MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 83. Perdebatan



Entah kenapa perasaan Nana begitu dingin dengan lamaran Ihsan sore itu, Nana hanya tidak ingin berharapterlalu


banyak karena dia tahu bahwa pada akhir nya laki-laki akan menolak dirinya setalah mereka mengetahui kekurangan yang ia miliki. Nana tidak terlalu serius menanggapi Ihsan, akan tetapi Ihsan terlihat begitu serius untuk menikahi Nana. Sampai akhirnya, Ihsan menemui Nana di kantor nya dan mengajaknya ke tepi danau untuk membicarakan lamaran nya sore itu.


“Na, aku sudah berpikir dan berdiskusi dengan keluarga ku bahwa aku benar-benar ingin menikah dengan mu.


Apakah kamu bersedia menerima keluarga ku?”. Kata Ihsan


“Aku sudah menentukan bahwa minggu depan, aku dan keluarga ku akan datang menemui kedua orang tua mu dan melamar mu didepan merekaa”. Tambah Ihsan


“Apakah mas Ihsan yakin dengan keputusan ini?”. Jawab Nana


“Tidak ada alasan bagi ku untuk menolak perempuan hebat dan sholeha seperti kamu Na. Apalagi yang kita


pertimbangkan, bukankah usia serta mental kita sudah siap untuk berumah tangga?”.


Nana menutup mata dan menarik nafas dalam.............


“Mas, apakah kamu siap menerima semua kekurangan ku?”. Tanya Nana


“Biarkan aku menjadi penyempurna dari kekurangan mu itu. Kita akan saling melengkapi satu sama lain”. Jawab


Ihsan tanpa ragu


“Kamu yakin bisa menerima perempuan mandul seperti aku?”. Tanya Nana kembali.


Pertanyaan Nana membuat Ihsan terkejut dan tercengang, dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Nana barusan hanyalah gertakkan belaka, menguji kemantapan nya terhadap niat baiknya itu.


“Aku ingin kamu berpikir dan membicarakan ulang tentang niat mu pada keluarga. Aku tidak mau jika ada


penyesalan dikemudian hari. Menikah dengan perempuan mandul seperti aku itu tidak mudah mas, tidak hanya kita yang dapat menerima satu sama lain akan tetapi keluarga kita juga sama”.


“InsyaAllah, Allah akan mempermudah niat baik kita”. Timpal Ihsan


“Aamiin”. Jawab Nana


Pertemuan dan pembicaraan mereka ditepi danau berlangsung sangat singkat karena Nana memiliki kegiatan lain


begitu juga dengan Ihsan. Mereka pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu dengan kembali ke tempat kerja masing-masing. Nana pergi dengan kendaraan umum dan Ihsan dengan mobil nya.


Pertemuan keluarga


Malam ini Ihsan mempertemukan keluarga besarnya untuk membicarakan niat baiknya itu. Sudah lama Ihsan


memperhatikan dan menaruh hati pada Nana sejak mereka masih menimba ilmu di program D3 dulu, namun sayang, Ihsan begitu sibuk dengan kerjaan dan prodi mereka pun berbeda, sehingga mereka jarang bertemu. Apalagi saat itu, Ihsan tahu bahwa Nana sedang dekat dengan Arjuna, mahasiswa yang terkenal dengan


kepintaran nya. Sehingga, hal itupun yang membuat Ihsan, mengurungkan niatnya untuk mendekati Nana.


Ini kesempatan bagi Ihsan untuk bisa mendapatkan hati Nana setelah Ihsan tahu bahwa Nana kandas


dengan Arjuna. Ihsan berharap keluarga nya dapat menerima Nana dengan baik. Ihsan yakin bahwa Nana adalah wanita sholeha dan dapat menjadi istri yang baik bagi nya.


Setelah sholat isya, Ihsan dan keluarga nya berkumpul di ruang tamu. Ada mamah, kedua kakak perempuan beserta suami nya, dan juga paman yaitu adik dari mamah Ihsan sebagai pengganti ayah nya karena Ihsan sudah menjadi yatim sejak usia 3 tahun.


“Bismillahirrohmanirraohim”. Ihsan membuka pembicaraan itu


“Mohon maaf sebelumnya, karena Ihsan mempertemukan keluarga secara mendadak. Ihsan hanya ingin meminta restu kepada keluarga bahwa Ihsan berniat untuk melamar dan menikahi seorang gadis pilihan Ihsan”.


“Dia manis, baik, cantik, pintar, dan insyaAllah sholeha. Dia teman Ihsan di D3 dulu, Ihsan sudah lama sekali menaruh hati pada nya namun baru kali ini, tuhan memberi kesempatan pada Ihsan untuk bertemu dengan nya kembali dan ingin segera melamar dan menikahi nya”. Tambah Ihsan


“Alhamdulillah...................”. Mamah Ihsan tersenyum lebar.


“Apakah ada foto nya?”. Tanya salah satu kakak perempuan nya


“Iya mbak, sejak dulu Ihsan menyimpan foto nya dalam dompet ini”. Ihsan mengeluarkan foto Nana dari dompetnya.


“Dan ini foto dia yang sekarang”. Ihsan menunjukan profil Nana dari sosial media.


“Siapa nama nya?”. Sambung salah satu kakak  nya


“Ardiana, mbak. Biasa di panggil Nana. Dia lulusan S2 dari UI dan sekarang dia bekerja sebagai penerjemah, dosen dan juga trainer. Kami bertemu di kantor beberapa minggu lalu karena kebetulan Nana menjadi trainer bahasa inggris di kantor”. Jawab Ihsan secara gamblang.


Kedua kakak nya mengangguk-anggukan kepala nya


“Kapan rencana nya kamu ingin melamar dia San?”. Tanya papan


Ihsan terdiam,


karena teringat dengan ucapan Nana pagi tadi. Berat bagi Ihsan untuk berkata


jujur mengenai MRKH yang di idap oleh Nana. Ihsan juga bingung, dari mana dia


harus memulai untuk menjelaskan semua nya tanpa harus menyakiti hati keluarga.


“San?”. Paman menegaskan kembali


“Oh, maaf pak lek. Hhhmmmmmmmm, Ihsan berniat untuk melamar nya minggu depan tapi..............”. Perkataan


Ihsan terhenti.


“Tapi apa nak?”. Tanya mama dan sedikit khawatir


“Nana di vonis mandul. Ada kelainan dalam rahim nya sehingga medis menyatakan bahwa dia mandul”. Ihsan menjawab dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Semua anggota keluarga yang berada di ruang tamu berubah menjadi pucat, suasana pun berubah


menjadi sangat sunyi. Tidak ada satu pun dari anggota keluarga yang bersuara.


“Tapi Ihsan berniat untuk tetap menikahi nya. Bukan kah tidak ada manusia yang sempurna di bumi ini? Maka dari itu, Ihsan akan menyempurnakan hidup nya. Kita akan saling melengkapi satu sama lain”. Kata Ihsan


“Apa kamu sudah memikirkan ini matang-matang?”. Tanya paman


“Iya pak lek dan Ihsan yakin dengan keputusan Ihsan”.


“Bukan kah jika masih ada yang lebih baik, kita berhak untuk memilih yang lebih baik?”. Kata paman


“Nana adalah yang terbaik”. Jawab Ihsan


Perdebatan antara paman dengan Ihsan mulai terjadi di ruang tamu, paman terlihat kurang setuju


dengan keputusan Ihsan, namun mamah Ihsan belum memberi keputusan.


“Antar mamah ke kamar ndok”. Kata mamah kepada kakak kedua Ihsan


“Mah, tolong lah..... Ihsan harus memberi keputusan pada Nana”. Kata Ihsan


Mama hanya melambaikan tangan kanan pada Ihsan dan segera masuk dalam kamar.


“Sebaiknya, kita lanjutkan besok aja ya........”. Kata kakak pertama Ihsan


“Paman benar San, pikirkan matang-matang, tenangkan hati. Menikah itu bukan hal main-main. Hati dan


pikiran kita harus tenang dalam memberi keputusan. InsyaAllah jika saat nya tiba, semua akan berjalan dengan baik. Sabar ya”.


“Sebaik nya kita sudahi saja pembicaraan malam ini, dan pak lek sebaiknya pulang. Darah tinggi mamah kumat, badan mamah juga mulai demam”. Kata kakak kedua yang baru saja mengantar mamah ke kamar nya.


Ihsan segera bangkit dari duduk nya dan segera menghampiri mamah yang sedang berbaring diatas tempat tidur, namun kakak Ihsan melarang karena mamah butuh istirahat.


“Biarkan mamah istirahat, besok pagi baru bisa dijenguk”. Bisik kakak kedua pada Ihsan


Pak lek dan kedua kakaknya pulang sementara Ihsan terduduk lemas di ruang tamu dalam kebingungan