
Hujan pun menjadi saksi perpisahan Juna dan Nana, tak ada lagi kata-kata cinta yang terucap dari bibir mereka. Nana hanya mengurung diri di kamar, berbaring dalam kesedihan, air mata menjadi teman setia bagi Nana saat ini.
Tak ada kata, tak ada gairah, tak ada cinta yang keluar dari pandangannya. Cahaya kebahagiaan kembali menghilang dalam diri Nana. Sesekali dia membuka dan membaca surat cinta pertama dari Juna untuk nya, air mata nya mengalir deras mengingat masa-masa indah bersama sang Arjuna.
Nana pun kembali memandangi beberapa photo Juna yang ada di meja belajarnya, meletakkan foto-foto itu di dada nya sebagai teman tidurnya. Dunia Nana terasa berubah menjadi kelabu dan tanpa rasa, hanya kesedihan dan rasa pilu menyayat hatinya yang ia rasakan.
Tubuh Nana lemah tak berdaya, bahkan untuk menyantap sesuap nasi pun, bibir Nana sulit untuk di gerakan. Hanya nama Juna yang terus terdengar dari bibirnya yang bergetar.
Ibu Nana dengan penuh cinta merawat anak perempuan satu-satunya itu, selalu menyisir rambutnya, memakaikan kerudung, mengganti pakaiannya dan juga berusaha untuk menghiburnya. Sesekali, ibu Nana sering mendengar teriakan Nana dari dalam kamarnya dan memanggil nama Juna.
Ibu sangat menghawatirkan kesehatan anaknya itu, dia seperti lupa dengan dirinya sendiri. Rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan telah merubah dunianya.
“Aaaahhhhhhhhhhhh......Juna bohong!!!”.
“Aku tahu, kamu bohong!”.
“Aku kangen........Arjuna”.
Teriakan itu yang selalu terdengar dari dalam kamarnya. Ibu Nana tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar anaknya kembali seperti dulu, sehingga dia teringat akan Riyan, sahabat terbaik Nana. Ibu Nana meminta Riyan untuk merawat Nana sampai dia benar-benar kembali seperti dulu.
Ibu Nana membuka pintu kamar Nana dan memperlihatkan keadannya pada Riyan. Riyan melihat Nana dari depan pintu, yang sedang berbaring sambil memeluk foto Juna di dadanya serta memanggil nama Juna dengan suara sayup.
"Juna................".
"Juna..............".
Riyan meneteskan air mata melihat sahabatnya itu, dia mencoba menghampiri Nana dan mengajaknya bicara.
“Hai...........”. Tangan Riyan memegang tangan Nana yang masih menggengam erat foto Juna. Riyan terus
menghapus air mata yang jatuh dari mata nya.
Nana terkejut melihat Riyan yang sudah duduk di samping tempat tidurnya, Nana terbangun dan menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan (kepala tempat tidur/ranjang) dan Riyan membantunya.
“Juna.........., kamu bersama Juna?”. Tanya Nana dengan mata nanar mencari keberadaan Juna.
Riyan memeluk sahabatnya, tak sanggup lagi dia menahan kesedihan yang sedari tadi tertahan di dada dn
matanya. Air mata Riyan membasahi kemeja navy Nana.
“Sabar.........., Juna pasti akan datang”. Bisik Riyan pada Nana.
Nana melepaskan pelukan Riyan dan menatap wajah sahabatnya itu, Nana menghapus air mata Riyan yang terus berjatuhan membasahi pipinya.
“Juna berbohong”. Kata Nana
Riyan menganggukan kepalanya............
“Juna berbohong.......!!!”.
“Juna berbohong............!!!”.
Teriakan Nana menusuk telinga Riyan.
“Neng........lupakan Juna!”. Kata Riyan
Nana menggelengkan kepalanya...............dia terdiam sambil melihat foto yang ada di depannya,
Nana mengambil foto itu dan berkata, “Ini Juna...... I miss him. Bawa Juna kembali, Yan........”. Nana menggenggap tangan Riyan dan memohon agar Riyan membawa Juna kembali padanya.
Riyan menundukan kepalanya sejenak
lalu mengangkat kembali dan menatap Nana..............
“Ya..... aku janji akan membawa Juna kembali”.
“Sekarang, kamu makan ya..............biar aku suapin, ibu bilang sudah empat hari kamu tidak makan”.
Bujuk Riyan.
Riyan membantu Nana bersandar kembali pada kepala dipan agar dia dapat menelan makanan dengan baik, Riyan mulai menyuapi sedikit demi sedikit makanan pada Nana agar ada makanan yang masuk dalam tubuhnya.
Riyan terus memandangi wajah sahabatnya yang kusut dan pucat, sesekali dia memalingkan muka dan menghapus air matanya. Riyan merawat Nana dengan penuh kesabaran, tiap hari dia mengunjungi Nana di rumahnya dengan membawakan makanan dan minuman kesukaan Nana.
Keesokan harinya, Riyan mencoba menghubungi Juna dengan mengirimkan pesan singkat padanya.
“Jika kamu masih cinta dan perduli pada Nana, temui aku besok sore di taman kampus (By. Riyan)”. Pesan Riyan pada Juna.
Juna yang masih berada di Tangerang segera berkemas agar besok pagi bisa segera ke Jakarta dan menemui Riyan tanpa harus ibunya tahu.
Riyan sudah menunggu Juna tiga puluh menit lebih awal di tempat yang ia janjikan dalam pesan singkatnya kemarin, Juna memenuhi undangan Riyan dan menemuinya di taman.
“Riyan.....”. Juna menghampiri Riyan yang sedang duduk menunggu kehadirannya.
Riyan berdiri dan mendorong Juna, hingga badan Juna terhenti pada tiang lampu taman.
“Andai Nana tidak mencintai mu, sudah ku.............. Aaahhhhhh!!!”. Suara Riyan menggelegar di depan hidung Juna.
Riyan memalingkan badannya, “Nana sakit bahkan menderita karena kamu”. Kata Riyan dengan nada lebih santai dari sebelumnya.
“Keadaannya melemah, bahkan tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain nama mu”.
“Dia sahabat manis ku dan juga gadis cantik mu dulu, kini berubah seperti orang tidak waras karena kamu!”. Suara Riyan kembali meninggi.
Juna tidak dapat berkata-kata, dia hanya bisa menangis mendengar cerita Riyan.
“Kamu pikir aku bahagia dengan semua ini?”. Juna mulai bicara
“Kamu tahu, aku sangat menyayangi Nana dan sampai kapanpun”.
“Ini bukan keinginan ku, Yan”. Jawab Juna
Riyan menarik kerah kemeja Juna dan mendorongnya kembali,
“Lalu kenapa kamu tidak mempertahankan gadis cantik mu itu?”. Tanya Riyan.
“Kenapa kamu menyerah?”
“Kenapa, Juna????”. Hentak Riyan
“Pilihan yang sulit bagi ku Yan, aku sangat mencintai Nana dan aku juga mencintai ibu ku”. Jawab Juna
“Dari awal ibu sudah tidak suka dengan Nana, ditambah lagi ketika ibu tahu bahwa Nana mandul”.
“Aku sudah berjuang mempertahankan cinta kami, tapi aku kalah”.
Tiap hari Riyan selalu menghibur Nana dengan tingkah jailnya seperti yang dulu pernah dia lakukan. Riyan ingin melihat senyum Nana kembali, mengembalikan keceriaanya dan rasa percaya dirinya. Sesekali Riyan membawa Nana keluar rumah, mengajaknya jalan-jalan walaupun hanya di halaman rumah saja.
Perlahan, Riyan memberikan motivasi pada Nana agar semangatnya kembali seperti dulu lagi. Tak ada sesuatu yang indah bagi Riyan selain melihat Nana tersenyum dan merengek minta traktiran.
Sore itu, Riyan membawa Nana ke taman kampus, untuk mengobati rasa rindu Nana pada Juna. Perlahan wajahnya kembali berwarna, namun rasa kecewa pada Juna membuat dia hilang kepercayaan terhadap orang lain bahkan dirinya sendiri.
Nana duduk di kursi taman, kursi yang pernah ada dalam sejarah antara Nana dan Juna, Nana memperhatikan kursi itu dengan penuh makna, seakan dia melihat wajah Juna kembali. Sesekali, dia
memejamkan matanya memfokuskan kembali pandangan dan pikirannya serta menyadarkan dirinya bahwa Juna bukan miliknya lagi.
Nana duduk dikursi itu dengan pandangan dan tatapan kosong dan Riyan menemaninya.
“Yan.......”. Nana memanggil Riyan dengan suara lembut.
“Ya”. Jawab Riyan
“Apakah gadis seperti ku tidak pantas untuk di cintai?”. Tanya Nana dengan tatapan kosong.
“Hai, listen! Semua orang berhak untuk dicintai dan mencintai. Aku percaya bahwa Juna sangat mencintai mu”. Hibur Riyan.
“Tapi Juna memilih dia, dia yang lebih sempurna”. Air mata itu kembali membasahi pipi Nana.
“Kamu juga wanita yang sangat sempurna, kamu gadis yang kuat, mandiri, penuh semangat, bisa jadi banyak perempuan yang iri akan ketegaran hati mu”. Jawab Riyan dengan nada menghibur.
Nana terdiam sambil terus memberi tatapan kosong
“Apakah kamu mencintai ku, Yan?”. Tanya Nana kembali
Riyan terkejut dengan pertanyaan Nana, pertanyaan yang menusuk hatinya, pertanyaan yang tidak pernah
terbayangkan akan keluar dari bibir Nana, pertanyaan yang Riyan tidak sanggup untuk menjawabnya.
“Aku.......... Aku.........”. Riyan mencoba untuk jujur namun bibir Riyan seakan terkunci rapat.
“Lupakan saja”.
“Fokus pada kesehatan mu”.
“Kamu harus kembali seperti dulu agar bisa melanjutkan kuliah mu”. Riyan bangkit dari duduknya seakan
menghindari pertanyaan Nana.
Nana menarik tangan Riyan..........
“Aku tahu, kamu juga tidak akan mau mencintai perempuan seperti aku kan?”
“Rara, pacar mu pasti perempuan sempurna seperti Eva calon istri Juna”. Nana melanjutkan perkataanya.
Pertanyaan Nana sungguh membuat hati Riyan teriris perih. Riyan hanya bisa menelan air ludahnya dan diam seribu bahasa.
"Andai aku bertemu dengan mu lebih awal dibanding Rara...........".
"Aku tidak mungkin meninggalkan Rara karena aku tahu dia pasti sangat menderita". Gumam Riyan dalam hati.
“Sudah sore, kita pulang yuk!”. Bujuk Riyan
Riyan menjulurkan tangannya ke arah Nana dan membantu Nana berdiri, namun tidak jauh dari mereka ada Juna memandang dengan wajah penuh penyesalan.
Langkah Riyan tertahan karena Juna berjalan menuju kearah mereka.
“Lihat, siapa yang datang”. Juna berbisik pada Nana
Nana melihat kearah Juna yang hanya berjarak beberapa meter dari dirinya, bibir Nana tersenyum melihat Juna namun, Nana menarik kembali senyumnya. Juna terus melangkah kearah Nana dan Riyan dan semakin dekat sehingga hanya ada sisa beberapa sentimeter saja.
Juna berlutut di hadapan Riyan dan Nana, membuka kedua tangannya seakan memberi kesempatan pada Nana untuk memeluknya, namun Nana memegang tangan Riyan dengan erat dan menyembunyikan wajahnya
dibalik tubuh Riyan.
“Bawa aku pergi dari sini”. Bisik Nana pada Riyan
“Apakah kamu tidak ingin berbincang-bincang untuk yang terakhir kalinya, sebelum Juna menikah?”. Tanya
Riyan sayup
Nana menggelengkan kepalanya seakan takut untuk bertemu Juna.
“Neng........, kakak minta maaf. Kakak ingin kita duduk dikursi itu walaupun sebentar saja”. Juna memelas pada Nana
Nana masih menyembunyikan wajahnya dibelakang Riyan, seakan dia benar-benar sudah tidak mau bicara dan bertemu Juna lagi.
“Selesaikan masalah kalian sekarang dengan kepala dingin, aku tunggu dipintu keluar”. Bisik Riyan
Riyan meninggalkan Nana dan Juna, memberi kesempatan pada mereka untuk bicara. Nana masih berdiri di posisi awal, menundukan wajahnya, mata Nana mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, dan wajahnya
memerah.
Juna berdiri dan menghampiri Nana yang masih berdiam diri di depannya.
“Apakah kamu masih percaya pada ku?”. Tanya Juna dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak mencinta Eva, bahkan aku tidak pernah bertemu dengan nya”.
“Aku sayang sama kamu dan juga mama. Aku bingung Na”. Juna berusaha menjelaskan pada Nana
Air mata Nana menetes deras di pipinya...............
“Kalau begitu, lupakan aku kak”. Jawab Nana
“Fokus pada pernikahan kalian. Cintai Eva seperti kamu mencintai ku”.
“Aku baik-baik saja”.
Nana melangkahkan kakinya dan meninggalkan Juna tetapi Juna menarik tangan Nana dan menggenggam erat. Langkah Nana tertahan, Nana hanya bisa memejamkan matanya dan menahan air mata agar tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata indahnya itu.
“Aku sayang kamu Na.............”. Kata Juna sambil terus menahan langkah Nana.
Nana melepaskan genggaman Juna perlahan dan meninggalkannya. Ingin rasanya Nana memeluk Juna tapi tidak bisa. Untuk menatap matanya saja, dia tidak sanggup lagi. Juna hanya sebuah sejarah bagi Nana,
sejarah terindah dalam hidupnya.
“Na....maafkan aku. Aku sayang kamu dan sampai kapan pun aku sayang kamu, Na.............”. Juna menyesali semua yang telah terjadi pada hubungan mereka.