MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 19. Surat Cinta



            Malam itu menjadi malam spesial buat Nana, malam yang membuatnya bahagia, penuh cinta dan kata-kata indah yang ada pada selembar kertas yang disebut surat cinta.


            Semua perempuan pasti sangat bahagia ketika cintanya terbalaskan oleh sang pujangga hati, Juna memberanikan diri mengatakan semua isi hatinya, sikap dan tingkah laku Juna meyakinkan Nana untuk


berlabuh padanya.


            Setiap malam, Nana selalu membuka surat itu dan membacanya serta meletakannya diatas dada sebagai selimut yang menghangatkan tubuhnya. Perasaan Nana pada Juna jauh lebih kuat dari pada perasaannya pada Rahman, si duda keren waktu itu.


            Bagi Nana, Juna seperti Romeo yang membuatnya bagaikan Juliet, Juna memang orang yang cuek namun dia pandai berkata-kata romantis yang membuat Nana semakin mealmbung tinggi diatas awan-awan cinta.


            “Na, sudah baca surat itu?”. Tanya Juna saat bertemu Nana di kampus


            “Ya”. Jawab Nana tersipu malu dengan wajah merah jambu


            “So, jawabannya?”. Tanya Juna kembali


            “Yes!”. Jawab Nana singkat sambil membuka lebar senyumnya pertanda bahwa dia sangat bahagia.


            “Oh...God. thanks”. Teriak Juna penuh rasa bahagia.


            Riyan melihat kebahagiaan mereka, melihat Juna dengan Nana. Riyan seperti orang yang patah


hati. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Riyan tahu bahwa dia sangat menyayangi Nana, namun Riyan tidak tahu rasa sayang apa yang dia rasakan selama ini. Disisi lain, ada Rara yang sudah mengisi hati nya.


            Kali ini, Riyan mengalah. Riyan tak lagi bersama Nana, tidak menemani nya pulang walaupun hanya


sampai terminal karena Juna selalu ada disampingnya. Juna yang selalu siap menemani dan mengantar kemanapun Nana pergi. Juna yang selalu siap menjaga, menghibur dan Nana. Bagi Nana, Juna adalah kebahagiaannya.


            Juna adalah pacar dan cinta pertama bagi Nana, dia laki-laki yang cerdas dan ambisisus, Nana


belajar banyak hal dari nya. Semenjak mereka jadian, mereka selalu belajar bersama, bahkan mereka seperti selebriti kampus yang sangat populer waktu itu.


            Setiap jam kuliah selesai, Juna selalu menunggu Nana di lobby bahkan jika Juna sedang tidak ada


jam kuliahpun, Juna selalu menyempatkan diri untuk menjemput Nana dan mengantar sampai rumah, memastikan bahwa Nana baik-baik saja.


            “Kak, aku boleh minta sesuatu?”. Tanya Nana dengan suara manjanya.


            “Ia, apa yang bisa aku berikan untuk nona manis seperti kamu?”. Goda Juna.


            Juna selalu berkata-kata manis pada Nana dan Nana senang diperlakukan seperti itu.


            “Bisakah kakak merubah penampilan agar terlihat lebih muda?”. Tanya Nana kembali sambil


mendekatkan wajahnya didepan wajah Juna.


            Mendengar pertanyaan itu, Juna kaget. “Oh....ini artinya aku terlihat tua?”. Tanya Juna kembali. Nana hanya bisa membalas pertanyaan Nana dengan tertawa karena tidak dapat dipungkiri bahwa penampilan Juna terlihat sangat tua dengan celana cutbray itu”.


            Itu lah yang membuat Nana merubah penampilannya, Nana menyukai Juna bukan hanya dia


laki-laki cerdas namun dia laki-laki yang rapi, Juna selalu memasukan kemeja yang dia pakai, selalu beramput pendek bahkan dia laki-laki yang bebas dari rokok. Nana suka dengan laki-laki yang rapi, Juna seperti laki-laki yang sangat sempurna buat Nana.


            Juna sudah menunggu Nana di lobby lengakp dengan pakaian kemeja yang selalu ia kenakan. Penampilan


Juna berubah dari sebelumnya, Juna yang dulu sering mengenakan celana cutbray sekarang tidak lagi, karena dia tahu bahwa Nana tidak menyukai style itu.


            Juna melihat Nana sedang berjalan dianak tangga, menapaki anak tangga satu persatu dengan perlahan dengan senyum manis yang selalu ia perlihatkan pada Juna dan membuat Juna semakin tak berdaya. Juna yang sedang duduk di sofa lobby tiba-tiba langsung bankit melihat pujaan hatinya datang menghampiri nya..


            “Hai....”. Juna melambaikan tangannya pada Nana. Juna selalu terlihat gugup dan bertingkah aneh setiap kali dia bertemu Nana. Dia merapihkan pakaiannya kembali padahal tidak kusut, dan dia merapihkan rambutnya wlwupun tidak berantakan.


            “Hai....”. Nana membalas lambaian tangan Juna.


            “Ko terlihat nervous?”. Tanya Nana penasaran


            “Oh, ya? Entah lah, setiap ketemu kamu selalu nervous”. Jawab Juna.


            “Siap pulang atau mau jalan dulu?”.


            “Pulang aja kak, nanti ngobrolnya di rumah aja ya.....”. Jawab Nana.


            Nana memang tidak pernah mau jika diajak jalan dengan Juna. Pertemuan mereka hanya ada pada dua


tempat, yaitu kampus dan rumah. Nana lebih suka jika Juna datang ke rumah, ngobrol bersama keluarganya dibanding dengan jalan kesuatu tempat berdua.


            “Dengan senang hati, gadis cantik”. Jawab Juna


            “Mana Riyan?”. Tanya Juna karena semenjak mereka jadian, Riyan tak lagi ada disamping Juna. Nana hanya mengerutkan dahinya pertanda bahwa dia tidak tahu.


            “Hmm...., mungkin Riyan sedang pergantian shift di perusahaannya sehingga dia masuk kelas pagi”. Jawab Nana.


            Juna mengagguk-anggukan kepalanya lalu membukakan pintu lobby dan mempersilahkan Nana keluar.


            Ada satu hal yang membuat Nana suka dengan tingkah laku Juna, Juna selalu memanggil dia dengan


sebutan cantik. Juna sangat pandai membuat hati Nana melayang tinggi dan membuat Nana tersenyum.


            Perlakuan Juna terhadap Nana memang sangat berlebihan, mungkin itu gaya dia memperlakukan orang yang dia sayang.


             Beberapa menit Juna dan Nan pergi, Riyan datang ke kampus mencari Nana. Sudah dua minggu semenjak


            “Hai, kalian lihat Nana?”. Tanya Riyan kepada teman-teman yang masih ada di lobby dengan suara


tergesa-gesa. Riyan seperti mengejar waktu dari tempat dia bekerja menuju kampus, hanya untuk bertemu dengan Nana.


            “Sudah pulang sama Juna”. Jawab salah satu mahasiswa.


            “Hmm...sudah ku duga. Lantas, kenapa aku masih mencari dia ya?”. Tanya Riyan dalam hati dengan


wajah meyesal.


            “Ok. Bye”. Jawab Riyan dan kembali keluar lobby.


            Riyan duduk di kursi depan kampus, seperti mencari energi untuk melanjutkan perjalanannya. Beberapa


menit setelah itu, Riyan berjalan menuju pedagang yang ada di pinggir jalan sebrang kampus.


             Riyan dan Nana sering beli gorengan di depan kampus, kali ini Riyan beli sendiri dan untuk dimakan sendiri. Riyan teringat saat Nana masih bersamanya. Banyak kenangan yang mereka lakukan bersama.


             “Ah....bodoh, bodoh, bodoh”. Riyan bicara sendiri pada dirinya penuh dengan rasa kesal.


            Riyan menarik nafas menenagkan dirinya. “Ok, fine. She is happy now”.


            “Nana itu baik-baik aja, dia sudah mendapatkan orang yang tepat. Kenapa harus dipikirkan?”. Riyan terus


bicara pada dirinya sendiri.


            Riyan terdiam dan mengambil handphone nya. Dia mencari nama Nana lalu mencoba untuk menghubungi


nya.


             “Kring....kring....”. Nana segera mencari suara dering handphone yang ada didalam tas nya.


            “Halo.... Yan. Ada apa?”. Tanya Nana.


            “Hai, halo.... lagi dimana?”. Tanya Riyan dengan suara terdengar bahagia saat dia mendengar suara


Nana.


            “Lagi di jalan, mau pulang”. Jawab Nana.


            “Pasti sama Juna?”. Tanya Riyan kembali.


            “Ia, kenapa?”.


             Mendengar jawaban Nana, Riyan langsung mematikan handphone nya. Dia sudah tahu kalau Nana pulang


bersama Juna, namun hati Riyan yang memaksa dirinya untuk selalu telp agar tahu kabar Nana.


             Juna memperlambat laju sepeda motornya agar dia bisa ngobrol dengan Nana. “Dari Riyan?”. Tanya Juna.


            “Ia kak”.


            “Bilang, lagi pacaran. Jangan ganggu”. Goda Juna sambil terus melajukan motornya.


            Nana hanya bisa tersenyum manja mendengar perkataan Juna.


             "Cantik, kseandainya Riyan suka kamu, gimana?”. Tanya Juna dengan nada sedikit serius.


            “Ha?, suka aku?”


            “Gak mungkin kak...., kalau Riyan suka.. Kenapa kakak yang nembak aku?” tanya Nana kembali.


            “Aku cuma anggap Riyan sahabat terbaik ku, lagi pula Riyan sudah punya Rara sebelum kenal dengan aku”. Jawab Nana kembali.


            “Kenapa kamu terima kakak?” tanya Juna.


            Nana memukul Juna dari belakang dengan bukunya, karena tanpa jawaban Nana pun, Juna sudah tahu


jawabannya.


            “Kata-kata di surat itu romantis loh”. Nana melanjutkan perkataanya seakan tidak mau membahas Riyan.


            “Surat yang mana?”


            “Kakak gak pernah kirim surat sama siapapu, apalagi surat cinta”.


            “Itu yang kakak kasih ke aku apa?” tanya Nana dengan nada kesal.


            “Oh.... itu dapet dari pedagang, waktu kakak beli gorengan”. Juna tertawa lebar.


             Nana terdiam.....


            “Jadi gara-gara surat itu kamu terima kakak, ya?” Goda Juna.


Juna selalu menggoda Nana dengan kata-kata romantis dan ajailnya agar Nana terus tersenyum dan nyaman bersamanya.