
Peristiwa beberapa minggu lalu membuat Nana mempunyai teman baru yaitu Affan, Affan adalah mahasiswa pindahan asal kota hujan, Bogor. Dia laki-laki baik, dewasa dan humoris. Tutur bahasanya lembut dan menyenangkan, namun sedikit lambat dan pemalas.
Nana sering melihat Affan tidur di masjid setelah istirahat dzuhur dan tidak masuk kelas, dia sering titip absen pada temannya. Affan juga sering minta bantuan Nana untuk mengerjakan tugas kuliah tanpa dia ikut menyumbang pendapat. Tetapi tanpa dipungkiri bahwa Affan memang laki-laki baik.
Selain Tika, Affan menjadi teman curhat Nana. Nana sering curhat tentang semua kegalauan yang ia miliki dan Affan pun selalu menjadi teman curhat yang baik, dia juga selalu membantu mencarikan solusi, nasehat-nasehat Affan sangat berarti bagi Nana. Affan juga sering membuat hati Nana tenang setelah curhat dengan nya.
Mereka sering berdiskusi bersama, makan bersama, belajar bersama, hanya saja Affan tidak mengikuti kegiatan lain diluar jam kuliah. Affan terlihat baik bahkan sangat baik terhadap Nana, dia juga perhatian dan sayang pada Nana. Karena itulah kedekatan mereka semakin terlihat bahwa Affan menyimpan perasaan lain pada Nana
Pagi itu seusai sholat dhuha, Nana duduk di serambi masjid sambil melihat anak-anak berlatih taekondo,
“Pagi, neng.............”. Affan mengagetkan Nana dengan menyandarkan badannya di bahu Nana.
“Ih....abang, berat tau”. Jawab Nana risih
“Aa dong.........kan orang sunda”. Bantah Affan dengan lembut.
“Males! Aku kan orang betawi”. Jawab Nana memalingkan wajahnya dan menggeser tubuhnya sehingga Affan tergeletak di lantai.
“Sudah sholat neng...............?”. Tanya Affan kembali
“Yes.............”. Jawab Nana dengan nada males.
Nana bangkit dari duduknya dan berdiri, melangkah menuju koridor kampus.
“Ih....si eneng, mau kamana? Baru aja aa duduk, dia pergi lagi?”. Kata Affan dengan khas sundanya. Bola mata Affan mengikuti arah Nana.
“Mau ke kelas”. Jawab Nana judes
“Kirain mau ke pelaminan?”. Affan tertawa nakal
“Tika.....”. Nana memanggil Tika tanpa menghiraukan Affan yang masih duduk di serambi masjid.
Nana melangkah cepat kearah Tika yang sudah berada di ujung koridor,
“Neng..........tunggu atuh”. Teriak Affan dan dia pun mengikuti langkah Nana.
“Ko gak ke masjid?’. Tanya Nana
“Lagi M”. Jawab Tika
“Tuh......si abang mendekat”. Lirik Tika kearah Affan
“Udah biarin, aku suka risih sama sikapnya. Tadi aja tau-tau dia sandaran di bahu aku”. Jawab Nana
“Ehecmmmm.....cie....., sepertinya dia suka deh sama kamu”. Bisik Tika.
“Lagi gosip apaan sih? Gak boleh gosip loh!”. Affan ikut bicara setelah dia berada didepan Nana dan Tika.
Nana dan Tika memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkah menuju kelas tanpa menjawab pertanyaan Affan. Affan mengikuti mereka dari belakang, dan terus berusaha berada di samping Nana.
Affan yang biasanya duduk di barisan paling belakang, kini pindah ke barisan paling depan agar bisa dekat Nana.
“Neng, nanti pulang bareng aa aja”. Bisik Affan
“Aku ada latihan, lagi pula aku pulang bareng Tika satu arah”. Jawab Nana judes.
“Sekali-kali bolos, emang gak bisa? Aa bisa antar sampai rumah”. Affan terus memaksa Nana.
“Modus!!!”. Teriak Tika
“Gak apa-apa atuh..... ia kan neng?”. Affan mengerak-gerakan alisanya keatas dan kebawah.
“Ih.....”. Suara Nana sinis.
“Abang kenapa sih, deket-deket terus? Kan masih banyak kursi yang kosong?”. Tanya Nana
“Gak apa-apa atuh.........emang aa gak boleh deketin neng geulis?”. Jawab Affan tersenyum didepan wajah Nana.
Tiba-tiba..................
“Hai, good morning class.............”. Kata pak dosen.
“Morning, sir.......”. Jawab semua mahasiswa yang berada didalam kelas.
Suasana kelas menjadi hening, semua mahasiswa fokus kepada materi yang disampaikan oleh pak dosen.
“Ok, for the assignment, do the exercise page 103”.
“See you and thank you”.
“Yes, sir”. Jawab mahasiswa
Mata kuliah pertama pun sudah selesai, Nana memiliki dua mata kuliah sebelum dzuhur dan dua mata kuliah setelah dzuhur. Ada jeda waktu beberapa menit untuk menunggu dosen kedua.
Setelah menunggu lima menit, seorang laki-laki muda masuk ke dalam kelas dan memberi pengumuman bahwa dosen kedua tidak dapat masuk karena sedang dinas keluar kota.
Sebagian mahasiswa senang mendengar berita tersebut dan sebagian mahasiswa lainnya tidak, termasuk Nana. Wajah Nana mulai terlihat bete karena dia merasa sia-sia sudah datang jauh-jauh namun hanya mengerjakan tugas yang diberikan dosen melalui asistennya.
“Kenapa neng?”. Tanya Affan
“Aku sebel kalau jam kosong, udah jauh-jauh dateng tapi malah kosong”. Kata Nana dengan nada menyesal.
“Ya gak apa-apa neng...., kalau bete mending ikut aa nonton yuk ke mall”. Hibur Affan.
“Yuk...!!”. Jawab Tika semangat.
“Abang mau traktir?”. Tanya Nana
“Wih...., bayar masing-masing dong”. Kata Affan.
“Males!!!”. Jawab Nana
Nana membawa buku dan ranselnya lalu keluar meninggalkan kelas serta Tika dan Affan.
“Masjid”. Jawab Nana singkat.
"Tunggu!”. Kata Tika.
Tika berdiri dan hendak mengikuti langkah Nana, tetapi Affan menarik tangan Tika sehingga langkah Tika tertahan.
“Ada apa si?”
“Duduk dulu, aku mau ngobrol”. Kata Affan
Tika mengurungkan niatnya untuk menyusul Nana,
“Ada apa?”.
Affan menggeser kursinya dan mendekati Tika, tatapan mata Affan begitu tajam bertanda bahwa dia serius.
“Nana sudah punya pacar belum?”. Tanya Affan
“Kenapa? Kamu naksi?”. Tanya Tika
“Kalau naksir, lamar aja gak usah pacaran. Dia jomblo”.
“Yes!!”. Kata Affan bahagia
“Kalau begitu banyak peluang. Thank you”.
Affan segera mengejar Nana ke masjid dan meninggalkan Tika di kelas.
“Neng....tunggu”. Affan mengejar Nana dan tiba-tiba parkir didepan wajahnya.
“Astaghfirullah..........abang, bikin kaget aja! Tika mana?”. Nana menolah ke kiri dan kanan mencari Tika.
“Kenapa harus cari Tika kan ada aa?” Goda Affan
Nana terus berjalan menuju masjid
“Neng.....”.
“Hhhmmmm......”.
“Aa ganteng gak?”. Tanya Affan sambil merapikan rambutnya yang hanya lima senti panjangnya.
Nana berhenti sejenak dan menatap wajah Affan, sesekali Nana mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya.
“Cakep sih tp nothing special”. Nana tersenyum
“Berarti ada potensi ganteng dong?”. Affan menyeringai.
Nana menatapnya kembali, “May be”. Jawab Nana singkat
“Yes!!! Berarti aa punya peluang dong buat jadi orang spesial?”. Affan terus menggoda Nana.
“Ih....apaan sih? Gak nyambung banget!! Nana tertawa sambil menutup wajah Affan dengan buku, yang sedari
tadi exist di hadapannya.
Nana melanjutkan perjalannya menuju masjid dengan menyisakan senyum manja di wajahnya. Affan mengikuti
Nana dari belakang dengan wajah bahagia penuh cinta. Affan terus mengikuti Nana hingga tidak di sadari bahwa dia memasuki area wanita.
“Abang, mau ngapain?”. Tanya Nana
“Ya............sholat, neng. Kamu mah suka gitu, pertanyaannya mancing-mancing”. Jawab Affan genit.
“Lihat tuh tulisan di depan pintu, WOMEN AREA”. Nana menunjuk ke arah pintu.
“Astaghfirullah............., kok kamu gak bilang kalau ini area perempuan?”. Wajah Affan berubah merah jambu
dan kembali ke area laki-laki.
Nana tertawa sambilmenggelengkan kepalanya.
“Ya ampun.....abang.....aneh banget”. Bisik Nana pada dirinya sendiri.
Nana menuju tempat wudhu perempuan, dia ingin membaca Al-Qur’an sambil menunggu sholat dzuhur tiba.
“Ya ampun.......Tika?”. Nana baru menyadari bahwa dia meninggalkan Tika di kelas.
Nana mencari handphone nya dan menelepon Tika,
“Kamu dimana Ka?”.
“Kantin”. Jawab Tika singkat.
“Gak ke masjid?”. Tanya Nana kembali
“Nanti aja, aku lapar. Kan dzuhurnya juga masih lama”.
“By the way, Affan nembak kamu ya?”. Tanya Tika penasaran
“Nembak? Kamu tau dari siapa kalau dia suka aku? Main tembak-tembak aja!”.Nana tertawa
“Aku mau nya di tembak didepan penghulu, langsung SAH”. Jawab Nana mantap.
“Wih..............keren itu. Bisa diatur”.
“Sudah dulu ya............makanan ku sudah ready dan siap di santap”.
“Sholat yang rajin dan berdoa agar segera ada yang melamar biar kamu gak galau. Haaaaa...........”.
Tika tertawa dengan nada meledek Nana.