MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 92. DI Khitbah Part 2



“Kring................”. Suara handphone berdering.


“Astaghfirullah.................”. Nana mematikan handphone nya tanpa melihat siapa yang menelepon dia, dan segera


melihat jam pada handphone nya.


“Ya Allah..........sudah jam setengah dua siang, saya belum sholat juhur”. Kata Nana dengan kaget dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat juhur.


Selesai sholat juhur, Nana teringat akan mimpi nya di siang bolong.


“Ya Allah.........ampuni hamba, ada apa dengan aku?”. Gumamnya dalam hati


“Apa yang sedang aku pikirkan sehingga aku bisa bermimpi seperti itu? apakah benar kalau mama tidak menyukai mas Imam? Ah........tidak. itu hanya mimpi”. Nana menepuk pipi nya membuktikan bahwa dia memang sedang bermimpi.


“Lancarkan ta'aruf ku dengan mas Imam hingga kepernikahan ya Allah”. Sejenak Nana terdiam dan berdoa


“Astaghfirullah.............tadi siapa yang menelepon ku? Kenapa tidak aku jawab telepon nya?”. Gumam nya


kembali


Nana mengambil handphone nya dan melihat pada kontak masuk tiga puluh menit yang lalu. Di lihatnya nama Imam pada panggilan masuk.


“Mas Imam? Ada apa dia telepon?”.


Nana mengirimkan pesan singkat pada Imam lewat whatssapp.


“Assalamu’alaiku Mas. Maaf tadi Nana sedang tidur siang dan kaget ada telepon masuk, makanya Nana matikan handphone nya. Selain itu, Nana ketiduran dan belum sholat juhur”. Pesan Nana pada Imam


“Wa’alikum salam dik. Iya gak apa-apa. Mas Cuma ingin mengatakan bahwa minggu depan mas dan keluarga akan


datang untuk melamar mu dan menentukan hari pernikahan kita”. Balas Imam


"Benarkah itu mas? Nana bermimpi...................”. Nana tidak melanjutkan percakapan nya dalam whatssapp.


“Mimpi apa dik?”. Tanya Imam penasaran


“Hhhhmmmmmmmmmm, mimpi kalau mas dan keluarga datang untuk melamar Nana”. Jawab nya tersipu malu dengan memberi emoticon senyum memerah di kedua pipi nya.


“Aamiin.........do’a kan agar semua nya berjalan dengan lancar. Sudah dulu ya...........see you next week”.


“Iya mas. I am waiting”. Jawab Nana dan menutup chat nya.


Di Malang


“Kowe sido ngelamar nana minggu ngarep (Kamu jadi melamar Nana minggu depan)?”. Kata kakak pertama


“Iyo mas”. Jawab Imam


“Opo persiapan mu? Mek niat thok? Kowe gak isin ta, opo ra mikir? Ngelamar anake uwong ora cukup mek niat. Ojo ngisin ngisini keluarga. Adoh adoh teko Malang nyang Jakarta mek niat thok (persiapan mu? Cuma niat? Mam.....Mam..........kamu ini gak tahu malu atau ra iso mikir? Melamar anak orang itu gak cukup hanya dengan niat. Jangan bikin malu keluarga! Jauh-jauh dari Malang ke Jakarta, hanya bawa niat)”. Kata kakak pertama dengan sinis


“Nyuwun sewu mas (Maaf mas). Aku arep nyang peternakan, wis wayahe makani pitik (Aku mau kepeternakan, sudah saat nya ayam-ayam diberi makan)”. Jawab Imam tidak ingin berdebat.


Imam memang selalu mengalah dimana pun ia berada, selama Nana mengenalnya di kampus. Dia terlihat sebagai


laki-laki yang santai dan cuek serta selalu meghindari perdebatan.


“Lek......... ini simpan untuk persiapan mu lamaran minggu depan. Beli sesuatu yang sesuai dengan kemampuan


kita ya”. Mbak Imam memberikan sejumlah uang pada Imam yang ia selipkan di tangan Imam


“Tapi Mbak?”.


“Wes terima ae, yo. Semoga acarane lancar”. Kata Mbak


“Matur nuwun mbak”. Kata Imam


“Mas, sampean mustine bantu”. Kata Mbak pada kakak pertama


“Iyo, bantu do’a”. Jawab kakak pertama sambil berlalu meninggalkan Imam dan Mbak.


“Sabar lek.......... ujian pernikahan itu beda-beda. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin”.


“Sekali lagi, terimakasih ya mbak”.


********************


Dua hari sebelum hari lamaran, Ayah dan Imam berangkat dari Kota Malang menuju Jakarta menggunakan kereta api Matarmaja dan bermalam di kediaman pak Lek Hasan di Kampung Melayu Jakarta Timur. Kedatangan Ayah dan Imam disambut dengan baik di keluarga pak lek Hasan.


“Wa’alaikum salam...............”.bulek Tantri membuka pintu


“MasyaAllah............... kang mas?”. Bulek Tantri memeluk Ayah melepas rindu yang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu walau hanya satu tahun sekali.


Bulek Tantri adalah adik sepupu Ayah, semenjak merantau ke Jakarta dan ayah ibu nya meninggal, buk lek Tantri


tidak pernah lagi mudik ke Malang, seperti nya ia akan menghabiskan masa tuanya di Jakarta bersama suami tercinta, pak lek Hasan.


“Ayo mlebu mas (Mari masuk mas?)”. Buk lek Tantri mempersilahkan Ayah dan Imam masuk


“Sampean waras? Wis suwe ora ketemu. Piye kabare keluarga gek Malang (Sudah lama tidak bertemu. apa kabar nya keluarga di Malang?)”. Tanya bulek Tantri


“Alhamdulillah............. kabeh apik-apik wae (semua nya baik-baik saja)”. Jawab Ayah sambil berjalan menuju ruang tamu


“Siapa buk?”. Tanya pak lek Hasan yang sedang asik minum teh hangat sambil membaca koran


“Ya Allah kang Mas?”. Pak lek Hasan menutup koran nya lalu menghampiri Ayah dan mencium tangan kanan nya dengan penuh hormat.


“Piye kabare mas?”


“Alhamdulillah baik”. Jawab Ayah sambil duduk di kursi


“Sik yo... Tak cepak ne ngombene (Sebentar yo.............tak siapne minuman)”.


Bulek Tantri pergi ke dapur dan menyiapkan minuman serta serta kue untuk Ayah dan Imam.


“Sampean dari Malang? Enek perlu opo adoh2 teko Jakarta (Ada perlu apa jauh-jauh ke Jakarta)”. Tanya pak lek Hasan.


“Iki wedan lan jajane. Monggo d tiliki mas, mam (Ini dia minuman dan kue nya. Monggo di cicipi Mas, Mam)”. Bulek Tantri menyela percakapan pak lek Hasan dengan Ayah sambil membawa jamuan yang ada di tangan nya serta mempersilahkan Ayah dan Imam untuk mencicipi minuman dan kue yang telah disiapkan.


“Matur nuwun bulek”. Jawab Imam kemudian mencicipi hidangan yang ada di meja.


“Ngene, aku rene maeng arep nunut istirahat sewengi wae lan njaluk di kancani nyang Cililitan sesok. Imam arep


lamaran (Begini, aku ke sini mau menumpang istirahat satu malam dan minta ditemani ke Cililitan besok. Imam mau lamaran)”. Jawab Ayah


“Wah....... Arep lamaran.  Oh... Bulek kelingan. Wulan wingi kowe teko nemoni koncomu gek Cililitan, opo kuwi calonmu mam (Wah................. mau lamaran. Oh...........bulek ingat. Bulan lalu kamu datang untuk menemui teman mu di Cililitan, apakah itu calon mu Mam)?”. Tanaya bulek


“Inggih bulek”. Jawab Imam


“Kaleresan, sesok aku libur kerjo mas. Dadi aku lan tantri iso ngancani mas. Slamet yo mam (Kebetulan, besok saya libur kerja mas. Jadi saya dan Tantri bisa menemani mas. Selamat ya Mam)”. Kata pak lek Hasan


“Matur nuwun pak lek”.


Imam dan Ayah pun bersitirahat satu malam di rumah pak lek Hasan dan akan melanjutkan perjalanan nya esok pagi ke rumah Nana. Sementara Nana dan keluarga nya sudah menyiapkan segala nya untuk acara lamaran besok.


“Mas dan Ayah sudah di Jakarta, kami bermalam di rumah adik sepupu Ayah di Kampung Melayu”. Pesan Imam dalam whatssapp.


“Iya mas. Terimakasih”.


Hari H


Pagi pukul enam, Imam, Ayah, pak lek dan bulek Tantri berangkat menuju kediaman Nana, menggunakan terios milik pak lek Hasan, bulek Tantri sibuk menyiapkan kue-kue dan parcel untuk di bawa ke rumah Nana. Bulek Tantri memang sangat jago dalam membuat aneka jenis kue, baik kue tradisional maupun modern, ia juga jago dalam menghias parcel. Sehingga dari semalam ia sibuk sendiri mempersiapkan segala nya untuk acara lamaran Imam.


Pagi ini jalan di Jakarta cukup sepi seolah memberi jalan pada Imam dan keluarga, sehingga mobil melaju dengan kencang dan sampai tepat waktu. Keluarga Nana sudah menanti kedatangan keluarga Imam. Imam mengenakan pakaian terbaik nya begitu juga dengan Nana.  Acara lamaran pun berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir sampai dengan mementukan tanggal pernikahan mereka.


“Terimakasih sudah menerima Imam dengan baik. Kami sekeluarga sudah sepakat untuk menikahkan Imam dengan dik Nana bulan depan. Apakah bapak dan ibu setuju?”. Tanya Ayah di akhir acara


“InsyaAllah kami siap pak”. Jawab papa Nana.


“Semoga semua nya berjalan dengan lancar. Kalau begitu kami pamit”.


Keluarga Imam berpamitan dan langsung menuju stasiun senen untuk kembali ke kota Malang.


“Selamat ya sayang...............”. Kata mama sambil mencium pipi Nana yang merah merona karena blash on yang ia


hiaskan di kedua pipi nya


“Mama dan Papa do’a kan agar semua nya berjalan dengan lancar sampai hari pernikahan kalian bulan depan”. Kata Mama


“Terimakasih Ma, Pa”. Nana memeluk kedua nya


“Ya Allah..............Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Semua nya tidak seperti yang ada dalam mimpi ku


siang itu. Alhamdulillah.................”. Nana mengucap syukur berkali-kali atas rezeki dan kebahagiaan nya hari itu.