
Hari minggu adalah hari kemerdekaan bagi Nana, hari ini dia tidak ingin kemana-mana. Dia hanya ingin menghabiskan waktu nya di dalam kamar, membaca novel-novel yang sudah antri di rak buku dan membaringkan tubuh dan meluruskan kaki nya di atas tempat tidur.
Tidak seperti biasanya, entah mengapa minggu ini Nana begitu malas beraktivitas. Dia yang biasa jogging sehabis subuh hingga fajar tiba, namun kali ini dia memilih untuk menarik selimutnya kembali setelah sholat subuh. Dia pun mensilent handphone nya agar tidak terganggu oleh suara telp atau whatsapp yang masuk.
Jam dinding yang berada di ruang tamu sudah menunjukan pukul delapan pagi, namun pintu kamar Nana masih terkunci rapat dan ibu belum melihat Nana sama sekali. sampai akhirnya, ibu mencoba mengetuk kamar Nana dan membangunkan nya.
“Na......Nana...... sayang...... sudah siang Na....... kamu belum sarapan sayang.....”. Ibu memanggil Nana sambil mengetuk pintu nya berkali-kali namun pintu kamar masih terkunci.
“Tok.....tok.....tok..... Assalamu’alaikum......
permisi”. Suara perempuan mengucapkan salam di depan pintu.
Ibu menoleh ke suara, “Wa’alaikum salam.....iya sebentar”. Ibu segera berjalan ke arah pintu depan dan melihat
siapa yang datang.
“Oh.......nak Tika. Sudah lama tidak berkunjung, mari masuk”. Ibu mempersilahkan Tika masuk dan duduk di ruang tamu.
“Mau minum apa? Ibu siapkan”. Kata ibu
“Oh....., gak usah bu. Tika hanya ingin bertemu Nana. Kangen”. Kata Tika sambil mengeluarkan ekspresi manja nya
dengan sedikit senyum di bibirnya.
“Syukur lah kamu datang”. Ibu menarik nafas seperti terlihat sedikit cemas
“Ada apa dengan Nana bu? Dia baik-baik aja kan?”. Tanya Tika dengan wajah sangat cemas.
“Gak, insyaAllah Nana baik-baik saja. Itu loh, gak seperti biasanya anak gadis ibu jam segini belum bangun”. Keluh ibu
“What!!!!! O my god! Ini masalah yang sangat serius bu”. Tika spontan berdiri dan melangkahkan kaki dengan gagah ke arah kamar Nana.
“Nak Tika......ibu mohon maaf jika membuat nak Tika begitu khawatir. Tapi ibu yakin, Nana baik-baik saja”. Ibu ikut
bangkit dari duduknya dan terlihat sangat bingung dengan ekspresi Tika.
Tika bergegas menuju kamar Nana dan mencoba untuk membangunkan nya. Tika mengetuk pintu kamar itu sambil teriak memanggil Nana dengan suara lantang. Tika berharap suara nya dapat membangunkan Nana pagi itu.
“Tok........tok.........tok.........!!!”. Tika mengetuk pintu
“Nana........buka pintu, aku datang.....membawa segudang rindu dan cerita”. Tika menempelkan telinga nya pada daun pintu dan memastikan bahwa Nana terbangun. Namun, usaha Tika belum membuahkan hasil. Dia mencoba untuk membangunkan nya sekali lagi.
“Nana.......yuhu...... Nana sayang......bangun dong......babe......!!!”. Tika pun menempelkan telinga nya pada daun pintu, namun belum terdengar tanda-tanda bahwa Nana bangun.
Tika menoleh pada ibu, mengerutkan dahi dan menganggkat kedua alis serta bahu nya. Mereka saling bertatapan penuh kebingungan.
“Bu, seperti nya butuh alat dongkrak deh!”. Kata Tika
“Untuk apa?”. Tanya ibu
“Dongkrak pintu Nana. Seperti nya dia pingsang!”. Kata Tika menambah kepanikan pada ibu.
“Astaghfirullah....... Nana......Nana......buka pintu sayang......kamu baik-baik aja kan?”. Ibu mengetuk pintu dan memanggil Nana berkali-kali dan sangat cemas.
Tika berpikir keras bagaimana caranya agar Nana terbangun karena tidak seperti biasanya dia begini. Tika bahkan ibu sangat tahu bahwa Nana anak yang rajin beribadah dan berolah raga, dia tidak pernah bangun sesiang ini bahkan suara ibu dan Tika belum bisa membangunkan nya.
“Aha.....!!!! Aku punya ide”. Kata Tika sambil mengangkat satu telunjuknya dan matanya melirik keatas seakan
mendapatkan ide cemerlang.
“Apa itu?”. Tanya ibu
Tika tersenyum bahagia, dan..............
“Arjuna........ kamu datang? Mau bertemu Nana?”. Teriak Tika seakan ada Arjuna di hadapannya.
“Aku juga mau bertemu Nana, tetapi seperti nya Nana tidak ada. Pintu kamarnya masih terkunci. Mending kamu pulang aja deh”. Suara Tika terdengar lebih keras.
Tingkah Tika semakin membuat ibu bingung dan tidak mengerti, tidak lama dari teriak Tika, akhirnya pintu kamar
Nana terbuka.
“Jangan pergi Juna!”. Teriak Nana
Nana menggerakkan kepala nya ke kiri dan ke kanan, mata Nana nanar mencari Arjuna. Ibu Nana ikut menggerakkan kepalanya seperti Nana.
“Loh.....loh....loh....!!! Bocah wedok, nggoleki sopo kowe (Anak perempua,
cari siapa kamu)?”. Kata Tika dengan logat jawa nya.
“Aku lan ibu mu ngadek ngarepe lawang kamar ket maeng, karo mbengok-mbengok tapi ora thok reken. Lan saiki,
krungu njenenge Arjuna, kowe langsung metu. Karep mu piye iki (Aku dan ibu mu dari tadi berdiri di depan pintu kamar, sambil teriak-teriak tetapi tidak kamu hiraukan. Dan sekarang, mendengar nama Arjuna, kamu langsung keluar. Maksud nya apa)?”. Mata Tika melotot dengan nada sedikit greget pada Nana.
“Iya....iya aku minta maaf. Aku denger kok tetapi aku sedang mengeringkan rambut ku, aku itu sudah bangun dari jam tujuh pagi, namun seperti nya perut ku pagi ini tidak bersahabat. Sehingga aku harus lama di dalam kamar mandi”. Jelas Nana dengan nada bersalah.
“Minta maaf sama ibu. Ibu tuh khawatir..........................”.
“Sudah-sudah........ jangan dipermasalahkan. Yang penting Nana baik-baik saja”. Ibu memotong kata-kata Tika..
“Maafin Nana ya bu......”.
“Iya sayang........ lain kali jangan di ulangi ya......ibu khawatir”. Ibu pergi meninggalkan Nana dan Tika yang masih berdiri di depan pintu.
Nana menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa ibu sudah jauh dari kamar nya. Tika bengong melihat tingkah Nana, lalu Nana menarik tangan Tika untuk masuk ke dalam kamar nya.
“Ada apa sih? Aneh banget!”. Tanya Tika kebingungan.
Nana membaringkan tubuhnya di atas kasur............ “Aku mau curhat”. Kata Nana dengan mata fokus pada
langit-langit kamar nya.
“Nah!!! Itu maksud ke datangan ku. Semenjak kamu kerja, kita belum bertemu dan ngobrol sama sekali. waktu kita selalu gak pas. Sekarang, aku datang untuk mendengar cerita mu dan penasaran dengan cowok rese yang kamu pernah bilang di WA waktu itu”. Tika ikut membaringkan tubuhnya.
Nana terdiam sesaat, sekilas terbayang wajah Rahman, Arjuna, Affan dan juga Wira. Nana memejamkan kedua mata nya, seperti dia sedang berpikir keras dan memiliki permasalahan yang sangat rumit.
Tika memiringkan badan nya dan melihat ke arah Nana,
“Kamu baik-baik saja kan?”. Tanya Tika
“Aku di taksir brondong”. Kata Nana dengan mata yang masih terpejam
“Apa!!! Serius?”. Tanya Tika kaget
Nana membuka matanya lalu duduk dan menundukan kepala nya,
“Dia kepala guide di tempat ku bekerja, usia nya dua tahun di bawah usia ku, namun dia dewasa, baik, perhatian. Awalnya dia cowok yang sangat menyebalkan dan membuat ku jijik tetapi ternyata dia orang yang baik dan selalu mendengarkan keluh kesah ku”.
“Apa kah dia itu Wira, si cowok tengil dan menjengkelkan itu?”. Tanya Tika
Nana menganggukan kepala nya.....................
“Oh.....my god Nana...... kalian sudah jadian?”. Tanya Tika penasaran dan sedikit kesal.
“Dia meminta ku untuk menerima nya menjadi suami ku”. Lanjut Nana.
“Astaga!!!”. Tika ternganga seakan tak percaya dengan semua perkataan Nana.
“Kamu mau?”. Tanya Tika kembali
“Kamu takut kecewa atau kamu masih berharap Juna?”. Tegas Tika
“Entah lah.....yang jelas aku sudah malas berharap sama laki-laki, aku juga sudah tidak tertarik untuk pacaran. Aku
cape jika harus kecewa, bersedih”. Keluh Nana.
“Bagaimana jika kalian coba jalan, namun saran ku jangan paksa hati kamu untuk mencintai nya. Tujuan nya agar kamu tahu dan memastikan apakah Wira serius atau tidak”.
“Tapi..............”. Nana menatap Tika
Tika memberi pelukan dan menenangkan Nana yang sedang galau.
“Na....., bagaimana pun rasa kecewa itu. Kamu harus tetap belajar untuk membuka hati, mencari laki-laki baik
sebagai pengganti Juna. Percaya deh, bahwa tuhan sudah menyiapkan dan mengatur segala nya lebih indah dari apa yang kita bayangkan”.
Kata-kata dan pelukan Tika membuat Nana menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Dia mencoba untuk jalan dengan Wira dan memastikan keseriusan Wira.
“Drrrttttt............drrrtttt...............drrrtttt”. Handphone Nana bergetar pertanda ada whatsapp.
Nana membuka pesan yang masuk dalam whatsap nya dan ternyata itu pesan dari Wira.
“Jalan-jalan sore yuk!”. Kata Wira dalam whatsapp
“Wira ajak aku jalan sore ini”. Sambil menunjukan isi pesan itu pada Tika
“Bilang yes. Gak apa-apa jalan aja, tapi ingat jangan main hati”. Kata Tika
Nana sedikit berpikir dan ragu, dia takut bahwa hati nya akan terluka kembali.
“Come on! Say YES”. Kata Tika
Setelah beberapa menit berpikir, Nana membalas whatsapp Wira.
“Yes, jemput aku di rumah jam empat sore”. Balas Nana
“OK”. Balas Wira dengan cepat.
“Sekarang sudah jam dua belas siang, segera sholat, makan siang lalu bersiap-siap”. Kata Tika memberi semangat pada Nana
“Kan masih lama Ka..... nanti aja, jalan nya juga setelah ashar”. Kata Nana bernada malas
“Perempuan itu butuh waktu lama untuk make over, touch up dan sebagai nya. Kamu harus tampil cantik”. Kata Tika sedikit memaksa.
“Hanya pergi bersama Juna yang membuat aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk melukis wajah ku karena aku ingin terlihat cantik bahkan paling cantik di mata Arjuna”.
“Ya ampun sayang...............Arjuna lagi. Dia itu suami orang dan sebentar lagi menjadi ayah. Lupakan Juna, lanjutkan hidup mu dan raih kebahagiaan mu. Ayo bangun dan siap-siap!”. Kata Tika sambil menarik tangan Nana dan membangunkan nya dari atas kasur.
Nana nenutup wajah dan telingan nya dengan bantal dan tidak ingin mendengarkan ocehan Tika. Tetapi Tika tidak mau kalah, dia juga memiliki seribu cara untuk bisa membuat Nana mengikuti saran nya.
Waktu terus berlalu, suara adzan juhur pun sudah berkumandang, lima belas menit yang lalu. Namu Nana masih saja berbaring diatas kasur nya dan bermalas-malasan. Akhirnya Nana pun bosan dengan ocehan Tika yang sedari tadi tanpa henti bagaikan beo.
“Ok. Stop! Aku bangun, lalu sholat, makan siang dan bersiap-siap. PUAS!!!”. Dan pergi meninggalkan Tika.
“Baik sayang....... I love it”. Teriak Tika pada Nana yang sudah keluar kamar.
Tika yang hari itu sedang berhalangan dan tidak melaksanakan sholat juhur, dia dengan penuh semangat menyiapkan semua kebutuhan Nana, mulai dari pakaian, kerudung dan make up nya. Tika ingin Nana terlihat cantik dan fresh sore itu.
Setelah kurang lebih satu jam Nana meninggalkan Tika di kamar nya, Nana terkejut melihat kasur nya penuh dengan perlengkapan untuk diri nya.
“Ya ampun......Tika, apa-apaan ini?”
“Gak usah lebay deh! Aku ini hanya ingin jalan-jalan sore alias JJS, bukan mau lamaran atau menikah. Gak perlu
pakai make up segala deh”. Oceh Nana sambil menggelengkan kepala nya.
“Udah, kamu diam aja. Poko e, kamu akan aku sulap menjadi perempuan paling cantik dan membuat Wira terpesona pada mu. Nanti kenalin aku juga ya!”. Bisik Tika.
Nana hanya bisa pasrah melihat tingkah laku teman nya itu, dia duduk manis di depan lemari hias dan menunggu
aksi Tika. Tika memasangkan kaos putih lengan panjang dengan pasmina dan celana kulot berwarna navy serta sepatu kets warna hitam untuk Nana. Tika juga memberi polesan sedikit di wajah Nana dengan tambahan blush on pink agar wajah Nana terlihat segar, serta memberi warna pink pada bibir dan membuat Nana semakin terlihat segar.
“Tara........ fresh banget!”. Teriak Tika bahagia
Nana tersenyum memandang wajahnya di kaca hias nya.
“Thank you Tika sayang....... I love you!”. Kata Nana
“It’s OK. Aku seneng jika kamu juga seneng”.
“Selamat kencan!”. Bisik Tika
“Hush!! Cuma jalan biasa ko”. Jawab Nana malu
Waktu terus berlalu dan tanpa di sadari bahwa adzan asar berkumandang.
“Ya ampun......Tika, kok aku sudah di make up? Kan belum sholat ashar”. Kata Nana.
“Hahahah........aku juga lupa. Aku terlalu bersemangat, sorry!”.
"Hhhmmmm........!!!”. Nana menghela nafas.
“Wes......gampang. sekarang sholat, selesai aku poles lagi. Hahaha......”. Tika terpingkal mentertawakan diri nya
sendiri yang terlalu bersemangat sore itu.
Selesai sholat ashar dan selesai di touch up, Nana menati kabar dari Wira yang berjanji akan menjemputnya di rumah jam empat sore. Jam dinding pun sudah menunjukan pukul tiga lewat lima puluh menit, namun belum ada kabar dari Wira.
“Kring......”. Handphone Nana berdering, ada panggilan masuk dari Wira.
“Loud speaker......”. Bisik Tika
Nana mengangguk dan men-loud speaker handphone nya agar Tika dapat mendengar suara Wira.
“Sudah siap? Saya tunggu di gang depan aja ya?”. Pinta Wira
“Kenapa? Lebih baik kamu jemput di rumah aja dan pamitan sama ibu”. Kata Nana.
“Lain kali aja, aku malu”. Nada Wira terdengar memelas
“Oh.....Ok. Kamu sudah di depan?”. Nana memastikan
“Iya dong...... aku tunggu ya.....!”. Kata Wira
“Iya. Tut....tut....tut.....”. Percakapan mereka terputus.
“Kenapa dia gak mau jemput di rumah?”. Tanya Tika
Nana mengangkat kedua bahu nya.............
“Jika ibu tanya, bilang kalau kita mau jalan-jalan sore ya............”. Bisik Nana
“Beres!!!”. Tika memberi jempol pada Nana
Tika dan Nana segera bergegas keluar kamar dan berpamitan pada ibu untuk jalan-jalan sore dan mencari udara segar menjelang malam tiba. Ibu memberi izin pada mereka berdua dan berpesan agar mereka pulang sebelum maghrib. Nana dan Tika berjalan sedikit cepat menuju gang depan untuk menemui Wira yang sedari tadi menunggu kedatangan Nana.
Bersambung..................