru saling support satu sama lain.
Kali ini, Riyan mengambil balpoint yang ada ditangan Nana lalu memasukannya dalam kemeja yang
ia pakai. Riyan dengan sengaja membuat Nana kesal, dia selalu menggoda Nana dengan tingkah lakunya yang jail dan menyebalkan.
“Riyan, balikin nggak”. Pinta Nana
“Ia tapi dikantin”. Jawab Riyan
“Yan, aku datang telat, banyak materi yang belum diselesaikan, sementara pak dosen sudah memberi
tugas. Jail banget sih.....balikin dong Yan....”. Nana meminta dengan nada memelas.
Riyan menarik tangan dan membawanya ke kantin. Riyan tahu kalau Nana tidak membawa uang lebih
untuk makan.
“Duduk, makan, aku yang bayar”. Kata Riyan
Kadang Nana berpikir bahwa Riyan adalah satu-satunya teman yang paling menyebalkan, akan tetapi dia sangat perhatian kepada Nana. Riyan memang sudah mempunyai pekerjaan tetap di sebuah perusahaan, sehingga dia punya cukup uang untuk makan, jajan dan membeli kebutuhannya.
“Kenapa sih hari ini jelek banget?” tanya Riyan
“Berarti selain hari ini, aku cantik?” tanya balik Nana pada Riyan
Mendengar pertanyaan Nana, Riyan tertawa sambil mengambil sesendok makanan di depan Nana
dan memasukan dalam mulutnya.
“Gak juga”.
“Maksudnya, hari ini jauh lebih jelek dari hari-hari sebelumnya”.
“Kucel, lesu, baju basah”. Riyan terus menggoda Nana
“Perhatian banget”.
“Kenapa?”
“Jangan-jangan suka sama aku ya?” Nana kembali menggoda
"Ih....amit-amit tujuh turunan”. Jawab Riyan sambil senyum-senyum
“Buruan makan nya, bentar lagi masuk”.
“Sini aku yang habiskan”. Riyan mengambil makanan yang sedang Nana makan dan menghabiskannya.
Nana dan Riyan ambil kelas sore, sehingga perkuliahan mereka selesai sampai jam sembilan
malam. Seperti biasa, Riyan selalu menemani Nana berjalan kaki sampai terminal bahkan Riyan selalu memastikan Nana untuk masuk kedalam angkot dan pulang, dengan begitu Riyan tidak khawatir lagi pada Nana.
Riyan menjaga Nana seperti adik dan kakak, bahkan teman-teman di kelas selalu menjodohkan mereka agar mereka menjadi sepasang kekasih lalu menikah. Tetapi, itu sepertinya tidak akan terjadi karena Nana tahu, Riyan menyayangi Nana seperti adiknya sendiri, selain itu Riyan juga sudah punya pacar bernama Rara.
Riyan selalu membuat Nana bahagia ketika Nana berada didekatnya, tertawa, bercanda, walaupun Riyan jail namun Riyan adalah teman yang sangat mengesankan dan menggemaskan bagi Nana, karena Riyan selalu membuat Nana jengkel dan tertawa.