MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 53. Keraguan



Malam itu setelah Nana dan Wira jalan-jalan sore, Nana diantar pulang oleh Wira tepat pukul 9 malam. Seperti biasa nya, Wira hanya mengantar Nana sampai di depan gang. Nana selalu meminta Wira untuk mampir ke rumah, bertemu dengan orang tua Nana, seperti hal nya Rahman, Juna dan juga Affan. Namun Wira selalu menolak dengan seribu alasan.


“Gak mau bertemu dengan ibu bapak saya?”. Tanya Nana


“Hmmmm, lain kali aja ya..... sudah malam”. Jawab Wira dengan sedikit meringis.


“Oh...... ”. Jawab Nana singkat dan terlihat bete dengan jawaban Wira.


“Aku pulang ya....sampai bertemu besok pagi. Selamat beristirahat”. Kata Wira segera meninggalkan Nana.


Nana melihat ada yang aneh pada sikap Wira, “Apa benar dia ingin menikahi aku?”. Gumam Nana ragu dan terus berjalan nenyusuri gang sampai depan rumahnya.


“Assalamu’alaikum...............”.


Nana melihat pintu rumah belum terkunci, Nana masuk dalam rumah dan ada kedua orang tua Nana yang sedang menunggu nya di ruang tamu. Nana meraih tangan kedua orang tua nya.


“Baru pulang Na?”. Tanya ibu.


“Iya bu”. Jawab Nana singkat sembari berjalan menuju kamar nya.


“Setelah bersih-bersih, makan, lalu istirahat ya sayang.................”. Teriak ibu.


“Iya bu........”. Jawab Nana dari dalam kamar nya.


Ibu mengunci pintu dan mematikan TV lalu beranjak ke kamar bersama bapak. Nana duduk di pinggir tempat tidur  dan masih merasa aneh dengan sikap Wira dan sedikit ragu tentang perkataan nya waktu itu.


“Bagaimana bisa dia ingin menikahi aku, jika bertemu dengan orang tua ku saja, dia seperti tidak berani dan selalu menghindar”. Pikir Nana


“Kring.......kring............kring”. Suara dering handphone Nana mengagetkan nya.


Nana melihat panggilan masuk dari Wira,


“Halo, Wira”. Sapa Nana


“Halo, terimakasih atas waktu nya sore tadi”.


“Oh, iya sama-sama. Sudah dulu ya, saya mau bersih-bersih. Selamat malam”.


“Tut.....tut.....tut.....”. Nana memutus telepon nya.


Nana membersihkan badan nya lalu segera istirahat karena jam sudah pukul sebelas malam dan besok dia harus bangun pagi untuk bekerja.


“Kring..............................!!!”. Suara alarm mengagetkan Nana yang masih merasakan kantuk karena tidur larut malam.


Tangan Nana meraih waker yang ada di atas meja belajarnya dengan mata tertutup rapat karena sulit untuk di buka. Nana meraih waker tersebut dan mematikan nya kembali dan tertidur lelap. Tiga puluh menit dari suara alarm tersebut, ibu mengetuk pintu kamar Nana dan membangunkan Nana karena jam dinding sudah menunjukkan pukul


5.15 pagi.


“Na......bangun sayang. Nanti kesiangan loh......”. Suara ibu berhasil membuat Nana membuka kedua matanya.


Nana membuka mata lebar-lebar dan melihat jam yang berada di tembok dekat pintu.


“Ya ampun...........!!!! Aku belum sholat subuh”.


Nana segera turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi serta melaksanakan sholat shubuh. Setelah Nana selesai beres-beres, Nana segera menuju meja makan untuk sarapan.


“Kenapa sayang..............?”. Tanya ibu sambil mempersiapkan sarapan.


“Kamu terlalu capek seperti nya, makanya kesiangan”. Tambah ibu dan duduk di samping Nana menemani sarapan.


“Oh iya, ibu boleh tanya sesuatu?”. Tanya ibu dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


“Iya bu”. Jawab Nana sambil terus mengunyah


“Ibu denger dari abang-abang ojek depan gang. Katanya setiap pagi kamu di jemput sama laki-laki, dan pulangnya di antar juga ya?”.


Nana tersendak mendengar pertanyaan ibu,


“Iya bu”.


“Dia siapa? Teman atau pacar?”. Tanya ibu kembali


“Teman di kantor bu”.


“Kenapa tidak di suruh jemput dan mengantar ke rumah saja. Ibu gak enak, kamu di bicarakan banyak orang”.


“Nana minta maaf bu. Nana janji itu yang terakhir”.


Nana meneguk air yang ada di depan nya, lalu berpamitan pergi.


“Na................jika laki-laki itu baik, dia pasti akan datang menemui mu di sini dan meminta izin pada ibu dan bapak”.


Kata-kata ibu mengehentikan langkah Nana yang sudah berada di depan pintu. Nana segera mengeluarkan handphone nya dan mengirim pesan singkat via whatsapp pada Wira.


“Mulai hari ini jangan jemput atau antar aku pulang”. Kata Nana dalam whatsapp.


“Nana berangkat ya bu............”. Nana berpamitan kembali dan segera mencari ojek yang biasa ada di gang depan.


Dari kejauhan Nana melihat Wira yang sudah stand by di depan gang menunggu kehadiran Nana. Nana tidak


mau lagi menghiraukan Wira, dia terus berjalan setengah berlari tanpa menoleh pada Wira yang dia lewati.


 “Na......Nana.......tunggu”.


Suara Wira tidak lagi di dengar oleh Nana, Nana segera menaiki ojek yang ada di depan gang. Wira pun segera tancap gas dan mengejar ojek yang dinaiki oleh Nana sehingga membuat mereka saling kejar-kejaran sampai depan kantor.


Sesampainya di kantor, Nana segera berlari menuju lobby, dan Wira berhasil meraih tangan Nana dan menghentikan nya.


“Kamu ini kenapa sih?”. Tanya Wira dengan nada kesal


“Kamu yakin bahwa kamu mencintai dan ingin menikahi aku?”. Tanya Nana tegas


“Bagaimana bisa aku percaya dengan keseriusan mu jika kamu saja belum berani bertemu dengan keluarga ku”.


“Kamu mau bukti apa lagi agar kamu percaya bahwa aku sayang dan siap menikah dengan mu”. Wira meyakinkan Nana


“Jika perkataan mu benar. Temui keluarga ku dan lamar aku di depan mereka”. Pinta Nana pada Wira


“Itu pasti tapi tidak secepat itu. Sabar ya..... please”.


Nana meninggalkan Wira dalam kegelisahan, Nana merasa bahwa Wira tidak sungguh-sungguh mencintai nya, dan segera masuk ke ruangan nya dan kemudian di susul oleh Wira yang masuk ke dalam ruangan nya. Mereka kembali ke meja kerja masing-masing dan di ruangan masing-masing.


Jam 12 siang, Nana meminta supir kantor untuk mengantarnya pulang karena badan nya mendadak demam tanpa


meminta izin pada Wira sebagai kepala guide. Wira yang masih bingung dengan sikap Nana dan kepikiran dengan perkataan Nana, mencoba menghubungi Nana untuk makan siang bersama, namun panggilannya selalu di reject oleh Nana. Akhirnya, Wira mencoba untuk menemui Nana di ruangan nya.


“Nana kemana Yu?”. Tanya Wira pada Ayu yang satu ruangan dengan Nana.


“Nana pulang pak, badan nya deman”. Jawab Ayu


“Pulang? Sama siapa?”. Di antar pak Ateng


“Terimakasih Yu”. Wira segera meninggalkan ruangan Nana dan kantor untuk menyusul Nana.


Wira mengambil ponselnya yang berada di saku jeans nya dan menghubungi pak Ateng.


“Halo pak Ateng”


“Iya pak”.


“Bu Nana kenapa pak?”.


“Demam, badan nya panas dan menggigil”.


“Bawa dia ke rumah sakit terdekat”.


Suara Wira terdengar sangat khawatir terhadap Nana


“Tapi bu Nana meminta saya untuk mengantarnya pulang ke rumah”.


“Antar dia ke rumah sakit terdekat dan saya segera ke sana”.


“Baik pak”.


“Ok, terimakasih”.


Nana yang sudah sangat lemas tak berdaya, hanya tergeletak di kursi mobil bagian belakang tanpa berkata apa-apa.


Wira segera mengeluarkan vixion nya dari parkiran dan menuju rumah sakit terdekat yang dia bicarakan pada pak Ateng di telepon. Pak Ateng membawa Nana ke ruang IGD agar segera mendapatkan penanganan medis.


Wira sampai di rumah sakit sepuluh menit setelah Nana masuk IGD, dia melihat pak Ateng yang sedang duduk di depan ruang IGD menjaga Nana.


“Pak, bagaimana keadaan bu Nana?”. Suara Wira tergesa-gesa dan sangat panik.


“Kata dokter Cuma kecapean pak. Sekarang ibu Nana sedang istirahat, dan sebentar lagi akan di pindah ke ruang perawatan’.


“Iya, terimakasih pak. Bapak balik ke kantor pakai motor saya aja, biar mobilnya nanti saya yang bawa dan ini kunci motor nya”.


“Baik pak”. Jawab pak Ateng dengan menundukan kepalanya.


“Terimakasih dan hati-hati”.


Wira menemui dokter jaga yang ada di ruang IGD tersebut.


“Dokter, saya pacar pasien atas nama Nana. Bagaimana keadaan nya?”. Tanya Wira


“Alhamdulillah semua nya stabil, bu Nana hanya kelelahan aja”.


“Bapak tidak perlu khawatir”.


Setelah Wira mengurus semua biaya rumah sakit, Wira duduk di samping Nana yang masih berbaring lemas di atas tempat tidur pasien. Tangan Wira menggenggam tangan Nana menunggu Nana membuka mata nya.


“Wira?”. Suara Nana lirih dan masih sangat lemas.


Nana menarik tangan nya dari genggaman Wira


“Kenapa kamu bawa aku ke sini?”. Tanya Nana


“Karena aku sayang kamu. Aku ingin kamu percaya bahwa aku serius mencintai mu”. Wira mendekatkan wajahnya pada Nana.


Nana memalingkan wajahnya,


“Hai...... please.....percayalah pada ku Na”. Wira mengembalikan pandangan Nana kepadanya.


“Aku hanya butuh waktu untuk menemui orang tua mu. Please......”.


“Aku tidak mau kecewa untuk yang kesekian kali nya”.


“Aku janji, aku berbeda dengan mereka dan aku janji tidak akan membuat kamu kecewa”.


“Please......aku mohon, percaya lah pada ku Na”.


Wira terus mengeluarkan kata-kata melas dengan ekspresi sedih dimatanya, namun sebenarnya Wira buka tipe laki-laki yang mudah bersimpati dengan perempuan. Dia biasa memasang wajah seperti itu kepada semua wanita yang ingin di jadikan pacarnya, namun tidak ada satupun yang berakhir di pelaminan bersama Wira. Hubungan mereka pun sering kandas di tengah jalan dan Wira yang selalu meninggalkan pacarnya begitu saja setelah dia capek bermain-main dengan hati nya.


 Bagi Wira mendapatkan perempuan itu sangat mudah apalagi dia yang selalu bangga jika memiliki kekasih lebih dari satu dan bangga jika dia diperebutkan oleh wanita. Gaya dan cara Wira menaklukan hati wanita bisa dikatakan sama dan cara itu yang selama ini membuat Wira berhasil membuat hati wanita hancur dan kecewa.


Apakah kali ini Wira benar-benar suka dengan Nana atau hanya sebatas iseng-iseng saja seperti sebelum nya?


Bersambung..................