
Semenjak kejadian waktu itu di Giyanti Coffee Roastery Menteng, Nana menjadi sangat malu dan sungkan jika
bertemu dengan Wira di kantor maupun di luar kantor. Dia merasa malu bahkan sangat malu, rasa malu yang Nana rasakan membuatnya selalu merasa bersalah dan meminta maaf pada Wira.
“Bu Nana sudah memfollow-up client kita yang waktu itu kita temui di Menteng?”. Tanya Wira
“Iya pak”. Jawab Nana dengan wajah tertunduk
“Kalau begitu pastikan kepada mereka untuk segera transfer booking fee lima puluh persen dari harga yang sudah
kita tawarkan”. Lanjut Wira
"Baik pak”. Nana masih tertunduk malu
Wira memperhatikan Nana yang sedari tadi hanya berkata iya dan tertunduk, seperti nya ada sesuatu yang kurang dalam hari Wira ketika Wira tidak melihat wajah bersih Nana.
“Ibu sakit?”. Tanya Wira
Nana menggelengkan kepalanya,
“Oh......”. Wira beranjak pergi
“Pak Wira......... tunggu!”. Nana berdiri dan memanggil Wira
Wira tersenyum dengan wajah membelakangi Nana,
“Saya mau minta maaf atas.............”. Kata Nana sedikit gugup
Wira membalikan badan nya dan melangkah menghampiri Nana yang masih berdiri di tempat kerjanya.
“Minta maaf? Buat apa?”. Tanya Wira dengan tatapan genitnya.
“Di cafe waktu itu. Saya gak bermaksud.........”. Kata Nana
“Oh...... Saya pernah bilang, jika nikmati atau lupakan. Buat saya, jujur saya suka dan jika kamu tidak suka, maka
lupakan”.
Nana terdiam beberapa detik,
“Ha....ha......ha....... Maaf bu Nana, saya bercanda. Saya yang minta maaf karena selalu menggoda bu Nana”.
Mendengar perkataan Wira, Nana seperti tak percaya, Wira yang sangat menyebalkan, tengil dan super pede
ternyata berani meminta maaf. Perkataan Wira pun membuat Nana mengangkat wajahnya dan berani menatap Wira, dengan senyum ringan tanpa bebas.
“Lupakan saja dan fokus bekerja, nanti kita lanjutkan di jam makan siang. Sekali lagi saya yang minta maaf”.
Wira berjalan mundur beberapa langkah dengan senyum sangat bersahabat, lalu kembali ke ruang kerja nya.
Nana menghela nafas panjang, seakan semuanya telah berakhir. Perkataan Wira membuatnya merasa bahwa tidak ada yang patut disesali karena tu bukan kesalahan dia, Nana benar-benar merasa tidak terbebani dengan kejadian waktu itu. Nana kembali bekerja dengan wajah bahagia dan kembali bersemangat.
“Ternyata dia mudah untuk di bohongi, siapa bilang aku tidak menikmati kejadian itu. itu kejadian yang sangat langka bahkan tidak ada satu laki-laki pun yang mampu menolaknya. Nana..... Nana.....kamu terlalu polos, kamu tahu bahwa aku sangat menikmati peluk dan tatapan mata mu bahkan aku merasakan getaran jantung mu waktu itu”. Kata Wira dalam hati, sambil melihat Nana dari kejauhan dan senyum jahat di bibirnya.
“Aku yakin kamu akan jatuh cinta pada ku”. Lanjut nya.
Wira meraih telepon kantor yang ada di atas meja kerja nya lalu menyambungkan ke bagian Nana,
“Kring..........kring...............kring”. Suara telepon di atas meja Nana berdering.
“Halo.....”.
“Bawa laporan hasil meeting kita dengan client beberapa hari yang lalu ke ruangan saya, tiga puluh menit sebelum
jam makan siang”. Kata Wira
“Baik pak, akan saya rapihkan segera dan saya bawa ke ruangan bapak”.
Nana menyelesaikan laporan dan merapihkannya untuk segera dibawa ke ruangan pak Wira, sesuai dengan permintaanya.
“Tok......tok......tok....... permisi pak”. Kata Nana
“Masuk”. Jawab Wira yang masih duduk di kursi kerja nya.
Nana berjalan menghampiri Wira yang sedari tadi menunggu nya,
“Ini laporan nya pak”. Nana menyodorkan beberapa lembar kertas dalam map kepada Wira.
Wira mebuka map itu dan membaca lembar demi lembar isi dari laporan yang dibuat oleh Nana, sambil mengangguk-anggukan kepalanya seakan setuju dengan hasil kerja Nana.
“Good. Saya suka”. Kata Wira dengan ekspresi wajah santai dan tanpa tatapan genit di matanya.
“Terimakasih pak”. Jawab Nana bahagia.
“Oh......sebentar lagi jam makan siang, bagaimana jika kita amakan di luar dan kamu saya traktir”. Kata Wira
sambil melirik jam dinding yang ada di depan nya.
“Jangan menolak dan jangan khawatir, saya tidak akan menggoda kamu lagi. Apakah kamu belum yakin dengan permintaan maaf saya tadi?”. Tanya Wira dengan mengangkat ke dua alis nya.
‘Iya pak”. Jawab Nana
“Alhamdulillah..........., kalau begitu tunggu saya di lobby”.
Nana keluar dari ruangan pak Wira dan kembali ke meja kerja nya untuk mengambil tas kecil miliknya dan menunggu Wira di lobby. Beberapa menit setelah itu, Wira pun datang dan mengajak Nana untuk makan siang bersama.
Nana dan Wira menaiki sepeda motor vixion berwarna hitam, Selama perjalanan mereka terdiam. Nana yang duduk jauh dibelakang Wira dengan tas di tengah-tengah mereka menikmati teriknya mata hari kota Jakarta dengan hembusan angin sepoy-sepoy yang membuat Nana terkantung.
Wira mengendarai motornya dengan penuh kehati-hatian, sambil terus memperhatikan wajah Nana dari lampu spion, sampai akhirnya sifat jail Wira kembali muncul. Wira dengan sengaja ngerem mendadak dan membuat Nana memeluknya dari belakang.
“Astaghfirullah........!”. Nana kaget dan tersadar bahwa kedua tangannya telah melingkar erat di pinggang Wira.
“Maaf, saya mengantuk dan kaget akhirnya saya ngerem mendadak”. Kata Wira.
“Iya, gak apa-apa”.
“Jika kamu mengantuk, pegangan aja”.
“Gak, maaf”. Kata Nana
Akhirnya mereka sampai di rumah makan padang tempat favorit Wira, Wira sering makan di rumah makan padang itu sehingga pelayan rumah makan itu akrab dengan Wira.
“Hai boss, apa kabar?”. Tanya salah satu pelayan laki-laki itu
“Baik....”.
“Sudah lama gak berkunjung?”.
“Biasa, sibuk”.
Wira mempersilahkan Nana untuk duduk di kursi yang berada di depan nya.
“Itu siapa bos? Gebetan baru ya?”. Tanya pelayan itu
“Teman kerja”. Jawab Wira
Pelayan itu mengacungkan kedua jempolnya dan mempersiapkan makan siang buat mereka. Laki-laki itu terlihat lihai melayani para tamu terlebih lagi melayani Wira, tanpa harus bertanya menu kepada nya dan dalam hitungan menit, makana dan minuman tertata di meja depan mereka.
“Mereka tahu banget menu kesukaan mu?”. Tanya Nana heran
“Iya, karena saya sering makan disini. Ayo makan”. Wira menyantap makan siangnya dengan lahap, begitu juga dengan Nana.
“Na, maaf sebelumnya. Mengenai pertanyaan saya waktu itu, tentang pacar kamu, sebenarnya saya ingin tahu apakah kamu sudah punya pacar atau belum?”.
Nana berhenti mengunyah dan sedikit berpikir, dia teringat akan kegagalan yang pernah dia alami. Nana menarik nafas dan berbicara,
“Dulu sempat punya, tapi dia menikah dengan wanita pilihan ibu nya”. Kata Nana
“Berarti sekarang kamu sendiri?”.
“Ya.....begitu lah. Saya sudah males untuk pacaran, usia saya usia untuk menikah bukan pacaran lagi. Maka dari itu saya mencari laki-laki dewasa dan siap untuk menikah”. Jawab Nana.
Wira menganggukan kepala nya sambil terus mengunyah makan siangnya.
“Maaf jadi curhat”. Kata Nana lalu melanjutkan makan siangnya.
“Gak apa-apa. Saya senang kamu bisa cerita sama saya, itu artinya kamu sudah tidak ilfeel lagi”.
Nana tersenyum..............
Nana percaya bahwa Wira memang berubah dan bisa menjadi teman yang baik bagi nya. Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor, bekerja seperti biasanya.
“Terimakasih atas makan siangnya”. Kata Nana lalu segera masuk kantor
“Iya, sama-sama”. Jawab Wira
Setelah Wira memastikan bahwa Nana masuk lobby dan tidak terlihat lagi, Wira teriak dengan lantang dan sangat puas.
“YES!, hari ini curhat, besok pasti jadian. Ternyata mudah sekali mendapatkan Nana”. Kata Wira bahagia