
Kejadian malam itu membuat Nana menyadari bahwa semua yang selama ini dia alami adalah murni kesalahan nya. Dia yang lemah sehingga membuat diri nya dipermainkan oleh perasaan nya sendiri. Perasaan yang sama sekali tidak pantas ia pupuk hingga tumbuh subur di hati nya.
Dia terus merenung dan belajar dari setiap kejadian yang ia alami, sampai Juna berani melecehkan nya dan mengatas nama kan cinta. Nana sadar bahwa apa yang dia dan Juna rasakan bukan lagi cinta, melainkan napsu belaka. Napsu Nana yang masih berharap untuk bisa kembali pada Juna dan napsu Juna untuk bisa mendapatkan Nana tanpa harus menikah dengan nya.
“Ya tuhan..........kenapa aku sebodoh ini? Apa yang sudah aku perbuat? Aku membiarkan setiap laki-laki menggenggam tangan ku bahkan memeluk aku atas nama cinta. Dan Juna........., dia berani mencium aku”. Nana merasa geli dengan diri nya sendiri.
“Apakah ini hasil dari sebuah hubungan sebelum menikah?”. Nana terus menyalahkan diri nya sendiri.
Tiba-tiba Nana teringat dengan sekelompok wanita yang sedang mengikuti kajian di masjid Istiqlal sore itu,
mereka berpakaian rapi, tertutup, santun dan terlihat sangat menjaga diri. “Apakah mereka tidak pernah berbuat dosa seperti aku? Atau merekapun pernah melakukan kesalahan seperti aku?”. Tanya Nana pada diri nya sendiri sembari memandangi wajahnya di cermin.
Nana segera mengambil tas nya lalu pergi ke masjid Istiqlal di jam yang sama seperti waktu itu, berharap dia dapat
mengikuti kajian walaupun dari kejauhan.
“Mau kemana sayang?”. Tanya mama
“Istiqlal ma”. Jawab Nana sambil berlalu
“Istiqlal? Sejak kapan dia aktif di masjid. Biasanya kampus, perpus, paling taman?”. Gumam mama heran.
Sesampainya di depan masjid, Nana segera menuju area wanita/akhwat. Nana duduk di serambi masjid berharap mereka datang, namun seperti nya sore ini mereka sedang tidak ada kajian. Nana terus menunggu kehadiran mereka, namun tidak ada tanda-tanda mereka datang. Nana terus melihat jam di tangan nya, tetapi tidak merubah segalanya.
Kurang lebih 45 menit Nana menunggu dan hasilnya nol. Nana mencoba mencari info, kenapa mereka tidak ada kajian hari ini. Nana menghampiri pria berusia 4oth, jika dilihat dari wajahnya yang sedang membersihkan area masjid.
“Assalamu’alaikum bapak, permisi”. Sapa Nana
Laki-laki itu berada di sebelah pembatas antara area wanita dan laki-laki. Dia menundukkan kepala nya seakan
tidak ingin melihat Nana. Nana berusaha melihat wajahnya, namun dia selalu memalingkan wajahnya.
“Permisi pak. Saya mau tanya. Hari ini seperti nya tidak ada kajian?”.
“Iya neng, kajian hanya dilaksanakan satu minggu sekali dan setiap hari sabtu sore”. Jawab laki-laki itu dengan
lembut dan santun.
“Boleh tanya lagi?”. Kata Nana
Laki-laki itu menganggukan kepala nya,
“Kenapa bapak sedari tadi menundukan kepala dan tidak melihat saya sama sekali?”. Tanya Nana penasaran.
“Saya hanya menjaga pandangan saya dari wanita yang bukan muhrim saya, neng. Permisi”. Laki-laki itu pergi meninggalkan Nana
Nana hanya terdiam mendengar jawaban laki-laki itu.
“Ya tuhan, menatap aja tidak berani. Apa lagi menyentuh”. Gumam Nana
Nana melihat seluruh badan nya sendiri, “Juna, Affan, Wira, ketiga laki-laki itu sering menyentuh aku. Apakah
aku termasuk orang yang kotor? Kecerdasan akademik ku tidak secerdas agama ku”. Nana duduk lemas di serambi masjid.
mengenakan kerudung nya satu persatu, namun kali ini kerudung yang ia pakai jauh berbeda. Dia mengenakan kerudungnya lebih panjang dan lebar dari biasanya, hingga menutupi dada dan pinggul nya. Dia pandangi wajahnya pada cermin, memutar badan nya melihat dari atas hingga bawah, lalu tersenyum menatapnya kembali.
“Cantik”.
Tiba-tiba mama masuk tanpa mengetuk pintu, rupa nya mama sudah memperhatikan Nana sedari tadi dari balik pintu.
“Mama”. Nana membuka kerudungnya kembali.
“Kenapa di lepas? Bukan kan wanita muslimah terlihat lebih anggun dan menawan dengan menutup auratnya?”. Kata mama.
“Mama lebih senang kamu mengenakan jilbab panjang dan lebar, dengan pakaian panjang dan longgar dibandingkan dengan kamu mengenakan kemeja, celana dan kerudung yang kamu lilitkan di leher”.
Sambil memakaikan jilbab Nana kembali.
“Mama ikhlas Nana merubah penampilan Nana?”. Tanya Nana
Mama tersenyum, “Ibu mana yang tidak bangga dengan perubahan positif pada anaknya tapi..........niatkan hanya untuk ibadah”. Peluk mama lembut lalu meninggalkan Nana sendiri dalam kamar.
Nana menangisi diri nya sendiri, dia merasa tidak bisa menjaga diri nya dari laki-laki, tidak bisa menahan diri dari
perasaan dan napsu belaka yang hampir membahayakan nya. Dia merasa jijik dengan diri nya ketika dia ingat kisah nya dengan Juna, selalu bersama, berpegangan dan bergandengan tangan bahkan Nana seringmerebahkan kepalanya pada bahu Juna dan Juna sering memeluknya jika Nana sedang bersedih, begitu juga dengan Wira
yang selalu modus membuat Nana jatuh dalam peluknya.
“Ya tuhan.............ampuni aku. Selama ini aku begitu lemah, pantas Lia tidak mau berpacaran setelah apa yang dia
alami di masa lalu nya”.
Sejak saat itu, Nana belajar memperbaiki diri, Nana yang dulu sering membaca novel cinta, kini berubah
dengan sering membaca buku agama, mengenakan jilbab lebih panjang dan lebar serta gamis hingga menutupi tubuhnya. Menjaga pandangan dan kata-kata nya serta pergaulan nya.
Hari berikutnya Nana kembali ke masjid Istiqlal sesuai dengan jadual kajian. Nana datang mengenakan gamis
berwarna marroon dan jilbab menutupi tubuhnya berwarna hitam. Kali ini, dia tidak lagi mengikuti kajian dari serambi masjid tetapi memberanikan diri untuk bergabung bersama mereka.
“Assalamu’alaikum. Boleh saya bergabung?”. Nana memberanikan diri untuk memberi salam.
“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh. Silahkan ukhti”. Semua mata sejuk tertuju pada Nana saat itu.
Nana duduk di antara mereka, dan berkenalan satu sama lain. Mereka menyambut Nana dengan sangat baik dan hangat tanpa melihat Nana orang baru mereka kenal, Nana mendengarkan semua materi yang disampaikan oleh seorang wanita yang biasa di sapa ummi.
Setelah kajian sore itu selesai, Nana meminta izin untuk berbincang-bincang pada ummi. Nana mengadukan semua
masa lalu hingga masalah yang selama ini ia hadapi. Nana menumpahkan semua tangisnya pada ummi dan ummi memeluk Nana erat penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, perlahan ummi memberi nasehat pada Nana dan menghibur hati Nana.
“Ya Allah....ukhti, Allah maha penerima taubat dari semua hamba Nya di muka bumi ini, maka bertaubatlah dengan sesungguhnya dan dekatkan diri pada Nya hingga hati mu merasa tenang dan nyaman. Terus lah berdoa dan berbuat baik serta terus belajar memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Istiqomah
ya ukhti...........insyaAllah kita saling meningatkan dan menguatkan”. Ummi memeluk Nana dan mengajaknya pulang.