
“Mau kemana Na?”. Tanya mamah yang sedang memberi pakan ayam-ayam kesayangan nya di halaman belakang.
“Mau jogging. Mamah mau ikut?”. Ajak Nana
“Mamah tuh sudah tua, sendi mamah sering sakit. Mamah disini saja bersama kesayangan”. Sambil melirik ke arah
ayam yang berada di dalam kandang.
Mamah memang hobi beternak, kandang ayam yang berada di halaman belakang seperti rumah susun yang menjulang tinggi. Bagi mamah, ayam-ayam peliharaan nya adalah hiburan yang dapat menghilangkan penat di kepala nya.
“Nana jogging dulu ya mah”. Nana berpamitan
“Iya sayang”.
Entah apa yang membuat Nana jogging pagi itu, dari kecil Nana tidak suka dengan olah raga walaupun hanya sekedar jogging. Tetapi, pagi ini seperti ada yang beda pada diri nya. Mungkin hobi baru agar dia dapat mengisi hari-hari nya dimasa penantian jodoh nya.
“Telilit..........telilit................”. Handphone Nana berbunyi pertanda bahwa ada notif masuk dalam messanger nya”.
“Pagi Nana..........apa kabar?”.
Nana berpikir sejenak,
“I-m-a-m. Ha, Imam? Siapa?”. Pikir Nana
“Alhamdulillah baik, maaf ini siapa ya?”. Balas Nana
“Ini mas Imam”. Jawab Imam
“Maaf mas, Imam yang mana ya? Apakah kita saling kenal?”. Tanya Nana kembali.
“Mungkin kamu tidak kenal saya, maaf sudah mengganggu pagi kamu”.
“OK”. Jawab Nana cuek
“Ih....aneh banget sih? Baperan”. Keluh Nana pada diri nya sendiri.
Nana melanjutkan jogging nya, minggu pagi kali ini pun sangat berbeda, banyak sekali warga Jakarta yang berjalan
atau berlari santai sehingga Nana merasa lebih semangat dalam jogging nya.
Tiba-tiba Nana terdiam sejenak dan memikirkan nama Imam yang masuk dalam inbox nya beberapa menit yang lalu. Dia duduk di bawah pohon sambil meluruskan kaki nya, lalu membuka messanger nya kembali dan mengirimkan chat balik pada Imam.
“Assalamu’alaikum, maaf mas jika pertanyaan ku barusan menyinggung perasaan mas Imam, sungguh Nana lupa. Jika mas tidak keberatan, maukah mas memperkenalkan diri mas lebih detail dan jika memang kita saling mengenal, maukah mas mengirimkan foto. Terimakasih. Wassalam”.
Nana masih duduk manis dibawah pohon, menunggu balasan dari Imam, beberapa menit kemudian, Imam membalas inbox Nana.
“Wa’alaikum salam, iya gak apa-apa. Aku Imam teman Aziz. Kita pernah satu kelas waktu S1 dahulu, kemudian aku pulang kampung dan pindah ke Malang dan ini foto ku”. Imam mengirimkan foto nya.
Nana memperhatikan foto Imam dengan seksama dan mengingat siapa Imam karena gambaran Imam tidak ada dalam benak Nana saat itu.
“Oh, iya mas. Terimakasih. Nanti dilanjut ya...... aku masih jogging”. Nana mengakhiri chatnya.
Malam hari setelah sholat isya’ Imam kembali mengirimkan pesan via messanger, melanjutkan pembicaraan nya tadi pagi. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya, percakapan mereka di messanger membuat Nana dan Imam menjadi lebih akrab walaupun Imam yang Nana kenal dahulu terlihat dingin dan sangat cuek, namun tidak dalam messanger. Mereka komunikatif dan saling mengingatkan masa-masa kuliah dahulu.
“Mas sekarang kerja dimana?”. Tanya Nana
“Aku gak kerja, Cuma bantu-bantu kakak di peternakan”. Jawab Imam
“Oh.....kenapa gak kerja di perusahaan atau mengajar?”.
Imam terdiam, tidak membalas chat Nana beberapa menit namu pada akhirnya chat itu pun terbalaskan.
“Aku gak kuliah, aku tidak melanjutkan kuliah setelah ibu meninggal”.
“Kalau kamu sekarang sudah bekerja ya? Pasti karir kamu bagus”.
“Alhamdulillah sudah mas, gak bagus-bagus amat sih. Aku jd trainer mas, bekerja sama dengan perusahaan. Seru juga sih bisa bertemu banyak orang”.
“Selamat ya............. by the way, kamu sudah menikah?”. Tanya Imam
“Hmmm, belum”.
“Oh, gak apa-apa masih muda, kejar cita-cita dan karir dulu aja”.
“Iya mas. Terimakasih”.
Jawaban Nana menjadi penutup pembicaraan mereka saat itu, Nana tidak lagi membalas chat Imam begitu juga
sebaliknya.
Nana mulai terbiasa ngobrol dengan Imam via messanger, Imam menjadi teman baru nya, walau kadang sinyal yang membuat percakapan mereka menjadi terganggu dan percakapan mereka tidak berujung.
Imam tipe laki-laki pendiam, lugu, dan juga pemalu, dia tidak banyak bicara walaupun hanya dalam chat, satu minggu setelah chat itu berlalu, tak ada lagi inbox dari Imam untuk Nana, namun kali ini Nana yang memulai untuk chat Imam dalam messanger nya.
“Assalamu’alaikum mas, boleh tanya sesuatu?”.
“Wa’alaikum salam, iya boleh”.
“Mas punya sodara yang sudah bekerja dan siap nikah?”. Tanya Nana
“Kamu buka lowongan?”. Balas Imam
“Jika iya, kenapa? Mas mau daftar?”. Sambil menambahkan emoticon lucu
“Hmmm............, kalau aku sih seperti nya gak masuk kriteria kamu. Coba nanti aku carikan disini”.
“By the way, kenapa ingin menikah buru-buru”. Tanya Imam kembali
“Aku sudah lulus kuliah, sudah bekerja dan usia ku sudah sangat cukup untuk menikah. Tunggu apa lagi?”. Balas
Nana
“Oh............. minggu depan aku kabari”. Kata Imam
Minggu yang dijanjikan Imam pun telah berlalu dan Imam tidak ada kabar, namun Nana bersikap santai karena jodoh urusan tuhan bukan urusan nya. Nana pun tidak lagi mengirimkan pesan pada Imam, kesibukan nya membuat membuat Nana lupa akan urusan jodoh nya. Bagi nya, ketika ada laki-laki datang dengan ikhlas dan ingin melamarnya, maka dia pilihan terbaik menurut Allah untuknya.
Nana pun sudah terbiasa dengan pertanyaan dari orang-orang tentang pernikahan, sering sekali Nana mendapat
pertanyaan, Kapan nikah? Kapan nyusul? Dan sebagainya. Namun Nana selalu menanggapi dengan santai, hidup tidak hanya memikirkan soal jodoh, namun hidup bisa lebih bermakna jika memikirkan manfaat dari setiap tingkah laku yang dikerjakan setiap hari.
Waktu terus berjalan, sehingga tanpa disadari satu bulan sudah berlalu dari janji yang Imam ucapkan saat itu. Satu
bulan sudah, Imam berjanji mencarikan Nana laki-laki yang akan diperkenalkan olehnya akan tetapi janji itu belum terbayarkan oleh Imam.
Sampai akhirnya pagi hari Nana melihat notifikasi pada handphone nya dan ada yang mengirimkan emoticon love
pada akun facebooknya, Nana terkejut melihat pemilik emoticon tersebut, rasa tak percaya mengelilingi benaknya. Laki-laki yang dia anggap cuek dan dingin ternyata berani mengirimkan dia gambar love pada akun FB nya.
“Apakah mas pemilik emoticon itu?”. Tanya Nana dalam messanger.
“Jika iya, apakah kamu akan menolak ku? Aku belum memiliki pekerjaan, namun aku ingin menikah. Menikah itu rezeki, jadi buat apa aku memberikan rezeki itu pada orang lain sementara aku saja menginginkan rezeki itu. Mau kah kamu menikah dengan ku?”
Air mata Nana menetes pada pipi nya, dia berharap ini jawaban dari semua do’a-do’a yang ia panjatkan selama ini. Perjalan panjang masa pencarian jodohnya begitu melelahkan, namun tidak membuatnya patah semangat dalam pencarian. Nana yakin bahwa semua nya akan indah pada waktu nya.
“Datang dan temui keluarga ku, maka kamu akan tau semua tentang ku”. Balas Nana