MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 98. Kehadiran Juna



Nana melamun memikirkan sikap dan perkataan mama nya soal Juna. Hati yang mulai berlabuh pada kekasih halalnya, kini kembali teringat dengan masa lalu nya. Juna adalah masa lalu Nana yang sudah lama ia kubur dalam kekecewaan, namun begitu banyak kenangan indah yang pernah ia lalui bersama dan Imam adalah masa depan Nana. Pria sederhana yang baru beberapa bulan ia kenal, namun tidak dipungkiri bahwa Imam adalah laki-laki sholeh dan baik serta sangat menyayangi Nana.


“Asatgahfirullah.................ampuni hamba ya Rabb”. Tak terasa setetes air bening jatuh dari pelupuk mata nya


“Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam”. Jawab Nana dan segera menghapus air mata nya


“Mas, sudah pulang?”. Nana mencium tangan suami nya


“Iya sayang. Alhamdulillah mas sudah dapat kerja”. Kata Imam dengan wajah bahagia.


“Wah.....alhamdulillah. Kerja apa mas?”. Tanya Nana penasaran


“Mas kerja di toko bangunan, bantu-bantu supir, sehari dibayar tiga puluh ribu”.


Nana menarik nafas dan berusaha menjaga hati suami nya yang terlihat bahagia. Dalam hati Nana, ingin sekali ia


kembali bekerja seperti dulu, punya penghasilan sendiri dan gaji yang Nana dapatkan juga cukup banyak, namun Nana belum berani meminta izin suami nya untuk kembali bekerja.


“Tumben, gak ada minum?”. Tanya Imam


Nana selalu menyambut kedatangan suami nya dengan segelas air minum yang telah ia sediakan diatas meja, namun kali ini Imam tidak melihat segelas air itu.


“Ya Allah! Adik lupa mas. Sebentar Nana ambilkan”. Nana mengambilkan segelas air untuk suami nya


“Ini minum nya mas”. Nana memberikan segelas air putih kepada suami nya


“Terimakasih sayang”. Imam mengambil gelas dari tangan Nana lalu meneguk airnya.


Nana terunduk dan terlihat sedih


“Kamu kenapa sayang?”. Tanya Imam sambil mengangkat dagu istri nya


“Mas, hari ini ade tidak masak. Beras kita tidak cukup jika di masak dan ade juga tidak ada uang untuk belanja


sayur dan lauk. Jadi, berasnya ade bikin bubur aja”. Kata Nana


“Sabar ya......semoga besok-besok mas sudah punya uang”.


“Mas mau mandi, habis mandi kita makan ya.............sudah gak sabar ingin makan bubur buatan istri mas yang


paling cantik”.


Imam melangkah ke kamar mandi.


“Kring.................kring...................”. Handphone Nana berdering


Nana mengambil handphone nya lalu mengangkat panggilan masuk dari nomer yang tidak ia kenal.


“Halo? Assalamu’alaikum, ini siapa ya?”. Tanya Nana


“Wa’alaikum salam. Apakabar Na?”. Jawab suara laki-laki itu


Nana mengerutkan dahi nya dan merasa aneh dengan suara laki-laki itu.


“Maaf, apakah anda mengenal saya? Atau kita pernah bertemu sebelumnya?”. Tanya Nana


“Kata mama, kamu sudah menikah? Kenapa tidak kasih kabar?”. Tanya laki-laki itu


“Anda siapa ya?”. Nana berbalik bertanya


“Kamu masih ingat dengan seorang laki-laki yang pernah mencintai kamu dulu? Bahkan sampai saat ini, rasa itu masih ada”. Kata laki-laki itu


“Maaf, saya gak paham. Lagi pula kalaupun kita pernah bertemu atau pernah ada dimasa lalu. Itu hanya masa lalu.


Saat ini, saya sedang bahagia dengan suami saya jadi jangan pernah ganggu rumah tangga kami. Terimakasih”. Nana menutup handphone nya


Nana terduduk lemas diatas tempat tidur, bukan perasaan cinta itu muncul kembali namun karena dia


takut kemunculan Arjuna mengganggu hidup dan rumah tangga nya.


“Ya Allah....kenapa dia kembali? Untuk apa? Bukankah dia sudah bahagia dengan keluarga nya? Istri yang sangat sempurna dan anak yang cantik”. Hati Nana kembali terluka untuk yang kesekian kali nya.


“Kenapa sayang?”. Tanya Imam sambil mengelus kepala istri nya.


“Gak apa-apa mas. Aku siapkan bubur nya dulu ya”. Kata Nana sambil berlalu menuju dapur.


“Ini mas bubur nya?”. Nana membawa semangkuk bubur yang hanya di taburi gula putih diatas nya.


“Wah...... ini pasti enak”. Sambil menghirup aroma bubur yang ada di depan nya.


Nana menundukkan kepalanya lalu menangis...............


“Mas, baru kali ini adik makan bubur yang hanya di campur sedikit garam dan gula diatas nya. Sebelum menikah, aku gak pernah makan ini”.


“Sayang........maafin mas ya. Mas janji akan bekerja keras agar kita bisa makan enak. Sekarang makan dulu buburnya, agar tetap vit”. Rayu Imam


“Apa boleh adik kerja seperti dulu?”. Pinta Nana


Imam menaruh mangkuk berisi bubur itu diatas lantai berkeramik putih dan menghela nafas, seakan menahan air mata nya yang hampir menetes.


“Mas sudah berjanji kepada kedua orang tua mu untuk selalu menjaga, merawat, dan menafkahi mu


dengan baik. Ini sudah menjadi tanggung jawab mas sebagai suami”. Kata Imam


“Tapi adik sudah sehat, adik juga gak betah kalau harus seharian di rumah yang hanya duduk menunggu kedatangan suami pulang. Sementara saat ini, kita butuh biaya untuk bayar kontrakan dan makan. Adik gak suka makan bubur”. Suara Nana mulai meninggi dan terbawa emosi


“Sabar sayang............, ada saatnya kita bisa makan enak dan punya tempat tinggal yang layak. Makan dulu ya............mas suapin”. Kata Imam dengan lembut.


Sore itu, tidak ada cerita yang keluar dari mulut istri nya, suasana kontrakan begitu hening tanpa suara. Nana terdiam seakan menahan amarahnya, begitu jga dengan Imam yang tidak berani untuk bicara.


“Kamu masih marah sama mas?”. Sambil menggenggam tangan istri nya


Nana masih terdiam dan tidak mau bicara, wajahnya yang dahulu ceria kini terlihat mendung.


“Jika bekerja membuat kamu merasa lebih bahagia. Mas ridho. Asalkan kamu tetap jaga kesehatan”.


“Benarkah?”. Suara Nana terdengar bahagia dan terlihat senyum dibibir nya


“Iya sayang”. Imam menganggukkan kepala dan mencium kening istri nya


“Maafin mas ya”.


“Terimakasih mas, maafin Nana juga ya....”.


Beberapa hari kemudian


Nana mulai sibuk meghubungi semua nomer kontak teman-teman kuliah nya dulu yang sekarang sudah bekerja dan terlihat sukses, namun belum ada info lowongan kerja untuk Nana yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan nya. Ada satu nomer kontak yang belum ia hubungi yaitu Prof. Alex, namun Nana tahu bahwa Prof. Alex sudah lama pensiun, sehingga dia menarik kembali niatnya.


Imam sudah mulai bekerja di toko bangunan, membantu supir untuk bongkar pasang barang. Setiap hari ia bekerja


dengan rajin demi membawa uang tiga puluh ribu untuk istrinya dan Nana masih menunggu info pekerjaan dari teman-teman nya.


“Pak Imam?”. Tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari mobil berwarna putih, yang parkir di depan toko


bangunan tempat Imam bekerja.


“Pak Juna?”. Tanya Imam


“Apakabar pak Imam? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan istri bapak, sudah sehat kan?”. Tanya Juna


“Alhamdulillah, kabar saya dan istri baik pak. Ngomong-ngomong, kok bisa kita bertemu disini?”.


“Kebetulan saya lewat aja pak Imam, karena setiap hari saya ke kampus  lewat


jalan ini, menghindari kemacetan dan saya melihat bapak. Ya..................untuk


memastikan maka saya berhenti saja. Bapak bekerja disini?”. Tanya Juna


“Iya pak”. Jawab Imam sambil menganggukkan kepala nya


“Sudah lama?”. Tanya Juna kembali


“Baru hari ini pak Juna”.


“Oh........ya ya............. sukses selalu ya pak. Lain kali kita sambung lagi”.


“Rumah kami, hhmm....maksud saya, kontrakan kami deket sini loh pak, kapan-kapan jika pak Juna tidak keberatan, boleh mampir ke kontrakan kami sekalian kenalan dengan istri saya”. Kata Imam


“Wah, dengan senang hati pak. InsyaAllah, saya mampir untuk memenuhi undangan pak Imam. Kalau begitu, saya permisi”. Juna masuk ke dalam mobil putih itu, lalu melaju.


“Ternyata pak Juna dosen. Nana harus kenal, siapa tahu dia bisa ngajar bareng bersama pak Juna”. Gumam Imam dalam hati