
Proyek yang dia kerjakan bersamann Juna berjalan dengan lancar, dengan berakhirnya proyek itu maka berakhir juga tugas Nana di kampus. Nana tidak lagi menggantikan Vita dan tidak lagi mengadakan kontrak dengan Juna. Keadaan itu membuat Imam, suami Nana merasa lega walaupun keadaan ekonomi mereka kembali menghantui rumah tangga nya karena Nana kini tidak lagi bekerja.
“Mas, aku sudah tidak lagi bekerja jadi semua kebutuhan rumah tangga kita, aku serahkan kepada mu ya”.
“Iya sayang, itu sudah menjadi kewajiban mas sebagai kepala keluarga. Mas janji akan bekerja lebih keras”.
Nana mengangguk, walaupun Nana tidak yakin dengan yang di ucapkan suami nya itu, karena Imam kerap kali bicara dan berjanji namun semua hanya janji. Mungkin juga itu sudah menjadi rezeki Nana dan Imam, Nana hanya bisa menerima semua pemberian Imam.
Beberapa bulan setelah Nana kembali menjadi ibu rumah tangga, Nana sering mendapat chat dari Juna dan menawarkan kerjasama kembali namun Nana selalu menolak karena Nana tahu bahwa kedekatan nya dengan Juna akan menyakitkan suaminya.
“Mas, ada tawaran kerjasama untuk penelitian yang akan diterbitkan di Jurnal Internasional”.
“Bagus dong..........ambil aja”. Jawab Imam dengan wajah bahagia
Nana duduk di samping suaminya
“Tapi.............”.
“Tapi kenapa sayang?”. Belayan lembut mendarat di kepala Nana
“Tawaran ini dari Juna”.
Imam terkejut dan sontak melepas belaian nya
“Tapi aku totak kok”. Nana segera meluruskan
“Jika kamu senang. Ambil saja tawaran itu. jangan hiraukan mas”.
“Mas.........aku gak akan menerima apapun bentuk kerjasama itu jika dari Juna. Aku minta maaf”.
“Aku tahu, kita sedang butuh ekonomi dan aku juga tahu bahwa aku tidak sehebat Arjuna, berpenampilan menarik,
berdasi, punya pekerjaan mapan, punya jabatan, dan...............”.
“Cukup mas! Demi Allah.....dia masa lalu ku. Aku sudah melupakan semua nya”. Tangis Nana tumpah
Semenjak Imam tahu masa lalu Nana dan Juna bahkan sampai saat ini Juna masih mencntai Nana, Imam sering sensitif dan cemburu.
“Aku mencintai mu. Maafkan Nana mas”. Peluk Nana
“Astaghfirullah............. maafkan mas juga. Mas terlalu sensitif dan cemburu”. Cium Imam di kening Nana.
Malampun tiba, malam ini Nana begitu gelisah dan membuatnya tidak lelap bahkan Nana sempat mengigau dan memanggil nama Juna.
“Juna..............!!!”. Teriak Nana dalam mimpi yang terbawa ke alam sadar nya, Nana pun terbangun begitu juga
dengan Imam
“Ada apa sayang”.
“Mas, Juna mas..............Juna”.
“Ada apa dengan Juna? Kamu mimpi”.
“Aku lihat Juna kecelakaan mas, dia tertabrak di depan ku”.
“Minum dulu ya...........baca istighfar. Kamu mimpi sayang. Coba lihat disekitar mu, kamu di rumah. Yang kamu
lihat Cuma mimpi. Juna baik-baik aja”.
“Astaghfirullah..............”. Nana memeluk Imam dan menangis
“Ya Allah...............mungkinkah istri ku masih mencintai Arjuna? Sampai-sampai Juna masuk dalam mimpinya”.
“Besok mas temani ke kampus ya...... memastikan bahwa Juna baik-baik aja”.
Nana mengangguk dan berbaring kembali.
Mimpi Nana semalam menjadi firasat buruk bagi Nana, pagi itu ketika Nana dan Imam sedang sarapan, Nana melihat info pagi pada salah satu stasiun swasta yang menginfokan bahwa telah terjadi kecelakaan tadi malam yang membuat kaki kanan korban cedera dan korban tersebut bernama Arjuna.
“Innalillahi............. mas”.
“Iya sayang..........sabar”.
“Ayo mas kita ke rumah sakit, kita jenguk Juna”.
“Iya, ayo”.
Dengan motor jeleknya, Nana dan Imam menuju rumah sakit tempat Juna dirawat.
“Ya Allah.............ada apa ini? Kenapa mimpi istri ku bisa sama persis dengan yang dialami Juna? Apa ini yang
disebut ikatan batin? Begitu besar ikatan cinta mereka dimasa lalu”. Gumam Imam
Nana terus berdoa sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Nana mencari-cari
ruangan Juna namun ada Vita dan prof. Alex yang sedang duduk di teras rumah sakit.
“Vita? Professor?”.
“Nana”.
Vita memeluk Nana...........
“Pak Juna Na”.
“Aku tahu dari beita pagi ini. Sekarang bagaimana keadaan nya? Kenapa kalian disini? Juna sama siapa?”. Nana
terlihat panik
“Pak Juna belum bisa ditemui karena masih dalam ruang ICU, hanya mama pak Juna yang bisa menemani. Semalam dokter segera melakukan operasi dibagian kepalanya. Akibat kecelakanaan semalam, pak Juna mengalami pendarahan hebat dibagian kepala”.
“Ya Allah................ semoga Juna baik-baik saja”.
Tiba-tiba mama Juna datang...............
“Ibu bagaimana keadaan pak Juna?”. Tanya Vita
“Dia belum sadarkan diri”.
“Ibu..............”. Nana mencoba meraih tangan mama Juna, namun tatapan mamah masih dingin dan sinis pada Nana.
“Ya Allah.............ibu. Aku minta maaf jika ibu masih begitu membeci aku tapi............”.
“Sudahlah.............sebaiknya kamu pulang saja. Saya tidak mau ketika Arjuna sadar, dia melihat kamu. Sampai
kapanpun saya tidak akan pernah suka melihat kalian dekat”.
“Maaf bu, Nana sudah menikah dan saya suami nya. Jadi saya mohon jangan berpikiran macam-macam
terhadap istri saya”.
“Oh.........jadi kamu suami nya? Bagus! Bilang sama istri kamu, dia tidak pantas mengurusi laki-laki lain”.
“Ibu..................sudah ya..................sebaiknya kita berdoa”. Kata Vita
“Na, kamu pulang saja ya...............”. Prof. Alex ikut bicara
“Baik Prof. Permisi”.
Nana dan Imam meninggalkan Prof. Alex, Vita dan mamah Juna. Beberapa langkah Imam dan Nana pergi, tiba-tiba dokter memanggil.
“Ada yang bernama Nana disini?”.
Sontak Nana berbalik badan
“Tidak ada dokter. Tidak ada yang bernama Nana”. Jawab mama Juna ketus
“Pak Juna sudah sadar, namun hanya nama Nana yang keluar dari bibirnya. Jika ada yang bernama Nana, saya mohon temui pak Juna. Permisi”.
Dokter kembali ke ruang ICU
Dengan langkah kaki tegap, ibu Juna melangkah menghampiri Nana.
“Jangan pernah menampakkan diri didepan anak saya. Paham kamu?!!!”.
Imam memeluk Nana lalu mengajaknya pergi, ibu Juna, Vita dan Prof. Alex melangkah ke ruang ICU untuk menemui Arjuna. Air mata Nana mengalir deras, ingin rasanya ia berlari untuk memenuhi panggilan Juna dan memastikan bahwa Juna baik-baik saja, namun tidak bisa.
“Do’a kan saja agar Juna sehat kembali”.
“Tapi mas,Juna.................”.
“Bukan kewajiban mu untuk merawatnya. Sebaiknya kita pulang”.
Nana dan Imam meninggalkan rumah sakit, air mata Nana tak henti mengalir dari pelupuk matanya yang indah. Terlihat bahwa ada duka dalam hatinya.
“Ya Allah Na.............sebegitu sayangnya kamu kepada Juna? Apakah rasa itu masih ada diantara kalian?”. Gumam Imam dalam hati
Langkah Nana terhenti dan membalikan badan nya kearah rumah sakit,
“Aku harus ke ruang ICU mas. Aku tahu Juna butuh aku, aku hanya ingin melihatnya mas”.
Nana berlari kearah ruang ICU tanpa menghiraukan ocehan mamah Juna
“Nana.......tunggu Na, Na.............”. Imam mengejar langkah Nana karena Imam tidak akan membiarkan istrinya bertemu mamah Juna sendirian.
Langkah Nana terhenti didepan pintu ruang ICU,
“Nana?”. Vita datang dari arah kamar kecil
“Vit, bantu aku untuk masuk. Aku mau bertemu Juna, Vit. Aku mohon........... kali ini saja. Setelah itu aku akan pergi”.
“Sebentar, aku pastikan bahwa mama pak Juna sudah tidak ada di dalam”.
Vita masuk ke dalam ruang ICU dan melihat suasana, beberapa menit kemudian, ia kembali menemui Nana
yang masih menunggu di depan pintu.
“Aman, masuk lah”.
Suasana ruang ICU sangat sunyi, hanya terdengar suara mesin pendeteksi jantung yang di pasang pada tubuh Juna.
“Maaf anda siapa?”. Tanya perawat penjaga
“Saya Nana sus”.
“Syukurlah anda datang, semenjak pasien sadarkan diri, hanya nama anda yang disebut. Saya rasa, kehadiran anda membuat pasien cepat membaik dan semua ingatan nya kembali normal”.
“Maksud suster?”
“Menurut pemeriksaan medis bahwa kecelakaan pak Juna sangat keras membentur bagian kepala, sehingga terjadi pendarahan dan operasi. Akibat itu memori pak Juna tidak semua nya kembali, hanya kenangan yang sangat berkesan yang bisa dia ingat saat ini. Saya rasa, bu Nana memiliki kesan yang sangat berarti dalam hidupnya, sehingga hanya nama bu Nana yang dia ingat”.
“Nana................. Nana...............”. Suara lirih Arjuna memanggil nama Nana terdengar jelas ditelinga Nana.
“Juna, aku disini. Aku yakin kamu pasti sembuh”.
“Nana................Na...................Nana.................”.
“Vita, aku gak tega melihat Juna. Aku harus berbuat apa?”.
“Kita bantu do’a ya Na, agar pak Juna segera pulih kembali”.
“Maaf bu, jam besuk sudah habis. Sebaiknya pasien dibiarkan untuk beristirahat”.
“Baik suster”. Jawab Vita
“Ayo Na, kita keluar”.
Vita membawa Nana keluar
“Na............bagaimana keadaan Juna”. Tanya Imam yang sudah berdiri didepan ruang ICU, menunggu Nana
Nana hanya bisa menangis dan memeluk suaminya
“Kita pulang ya................”. Tanya Imam lembut
Nana menganggukkan kepalanya
“Vita, kami pamit. Jaga Arjuna”.
“Iya pak. Hati-hati”.