
Pukul 14.00, Nana sudah rapi dan cantik dengan gaun pesta berbahan sutra berwarna light blue, polos yang di hiasi oleh sedikit manik-manik di bagian leher hingga separuh dada, dan di kedua pergelangan tangan serta di bagian pinggang, lengkap dengan kerudung yang ia lilitkan di leher nya dan high heels berwarna hitam dan tas tangan berwarna hitam penuh dengan kerlap kerlip manik yang membuat tas itu terlihat semakin mewah.
Polesan lipstic pink dengan campuran merah untuk menambah kesegaran pada senyum Nana, serta make up tipis di wajahnya membuat dia terlihat segar dan sangat menawan.
Nana menunggu Wira di teras rumah nya, sesekali mata nya nanar ke ujung gang depan rumah Nana untuk memastikan kehadiran Wira.
“MasyaAllah....anak ibu cantik banget!”.
“Terima kasih ibu”. Jawab Nana sambil terus tertuju pada ujung gang.
Ibu pun ikut memperhatikan ujung gang namun dengan tatapan ketidak pastian.
“Nunggu siapa sayang......, sepertinya gelisah sekali?”.
“Teman bu, dia janji mau jemput aku siang ini untuk menghadiri pesta pernikahan teman SMA ku dulu”. Pandangan Nana masih tertuju pada ujung gang.
“Telilut.....telilut”. Handphone Nana berbunyi pertanda pesan masuk di whatsapp nya.
Nana membuka pesan itu lalu tersenyum lebar.
“Aku sudah di gang”. Kata Wira
“Bu, Nana berangkat ya........”. Nana mencium tangan serta pipi ibu nya
“Teman kamu sudah datang?”. Teriak ibu karena dengan sekejap Nana sudah berlari jauh di depan ibu.
Nana melihat Wira mengenakan batik biru sedikit gelap, seprti blue jeans dengan motif bali, dengan celana kain berwarna hitam dan sepatu, yang sedang berdiri di samping mobil ayla berwarna merah sambil memainkan handphone nya.
“Hai”. Wira tersenyum pada Nana lalu membukakan pintu mobil sebelah kiri untuk Nana.
“Hai”. Nana membalas senyum Wira lalu masuk ke dalam mobil nya.
Wira segera menutup kembali pintu mobil itu dan melangkah kearah pintu sebelah kanan dan siap untuk menyetir.
“Sudah siap?”. TanyaWira
“Siap!”. Senyum Nana membuat suasana semakin terasa romantis.
“Ko belum jalan?”. Tanya Nana heran dengan mengerutkan dahi nya
“Kamu cantik banget...... sumpah, aku makin gemes liat nya”. Wira memandangi Nana sedikit terlihat nakal.
“Nanti keburu sore loh.....katanya ada kerjaan sehabis maghrib?”. Tanya Nana tersipu malu.
“Yup. Ok. Let’s go!”.
“Ngeng.................”. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Wira menggunakan map ya untuk mencari gedung yang tertera dalam undangan, jalan di kota Jakarta cukup lenggang sore itu, sehingga mereka tidak memakan waktu yang cukup lama untuk tiba di lokasi.
Sesampai nya di lokasi, Wira memarkir mobilnya di barisan paling pinggir agar mudah untuk keluar. Nana menggandeng Wira menuju gedung, namun ketika mereka sudah sampai di depan pintu masuk, tiba-tiba handphone Wira tertinggal di mobil.
“Ah, kamu duluan aja ya.....handphone ku ketinggalan”.
Nana paham bahwa Wira tidak dapat hidup tanpa handphone, dan membiarkan Wira kembali ke mobil untuk mengambil handphone nya.
“Iya, gak apa-apa. Aku duluan ya..... aku langsung ke pelaminan aja karena sudah kangen dengan Tari”. Kata
Nana dan menuju ke arah pelaminan.
Dari jauh Tari melihat Nana berjalan dengan anggun menuju kearah nya, Tari melambaikan tangan ke arah Nana dengan senyum manis di bibirnya yang kecil mungil. Tari memang sodara sekandung dengan Siska namun wajah mereka berbeda, Tari berkulit putih dengan mata sipit dan hidung kecil mungil serta gigi kelinci dan lesung pipi di
kedua pipi nya yang membuat Tari terlihat lebi imut dari Siska adiknya.
Siang itu Tari nampak cantik, dengan gaun pengantin ala jawa, mulai dari bagian kepala yaitu cunduk mentul yang merupaka ornamen bunga yang tersemat di atas sanggul, kemudian turun sedikit ada centung yaitu sepasang ornamen berbentuk sisir yang tersemat di sanggul depan, lalu di bawah centung terdapat citak yang merupakan
hiasan berbentuk jajar genjang yang terletak antara alis.
Di bagian leher terdapat kalung sungsun, lalu di kedua lengan nya terdapat gelang binggel kana serta baju adat jawa berwarna hitam, yang membuat Tari semakin ayu persis seperti puteri keraton.
Nana terus melangkah diatas karpet merah hingga berada tepat di depan Tari dan suami nya.
“Wah.....kamu cantik sekali!”. Puji Nana
“Kamu juga..... Cantik”. Tari memuji Nana kembali.
“Sorry, aku baru datang dan tidak ikut resepsi pernikahan tadi pagi”. Dengan nada menyesal.
“Iya sayang.....gak apa-apa”.
“Oh, iya ini suami ku mas Teguh. Wong jowo, dari Kebumen”. Tari memperkenalkan suami nya pada Nana.
Nana memberi senyum sebagai perkenalan mereka dan Teguh pun membalas senyum Nana.
Nana sedikit berpikir, meningat kejadian itu beberapa tahun silam.
“Siapa?”. Tanya Nana sedikit lupa.
“Cowok tinggi, hitam tapi manis yang kamu bilang senior kamu itu”. Tari mengingatkan Nana akan laki-laki itu.
“Ah...... iya, aku ingat”.
“Arjuna maksud kamu?”.
“Nah, Arjuna”. Jawab Tari sambil mengangkat jari telunjuk nya.
Nana menghela nafas, “Dia bukan jodoh ku karena dia sudah menikah dan mungkin sekarang sudah punya anak”. Kata Nana
Tari memeluk Nana tanpa bertanya lebih tentang Juna karena Tari tahu betapa Nana mencintai Juna dan dia tidak ingin mengingatkan kembali soal masa lalu Nana.
“Kamu sekarang sendiri atau......?”.
Nana memotong pertanyaan Tari,
“Aku..........”. Nana menoleh kearah pintu masuk untuk mencari Wira dan ingin memperkenalkan pada Tari, teman nya itu.
Tetapi............., Nana melihat Wira sedang asik duduk bersama wanita yang berpenampilan sexy, mengenakan gaun brokat pendek sampai lutut, berwarna hitam, dengan belahan dada terbuka dan betis kuning langsat terlihat indah, di tambah dengan high heels dan kutek merah di setiap kuku-kuku jari kaki nya, serta tidak kalah menawan
pesona bibir mirip Angelina Jolie yang membuat Wira terus menatap penuh napsu.
Nana terpukau dan kaget melihat pemandangan itu dari pelaminan dan membuatnya kaku serta gugup.
“Hai.....malah bengong! Kamu tadi mau bilang kan.....kalau kamu kesini dengan seseorang?”.
Pertanyaa Tari menusuk hingga ke jantung Nana, dada Nana mendadak sesak menahan tangis yang terbakar oleh cemburu.
“Aku......, aku datang sendiri. Mungkin next time, aku bisa membawa pendamping”. Nana tertawa untuk menutupi rasa sedihnya itu.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”. Kata Nana pada Tari
“Yeah”.
“Gadis itu seperti adik kamu Siska”. Nana menunjuk pada wanita yang ada di samping Wira.
“Ya..... itu memang Siska. Kamu pangling ya.....melihat perubahan nya. Aku juga yang setiap hari bertemu dengan dia, merasa pangling melihat adik ku yang dulu polos, kucel, sekarang berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan sexy. Aku aja hampir keduluan dia nikah nya”.
Nana tidak dapat menarik pandangan nya dari Wira dan Siska yang terlihat begitu akrab.
“Kalau laki-laki yang ada di samping Siska siapa?”. Tanya Nana kembali.
“Oh...., itu dulu mantan nya Siska, mereka jalan kurang lebih satu tahun lalu putus dan beberapa minggu lalu Siska cerita kalau mereka balikan lagi”.
Nana begitu kaget mendengar penjelasan Tari yang begitu jelas, butiran bening jatuh dari pelupuk mata nya, dia tak sanggup lagi untuk menahan semua rasa cemburu yang ada dalam dada nya saat itu. Ingin rasa nya Nana menghampiri dan menyiramkan air ke wajah mereka, namun itu tidak mungkin dia lakukan. Siska terlihat begitu manja dan bahagia menempelkan kedua tangan nya pada bahu Wira dan mendekatkan wajahnya pada wajah Wira. Nana tidak sanggup lagi melihat tontonan drama yang sedang live itu.
Nana ingin berlari jauh dari pesta namun kedua kaki Nana sulit untuk di gerakan, tubuhnya berubah menjadi sangat dingin, dengan getaran di bibirnya dan tatapan penuh kemarahan dan kebencian.
“Ya tuhan.....tontonan macam apa ini? Kenapa aku begitu bodoh. Kenapa baru kau tunjukan sekarang ketika aku mulai mencintai Wira”. Gumam Nana dalam hati.
“Are you OK?”. Tanya Tari pada Nana
“Aku hanya merasa iri pada kalian, kamu sudah menikah dengan laki-laki yang kamu cintai dan mencintai kamu. Mungkin sebentar lagi, Siska pun akan menikah dengan laki-laki pujaan nya. Sedang kan aku?”. Nana menjatuhkan kepalanya pada bahu Tari dan terisak nangis di pelukan nya.
Tari memeluk erat Nana dan ikut terbawa emosi sehingga air mata Tari ikut jatuh di bahuNana. Wira melihat Nana yang sedang memeluk Tari, Wira tersadar bahwa dia datang bersama Nana.
“Hmmmm......, maaf aku gak bisa lama. Ada janji, aku pulang ya..... titip kado untuk kak Tari”. Wira segera beranjak menuju mobil.
“Tapi aku masih kangen.......”. Lagi-lagi Siska mengeluarkan jurus manja nya yang mematikan.
“Iya sayang......aku paham. Coba deh kamu lihat, banyak orang, gak enak kan di liatin banyak orang. Kita lanjut nanti malam aja ya......di telepon. I love you”. Tanpa menoleh pada Siska Wira segera kembali ke mobil.
Beberapa menit setelah Wira kembali ke mobil, Nana melihat Siska sedang duduk sendiri di kursi yang sama dengan wajah terlihat bete. Bola mata Nana kembali berputar mencari keberadaan Wira.
“Kemana Wira? Apaah dia pulang duluan dan meninggalkan aku?”. Tanya Nana dalam hati.
“Tar...... aku pulang ya....takut kesorean dan terjebak macet”. Suara Nana sudah kembali seperti semula.
“Yah...... kenapa gak nginep aja. Kita sudah lama banget loh.....baru ketemu lagi”. Rengek Tari.
“Lain kali ya..... ,maafin aku gak bisa lama-lama”.
“Selamat ya...... my buddy. Selamat ya mas Teguh. Jaga teman aku ya....”.
Nana memberikan kado pada Tari dan mencium kedua pipi nya lalu segera berjalan setengah berlari menuju parkiran mencari Wira.
Bersambung....................