MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 43. Bros Cantik Merah Jambu



Waktu di arloji Affan sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, itu artinya toko aksesoris milik teman Affan sudah mulai


buka.


“Neng, ayo balik ke toko. Sepertinya sudah buka”.


“Ok”. Jawab Nana penuh semangat


Affan menyalakan mesin motornya, Nana segera naik dan ngeng............. motor Affan melaju pelan. Kurang dari dua puluh menit, mereka sudah sampai di toko dan Affan memarkir motornya di depan toko aksesoris milik temannya.


“Hai, Fan........”. Teriak seorang cowok berbadan tinggi besar, berkulit sawo matang, dengan kemeja putih dan celana jogger nya.  Cowok itu melambaikan tangannya ke arah Affan.


“Hai, bro. Apa kabar?”. Affan memeluk teman nya.


“Wow..........sudah sukses kamu ya? Toko nya gede bener”. Puji Affan


“Ini usaha warisan, bro. Mari kita ngopi-ngopi di belakang!”. Ajak teman Affan.


“Tunggu!”. Teman Affan melirik kearah Nana yang masih berdiri di dekat motor Affan.


“Itu siapa? Kenalin dong!”.


Affan tersenyum, “Neng, sini atuh!”.


Nana menghampiri Affan dan temannya itu,


“Ni, kenalin Nana”. Affan memperkenalkan Nana dengan memegang pundak Nana.


“Neng, ini Toni teman aa waktu SMA”.


“Toni, bapak dengan satu istri dan dua orang anak”. Toni menjulurkan tangannya pada Nana dan Nana


membalasnya.


“Wih.......gaya, lengkap bener!”. Kata Affan


“Agar kalian iri dan segera mengikuti jejak gue”. Kata Toni dengan gaya sombongnya.


“Mari...........mari...........kita ngopi di belakang. Silahkan!”.


Toni melangkah ke teras belakang, Affan dan Nana mengikuti langkah Toni. Mereka ngobrol sangat asik, mengenang cerita masa-masa sekolah mereka dahulu.


“Kamu tinggal dimana sekarang?”. Tanya Toni


“Di Jakarta”.


“Kerja atau masih kuliah?”.


“Dua-dua nya”.


“Hebat!!!”.


Affan tertawa, “Bisa aja. Itu kasih pujian atau ngeledek?”.


“Kalian kesini mau kasih undangan ya?”.


“Undangan apa?”. Tanya Affan kembali


“Undangan nikah lah, masa sunatan. Hahaha.......?”. Kata Toni


“Nggak. Kita Cuma mau silaturahmi aja”.


“Payah! Yang lain sudah punya anak dua bahkan isteri dua. Nah, loe masih betah sendiri”.


“Pesan gue buat kalian, nanti jika menikah langsung tancap gas aja agar segera dapat momongan kayak gue. Kecuali kalian mandul. Haaaaa!!!”.


“Tapi, kamu normal kan bro?”


“Atau................?”. Toni melirik kearah Nana yang berada di sebelah Affan.


Mereka semakin larut dalam percakapan dan banyak kata-kata Toni yang tak terkendali sehingga membuat Affan terdiam dan membuat Nana gerah.


“Abang, Nana mau lihat-lihat aksesoris ya......... kalian lanjutkan aja ngobrolnya”. Nana pamit


“Ia neng”.


Affan tahu perasaan Nana saat itu, dia pasti tersinggung dengan perkataan Toni barusan. Nana meninggalkan


mereka di teras belakang, Nana melihat-lihat isi toko sampai akhirnya dia jatuh hati dengan bros mawar berwarna merah jambu.


Nana mencoba mengenakan bros itu di kerudung yang ia kenakan, sambil melihat wajahnya di cermin. Affan sesekali melihat ekspresi Nana dari luar teras. Affan tahu hati Nana terluka, namun dia masih bisa mengalihkan dan menunjukan senyum nya.


“Ton, kayaknya aku harus pamit deh. Mau ajak Nana jalan-jalan”. Affan memotong perkataan Toni yang semakin ngawur dan membosankan.


“Kok buru-buru? Tapi......... gue ngerti kalau orang sedang jatuh cinta pasti pinginnya jalan-jalan dan berduaan terus. Iya kan?”.


Affan membalas perkataan Toni dengan senyuman, lalu menghampiri Nana yang masih berdiri di depan cermin dengan bros mawar yang menempel di kerudungnya.


“Cantik”. Kata Affan, tiba-tiba.


“Astaghfirullah..............., abang. Bikin kaget aja. Udah ngobrolnya?”. Tanya Nana dengan mata nanar ke arah


teras, mecari Toni.


“Iya, geulis.............”.


“Kamu suka dengan brosnya?”.


Nana menganggukan kepalanya, “Cantik kan?”. Tanya Nana lalu kembali memandang wajahnya di cermin.


“Iya, cantik. Sangat cantik”. Affan menatap nana dari pantulan cermin yang ada di depan mereka.


“Aa yang bayar”. Bisik Affan


Nana menoleh ke belakang, dengan wajah berseri dan mata bersinar.


“Beneran? Abang mau beli ini untuk aku?”. Tanya Nana memastikan.


“Gak percaya?”. Tanya Affan


“Emang punya duit? Haaa............”. Nana tertawa


Affan tersenyum dan membiarkan  Nana tertawa lebar.


“Kamu sungguh istimewa Na, ketika hati kamu luka namun wajah dan senyum itu selalu ada untuk mengobati luka hati mu”. Kata Affan dalam hati.


Nana menahan tawa nya karena sejak tadi Affan memandangi dia dengan senyuman.


“Hello......... abang!!!” Nana menggerakan badan Affan dengan kedua tangannya.


“Ya Allah............maaf neng”.


“Hmmm.... jadi dibayarin gak?”.


“Iya, ayo”.


Mereka berjalan kearah kasih yang berada di sudut toko. Setelah membayar bros mawar tersebut. Affan menarik tangan Nana keluar toko. Bola mata Nana masih nanar mencari Toni namun,dia tidak dapat menemukan nya.


“Pulang yuk!”. Bisik Affan


“Kita gak pamitaan dulu bang?”.


“Tadi abang sudah pamitan sebelum bayar bros”.


“Mana bros nya?”. Tangan Affan menadah pada Nana


Nana memberikan bros yang masih ia pegang. Affan membuka bungkus bros tersebut, lalu memakaikan pada kerudung Nana.


“Cantik!”. Affan memandang wajah Nana


“Aku atau bros nya?”. Tanya Nana


“Ya bros lah.............masa kamu?”. Affan tersenyum dan melangkah ke arah motor yang masih terparkir di depan toko.


Nana masih senyum memandang bros yang dipakaikan oleh Affan. Tiba-tiba “Tit........................!!!”. Suara klakson terdengar jelas ditelinga Nana dan membuyarkan pandangannya.


“Ayo, neng”.


Nana segera berjalan menuju motor Affan dan naik keatasnya. Selama perjalanan, Nana hanya terdiam, dia merasa nyaman dengan Affan namun rasa nyaman yang ia rasakan berbeda dengan nyaman yang ia rasakan bersama Juna. Ketika dia bersama Juna, dia nyaman dan merasakan getaran cinta setiap kali mereka bertemu, namun ketika dia bersama Affan, dia merasakan bahwa Affan itu sosok kakak bagi Nana. Rasa sayang yang tumbuh pada Nana seperti rasa sayang adik kepada kakaknya.


“Makan bakso yuk!”.


“Ha?”. Nana terkejut


Nana tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di salah satu kedai bakso ter-enak di kampung Affan.


“Kamu ngelamun?”. Tanya Affan


“Ha? Gak. Biasa aja”.


“Ayo turun. Mau makan bakso gak?”. Tanya Affan kembali


“Iya, iya, bawel!”. Jawab Nana ketus


Mereka mencari meja dan kursi di sudut kedai bakso. Sambil menunggu menu bakso, Nana membaca majalah


yang disediakan oleh pemilik kedai dan Affan membaca status facebook para facebooker.


Beberapa menit kemudian Nana menutup majalahnya, melipat tangannya diatas meja.


“Bang, boleh tanya sesuatu?”.


“Hm, apa?”. Jawab Affan namun masih fokus pada handphone nya.


Nana mengambil handphone Affan dan meletakannya diatas meja.


“Abang........aku serius”.


Affan melipat tangannya diatas meja dan memajukan kepalanya mendekati wajah Nana.


“Ada apa neng?”.


“Apakah abang sudah menemukan jawaban atas pertanyaan ku waktu itu di kontrakan?”.


Affan menarik kepalanya kembali dan terdiam.


“Sebelum aa jawab, aa juga punya pertanyaan buat kamu”.


“Apa?”


“Apakah kamu nyaman dengan aa? Jika aa serius dengan hubungan kita, apakah kamu akan menerima aa?


Dan jika aa...............”.


“Apapun keputusan abang, insyaAllah aku mengerti dan menerima”. Jawab Nana memotong perkataan Affan.


Affan terdiam kembali seakan berpikir harus memulai dari mana perkataanya itu agar tidak menyinggung perasaan Nana.


“Aa minta maaf, kamu gadis cantik, baik, pintar dan sangat istimewa. Aa sayang sama kamu, namun hati aa belum yakin bahwa aa bisa menjadi imam yang baik untuk kamu”.


“Bukan karena aku mandul?”. Tanya Nana


Affan menarik nafas dan mengehembuskannya perlahan berharap setelah itu akan mendapatkan keputusan yang lebih baik.


“Neng, maaf. Itu salah satu nya. Sampai saat ini aa belum berani berkata jujur sama keluarga, terutama dengan mama”.


“Aa tahu kalau mama sangat menyukai kamu dan aa takut mama kecewa”.


Kristal mening menetes dari kedua sudut mata Nana yang indah.


“Nana mengerti bang. Abang gak usah minta maaf, menjadi adik mu saja dan di terima di keluarga abang sebagai teman mu saja, aku sudah senang”.


“Aku juga tidak ingin mengecewakan mama”. Nana menghapus air matanya


“Kamu gak marah?”. Tanya Affan


Nana menggelengkan kepalanya dan tersenyum, Affan menghapus air mata Nana dengan tangannya.


“Terimakasih neng”. Affan menggenggam tangan Nana dengan kedua tangannya lalu mencium nya.


“Lalu bros ini?”. Nana menyentuh bros yang menempel di kerudungnya


Affan melirik ke bros itu, “Bros itu sangat spesial dan untuk gadis spesial seperti adik ku Ardiana”.


Nana juga bingung dengan perasaannya pada Affan. Disisi lain, Nana suka dengan Affan namun disisi lain Affan terlihat seperti kakaknya. Namun, jika Affan benar-benar serius dengannya, maka dia akan membuka dirinya untuk Affan dan belajar mencintai nya seperti Juna dulu.


“Mungkin, ini yang terbaik agar tidak ada lagi yang terluka dan kisah Nana dan Juna tidak terulang kembali”. Pikir Nana dalam hati.


“Ini bakso nya, silahkan”. Pelayan kedai menyuguhkan dua mangkuk bakso diatas meja.


“Iya teh, terimakasih”. Jawab Affan.


Nana meneguk air mineral yang ada di depannya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Mereka makan bakso bersama, namun tidak ada yang saling bicara. Tatapan Nana pudar tak berarah dan tatapan Affan kepada Nana penuh penyesalan.