MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 12. Mr. Juna



            Hari ini Nana sedang bebas tugas dari sekolah, sehingga Nana dapat datang ke kampus lebih awal. Riyan pun yang biasanya lembur di tempat kerjaannya, mendadak pulang lebih awal. Sehingga Nana mempunyai banyak waktu untuk curhat pada Riyan.


            “Hei.... Neng, kemarin kamu kenapa?”


            “Di skors ya?” tanya Riyan sambil tertawa bahagia.


            Nana tidak menghiraukan pertanyaan Riyan, dia masih tetap membaca buku yang ada ditangannya.


Riyan tiba-tiba duduk disebelah Nana, menggulung buku yang ada di tangan Riyan dan menempelkannya ditelinga sebelah kiri Nana.


            “Woy......kemarin kenapa?” teriak Riyan persis ditelinga Nana.


            Nana kaget mendengar suara Riyan yang sangat jelek dan menyebalkan. Nana menutup buku yang sedang dia baca lalu membalas teriakan Riyan.


            “Kalau ia, kenapa?”


            “Puas!” jawab Nana


            Riyan semakin tertawa terpingkal-pingkal sambil memengang perutnya seakan memberi tanda bahwa


dia merasa sangat bahagia mendengar jawaban Nana. Nana mendekatkan wajahnya dan menatap tajam kearah Riyan. Melihat respon Nana, Riyan segera menutup mulutnya dan berhenti tertawa, namun masih menyisakan senyum kebahagiaan pada bibirnya.


            “Mau cerita gak?” tanya Riyan


            Nana masih saja memberi tatapan tajam pada Riyan.


            “Wow..... kayaknya serius”.


            “Kalau gak mau cerita, OK.....bye....bye....”. Riyan segera bangun dari duduknya dan melangkah keluar lobi.


            Nana menarik kemeja berwarna cokelat susu yang dikenakan oleh Riyan, Riyan terhenti dan memutar


badan menoleh kearah Nana. Riyan duduk kembali disebelah Nana.


            “Ahh......sebel....sebel....sebel.....”. Nana teriak sambil memukul-mukulkan buku yang ia genggam ketubuh Riyan.


            “Tahu gak, aku di skors selama satu bulan dan wajib belajar CCU dengan Mr. Juna”. Nana berkata


dengan sangat lantang didepan Riyan.


            Riyan tercengang mendengar cerita Nana, pikiran Riyan mulai mencari-cari siapa yang dimaksud Mr. Juna ini, apakah kakak kelas atau memang asisten pak. Nino.


            “Mr. Juna yang kamu maksud siapa neng?”


            “Senior kita yang semester enam itu?”tanya Riyan penasaran.


            “Ia!”. Jawab Nana dengan suara lantang menandakan bahwa ia masih kesal.


            “Wow.....selamat ya.....semoga tambah pinter agar lulus secepatnya”. Goda Riyan sambil mencubit keras kedua pipi Nana yang chubby dan menggemaskan, lalu kembali mentertawakannya.


            “Ah...............!” Nana kembali teriak histeris.


            “Aku di skor selama satu bulan, tapi aku diminta untuk menunggu aturan yang dibuat oleh Mr. Juna dan aku harus melakukan apa yang Mr. Juna tulis dalam aturannya”. Lanjut Nana


            “So......?”


            “Perlu pendamping?”. Riyan terus menggoda Nana dengan gaya jailnya.


            Disaat Nana dan Riyan sedang asik berbicang-bincang, tiba-tiba Riyan berhenti tertawa dan matanya melirik ke arah tangga yang berjarak beberapa meter dibelakang Nana. Riyan memegang wajah Nana dengan kedua tangannya, lalu mengarahkan wajah Nana ke tangga tersebut sambil berbisik ditelinga Nana. “Dosen baru datang, hehehe.....”.


            Nana melihat ada sosok laki-laki berkulit hitam, lengkap dengan kemeja biru muda lengan panjang, celana bahan model cutbray berwarna hitam serta buku tebal ditangannya. Nana segera menarik kepalanya dan mengembalikan pandangannya pada Riyan.


            “Astaga.....Yan.... itu dia orangnya”.


            “Semoga dia tidak lihat aku”. Nana berbisik pada Riyan sambil memejamkan kedua matanya.


            Suara sepatu Mr. Juna terdengar diatas lantai dan menuju kearah Nana yang sedang duduk di sofa lobby dekat mading.


            “Kamu Nana kan?”. Tanya Mr. Juna dengan datar


            Suara Mr. Juna terdengar jelas ditelinga Nana. Nana segera membuka mata lalu menoleh kearah suara itu.


Seketika Nana melihat jelas wajah Mr. Juna yang sedang berdiri didepannya.


            “Bisa kita bicara sebentar?”. Suara Mr. Juna terdengar kembali


            “Baik pak”. Jawab Nana


            “Kalau begitu, saya tunggu di ruang 201”. Lanjut Mr. Juna lalu pergi meninggalkan Nana dan Riyan.


            “Hahahaha.......”.


            “Terimakasih tuhan.....telah membuat aku bahagia sore hari ini”. Lagi-lagi Riyan tertawa bebas dan lebih menggema dari sebelumnya.


            Melihat wajah Mr. Juna yang cuek, datar, dan tak ada senyum serta sangat serius, membuat bulu kuduk Nana merinding. Nana mulia bangun dari duduknya, meninggalkan semua buku pada Riyan dan segera menuju ruang 201.


            Nana berjalan menaiki satu persatu anak tangga, sesekali dia menoleh pada Riyan yang masih duduk di sofa lobby menandakan bahwa dia tidak ingin menemui Mr. Juna dan Riyan hanya bisa mengacungkan jempolnya


seakan-akan memberi dukungan pada Nana, sampai akhirnya Nana sudah tak terlihat lagi dan berada dilantai dua.


            Beberapa menit kemudian, Nana berada didepan pintu ruang 201 sesuai perintah Mr. Juna. Nana mengetuk pintu lembut dan mengucapkan salam.


            “Assalamu’alaikum pak”. Ucap Nana


            “Ia, masuk”.


            Nana untuk duduk didepannya dan masih terlihat sangat datar.


            “Ya ampun.....sombong banget nih orang”. Gumam Nana


            “Lihat aja besok, jika hukuman ku sudah selesai, aku balas Nanti”. Nana bicara dalam hati sambil


menatap penuh kebencian pada Mr. Juna.


            Mr. Juna yang sedang mempersiapkan aturan untuk Nana, tiba-tiba membalas tatapan Nana. Nana segera


menarik wajahnya dan menunduk.


            “Sial, balik tatap nih orang”. Nana masih bergumam dalam hatinya.


            “Echem... ini aturan yang sudah saya buat selama satu bulan kedepan”. Mr. Juna meletakan map


warna maroon persis didepan Nana.


            Nana membuka map itu dan membaca tiap point yang ditulis oleh Mr. Juna.


            “Hmmm.....kayaknya nih orang ngerjain aku”. Nana terus mengerutu dalam hati.


            “Tunggu pembalasan ku nanti”. Nana makin geram dengan semua aturan yang dibuat oleh Mr. Juna.


            Nana membaca perlahan dan mencoba memahami aturan demi aturan yang ada dihadapannya itu


dan......


            “Ha..... ko jadwalnya malam minggu sih?”


            “Jomblo kali nih orang, kenapa harus malam minggu”. Nana hanya bisa tercengang melihat point no


sepuluh yang ada dalam aturan itu.


            “Hmmm....Maaf pak. Kenapa harus malam minggu ya?” tanya Nana


            Mr. Juna yang sedang asik menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu mendekatkan badannya pada meja


yang ada didepannya.


“Karena saya hanya


ada jam kosong di malam minggu”. Jawab Mr. Juna


            Nana tersenyum dan sedikit tertawa, “dasar jomlbo alai. Ketahuan kan....kalau jomblo”. Nana bicara


dalam hati


            Nana mengangguk-anggungkan kepalanya, “emang bapak gak malmingan?” tanya Nana


            “Silahkan menandatangani aturannya lalu keluar dari ruangan ini”. Mr. Juna terlihat sedikit kesal dengan pertanyaan Nana.


            “OK, deal!” jawab Nana lantang dan meninggalkan ruangan itu.


            Nana senang jika dia ada kegiatan di malam minggu, tetapi rasa senang berubah menjadi sangat


menyebalkan karena selama satu bulan kedepan, dia akan menghabiskan malam minggu nya bersama Mr. Juna.


            Nana terlihat tak bersemangat setelah bertemu dengan Mr. Juna. Nana segera berlari ke arah Riyan


yang masih setia menanti kedatangan Nana.


            “Ah.....Riyan..... stres kali tuh orang, masa aku dikasih jadwal malam minggu sama dia”. Wajah Nana


memerah dan terlihat sangat bete.


            “Berarti selama satu bulan kedepan, aku menghabiskan malam minggu dengan dia dong”. Nana terus


merengek pada Riyan


            Riyan ingin tertawa namun kali ini dia tidak tega mentertawakan sahabatnya yang sedang kesal tingkat dewa.


        “Sabar, satu bulan itu Cuma sebentar”. Riyan mencoba menenangkan sahabatnya itu.


            “Lagi pula ketemunya kan hanya satu minggu sekali. Berarti hanya empat kali pertemuan”. Riyan terus


berusaha mensupport Nana.


            Mendengar perkataan Riyan, Nana berhenti dari rengekannya dan mulai menenangkan diri. Nana terdiam


sejenak, tiba-tiba......


            “Laper......”.


            "Traktir......”. Nana memelas pada Riyan


            “Hhhmmmm..... kalau begini aja, aku deh yang jadi korban”.


            “Ayo.....cari makan”. Ajak Riyan


            Nana menyeringai pada Riyan dan menunjunkan senyum kebahagiaan , lalu dia mengikuti langkah Riyan menuju kantin.