
Sejak acara lamaran nya minggu lalu, Nana terlihat berdeda, dia terlihat lebih bersemangat dari biasa nya. Hari-hari nya disibukan untuk mempersiapkan acara pernikahan nya, beberapa minggu kedepan. Proses ta’aruf Nana dengan Imam berjalan dengan lancar dan sangat singkat, mulai dari peluncuran emoticon love, sampai identitas dan akhir nya bertemu dengan keluarga nya hingga acara lamaran tiba.
Nana mempersiapkan acara pernikahan nya sendiri tanpa Imam karena jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya bisa berkomunikasi melalui whatssapp dan hanya dapat bertukar foto, namun semua itu tidak membuatnya lelah. Semangatnya untuk menikah membuat Nana lupa akan lelah dan kondisi kesehatan nya, sehingga tanpa disadari ada penyakit lain yang sudah bersarang pada tubuh nya.
“Na............. kamu pasti lelah mengurus semua nya. Kenapa tidak menggunakan wedding organizer saja untuk mengurus keperluan pernikahan mu?”. Tanya mama sambil membuatkan teh hangat untuk Nana.
“Gak apa-apa ma.............Nana senang melakukan nya”. Jawab Nana lemas sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
“Nana istirahat ke kamar ya ma..............”.
“Iya sayang............”. Jawab mama
Nana bangun dari tidur nya dan berusaha untuk berdiri namun kepala Nana terasa berat, badan Nana berubah menjadi lemas, pandangan Nana kabur dan tiba-tiba
“Gubrakkkkkkkkkkkk!!!!”. Nana terjatuh di lantai
“Astaghfirullah...............Nana!!”. Nana segera menghampiri Nana yang sudah tergeletak di lantai.
Mama mencoba untuk mengangkatnya ke atas sofa dan berusaha mengembalikan kesadaran Nana namun
tidak berhasil. Mama mencari bantuan tetangga untuk membawa Nana ke rumah sakit terdekat.
Setiba nya di rumah sakit, perawat segera memasukan Nana ke ruang IGD agar mendapat penanganan dengan cepat. Dokter segera memeriksa keadaan Nana dan meminta perawat untuk memasangkan oksigen pada Nana
dan alat pendeteksi jantung karena jantung Nana melemah.
“Dokter apa yang terjadi dengan anak saya?”. Kata mama panik
“Ibu tunggu di luar ya...........biarkan kami bekerja maksimal”. Jawab dokter
Mama terus mondar mandir di depan IGD sambil terus berdoa untuk Nana.
“Ada apa dengan Nana ma?”. Tanya papa
“Mama gak tau pa, sehabis mengurus keperluan pernikahan nya. Dia terlihat lelah bahkan sangat lelah, lalu dia berbaring di sofa kemdian ketika ingin istirahat ke kamar, Nana pingsan”. Jawab mama sambil terisak
“Ya Allah.............semoga baik-baik saja”.
“Keluarga Nana”. Perawat memanggil
“Iya sus”. Jawab papa dan mama
“Dokter ingin bicara, mari saya antar ke ruangan nya”.
Mama dan papa berjalan mengikuti langkah perawat menuju ruangan dokter yang tidak jauh dari ruang IGD. Setiba nya di depan ruangan dokter, perawat membuka pintu dan mempersilahkan papa dan mama masuk.
“Permisi dokter”. Kata perawat
“Ya, masuk”. Jawab dokter
“Silahkan duduk pak, bu”. Kata dokter kepada kedua orang tua Nana
“Hhhhmmmmmm, begini pak bu. Ada hal serius yang harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu terkait putri bapak dan ibu”. Dokter mulai menjelaskan perlahan.
Mama tidak tahan lagi menahan air mata nya dan mama pun menangis di pelukan papa.
“Nana harus kami rawat di ruang ICU dan harus kami check lab, karena hasil pemeriksaan yang sudah kami
lakukan bahwa kemungkinan Nana terkena kanker. Namun ini baru prediksi kami, kami sudah mengambil sample darah dan sudah melakuka USG pada Nana, tinggal menunggu hasilnya. Bapak dan ibu berdoa saja, semoga prediksi kami salah”. Kata dokter
“Innalillahi............. Ya Allah..............”. Mama dan papa tidak sanggup lagi mendengar penjelasan dokter. Mereka menangis bersama.
“Lakukan yang terbaik untuk anak kami dokter”. Kata papa
“Pasti pak. Bantu kami dengan do’a karena sebaik-baiknya senjata adalah do’a”. Kata dokter menenangkan.
Perawat memindahkan Nana ke ruang ICU..............
Papa dan mama terus berdo’a untuk kesembuhan Nana.
“Pa, apa sebaiknya kita kasih tau Imam soal Nana?”.
“Gak usah ma. Imam pasti sibuk mempersiapkan pernikahan nya”. Jawab papa
“Kita tunggu Nana sadar aja ya.........”. Sambung papa
Keesokan hari nya papa dan mama kembali menemui dokter dan menanyakan hasil lab dan USG yang di katakan dokter kemarin dan hasil nya menyatakan bahwa Nana positif mengidap kanker usus stadium 4 dan dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi secepatnya..
Gejala kanker usus yang terjadi pada Nana sudah lama Nana rasakan, akan tetapi Nana hanya menganggap itu hal biasa dan tidak pernah memeriksakan ke dokter. Nana sering sekali merasakan sakit pada perutnya bahkan sering bermasalah pada pencernaan nya, namun dia tidak pernah menyadari bahwa itu awal dari gejala kanker usus yang ada pada tubuhnya saat ini.
“Bapak dan ibu bersabar dan tetap beri semangat pada Nana, insyaAllah dia akan baik-baik saja.”. Dokter meninggalkan bapak dan mama.
“Dokter, Nana sudah sadar”. Suara perawat menghentikan langkah dokter
Mama dan papa saling menatap seraya mengucapkan syukur atas kembalinya kesadaran Nana. Mereka segera berlari menuju ruang ICU, memastikan keadaan Nana.
“Ma..........pa........... Nana kenapa?”. Suara Nana lirih dan belum bisa membuka mata dengan baik.
“Kamu baik-baik aja sayang............, kecapean aja”. Jawab mama diikuti oleh tetesan air mata nya
“Kok mama menangis? Nana hanya kecapean aja kan?”. Tanya Nana kembali
“Iya sayang.........”. Jawab papa.
“Nana, sebaiknya kamu istirahat saja agar bisa segera pulih dan kembali mempersiapkan pernikahan mu”. Kata dokter
“Mari pak bu, kita keluar. Biarkan Nana istirahat”. Dokter mengajak papa dan mama untuk meninggalkan Nana
Tangis mama pecah di depan ruang ICU, papa memeluk mama erat dan berusaha menenangkan mama.
“Sabar ma..............”. Kata papa
“Mama gak tega berbohong pada Nana, pa. Dia begitu bahagia menyambut hari pernikahan nya. Mama juga gak tega harus memberitahu ini pada Imam”.
“Kita cari waktu yang pas untuk memberitahu ini semua”. Kata papa
Seminggu sudah Nana di rawat di ruang ICU dan keadaan Nana semakin membaik, namun masih harus di rawat di ruang perawatan sampai Nana benar-benar pulih. Waktu pernikahan Nana hanya tinggal dua minggu lagi dan persiapan Nana pun tertunda karena kesehatan nya.
“Ma.......”.
“Iya sayang”.
“Waktu pernikahan Nana hanya dua minggu lagi, tapi Nana masih di rumah sakit. Apa sebaiknya kita minta pulang saja agar rawat jalan, jadi Nana bisa sambil mempersiapkan pernikahan Nana”.
“Sayang.............sebaiknya kamu fokus dengan kesehatan kamu aja ya...........”.
“Tapi ma..........?Nana baik-baik aja ko”.
“Begini sayang............, sebaiknya kamu tahu yang sebenarnya. Hasil tes kesehatan kamu menyatakan bahwa kamu terkena kanker usus stadium 4. Jadi dokter menyarankan agar kamu segera melakukan tindakan operasi,, sehingga penyakitmu bisa teratasi”. Papa berusaha untuk menjelaskan pada Nana dan mama kembali menangis
“Oh ya? Tapi Nana merasa kalau Nana hanya kecapean aja pa.........ma......... Nana sehat”. Jawab Nana santai
“Sayang nurut sama dokter ya......”. Kata papa
“Papa dan mama pasti bohong”. Nana mulai tersulut emosi dan tidak percaya dengan apa yang sudah di ucapkan oleh papa.
Beberapa menit kemudian, papa memberikan hasil tes dari dokter untuk meyakinkan Nana.
“Ya Allah.............”. Nana menangis membaca hasil rekam medis tentang kanker yang mengidap di tubuh nya.
“Sabar sayang.........., ini ujian pernikahan”. Kata mama
“Apakah mas Imam sudah tahu?”. Tanya Nana
Mama menggelengkan kepala..............
“Mama belum kasih kabar pada Imam”.
“Sebaiknya dia gak perlu tahu tetang ini. Kasian jika mas Imam tahu”.
“Kita bicarakan nanti ya sayang.......sekarang kamu bed rest aja. Ikuti saran dokter agar sehat kembali”.
“Iya ma. Terimakasih ma.......pa..........”.