
Sejak seminar kemarin Nana mulai kepikiran dengan Juna dan keluarga kecilnya. Istri cantik dan putri kecil yang
lucu membuat hidup Juna menjadi lebih sempurna dan bahagia. Nana teringat akan kekurangan yang ia miliki, bahwa dokter telah memvonis nya mandul sehingga tidak ada harapan bagi Nana untuk bisa memberikan keturunan kepada laki-laki yang akan menjadi suami nya nanti, dan itu alasan mama Juna menentang hubungan
mereka.
“Nurani seorang ibu itu sangat kuat akan anaknya. Pantas saja mama Juna tidak merestui hubungan kita karena aku tidak akan pernah bisa membuatnya bahagia”. Pikir Nana
Nana mulai membuka akun facebook Juna dan Eva, hanya ingin melihat Juna dan keluarga nya. Nana mulai stalking melalu sosial media, dari facebook, twiter dan juga instagram. Nana menemukan banyak sekali moment-moment bahagia yang Juna lalui bersama keluarga nya. Mereka terlihat sangat harmonis dan bahagia, air mata Nana menetes ketika melihat foto-foto kemesraan dan kebahagiaan Juna dan keluarga nya di akun FB.
“Ya tuhan.......begitu jahatnya aku mencintai suami orang. Kami memang dulu saling mencintai, tetapi aku sadar
bahwa Juna bukan miliki ku lagi”.
“Kring..............”. Handphone Nana berbunyi dan membuyarkan pikiran nya.
Dia melihat telepon masuk dari Juna, Nana me-reject panggilan dari Juna namun Juna telepon kembali dan Nana mulai mengabaikan setiap panggilan yang masuk dari Juna tetapi Juna terus melepon berkali-kali sampai akhirnya Nana mengangkat telepon nya.
“Ada apa Juna?”. Suara Nana terdengar seperti orang yang habis menangis.
“Hai, kamu kenapa? Mau curhat?”. Tanya Juna seraya memberi perhatian.
“No. Sebaiknya kamu gak usah telepon atau hubungi aku lagi!”.
"Tut...............”. Telepon mereka terputus.
Beberapa menit setelah itu, Juna menelepon Nana kembali.
“Mau kamu a.........?”. Pertanyaan Nana terputus oleh kata-kata Juna
“Please........jangan tutup telepon nya! Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian kemarin karena aku sudah membuat kamu gak nyaman dengan kehadiran Eva dan anak ku”. Kata Juna
“Suami macam apa kamu? Harusnya kamu bersyukur memiliki istri cantik, baik dan sempurna. Harusnya kamu bangga atas kehadiran mereka kemarin”. Nana mulai terbawa emosi
“Aku bangga dengan mereka dan aku bahagia tapi...........aku membuat kamu sedih. Aku minta maaf”. Suara Juna lembut seakan memohon agar Nana memaafkan nya.
“Aku yang salah karena aku hadir di keluarga kalian”. Nana menutup telepon nya dan menon aktifkan nya.
Nana keluar dari kamar dan mencari mama nya.............. Nana mendapatkan mama nya sedang asik minum teh sambil menunggu bapak pulang. Nana segera memeluk dan menangis di pelukan mama nya.
“Ada apa Na..........?”. Tanya mama bingung sambil memeluk erat anak gadisnya itu.
“Kamu ada masalah? Istighfar sayang............ tidak seperti biasanya kamu begini”.
“Ampuni Nana ma.., Nana banyak salah sama mama. Nana selalu mengabaikan”. Nana terus menangis
“Sayang.....mama sudah memaafkan semua nya sebelum kamu pinta”. Sambil menghapus air mata Nana
“Cerita sama mama, ada apa nak?”.
Nana menceritakan apa yang terjadi pada nya dan Juna selama dua bulan terakhir, mulai dari pertemuan yang tidak di sengaja, berkolaborasi, kejadian di kantor Juna sampai seminar kemarin. Nana merasa sangat malu dan menyesal masih berharap pada Juna.
Nana semakin terisak mendengar nasehat mama nya, dia merasa bahwa dirinya sangat tidak berharga atas perasaan dan semua perbuatan yang telah dia lalui bersama Juna dua bulan terakhir ini. Pertemuan mereka memang hanya sebatas diskusi bareng mengenai projeknya, namun ada bumbu asmara yang menghadiri pertemuan itu, sehingga menimbulkan cinta lama bersemi kembali.
Malam ini Nana tidak bisa tidur karena penyesalanya, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada Eva. Dia berpikir keras mencari kata-kata yang pantas dan tepat untuk disampaikan pada Eva.
“Ya tuhan..........should I tell the truth and close all my memories or just keep it and go away from Juna (Ya Tuhan.........harus kah aku menjelaskan semua nya dan menutup semua memori ini atau merahasiakan nya dan menjauh dari Juna)”. Pikir Nana.
Lagi-lagi Nana menstalking akun Juna dan keluarga kecilnya, dia melihat semua kebahagiaan Juna yang ditunjukan oleh foto-foto nya bersama keluarga. Malam ini pun menjadi malam yang sangat menyedihkan bagi Nana, hanya ada tangis penyesalan yang dia tumpahkan. Dilema yang ia rasakan dalam hati membuat hati nya berontak untuk mengakhiri semua kisah cinta nya selama ini.
Jam 7.00
Mata Nana masih memerah dan bengkak akibat tadi malam, pandangan nya kosong tanpa arah. Semua pikiran nya masih dipenuhi oleh gambaran keluarga Juna.
“Sayang...............kamu baik-baik aja kan?”. Tanya Mama sambil merangkul Nana.
“Iya ma, Nana baik kok”.
“Kamu pucat sekali nak. Sebaiknya kamu istirahat. Hari ini gak usah kemana-mana ya sayang........”. Pinta mama.
“Gak ma............Nana harus ketemu Juna. Nana gak ingin mengakhiri semua nya”. Air mata Nana menetes.
“Sayang......... lain waktu aja ya..........!”. Pinta mama sambil memeluk Nana.
Nana mengirim pesan singkat pada Juna dan meminta Juna untuk menemui nya di taman dekat kampus mereka dulu. Nana segera beranjak menuju taman yang sudah ia janjikan sama Juna. Dengan wajah pucat, tak bersemangat, Nana melangkah mantap.
Nana sampai di taman 15 menit lebih awal dibandingkan Juna, Nana menunggu Juna duduk di kursi taman yang menjadi tempat favorit mereka dulu.
“Hai, neng........ kamu kenapa? Kamu sakit?”. Tanya Juna yang sudah duduk di samping Nana.
“Juna, aku minta kita tidak usah bertemu lagi. Aku minta maaf atas semua nya”. Nana menangis.
“Kamu gak pernah salah. Sebenarnya ada apa? Kamu masih kecewa atas kejadian kemarin?”. Tanya Juna
Nana menggelengkan kepala nya, “Justru aku sadar bahwa aku akan menjadi perusak rumah tangga kalian. Sampaikan maaf aku sama Eva”. Pinta Nana.
“Tapi...........”. Juna berusaha untuk protes.
“Aku sadar bahwa cinta tak harus memiliki dan selama ini aku salah karena membiarkan cinta ini terus tumbuh”.
“Bolehkah aku memeluk dan mencium kening mu untuk yang terakhir?”. Pinta Juna
“Aku rasa itu tidak perlu. Terimakasih pernah menjadi kenangan indah dalam hidup ku”.
Nana meninggalkan Juna yang masih termenung di taman, namun beberapa langkah Nana pergi dari hadapan Juna. Tiba-tiba..........
GUBRAKKKKK..................!!
Nana jatuh dan pingsan.