
Nana sudah mulai membiasakan dirinya menjadi bomblo, dia mulai fokus dan semangat lagi untuk melanjutkan kuliah dan mengejar cita-citanya yang sempat tertunda karena cinta. Semua kenangan tentang Juna pun sudah dia hapus, mulai dari surat cinta, foto, bahkan nomer handphone nya. Tak ada lagi Juna dalam hidup Nana, walaupun sebenarnya jika tuhan mempertemukan dia dengan Juna kembali, rsasa itu masih terasa pada detak jantungnya.
Nana lebih sibuk mempersiapkan dirinya untuk masuk ke kampus yang baru, mengejar S1 nya dan dia lebih banyak menggunakan waktunya untuk di rumah dan baca buku. Tiba-tiba handphone nya berbunyi.
Neneg melirik kearah handphone yang tergeletak di sampingnya, dia melihat Riyan mengirim pesan singkat.
“Neng, ketemuan yuk!”. Kata Riyan dalam SMS
“Males”. Nana membalas dengan singkat dan melanjutkan membaca.
“Yakin? Gak kangen sama aku?”.
“Males keluar, Yan.............”.
“Kalo sama Lia, gak kangen juga?”.
Nana menutup buku yang sedang ia baca, dan beralih kepada handphone nya. Nana segera menghubungi Riyan,
memastikan bahwa Riyan tidak berbohong padanya.
"Halo, Yan. Lia pulang?”. Tanya Nana dengan suara bahagia dan lantang
“Ni, Lia lagi sama aku. Ayo...kita reunian!”. Bujuk Riyan.
“Ok, bye”. Jawab Nana singkat dan segera mematikan handphone nya.
Dengan perasaan bahagia, Nana segera bergegas menemui Riyan di tempat biasa, yaitu nongkrong diatas mall. Nana memang gadis yang manis dan periang, namun dia termasuk gadis yang ceroboh. Pertuan dia dengan Nana dulu berawal dari kecerobohannya waktu itu.
Seperti biasa, Nana pergi menggunakan ojek yang mangkal di gang rumahnya. Kali ini Nana beruntung karena begitu banyak ojek yang mangkal sore itu, sehingga dia tidak harus menunggu lama seperti waktu-waktu sebelumnya.
“Hai, Nana............ mau kuliah?”. Tanya salah satu abang ojek
“Sudah lulu dong..........”. Jawab Nana
“Wih......mantap!!! Sekarang mau kemana sore-sore begini?”.
“Mau cari jodoh!”. Nana tertawa sambil naik ke atas motor abang ojek itu.
“Jalan bang.......gaspol ya....!!! Gak pake rem!”.
“Ashiapppp!!!
Sudah begitu lama Nana tidak bertemu Lia, pertemuannya yang begitu singkat namun sangat berkesan membuat Lia sulit untuk di lupakan.
“Kring........kring........”.
Panggilan masuk pada handphone Nana, Nana segera melihat panggilan tersebut dan ternyata itu panggilan dari Lia.
“Na, lama banget........ sudah sampai mana. Kita sudah lama nonkrong di atap mall?”. Suara Lia terdengar jelas
ditelinga Nana
“Ya ampun....my princess Lia. Tunggu, sebentar lagi sampai. Ini ojeknya sudah bersayap, jadi kita siap terbang”. Goda Nana sambil tertawa.
“Ok, see you”.
Nana meminta abag ojek menaikan kecepatannya berharap segera sampai tujuan, dan akhirnya mereka pun sampai.
“Makasih ya bang, maaf jika ngebut-ngebut”.
“Hati-hati neng....”. ojek pun pergi meninggalkan Nana yang sudah masuk kedalam mall.
Nana berlari menaiki tangga hingga ke atap mall, Nana melihat Riyan dan Lia sedang duduk santai diatap mall. Nana segera mendekat, dan memeluk Lia dari belakang.
“Oh.....my princess, I miss you”. Pelukan Nana membuat Lia tersedak
“Ya ampun.....ni anak, Yan urus nih”.
Lagi-lagi Nana selalu memeluk Lia, rasa kangen Nana teramat besar buat Lia, sehingga membuatnya ingin terus memeluk Lia.
“Enak ya....jadi Nana, bisa peluk Lia”. Goda Riyan sambil tertawa nakal.
Mendengar kata-kata Riyan, Nana duduk diantara Riyan dan Lia.
“Ini kamu mau ngapain duduk ditengah-tengah, kenapa gak disamping sebelah kanan Lia?”. Tanya Riyan sinis.
“Agar Lia aman!”. Jawab Nana sambil menunjukan wajah judesnya pada Riyan.
“Ih...............ada apa lagi ini, pelak peluk, sandar sender”. Kata Lia dengan nada sinis menggoda Nana.
“Paling inget sama mantan”. Coleh Riyan
Nana segera menutup wajah Riyan dengan tasnya, “Diam, buddy!”. Kata Nana
“Oh.....ada yang patah hati?” Kenapa putus?”. Goda Lia dengan tawa nya.
“Stop! Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu)!”. Nana tersipu malu.
Lia memeluk Nana dengan penuh kasih sayang.....................
“Sabar ya Na...., Riyan sudah cerita semuanya. Maka dari itu, special for you, aku datang dari Bandung untuk kalian”. Lia menghibur Nana
“Dulu aku punya pacar banyak, sering gonta ganti tiap tiga bulan, kayak service motor. Tapi semua palsu. Laki-laki tidak ada yang dapat dipercaya. Percayalah Na....bahwa jomblo itu lebih baik”. Lanjut Lia.
“Aku jomblo tapi happy dan Riyan juga....., ia kan Yan?”. Lia melirik pada Riyan.
“Aku punya Rara dong...........”. Jawab Riyan bangga dengan mengangkat kerahnya.
“Ia, ada Rara tapi aku yakin kamu lebih enjoy sama kita”. Lia tertawa melihat ekpresi wajah Riyan yang mulai memerah.
“Guys............kita punya masa depan, so urusan masa depan kita jauh lebih penting dari sekedar urusan cinta yang belum pasti. Percayalah, suatu saat nanti kita akan menemukan pasangan kita masing-masing”.
Kata-kata Lia memberi motivasi baru bagi Nana, Lia dan Riyan selalu memberi semangat dan gambaran tentang masa depan, sehingga membuat Nana semakin yakin akan tujuannya. Nana menggeser kepalanya yang tersandar dibahu Lia, mengarahkan kepala lebih tegap dan matanya menatap kedepan.
“Yan, temani aku ke kampus yang baru untuk daftar besok”. Kata Nana tanpa menoleh pada Riyan.
“Males!!!”.
Nana menoleh dan menatap mata Riyan, “Please......”. Senyum lebar terlihat pada bibir Nana.
“Aku rasa kalian cocok, kenapa gak jadian aja, ia kan?”. Goda Lia
Nana dan Riyan menatap Lia yang terlihat santai tanpa dosa, “Amit-amit tujuh turunan! Suara mereka terdengar kompak.
“Tuh kan.............kompak. Sudahlah, aku tahu kalian itu malu-malu kucing”. Lia tertawa dan memeluk Nana dan Riyan, “I love you guys!!!”.
“Turun yuk..........!”. Ajak Lia
“Aku lapar, kita cari makan. Aku yang traktir”.
“Setuju!!!!”. Nana dan Riyan kompak untuk yang kedua kalinya.
Mereka bertiga berjalan ke arah lift yang berada di sudut atap mall untuk menuju lantai satu.
“Rencana kamu mau lanjut S1, program study apa Na?”. Tanya Lia dalam lift
“Lanjut sastra”. Jawab Nana
“Kamu, Yan?”. Tanya Lia pada Riyan
“Hhhmmm.....sepertinya aku pilih nikah kemudian lanjut lagi”. Jawab Riyan
“Kenapa?”. Tanya Lia kembali
“Rara minta aku untuk segera melamarnya?”.
“Yakin? Maksud ku, kamu yakin cinta sama Rara?”.
Pertanyaan Lia membuat Riyan bimbang dan bingung harus jawab apa, sedangkan dia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia rasakan dan jalani bersama Rara. Disatu sisi, dia sudah berkomitmen untuk setia pada Rara, namun disisi lain, dia jatuh cinta pada Nana.
“Bahas nanti ya.....”. Riyan terdiam seakan memikirkan pertanyaan Lia.
Lift mall membawa mereka sampai ke lantai satu, mereka mecari tempat makan untuk mengisi perut mereka yang sejak satu jam yang lalu mulai konser. Mereka memesan makanan favorit mereka masing-masing dan menyantap nya dengan lahap.
"Bagaimana dengan pertanyaan ku tentang perasaan mu pada Rara?".
Lia terus mendesak Riyan dengan pertanyaannya.Riyan yang duduk berhadapan dengan Lia, hanya bisa menelan air ludahnya sendiri. Selera makannya seakan hilang di lindas dengan pertanyaan Lia. Nana yang juga duduk berdampingan dengan Lia, hanya dapat menikmati hidangan yang ada didepanya itu.
Riyan meletakan sumpit diatas makanannya, lalu meneguk air mineral yang ada diatas meja.
"Saat ini, aku seperti sedang berkomitmen pada sebuah hati dan janji. Aku pernah berjanji untuk selalu menjaga dan setia pada Rara dan akan menikahinya". Jawab Riyan
Lia menganggukan kepalanya dan mengangkat alisnya, "Ok.....semoga komitmen itu membawa kebahagiaan". Jawab Lia.