MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 14. Sebuah Senyuman



Seperti biasa, Nana hadir sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Nana berusaha untuk menepati


aturan yang dibuat oleh Mr. Juna agar hukumannya segera berakhir.


Nana memilih kursi barisan paling depan. Malam itu, Nana terlihat jauh lebih fresh, cantik dengan baju berwarna baby pink motif bunga-bunga kecil sebagai penghias bajunya, rok dan sepatu berwarna hitam serta jilbab segi empat polos berwarna pink dan bros bunga mawar berwarna merah yang menempel di bawah bahu sebelah kiri, membuat Nana terlihat semakin manis.


Entah apa yang membuat Nana terlihat cantik malam itu, semua pakaian dan aksesoris yang dia kenakan sama seperti biasanya, namun malam itu, Nana terlihat berbeda.


Sepuluh menit sudah berlalu, jam dinding yang menempel di ruang 201 menunjukan pukul tujuh tepat. Namun, belum ada tanda-tanda kehadiran Mr. Juna. Nana menghabiskan waktunya untuk membaca kembali materi yang telah disampaikan oleh Mr. Juna minggu lalu sambil menunggu kehadiran seniornya itu, sesekali dia melirik kearah jam yang sedari tadi menemaninya di ruangan kelas, tetapi Mr. Juna belum menampakan dirinya.


“Ya ampun.....ini orang, bisa ya....dia buat aturan tetapi dia sendiri melanggarnya”. Nana bicara sendiri dengan wajah kesalnya.


Waktu terus berlalu, jarum jam sudah menunjukan pukul setengah delapan. nana masih menunggu


kedatangan Mr. Juna, dia berusaha menahan kesalnya karena dia tidak mau berurusan dengan laki-laki super cuek dan menyebalkan.


Sesekali Nana keluar dari kelas, berdiri di ujung tangga lantai dua, membuka telinganya lebar-lebar berusaha mencari suara Mr. Juna, akan tetapi suara itupun tidak terdengar. Nana melangkahkan kakinya menuju lantai satu berusaha mencari sesuatu yang dapat mengobati rasa bete dan kesalnya itu.


Setelah sampai di lobby, dia melihat Mr. Juna sedang mengisi absen kehadiran dosen di depan FO. “Ya


ampun....ko deg-degan”. Kata Nana sambil mengelus-elus dadanya dan bersandar didinding lantai satu.


Nana berusaha berlari menaiki anak tangga agar dia bisa masuk kelas lebih dulu dibandingkan dengan Mr. Juna, akan tetapi, baru saja kaki Nana melangkah di tiga anak tangga, terdengar ada suara yang memanggil namanya.


“Na....Nana”. Mr. Juna memanggil nama Nana


Kaki Nana tiba-tiba kaku, seperti tertahan dan tidak bisa digerakan. Nana berusaha menyeret kakinya agar cepat sampai dilantai dua, namun tidak bisa. “Kenapa harus kelihatan sama dia sih, gimana ini”. Gumam Nana dalam hati.


Suara langkah Mr. Juna terdengar semakin mendekati Nana, Nana masih belum berani memutar tubuhnya


dan menoleh kearah suara itu. Tangan Nana memegang erat tangga seakan berusaha untuk tetap bisa berdiri. Beberapa detik saja, Mr. Juna sudah berada tepat di depan Nana.


“Kamu kenapa?”


            “Takut dihukum karena telat”. Sapa Mr. Juna


Mendengar perkataan Mr. Juna, Nana semakin jengkel “Ih....egois banget sih. Yang telat siapa yang


di tuduh siapa”. Nana masih terus bergumam dalam hatinya.


Mr. Juna terus berjalan menuju lantai dua, kemudian di iringi oleh Nana persis dibelakang Mr. Juna.


Mr. Juna sudah duduk di kursinya dan Nana masih berdiri di dekat pintu, sambil memandang kearah Mr. Juna dengan memasang wajah yang sangat menjengkelkan.


“Ko gak duduk?”. Tanya Mr. Juna sambil memutar kursinya kearah Nana dan menyilangkan kaki kanannya


diatas kaki kirinya.


            “Saya kan tidak memberi kamu hukuman”. Mr. Juna melanjutkan perkataanya.


Nana menghela nafas dalam, “Saya datang sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai pak”. Jawab Nana


dengan nada kesal.


            “Justru bapak yang datang tiga puluh menit dari jadwal kuliah”.


            “Saya nungguin bapak selama empat puluh menit”. Nana menjelaskan kepada Mr. Juna.


“Lantas, kenapa tadi saya lihat kamu berada dibawah dan berlari kearah tangga ketika melihat saya datang?”. Tanya Mr. Juna


Nana terdiam sejenak dan berpikir mencari alasan, “Saya....saya....”. Suara Nana terdengar terbata-bata.


“Kamu mencari saya?”. Tanya Mr. Juna dengan pedenya.


Spontan, Nana kaget mendengar pertanyaan Mr. Juna, Nana tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa


tercengang dengan wajah terlihat bingung.


“Ha....?”


            “Mencari dia?”


            "Dia pikir, dia siapa?”


Nana terus menarik nafasnya dan berusaha untuk tetap relax, “Sabar....sabar..... hanya satu bulan”. sambil mengelus-elus dadanya.


Nana tidak menjawab dan tidak mau berdebat dengan Mr. Juna, karena dia tahu, tidak akan pernah ada


yang menang jika berdebat dengannya dan itu sangat memuakan.


“Boleh saya duduk pak?”. Tanya Nana


            “Oh....ya tentu. Kan tidak ada yang minta kamu berdiri, terserah kamu aja”. Jawab Mr. Juna.


            “Ya ampun.....ini cowok, kemarin dia terlihat manis, menawarkan tumpangan, sekarang, iihhh.....amit-amit”.


Nana merinding melihat tingkah laku seniornya itu.


Nana mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir, dia memperhatikan setiap materi yang disampaikan oleh Mr. Juna dan memperhatikan  semua gerak dan cara mengajarnya. Nana mengangguk-anggukan kepalanya pertanda bahwa dia mengerti dengan semua materi yang disampaikan oleh seniornya itu.


“Ternyata, asik juga cara ngajarnya. Padahal masih semester enam, satu tingkat diatas aku”. Kata Nana dalam hati sambil terus memperhatikan Mr. Juna yang sedang asik mengisi materi.


Satu jam sudah berlalu, jam kuliah telah berakhir, saatnya Nana meninggalkan kelas. Namun, Mr. Juna masih terlihat asik duduk dikursinya sambil membuka handphone yang beberapa kali berdering, selama jam pelajaran. Nana menunggu Mr. Juna turun lebih awal, tetapi dia masih sibuk dengan hanphone nya.


Nana bangun dari duduknya, mencoba untuk keluar kelas akan tetapi dia pun duduk kembali setelah bebrapa menit melihat Mr. Juna merapihkan buku-buku yang berserakan diatas mejanya.


“Ko, gak pulang?” tanya Mr. Juna


            “Ha, pulang dong?” jawab Nana dengan suara penuh semangat.


            “Kenapa masih duduk?”


            "Sudah hampir jam sepuluh malam loh". tanya Mr. Juna kembali sambil melihat arloji yang ada dilengan sebelah kirinya, kemudian memberikan senyuman pada Nana.


“Dia bisa senyum juga?” pikir Nana


            “Apa ini pertanda bahwa sebenarnya dia itu orang baik?”


            “Dasar jomblo aneh”. Dengan senyuman sinis kearah Mr. Juna


Mr. Juna menghampiri Nana yang masih duduk di kursi barisan depan itu, “Mau pulang bareng saya?”


tanya Mr. Juna


Nana terdiam sejenak sambil berpikir “Ada apalagi ini?. “Nanti tau-taunya aku di tinggal lagi”. Belum sempat Nana menjawab pertanyaan Mr. Juna tetapi Mr. Juna melanjutkan ucapannya, “Saya tunggu di bawah”. Mr. Juna  memutar badan dan melangkah ke arah tangga menuju lantai satu.


Nana masih bingung dengan tawaran Mr. Juna, detak jantungnya berdebar kencang, seakan-akan seperti


kencan pertama.


“Aduh....aku ini kenapa?”


            “Si hidung besar juga gak ada?”


            “Aku harus berbuat apa?”


Nana terus bicara sendiri sambil mondar-mandir di dalam kelasnya, dia berusaha menenangkan dirinya


dan merasa bahwa tidak terjadi apa-apa. Lima belas menit kemudian, dia menyusul langkah Mr. Juna menuju ke lantai satu.


Sampai di lantai satu, Nana tidak melihat Mr. Juna, Nana sempat duduk di sofa lobby beberapa menit saja, namun Mr. Juna tidak menampakan diri. “Apa dia sudah pulang duluan ya?”. “Hmmm.....yasudah lah”. Pikir Nana sambil menghembuskan nafasnya.


Nana bangun dari duduknya, lalu berjalan kearah pintu keluar. Dia melihat Mr. Juna sedang duduk


diatas motor shogun berwarna biru, yang tersenyum kepadanya, tanpa sadar Nana membalas senyum pria berkemeja abu muda lengkap dengan buku tebal ditangannya yang menjadi ciri khas Mr. Juna.


Malam itu, Mr. Juna berhasil merubah suasana hati Nana menjadi sangat bahagia, Nana berjalan dengan


perlahan mendekati pria itu yang hampir dua puluh menit menunggu nya.


“Terima tawaran saya?”. Tanya Mr. Juna


Nana menjawab pertanyaan Mr. Juna dengan senyuman sambil berpikir "ternyata dia masih menunggu ku". Senyum Nana terlihat sangat manis dan manja, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya karena bibirnya sudah tidak mampu lagi bergerak. Dia malu jika Mr. Juna mengetahui bahwa dia nervous (gugup) malam itu.


Sepanjang perjalanan dari kampus menuju terminal, mereka saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Mr. Juna mengantar Nana sampai terminal, Nana turun dari motor itu, "terimakasih pak". Ucap Nana


Nana membalikan badannya, melangkah ke arah angkot yang sedang ngetem menunggu penumpang.


“ Na, anggap aja, ini permintaan maaf saya karena malam ini saya datang terlambat”. Kata Mr. Juna yang masih duduk diatas motor shogunnya itu.


Nana berbalik ke arah suara Mr. Juna,Mr. Juna meninggalkan motornya dan menghampiri Nana yang beberapa meter dari tempat dia semula. Mr. Juna berdiri beberapa jengkal dari depan Nana.


“Nama saya Arjuna, panggil saja Juna”. Mr. Juna menjulurkan tangannya ke arah Nana.


            “Saya hanya senior kamu, yang diberi amanah untuk menjadi mentor mu selama masa hukuman aja,


selebihnya kita sama”.


Mendengar perkataan Mr. Juna, Nana tersenyum lega. Nana menyambut tangan laki-laki itu dengan hangat sambil tersipu malu. Tubuhnya semakin bergetar, rasanya seperti ada gempa dadakan. Nana terus terbawa dengan suasana hatinya yang sedang tidak karuan.


“Saya duluan ya.... sampai bertemu minggu depan”. Mr. Juna segera meninggalkan Nana yang masih


tersenyum padanya.


Ingin rasanya hati Nana teriak lantang, agar semua orang yang ada diterminal itu tahu bahwa dia sedang bahagia.


“Neng, angkot?”. Suara supir angkot mengejutkan Nana yang masih hanyut dalam lamunannya.


            “Astaghfirullah..... ia bang”. Jawab Nana kaget


            “Ya Allah.....ampuni hamba mu ini”.