MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 15. Ada cinta



            Sejak kejadian malam itu, Nana mulai merubah mindsetnya terhadap Mr. Juna, Nana yang awalnya sangat ilfil akan tetapi kini berubah menjadi kagum kepada Mr. Juna


            “Juna, tinggi, item, cuek, angkuh, menyebalkan, tapi..............dia pintar bahkan sangat pintar dan baik juga”.


Kalimat itu yang selalu dia ucapkan sebelum tidur, yang membuat dia senyum-senyum tanpa alasan.


            Jam waker di atas meja belajar Nana sudah berbunyi, menandakan bahwa hari sudah pagi, suara adzan sudah berkumandang terasa dekat di telingan Nana. Nana segera bangun dari tidurnya, merapikan semua sudut kamarnya, mulai dari meja belajar, kasur, lantai, dan sebagainya.


            Nana bergegas mempersiapkan dirinya mulai dari mandi, sholat, sarapan dan sebagainya. Hari itu Nana memakai kaos panjang selutut berwarna (light blue) biru muda, lengkap dengan jilbab biru muda dengan motif bunga serta bros kupu-kupu di bahu sebelah kiri, serta rok  dan sepatu teplek berwarna hitam.


            Nana tidak cantik, namun tidak juga membuat bosan orang yang memandangnya, terutama laki-laki.


Suara dan kelakuannya yang manja, kadang terlihat bodoh membuat dia semakin menggemaskan, wajar saja jika Riyan dan Lia sangat sayang padanya. Bahkan mereka memperlakukan Nana seperti anak bungsu.


            Pakaian yang dikenakan Nana memang selalu berwarna cerah, secerah orangnya. Bagi Nana warna


pakaian dapat merubah mood seseorang, dia selalu mengenakan pakaian dengan warna cerah karena dia ingin hari-harinya menjadi cerah, dan dapat membuat orang didekatnya menjadi cerah.


            Hari ini, anak-anak libur sekolah dikarenakan tanggal merah, sehingga Nana bebas dari kerjaan. Akan


tetapi, Nana memang anak yang sangat aktif, keseharian dia selalu dilakukan dengan hal-hal positif sehingga bagi Nana libur ataupun tidak, itu sama saja.


            Tanggal merah kali ini, dia isi dengan kegiatan kampus bersama mahasiwa lainnya. Nana dan teman-temannya aktif dalam kegiatan bakti sosial yang diadakan sebulan sekali setiap tanggal merah tiba.


            Bakti sosial yang dilakukan oleh Nana dan teman-temannya bukan berati dikarenakan ada bencana alam, akan tetapi kegiatan rutin ini mereka lakukan hanya untuk berbagi nasi bungkus dengan orang-orang yang membutuhkan yang mereka temui di pinggir jalan atau di pinggiran kota.


            Saat itu, semua mahasiswa bergabung dari berbagai jurusan, tidak ada istilah senior ataupun junior, tentunya hanya mahasiswa yang aktif dalam kegiatan bakti sosial ini saja, karena semua mahasiswa bebas memilih kegiatan yang mereka inginkan, apalagi mereka semua kelas karyawan.


            Pihak kampus tidak pernah membebani mahasiswa dengan kegiatan diluar jam perkuliahan. Keinginan


mereka untuk kuliah ditengah-tengah kesibukannya saja, sudah bisa dikatakan hebat. Mereka dapat membagi waktu mereka antara belajar dengan dunia kerja, belum lagi dengan urusan pribadi mereka.


            Dalam kegiatan bakti sosial kali ini, Nana satu kelompok dengan Riyan dan Juna, serta beberapa


temannya dari jurusan lain. Mereka ditugaskan untuk membagikan nasi bungkus di sekitar pasar induk.


            Saat itu, Juna yang mengenakan kaos hitam yang ditutupi oleh jas almamater kampus berwarna biru


dongker lengkap dengan celana panjang berwarna hitam serta sepatu olah raga, membuat Juna terlihat santai namun tetap cool. Dia tak banyak bicara, hanya sesekali menyapa Nana jika perlu.


            “Ssstttt......sssttt..... itu di belakang mu”. Suara Riyan mengarah kepada Nana yang tidak jauh darinya.


Nana menoleh kearah Riyan, sambil memberi kode bahwa dia tidak mendengar suara Riyan.


            Riyan menggerakan matanya kearah Juna yang berada persis di belakang Nana.  Nana mengikuti arah mata Riyan, dia menoleh ke belakang dan ada Juna yang sedang berdiri memandang Nana sejak beberapa


menit yang lalu.


            “Hai....Kak Juna, sedang apa?”. Tanya Nana dengan tingkah yang menggemaskan serta senyum manis di


bibirnya.


            “Oh....gak apa-apa, lanjut ya....”. Juna terlihat malu ketika Nana menyapanya, dia pun segera pergi


meninggalkan Nana dengan Riyan. Juna berada beberapa meter dari Nana dan Riyan, akan tetapi diam-diam Juna memperhatikan Nana dengan tatapan yang berbeda.


            "Nana sebenarnya manis dan lucu juga". Puji Juna dalam hati, sambil tersenyum.


            "Woy....bengong aja!". Sapa teman Juna.


            Juna yang sedang senyum memperhatika Nana tiba-tiba kaget mendengar suara disebelah kanan telinganya.


            "Astaghfirullah....., gak ada apa-apa. Yuk....lanjut lagi kerja". Juna segera mengalihkan pandangannya dan fokus pada kegiatan baksos nya itu.


            “Wow....amazing!”


            “Beberapa minggu yang lalu ada yang sangat bete dan menyebalkan karena pria item itu, sekarang


sepertinya ada yang.....”. Riyan berkata dengan suara lantang dengan wajah mengarah keatas langit.


            “Centil!”. Riyan kembali teriak dan sekarang wajahnya menoleh pada Nana.


            "Siapa yang centil?" Jawab Nana


            "Itu pandang-pandangan, senyum juga". Balas Riyan.


            "Siapa?" Tanya Nana bingung


            "Mr. Juna mu sedari tadi pandangin kamu terus sambil senyum-senyum".


            "Tuh.....lihat disana". Jawab Riyan bernada kesal.


             “Kamu kenapa sih, neng?” Tanya Riyan


             “Oh.... I see. Jangan bilang kalau kamu suka sama dia, bahkan kalian sudah jadian”. Riyan penasaran.


             “Panas....., ke kampus aja yuk... adem, bisa istirahat sambil cerita”. Rayu Nana pada Riyan yang sedari tadi muka jailnya berubah jadi asam dan jutek.


            Nana dan Riyan masih asik mengobrol sambil duduk dibawah pohon dan minum es teh manis. Wajah


Riyan hari ini terlihat berbeda setelah dia melihat Nana melemparkan senyuman manisnya pada Juna.


            Riyan masih saja terdiam dan terlihat bete. “Yan....dia itu orangnya baik juga loh, dia tidak seperti


yang aku pikir”. Nana mencoba menjelaskan pada Riyan.


            “Kamu suka?”. Tanya Riyan ketus


            “Hmm..... dia nya aja gak suka aku, bagaimana aku bisa suka sama dia”. Jawab Nana.


            “OK. Fix, berarti jika dia suka, kamu juga suka. Gitu?” Riyan masih bernada ketus sambil menghabiskan es teh manis yang ada didepannya.


            Mereka saling diam, bisu seribu bahasa. Nana tak lagi ingin membahas Juna, begitupun dengan Riyan.


Riyan memang dari awal tidak suka dengan Juna karena sikapnya yang terlihat angkuh dan cuek, bahkan mereka tidak saling menyapa jika bertemu dikampus.


            “Kamu kan tahu Yan, aku ini di vonis MRKH, aku gak sempurna. Mana mungkin ada laki-laki yang mau


dengan ku, apalagi laki-laki cerdas seperti Juna”. Nana mulai bicara dengan nada sedih dan pandangan kosong kedepan.


            “Aku pernah gagal soal cinta dan itu karena MRKH. Jadi aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri


hanya karena hati”.


            Riyan masih terdiam dan fokus pada perkataan Nana, dia merasa bersalah karena dia tak bermaksud


mengingatkan Nana tentang MRKH nya itu. Riyan yang sedang duduk disamping Nana, memutar posisi duduknya dan mmenghadapkan dirinya di depan Nana.


            “Hei....Neng, gak bermaksud begitu”. Riyan membuka suara. Kali ini suara Riyan tidak ketus lagi,


bahkan jauh lebih lembut.


            “Aku dan Lia selalu bilang, jangan berputus asa, tetap semangat, suatu saat nanti kita akan


menemukan orang yang pas dengan kita”.


            “Maaf ya....gak bermaksud bikin kamu sedih”. Riyan terus meminta maaf pada Nana.


            Riyan dan Nana kembali ke kampus, sepanjang perjalanan mereka di angkot menuju kampus, Nana


terlihat murung, tidak ada kata-kata bahkan senyum di bibirnya. Riyan yang terus berusaha menghibur Nana, mengeluarkan jurus jail dan konyol nya itu, kini tak laki mempan pada Nana.


        “Neng, udah dong.....jangan diam terus, malam ini kita nongkrong sama Lia yuk diatas atap


mall seperti waktu itu”.


            “Neng,....ayolah......” Riyan menggerak-gerakan siku nya ke arah pinggang Nana agar Nana


menoleh kepadanya.


            Namun, kerja keras Riyan tidak berhasil membujuk Nana. Nana yang masih dalam keadaan murung,


membuat Riyan merasa sangat bersalah.


            Jarak kampus dengan pasar induk tidak terlalu jauh, beberapa menit mereka dalam angkot, tiba-tiba


tak terasa angkot sudah mengantarkan mereka didepan gerbang kampus. Mereka pun turun perlahan, Riyan membiarkan Nana turun lebih awal dan Riyan mengikutinya.  Riyan sangat khawatir dengan Nana, Riyan tidak pernah melihat Nana seperti ini, yang Riyan  tahu, Nana adalah anak yang periang dan gigih.


            Sesampainya di kampus, Juna yang yang sudah sampai sepuluh menit lebih awal, menghampiri Nana yang sedang duduk sendirian di taman kampus tanpa Riyan, Nana  terlihat lelah, Juna menghampiri Nana dengan segelas jus mangga di tangannya.


            Beberapa detik, Juna sudah berdiri di samping Nana, tanpa suara, Juna menyodorkan segelas jus mangga ke depan wajah Nana. "Ini buat kamu. Pasti haus". Suara Juna tdak disadari oleh Nana.


            Nana yang sedang duduk melamun, mengambil jus itu "Thanks ya Yan....". Tanpa melihat kearah Juna, Nana segera menyedot jus itu dengan penuh semangat.


            "Ini Juna". Juna duduk di depan Nana.


            "Ya Allah......, maaf kak". Nana terkejut dan menunda minumnya itu.


            Riyan melihat dari kejauhan, dia tahu bahwa ada cinta tersembunyi diantara mereka, namun Nana masih minder dengan keadaannya. Ingin sekali Riyan mengembalikan Nana yang dulu tetapi saat ini, Riyan belum bisa, dia yakin bahwa Nana gadis yang tangguh dan cepat mengembalikan moodnya.