MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 87. Perjalanan Menuju Jakarta



Imam adalah salah satu teman sekelas Nana di kampus, dia termasuk laki-laki cuek, acuh, pendiam dan cenderung dingin. SelamaNana mengenalnya di kampus dulu, Nana tak banyak bicara dengan Imam bahkan Imam seperti nya tidak termasuk kedalam teman bagi Nana. Namun kali ini, Imam yang banyak dinilai sebagai laki-laki cuek,


angkuh, pendiam dan juga dingin, menunjukan keseriusan nya pada Nana.


Setelah peluncuran emoticon love nya berhasil dan mendapat lampu hijau dari Nana, Imam pun melanjutkan niat baiknya dengan menemui keluarga Nana di Jakarta. Imam melakukan perjalanan dengan estimasi waktu 23 jam  dari kota Malang menuju Jakarta dengan menggunakan bus Damri.


Perjalanan tersebut sebenarnya bisa menggunakan kereta, lebih cepat dan juga lebih murah akan tetapi tiket kereta tidak dapat dibeli mendadak, sehingga Imam memilih menggunakan bus.


Selama perjalanan, Imam cukup menikmati pemandangan sore hingga malam, perjalanan Imam berawal dari kota Malang, kemudian melewati Blitar, hingga Jakarta.


Ditengah perjalanan, sekitar menjelang maghrib bus yang di tumpangi Imam mengalami kecelakaan, ban belakang pecah sehingga membuat semua penumpang bus terdampar di pinggir jalan, tepatnya di daerah Solo dan menunggu bus lain nya datang untuk mengevakuasi penumpang. Pada akhirnya, setelah lebih dari 2 jam, pertolongan pun datang.


Bus pengganti yang mengevakuasi penumpang, nampaknya tidak dapat mengantarkan mereka menuju Jakarta, namun hanya mengantarkan penumpang sampai terminal Solo, dan meminta agar penumpang bersabar menunggu bus berikutnya. Beberapa jam sudah berlalu dan bus pengganti tak kunjung datang, sehingga mengharuskan semua penumpang untuk bermalam di terminal Solo sampai bus pengganti benar-benar datang dan membawa


mereka ke tujuan semula, yaitu Kota Jakarta.


Perjalanan Imam menuju Jakarta hanya berbekal tas ransel hitam lusuh, kemeja hijau yang warna nya pun sudah pudar dan celana hitam, serta kemeja dan celana pengganti yang ada di tas ransel nya, dan uang sebesar lima ratus ribu rupiah, bekal untuk 2 hari dan untuk beli tiket pulang ke Malang.


Namun, manpak nya malam itu Imam mengalami nasib yang kurang baik. Ketika dia sedang tertidur lelap, ransel yang ia bawa pun raip di gondol pencuri dan Imam baru menyadari bahwa ranselnya tidak ada ketika subuh tiba. Imam terduduk lemas di mushola terminal, bingung harus berbuat apa. Apa yang harus dia lakukan, semua


bekal nya raip tak tersisa, sementara perjalanan menuju Jakarta masih sangat panjang.


“Nunggu bus pengganti juga ya nak?”. Tanya salah satu penumpang pada Imam yang masih menundukan kepala nya di kedua lututnya.


Imam mengangkat kepala nya dan melihat kearah bapak-bapak yang sedang duduk di sampingnya.


“Iya pak”.


“Mau ke Jakarta juga?”. Tanya bapak itu kembali


“Enggih pak. Kalau bapak mau ke Jakarta juga?”. Tanya Imam


“Iya. Oia, sampeyan dari mana?”.


“Malang pak”. Jawab Imam


“Oh.........mau kerja di Jakarta ya?”.


“Mau ke kerja, tetapi semalam saya kecopetan pak. Ransel dan isi nya hilang termasuk dompet”.


“Astaghfirullah.................. oia nak, ini di makan, kebetulan saya di bekali roti oleh anak saya”. Sambil mengeluarkan


roti dari dalam tas.


“Terimakasih pak, gak apa-apa”.


“Jangan menolak rezeki, itu tidak baik. Ayo diambil, lumayan buat ganjal perut. Perjalanan masih jauh loh”. Bapak itu terus menyodorkan roti pada Imam.


“Baik pak. Terimakasih”. Imam mengambil roti tersebut dan memakan nya.


“Saya asli Jakarta, kebetulan anak-anak saya ikut suami tinggal di Surabaya, dan istri saya sudah meninggal beberapa tahun lalu, jadi pekan lalu saya berkunjung ke anak-anak saya karena sudah lama sekali tidak bertemu”. Sambil mengunyah roti yang ada di rongga mulut nya.


“Persiapan, bus pengganti menuju Jakarta sebentar lagi sampai. Harap penumpang agar bersiap-siap”. Suara toa terdengar jelas ditelinga Imam.


“Alhamdulillah................. Ayo kita siap-siap”. Ajak bapak itu


“Mari nak, duduk di samping bapak”. Laki-laki tadi mengajak Imam untuk duduk dengannya dan Imam


pun duduk di sebelah bapak itu.


Semua penumpang melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan hati bahagia karena terlihat di mata mereka ada rasa rindu yang sangat mendalam untuk keluarga, teman atau mungkin pekerjaan. Sedangkan Imam, rasa bahagia yang ia rasakan adalah ingin segera menemui Nana dan keluarga nya. Imam dan bapak itu, saling bertukar


cerita selama perjalanan. Mereka terlihat sudah mulai akrab.


“Kamu kerja apa di Jakarta?”. Tanya bapak itu


“Hmmmm, mohon maaf pak. Sebenarnya, tujuan saya ke Jakarta bukan untuk bekerja”. Jawab Imam


“Oh.............., kamu masih kuliah to. Kuliah dimana, jurusan apa dan semester berapa?”.


Imam tersenyum..............


“Bukan juga pak”. Jawab Imam sedikit agak malu


“Lah terus, sampeyan arep opo?”.


“Saya ingin menjemput jodoh saya pak”. Imam tersipu malu


“Oalah...............kangen karo bojo mu, iyo?”.


“Bukan pak. Dia bukan pacar saya, tetapi teman waktu kuliah dulu dan setelah lulus kuliah, bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu dan berkomunikasi. Sekarang, Allah mempertemukan kembali melalui facebook, dan saya berniat pertemuan ini menjadi pertemuan yang sangat indah dan berakhir pada pernikahan”. Jawab Imam


“Hebat kamu lek. Lanjutkan!”. Sambil menepuk-nepuk punggung Imam


Bapak itu terlihat megambil sesuatu dari kantong celana nya, beliau mengeluarkan dompet hitam dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompet nya.


“Ini buat bekal di Jakarta”. Bapak itu menyelipkan uang pada kantong jaket Imam


“MasyaAllah................gak usah pak. InsyaAllah, sesampainya di Jakarta, saya akan menelepon bulek saya. Alhamdulillah hanphone masih aman di kantong”. Jawab Imam merasa tidak enak.


“Gak apa-apa. Ambil saja. Sukses ya................semoga gusti Allah memudahkan segala urusan mu”.


“Aamiin. Terimakasih pak, doa yang sama untuk bapak”.


“Iyo..........iyo............. yasudah. Istirahat, agar sesampai nya di Jakarta kamu bisa fresh”.


Bapak itu memejamkan mata nya dan beristirahat, sedangkan Imam tak henti nya berdo’a dalam hati untuk kebaikan bapak tersebut.


“Terimakasih ya Allah, atas segala pertolongan mu”.


“Mungkin ini cara Allah untuk mempertemukan kita Na”. Gumam Imam dalam hati dan Imampun memejamkan kedua mata nya untuk beristirahat.


Perjalan Imam menuju Jakarta berjalan lancar, namun ada bumbu-bumbu manis yang menguji kesabaran selama perjalanan akan tetapi bagi Imam, itu merupakan kerikil kecil untuk mendapatkan kebahagiaan besar bersama Nana di kemudian hari.


 Pukul 7 pagi, Imam sudah sampai di Jakarta. Estimasi waktu yang sebelumnya 23 jam, menjadi 48 jam atau kurang lebih 2 hari, 2 malam perjalanan. Waktu yang sangat lama dan panjang serta sangat melelahkan, namun semangat Imam untuk membuktikan niatnya tidak luntur hanya dengan lama nya perjalanan. Bagi Imam, jodoh itu


rezeki dan rezeki harus diperjuangkan.