
Usia Affan sudah sangat cukup untuk menikah, perasaannya kepada Nana tidak bisa dia tutupi lagi, namun dia berpikir panjang untuk bisa hidup bersama seorang perempuan tanpa rahim seperti Nana.
Nana memberikan waktu pada Affan untuk berpikir sampai dia benar-benar siap untuk melamarnya, asalkan tidak ada kata pacaran diantara mereka, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kedekatan mereka begitu mesra walaupun beridentitas sebagai teman.
Sudah begitu lama Affan tidak bertemu denga Nana, Nana meminta agar mereka tidak saling bertemu atau bersama sampai Affan dapat memberi keputusan. Selama itu juga bayang Nana selalu masuk dalam pikiran Affan, namun rasa ragu dihati Affan jauh lebih besar untuk bisa menerima Nana.
Sampai akhirnya Affan berpikir untuk mempertemukan Nana dengan keluarganya berharap keluarga nya dapat menerima Nana, begitu juga dengan hatinya. Affan mengirim pesan singkat pada Nana untuk mengajaknya ke Bogor bertemu dengan keluarganya.
“Hai, Neng....apa kabar?” Tanya Affan dalam pesan singkatnya
Nana membuka SMS yang masuk dan membacanya. Namun, Nana belum berani membalas pesan itu, dia
hanya memandangi berharap ada pesan lanjutan yang masuk dari Affan dan memberi kabar gembira.
“Jika, besok kamu tidak sibuk. Aa ingin memperkenalkan kamu dengan keluarga aa di Bogor”. Affan
melanjutkan pesannya.
Hati Nana berdebar kencang, bahagiapun ia rasakan tetapi pengalamannya bersama Juna membuat dia takut untuk gagal kedua kalinya. Nana mampu mengendalikan dirinya agar tidak terlalu bahagia, karena dia tahu Affan belum berani berkata jujur sehingga hati Nana menjadi ragu.
Pesan Affan pun tidak mendapat jawaban dari Nana, sehingga akhirnya Affan menghubunginya via telepon. Handphone Nana berdering.................
“Kring..............kring................kring”.
Nana mengangkat telepon nya,
“Halo bang?”. Sapa Nana
“Alhamdulillah................akhirnya di angkat juga”. Suara Affan terdengar bahagia
“Sudah lama aa gak lihat kamu bahkan mendengar suara kamu aja tidak. Jadi kangen”.
Affan mulai mengeluarkan jurus gombalnya, tetapi sejak kejadian di kontrakan sore itu, dia tidak dapat lagi menggombal. Apa yang dia katakan saat ini sepertinya dari hati.
Nana tidak ingin terjebak oleh hati yang kesekian kali, dia berusaha untuk santai mendengar kata-kata manis Affan.
“Maaf ada apa bang?”. Tanya Nana santai
“Aa ingin memperkenalkan kamu dengan keluarga. Jika ada waktu, besok pagi aa jemput”.
“Ia, aku tunggu”.
“Tut....tut....tut.....”. Nana mematikan hanphone nya.
“Halo....neng.....neng..... ko dimatikan hp nya?”. Tanya Affan namun pertanyaan Affan tidak mendapat jawaban.
Esok hari Affan menjemput Nana di rumahnya jam enam pagi, dia meminta izin kepada keluarga Nana untuk membawa Nana bertemu dengan keluarga Affan di Bogor.
“Pagi ibu?” Sapa Affan kepada ibu Nana
“Pagi, ini nak siapa ya? Ibu baru lihat”. Jawab ibu Nana
“Saya Affan, teman Nana di kampus”.
“Oh......ya.......ya....., mari masuk!”
“Ibu panggilkan Nana sebentar ya............”.
Affan mengangguk dan menunggu Nana di ruang tamu.
“Na, ada Affan di ruang tamu”. Suara ibu terdengar di balik pintu
“Ia bu, sebentar”. Jawab Nana dari dalam kamar.
Nana membuka pintu dan ibu masih menunggu Nana didepan pintu kamar.
“MasyaAllah............anak ibu cantik sekali!!”. Ibu memuji Nana sambil mengelus wajah Nana yang bersih.
Nana menyambut tangan ibunya, “Terimakasih ibu”. Nana tersenyum
“Affan itu pacar baru kamu ya?”. Bisik ibu
“Bukan ibu, dia teman Nana di kampus”.
“Keliatannya dia anak yang baik, semoga berjodoh”. Ibu memeluk Nana
“Aamiin.....”. Nana tersenyum
Affan sedang asik membaca koran yang ada di ruang tamu, tiba-tiba Nana datang.
“Assalamu’alaikum................”. Suara lembut Nana memecahkan konsentrasi Affan yang sedang membaca.
Affan terpesona dengan penampilan Nana pagi itu, Nana terlihat cantik bahkan sangat cantik dengan gaun berwarna army full manik-manik di bagian bawah gaun. Nana tersipu malu melihat tatapan Affan, wajahnya memerah namun tidak mengurangi kecantikannya. Affan bangkit dari duduknya dengan tatapan kagum melihat
kecantikan Nana.
“Ngomong-ngomong, kalian mau kemana?”. Kata ibu.
Affan terkejut dengan pertanyaan ibu,
“Hmmm, ia bu. Kedatangan saya kesini untuk meminta izin pada ibu. Saya akan membawa Nana bertemu dengan
keluarga di Bogor”. Kata Affan
“Ia, pasti bu. Terimakasih atas izin nya”.
“Kami pamit ya bu”. Affan mencium tangan ibu Nana
“Do’akan kami ya bu”. Kata Nana, memeluk ibu nya
“Ia sayang.............. hati-hati ya......”. Ibu membalas pelukan Nana sambil mengelus punggung anaknya.
Mereka pergi ke Bogor mengendarai sepeda motor milik Affan.
“Bang...............”. Kata Nana
“Ia neng”.
“Kenapa abang ingin memperkenalkan aku dengan keluarga abang?”
“Karena aa berharap, kalian bisa saling kenal dan..................”. Affan terhenti
“Dan....kenapa?
“Dan aa berharap, kita bisa melanjutkan pertemanan sampai kepelaminan”.
“Aamiin”. Jawab Nana
Setelah melakukan perjalanan selama tiga jam, akhirnya Nana dan Affan tiba di Bogor, di kampung halaman Affan.
“Ya Allah.............mudahkan lah”. Do’a Nana dalam hati
Affan anak yang ramah kepada siapa saja, terbukti dengan sikapnya yang selalu menyapa dan senyum kepada setiap orang yang ia temui.
“Uih, Fan......(Pulang, Fan)?” Tanya salah satu tetangganya.
“Muhun ibu (Ia, ibu)”. Jawab Affan dengan senyum sambil menundukan kepalanya
“Eta saha (Itu siapa)? Meuni geulis pisan (Cantik sekali)? Kabogoh nya (Pacar ya)?”.
“Muhun ibu (Ia, bu)............. nyuhunkeun pido’a na (minta do’a nya aja)”.
Affan dan Nana melanjutkan perjalanan menuju rumahnya di ujung gang.
“Mamah, mang Affan uih (Mamah, om Affan pulang)?”. Teriak keponakan Affan yang barusia lima tahun.
Keluarga Affan yang sedang berkumpul di ruang tamu, segera keluar dan menyambut Affan di depan pintu.
“Alhamdulillah............, sudah sampai neng”.
Affan mematikan mesin motornya dan membantu Nana turun dari motor.
“Itu siapa gadis cantik Fan?”. Tanya mama Affan sambil melirik kearah Nana yang berada di samping Affan.
Affan dan Nana berjalan menghampiri keluarga Affan yang sejak tadi berdiri menyambut kedatangan nya.
“Assalamu’alaikum...........”. Affan menyapa mama nya dengan salam dan pelukan.
“Wa’alaikum salam................”. Jawab mama membalas salam Affan dan mencium anak bungsunya.
Nana mengikuti apa yang dilakukan Affan. Ibu Affan memeluk dan mencium Nana dengan hangat dan bahagia.
“Ini pacar mu, Fan? Alhamdulillah......... akhirnya anak mama punya pacar”. Suara mama Affan terdengar sangat bahagia, ini menandakan bahwa Affan sudah lama sendiri.
“Ma, jangan bilang begitu atuh....! nanti Nana tahu kalau aku belum laku”. Kata Affan. Nana tersenyum melihat Affan dan mama nya.
“Oh..... namanya Nana? Ayo masuk...............!”. Mama Affan mempersilahkan mereka masuk sambil terus menggandeng Nana.
“Na, ini mama, papa, kakak dan keponakan ku yang bawel, Novel”. Affan memperkenalkan keluarganya dan mencubit gemes pipi keponakannya itu.
“Dan ini Ardiana”.
Sudah seharian Nana berada di Bogor, keluarga Affan sangat memanjakan Nana bahkan bersikap sangat ramah dengan Nana. Mama dan kakak Affan memperkenalkan Nana kepada tetangga nya sebagai calon istri Affan. Nana hanya bisa diam walaupun ada yang mengganjal dalam hati nya.
“Neng, semoga Affan mendapatkan jodoh seperti kamu, cantik, baik, murah senyum. Pokoknya mama suka
sama kamu”. Kata mama Affan.
“Ia, ma.......... Aamiin”. Jawab Nana.
“Kalau neng, sudah punya pacar?”. Tanya mama
“Belum”.
“Sama aa Affan aja atuh............kan anak bungsu mama juga ganteng”.
Nana tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
“Ma, jangan ditanya-tanya terus. Nana pasti capek, biar istirahat dulu aja ya.....ngobrolnya dilanjut besok”. Kata Affan yang tiba-tiba muncul.
“Nana istirahat dulu ya ma............”.
“Ia sayang.........”.
Nana masuk ke kamar yang telah disediakan oleh kakak Affan untuk istirahat.