
Tepat pukul 9.30 Nana sudah berada di lobby kampus tempat Juna bertugas. Nana memasuki lift dan naik ke lantai 3 sesuai dengan arahan Juna kemarin. Kali ini penampilan Nana sangat berbeda, Nana yang dulu senang mengenakan rok dan baju panjang bahkan suka mengenakan dress panjang seperti gaun. Kali ini penampilan Nana sangat trendy dan stylist dengan celana model khaki berwarna coksu dan kemeja yang hitam sedikit sempit namun masih terlihat longgar yang dimasukan dalam celana nya, dengan kerudung yang melingkar di leher nya, serta high heels kurang lebih 5cm yang membuatnya terlihat modis nan anggun.
“Tit”. Suara lift berbunyi pertanda Nana sudah berada di lantai 3.
Nana berjalan santai dan sangat elok dengan hentakkan kaki yang menghasilkan bunyi lengkah yang berirama sehingga membuat setiap orang yang mendengar suara langkahnya menoleh dan fokus pada nya, begitu juga dengan wajahnya memancarkan rasa percaya diri yang begitu tinggi dan siap bertemu serta bekerjasama dengan sang mantan hari itu.
Nana berdiri di depan ruangan yang bertuliskan Ruang Dosen
“Tot....tok...tok”. Nana mengetuk pintu ruangan itu.
“Permisi”. Nana terdiam mendengar jawaban namun tidak ada yang membalas salam nya itu.
“Totk...tok...tok”. Nana mengetuk pintu itu sekali lagi
“Permisi”. Nana menempelkan telinga nya pada daun pintu namun belum terdengar suara.
“Maaf ibu, mau cari siapa ya?”. Seorang mahasiswi menghampiri Nana.
“Oh, saya ingin bertemu dengan Mr. Juna. Apa betul ini ruangan nya?”. Tanya Nana pada gadis itu.
“Maaf ibu kebetulan beliau kajur kami, ruangan beliau ada di sudut sana”. Mahasiswi itu menunjuk dengan
jempolnya ke satu ruangan yang berada di paling sudut dengan tulisan KAJUR dan ada nama Arjuna, M.Pd di bawah tulisan KAJUR tersebut.
Nana melihat kearah ruangan yang ditunjukan oleh mahasiswi tadi.
“Mau saya antar?”. Tanya mahasiswi itu kembali.
“Oh, No. Thank you”. Nana tersenyum pada mahasiswi itu lalu melangkah ke arah ruangan Arjuna.
Nana berdiri di depan ruangan dengan tulisan KAJUR,
“Hebat Juna, perjalanan karir nya begitu bagus. Dia memang orang yang cerdas sehingga pencapaian akademik nya berjalan dengan mudah. Eva sangat beruntung menikah dengan Arjuna”. Gumam Nana dalam hati.
“Selamat datang Nana”. Suara laki-laki itu mengagetkan Nana
Nana menoleh dan ternyata Arjuna berada di belakangnya.
“Pagi. Aku tepat waktu kan?”. Tanya Nana
Arjuna melihat arloji nya, “Yeah..... bagus!”.
Arjuna membukakan pintu dan mempersilahkan Nana masuk terlebih dahulu lalu di iringi oleh langkah nya.
“Klek”. Juna menutup pintu itu.
Nana melihat ke sekeliling ruangan dengan interior yang minimalis namun terlihat sejuk dan nyaman.
“Kamu sudah lulus S3?”. Tanya Nana yang masih berdiri sambil melihat-lihat sekitar ruangan.
“Belum, sedang proses disertasi”. Jawab Juna.
“Tapi kok sudah jadi ketua jurusan?”. Tanya Nana kembali.
“Tepatnya asisten sampai aku menyelesaikan disertasi ku”. Jawab Juna
Nana menganggukan kepala nya.
“New style?”. Tanya Juna dengan melihat penampilan Nana dari ujung kepala hingga kaki.
“Yup. Kenapa?”. Tanya Nana kembali.
“Fresh, cantik dan terlihat lebih muda dari usia nya”. Jawab Juna tanpa senyum di bibir nya.
“Maksud mu aku sudah tua?”. Tanya Nana sedikit emosi.
“Forget it”. Juna duduk di sofa.
“Coba lihat kerangka berpikir tentang jurnal yang akan kita garap”. Juna menengadahkan tangan nya seakan meminta Nana membuka laptop yang masih ada di dalam tas laptop yang ia pegang.
“Kamu gak menawarkan aku minum dan duduk?”. Nana mengangkat ke dua alisnya.
“Astaga......... sorry. Kamu dari awal masuk ruangan sudah banyak bicara dan tanya ini itu, aku lupa deh”. Juna bangkit dari kursi nya dan berjalan menuju dispenser yang ada di sudut ruangan.
“Silahkan duduk dan mau minum apa? Tea, coffee, jus?”.
“Minuman kesukaan ku? Jawab Nana dengan nada kesal
Juna sedikit berpikir lalu memegang bibirnya dengan dua jari.
“Maaf, minuman kesukaan mu apa ya?”. Tanya Juna
“Hah? Apakah dia benar-benar sudah melupakan semua tentang aku? Sampai-sampai dia lupa dengan
minuman kesukaan ku yang dulu selalu dia belikan untuk ku?”. Nana bicara dalam hati nya
“Air mineral aja”. Jawab Nana ketus.
“Baik lah...............”.
Juna membuka kulkas portable yang ada di ruangan nya, dia mengeluarkan segelas jus mangga yang sudah ia siapkan untuk Nana.
“Ini minuman kesukaan kamu kan?”. Juna menyuguhkan segelas jus mangga pada Nana.
Nana terkejut dan tersenyum melihat Juna membawakan jus kesukaan nya.
“Wah......kamu masih ingat dengan jus kesukaan ku? Makasih...........”. Nana mengambil jus itu dari tangan Juna lalu meminum nya.
Nana terlihat bahagia melihat Juna masih ingat akan sesuatu yang ia sukai, mata nya masih memandangi jus mangga yang sudah ia letakkan diatas meja sambil tersenyum.
“Jangan kebanyakan halu deh, cepet buka laptopnya. Aku mau lihat kerangka berpikir kamu dan presentasikan di depan”.
“Biasa aja kali!”. Jawab Nana ketus.
Juna sangat terpukau dengan presentasi Nana, Nana yang dulu selalu malu jika presentasi didepan nya. Sekarang sudah jauh berbeda, dia begitu percaya diri dan menuangkan ide cemerlang nya menjadi sebuat tulisan yang akan sangat bermanfaat untuk khayalak ramai nanti.
“Amazing! Aku suka dengan ide-ide kamu dan kerangka berpikir kamu”. Juna memberikan tepukan tangan
sebagai apresiasi nya pada Nana.
“Kerangka berpikir kamu mana?”.
“Belum buat”. Jawab Juna santai
“Bukan nya kemarin kamu bilang bahwa kamu akan mempersiapkan semua nya?”.
“Awalnya begitu tetapi aku percaya bahwa kamu akan memiliki ide yang jauh lebih bagus dari aku makanya aku gak buat, dan ternyata terbukti bahwa semua ide-ide kamu sangat luar biasa dan aku setuju”.
“Itu nama nya bukan kolaborasi dong............!”. Nana makin kesal dibuat nya
“Tidak bagaimana? Kita kan akan seminar bareng, berarti kita berkolaborasi”.
“Kamu mau bodohi aku? Aku tidak akan menulis nama mu dalam jurnal ini jika kamu tidak menyumbangkan ide mu”. Nana menutup laptop nya dan memasukan kembali pada tas nya.
“Terserah. Aku tinggal bilang prof. Alex bahwa kamu menolak ide-ide aku dan tidak mau berkolaborasi dengan ku, dan pasti ini akan berpengaruh dengan tesis mu nanti”. Ancam Juna dengan mengeluarkan handphone nya seakan ingin menelepon prof. Alex.
Nana melotot melihat reaksi Juna dan dia takut jika Juna akan melaporkan nya. Nana bangkit dari duduk nya dan berusaha meraih handphone Juna.
“Berikan handphone itu!”. Kata Nana sambil terus meraih handphone Juna.
“Eit.....gak kena”. Dengan suara meledek
“Juna, jangan jahat deh. Berikan handphone nya!”. Nana terus memaksa
“Coba aja kalau bisa”. Juna mengacungkan handphone nya sehingga Nana tidak dapat meraihnya walaupun dia berusaha untuk melompat lebih tinggi. Sampai akhirnya
“Gubrakkkkkkkkk!!!”.
Nana mendorong Juna hingga terjatuh diatas sofa dan Nana berada diatas nya.
“Kamu gak tahu kalau aku jago bela diri?”. Kata Nana sombong dan tanpa sadar jika dia duduk diatas perut Juna.
Juna tersenyum melihat Nana yang berada diatas nya.
“Ih.....egois banget. Salah tapi malah senyum-senyum. Mau kamu apa sih?”. Nana terlihat semakin emosi dengan sikap Juna.
Juna melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Nana lalu mendekap dan menariknya hingga Nana tengkurap diatas tubuh nya hingga hanya ada jarak satu jari saja dari hidung Nana ke hidung Juna, bahkan hembusan nafas Juna pun terasa hangat di wajah Nana.
“Juna apa-apaan sih. Lepasin nggak?”. Nana berusaha melepaskan genggaman Juna.
Juna masih saja menggenggam erat Nana dan tersenyum serta merasa puas dengan melihat tingkah Nana yang semakin tidak karuan.
“Juna, jail banget. Gak lucu tau. Kalau ada yang liat gimana?. Lepasin dong!!!”.
“Kata nya jago bela diri? Coba aku mau liat?”.
“Ok. Kalau gak mau dilepaskan. Aku teriak agar kamu dipecat”.
“To....................”. Nana membuka mulutnya lebar-lebar.
Juna menutup mulut Nana dengan satu jari nya.
“Sssssttt...................!!!!”. Juna menyentuh bibir Nana yang tipis dengan lembut dan perlahan.
Kedua bola mata saling bertemu dan menatap seakan berkata bahwa ada rindu di hati. Jantung Nana mulai berdetak kencang dan wajahnya memerah serta tubuhnya menjadi sangat dingin. Arjuna terus membelai wajah Nana dan memberi tatapan hangat. Tanpa sadar Nana ikut terhanyut dengan belaian Juna serta mulai menikmati setiap sentuhan Juna di wajah nya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Tok.........tok....tok”.
“Permisi Mr. Juna”. Suara di balik pintu menyadarkan mereka berdua.
Nana segera beranjak dari tubuh Juna lalu kembali duduk di sofa dan meminum jus mangga yang masih tersisa.
Juna pun duduk kembali dan merapihkan sedikit rambutnya yang kusut karena terjambak oleh Nana.
“Masuk”. Juna mengizinkan gadis itu masuk.
“Ini berkas bab III saya sir”. Gadis itu memberikan map biru pada Juna.
Juna mengambilnya lalu membuka nya sebentar dan menutupnya kembali.
“Ok, akan saya check dan ambil besok siang di meja saya”. Kata Juna
“Baik pak”. Gadis itu menundukkan kepala nya lalu keluar dari ruangan Juna dan menutup pintu kembali.
“Maaf kan aku Na”.
“Iya, aku juga”.
“Aku harap kamu melupakan kejadian barusan”.
“Apakah kamu takut orang lain tau?”.
“Bukan. Tapi aku takut menyakiti istri ku”.
Nana mengangguk, “Kalau begitu, aku permisi”.
“Ya, malam ini akan aku kirimkan file ku ke email mu dan tolong dipelajari”. Kata Juna.
“Baik”.
Nana keluar dari ruangan Juna dan meninggalkan nya.
“Astaga Nana............murahan sekali kamu? Kenapa kamu menikmati nya?”. Gumam Nana dan terus tersenyum mengingat kejadian barusan.
“Andai tidak ada mahasiswi itu, apa yang akan Juna lakukan ya? Apakah dia akan mencium ku? Ya ampun............ selama aku pacaran sama dia, dia tidak pernah melakukan itu pada ku. Semoga besok dia meminta ku untuk datang lagi”. Nana terus berhalusinasi akan Juna, lalu masuk dalam angkot.