MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 20. Cemburu



            Hubungan Juna dengan Nana makin hari makin terlihat dekat. Mereka selalu terlihat asik, bercanda dan tertawa bersama. Tidak terasa usia perjalanan cinta mereka sudah masuk ke usia satu tahun.


            Nana berpikir untuk serius sampai nikah dengan Juna, namun masih ada hal yang mengganjal dibenak


Nana, yaitu kekurangan Nana. Nana belum berani berkata jujur, tetapi mau tidak mau, Nana harus mengatakannya agar Juna tidak menyesal.


            Nana sangat mencintai Juna begitu juga denga Juna yang sangat mencintai Nana. Nana takut, kekurangannya menjadi jurang pemisah antara dia dengan Juna.


            “Kakak, kakak serius dengan hubungan kita?”. Tanya Nana.


            Juna terdiam, “Kenapa ceng?”. Tanya Juna kembali.


            “Kakak yakin akan membawa hubungan kita sampai pernikahan?”. Tanya Nana lebih serius.


            “Tunggu dua tahun kedepan ya.... Kaka ingin menikah diusia dua puluh tujuh tahun”. Jawab Juna.


            Mendengar jawaban Juna, Nana bahagia dan meng-ia-kannya.


             “Kakak, jika aku......”. Nana ingin berkata jujur, namun....


            “Na, Riyan sakit. Sudah beberapa hari gak masuk”. Kata dosen Nana yang juga mengajar dikelas pagi.


             Kabar itu memukul hati Nana, karena memang Nana sudah beberapa hari ini tidak bertemu atau


mendengar kabar dari Riyan. Nana ingin jenguk Riyan namun tidak enak dengan Rara, Rara pernah cemburu pada Nana karena kedekatan Nana dengan Riyan. Nana mencoba menghubungi Lia, namun Lia sudah pindah ke Bandung. Satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong saat ini adalah Juna.


            Nana menunda pembicaraannya dengan Juna karena harus segera masuk kelas, “Kak, aku masuk ya....”. Pamit Nana.


            “Kakak tunggu di lobby sampai kamu selesai, hari ini aku free”. Jawab Juna. Hubungan mereka


terlihat indah dan baik-baik aja. Sepulang kuliah, Nana meminta Juna untuk mengantar dan menemaninya ke tempat Riyan.


            “Hai, sudah selesai kuliahnya?” tanya Juna.


            “Langsung pulang?”


            Nana berpikir sejenak, sebenarnya dia tidak ingin pulang larut malam akan tetapi dia khawatir dengan Riyan.


            “Kak....”.


            “Kenapa? Ada masalah?” tanya Juna kembali.


            Nana masih tetap tidak berkta-kata, Juna mengajaknya duduk di depan lobby sambil menunggu


kelanjutan dari perkataan Nana. Beberapa menit, Nana masih membisu. Juna memutar posisi duduknya menghadap ke wajah Nana.


            “Neng geulis mau pulang atau mau kemana?” tanya Juna kembali, sambil terus menatap Nana yang


sedang bingung didepannya. Nana memutar badan dan menoleh kearah Juna yang sejak tadi menatapnya penuh dengan rasa penasaran.


            “Antar aku ke rumah Riyan, Riyan sakit kak”. Jawab Nana dengan perasaan khawatir.


            “Udah malam neng,.... hari minggu aja ya”. Bujuk Juna dengan Nada lembut.


            “Riyan sudah empat hari gak masuk kak”.


            “Kalau kakak gak bisa antar, gak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri naik angkot”. Nana sedikit


bernada tinggi dan marah.


            Juna diam, Nana bangkit dari duduknya dan melangkah untuk mencari angkot. Juna memang enggan


mengantar Nana ketemu Riyan, karena Juna merasa Riyan suka dengan Nana.


            “Neng, geulis, cantik....”. Juna memanggil Nana lalu menyusul langkahnya.


            “Juna mengambil helm yang ada diatas motornya, lalu memakaikan pada Nana. Nana tersenyum lebar


dan bahagia ketika Juna memakaikan helm dikepalanya.


            “Nah....., gitu dong. Cantik kan?”.


            “Ayo naik, kakak antar ke tempat Riyan, kakak tungguin, lalu kakak antar lagi sampai rumah kamu”.


Kata Juna.


             Nana mengacungkan ke dua jempolnya tepat di depan wajah Juna sambil membuka lebar senyumnya


sehingga gigi Nana yang berwana putih bersih sedikit terlihat, kemudian naik keatas motor berwarna biru itu.


            Sesampainya mereka di rumah Riyan, Nana melihat Riyan sedang berbaring diatas tempat tidurnya,


dengan infusan yang menggantung di samping Riyan. Nana dan Juna bertemu dengan ibu Riyan dan juga Rara.


            “Hai, neng kok tahu kalau aku sakit?”. Tanya Riyan


            “Tahu dong.... feeling. Kan kita soulmate”. Goda Nana pada Riyan.


            Mereka tertawa barsama begitu bahagia tanpa menghiraukan orang lain yang ada disekitar mereka.


             “Oh, ia kenalin ini Mamah, dan ini Rara”. Riyan memperkenalkan ibu dan juga Rara.


             Nana memberi senyum kepada kedua nya sebagai salam perkenalan. Nana belum pernah bertemu dengan


Rara begitupun sebaliknya. Malam itu, menjadi malam pertama buat merekauntuk saling kenal.


            “Kamu kesini sama siapa?”. Tanya Riyan kembali. Lagi-lagi Riyan lupa kalau sekarang sudah ada


Juna yang selalu siap menemani Nana kemanapun dia pergi.


            “Tuh.... Nana melirik ke arah Juna yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Riyan.


            “Kamu sakit apa?”. Tanya Nana


            “Sakit hati....”. Jawab Riyan spontan.


            Suasana berubah menjadi hening seketika. Nana menoleh kearah Juna dan Rara. Beberapa menit


setelah itu, Riyan tertawa.


             “Bercanda neng, haaa..... kamu baperan”. Kata Riyan sambil terus tertawa.


            “atau....kamu ngarep?”. Lanjut Riyan.


            Celoteh seperti itu memang sering Riyan katakan, mereka selalu berkata kangen satu sama lain ketika


mereka tidak bertemu di kampus. Namun bagi Nana perkataan itu hanya lah rasa sayang Riyan kepada Nana sebagai sahabatnya.


            “Geulis, udah malam. Ayo pulang!”. Ajak Juna. Juna tidak suka dengan gaya bercanda Riyan,


kata-kata Riyan membuat Juna gerah dan ingin segera meninggalkan rumah Riyan.


            Respon Rara pun terlihat tidak bersahabat ketika melihat Riyan bercanda dengan Nana.


            “Aku pulang ya.... semoga lekas sembuh”. Nana pamit pulang.


            Nana beranjak menuju pintu kamar untuk pulang, ketika satulangkah kaki Nana keluar dari pintu


kamar, Riyan memanggilnya.


            “Neng,.....”.


            Nana terhenti dan menoleh kearah Riyan,


            “Hati-hati neng...... I miss you”.


“Jun, anter sampe rumah dengan selamat”. Riyan memperingatkan Juna dengan nada dan wajah angkuh.


            Juna tidak menjawab dan segera keluar dari rumah Riyan, Nana segera menyusul Juna.  Wajah Juna terlihat kesal dan bete melihat Riyan.


            Juna memberikan helm pada Nana dan segera tancap gas, sepanjang perjalanan Juna tidak berkata


apa-apa walapun Nana sedari tadi selalu membuka pembicaraan namum Juna tetap diam.


            “Kakak.... kenapa?”


            “Cape ya?” tanya Nana


            Juna tetap melaju tanpa bicara sedikitpun. Mendengar Nana yang terus merengek dan memaksa Juna


untuk bicara, Juna memarkir motornya di pinggir jalan dan membuka helm.


            “Ini terakhir kali kamu ketemu sama Riyan!”.


            “Aku gak suka sama dia”.


            “Kamu gak merasa kalau Riyan juga suka sama kamu sejak dulu”.


            “Kita sama-sama laki-laki, aku tahu perasaan Riyan sama kamu, neng.....”.


            Juna berkata dengan nada tinggi dan terlihat emosi,


            "Riyan tidak seperti itu kak....".


            "Jika Riyan suka dengan aku, kenapa dia bantu kakak untuk deketin aku?"


            "Riyan juga yang selalu meyakinkan aku bahwa kakak orang yang baik buat jagain aku". Bantah Nana.


            "Terserah!". Bentak Juna


              Suasana kembali hening sesaat setelah Juna membentak Nana. Nana yang masih duduk diatas motor hanya diam dan menundukan kepalanya.


            Nana kecewa dengan sikap Juna yang terlihat sangat aneh dan berubah. Nana sangat mencintai Juna, dia ingin hubungan mereka terus tumbuh sampai akhirnya mereka menikah. Oleh sebab itu, Nana selalu diam disaat berdebat dengan Juna ataupun ketika Juna mulai emosi, dia cenderung mengalah. Selama ini Juna tidak pernah marah ataupun membentak Nana, dia laki-laki yang sangat baik bagi Nana.


             Sikapnya kali ini membuat Nana menjadi takut dengan Juna, Nana sadar bahwa Juna tidak suka dengan


Riyan. Setelah emosi Juna terlihat reda, Nana mulai untuk bicara.


            “Maafin Nana kak, Nana tidak akan menemui Riyan lagi”. Nana bicara dengan nada yang sangat merendah agar Juna tidak terpancing emosi.


            Melihat wajah Nana yang pucat dan Juna seperti menyesal telah berkata dengan nada tinggi padanya.


Juna yang sejak tadi berdiri, lalu menghampiri Nana dan melipat lututnya di depan Nana yang sedang duduk diatas motor.


            “Neng..... geulis..... kakak juga minta maaf ya....”. Juna menatap wajah Nana dengan penuh


kasih sayang. Dia tahu bahwa sejak Juna marah, Nana hanya bisa menundukan kepalanya.


            Nana hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Juna kembali berdiri, memegang kepala Nana


dengan kedua tangannya seakan tidak mengizinkan Nana untuk terus menunduk dan merasa bersalah.


            “Kita pulang.... “. Ajak Juna sambil mengelus kepala Nana.


            Juna naik ketas motor dan menghidupkan mesin, Nana memegang pundak Juna dan berkata, “Aku suka


kalau kakak cemburu tapi aku takut”.


            Mendengar suara Nana yang manja, Juna mematikan kembali mesin lalu berbalik kearah Nana, dan


tersenyum dan melanjutkan perjalanan pulang.