
Hidup selalu berawal dari mimpi dan mimpi pasti akan berakhir dengan sebuah tujuan. Begitu juga
dengan Nana yang mempunya mimpi untuk menjadi wanita pilihan dalam hidup Juna.
Hubungan mereka yang sudah berjalan satu tahun, kedekatan Juna dengan keluarga Nana, membuat
Nana yakin bahwa Juna adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuat hidupnya bahagia.
Nana selalu mencari waktu yang pas untuk mengungkapkan semua tentang MRKH pada Juna, namun rasa
takut kehilangan itu selalu datang yang membuat Nana kembali menarik niatnya itu.
Kedekatan dan rasa cinta Nana pada Juna membuat Nana semakin hari, semakin takut kehilangan. Hari itu,
Nana sangat gelisah. Entah apa yang ia pikirkan, Nana mengambil handphone nya, dia mencari nomer Juna dan mengetik sebuah pesan.
“Bisa kah kita bertemu di taman dekat kampus?”.
“Aku tunggu jam empat sore”. Kata Nana dalam pesannya.
Beberapa menit setelah Nana mengirim pesan itu, dia segera bergegas menuju taman yang ia
janjikan. Nana sampai sepuluh menit dari jam yang ia janjikan. Dia mencari tempat yang pas untuk bicara dengan Juna. Nana duduk di bangku panjang yang ada di tengah taman, mengenakan dress hitam dengan kerudung putih yang membuatnya terlihat anggun.
Nana membuka surat yang yang pernah diberikan Juna malam itu, Nana membaca surat itu berkali-kali
sambil terus tersenyum bahagia. Hidup Nana sangat bahagia setelah bertemu Juna, bagi Nana, Juna bukan hanya sekedar kekasih baginya, akan tetapi Juna seperti guru yang selalu mengajarkan dia banyak hal.
Dengan kecerdasan yang Juna miliki, membuat Nana yakin bahwa Juna akan menjadi suami yang sukses
dikemudian hari. Nana melihat jam yang ada di handphone nya, waktu sudah menunjukan pukul empat namun Juna tak kunjung datang.
Nana membuka handphone nya dan melihat apakah ada pesan masuk atau tidak. Tidak ada pesan balasan
dari Juna bahkan sms Nana pun belum di baca nya. Kegelisahan Nana semakin bertambah, “Ya Allah.... semoga Juna baik-baik saja”. Doa Nana dalam hati, sambil terus mencari kesetiap sudut taman. Nana mencoba menghubungi ponsel Juna, namun selalu dialihkan.
Tiga puluh menit sudah Nana menunggu Juna, namun Juna tak kunjung datang. Nana masih setia
menanti kedatangan Juna, waktu terus berjalan, jam di handphone Nana sudah menunjukan pukul lima sore dan Juna pun belum juga datang.
“Nana.....”. Suara perempuan memanggil namanya.
Nana menoleh kearah suara, dia melihat ada wanita bertubuh kecil dan sedikit lebih pendek darinya. Wanita
dengan rambut sebahu, mengenaikan kaos dan jeans serta sepatu teplek. Wanita itu tersenyum pada Nana, namun Nana menatap wanita itu dengan wajah heran.
Nana berdiri di tempatnya dengan seribu tanda tanya dan wanita itu menghampiri dia. Wanita itu terlihat sangat ramah, dia mejulurkan tangan kanan ke arah Nana.
“Saya Titi, calon istri Yudha, kakak Juna”. Wanita itu memperkenalkan dirinya.
Nana menyeringai dan meraih tangan wanita itu, bola mata Nana berputar kesana kemari mencari Juna.
“Kamu menunggu Juna?”. Tanya Titi
“Ko....?”. Nana membuka mulutnya
“Juna menunggu kamu ditempat yang lain”. Lanjut Titi.
Nana semakin bingung dan sangat gelisah, Titi memegang pergelangan tangan Nana dan membawanya pergi dari taman. Nana yang penuh dengan kebingungan, menikuti langkah Titi dengan mata yang terus menerawang mencari Juna.
Jantung Nana berdetak sangat kencang dan selalu berdoa agar Juna baik-baik saja. Titi membawa Nana ke suatu tempat yang dia tidak dapat jelaskan sepanjang perjalanan.
“Rumah sakit?”. Tanya Nana setiba didepan pintu masuk rumah sakit.
Air mata Nana mulai membasahi pipi nya yang bersih, “Kak....Kak Juna kenapa?”. Tanya Nana kepada Titi.
Titi tidak berkata apa-apa, dia membawa Nana ke ruang perawatan “melati”.
Kaki Nana bergetar ketika berada didepan pintu ruang melati, tangan Nana berubah menjadi dingin
dan wajahnya pucat. Nana membalikan badan dan membelakangi pintu ruangan itu, air matanya tumpah dan badannya lemas tersandar pada dinding ruangan.
Bibir Nana seakan terkunci dan tidak dapat digerakan, “Ayo masuk.....”. kata Titi, “Juna sudah
menunggu mu dari jam empat sore”. Lanjut nya. Titi membangunkan Nana yang terjongkok dan bersandar lemas di dinding ruangan.
Nana memberanikan membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk, “Kak Juna.....”. Nana memanggil
nama Juna dan memeluk erat Titi yang berada disampingnya, air mata Nana membasahi bahu Titi.
luka. Juna mengalami kecelakan ketika ingin menemui Nana di taman sore tadi.
“Ya Allah....ini kah jawaban dari kegelisahan ku hari ini?”. Nana terus menangis tanpa henti. Tangis
Nana membuat Titi dan Yudha ikut menangis.
Nana menghampiri Juna yang tak berdaya diatas tempat tidur, dengan bantuan Titi. “Kakak....maafin
Nana”. Kata Nana dengan nada tersendat-sendat.
“Apa yang ingin kamu katakan di taman, Na...?”. Tanya Juna dengan suara lirihnya. Nana terus menangis karena melihat keadaan Juna.
“Duduklah di dekat ku!”
Nana melirik kearah Yudha yang berada disamping Juna, lalu Yudha menganggukan kepalanya memberi
tanda bahwa Nana harus duduk disamping Juna. Juna mengangkat tangan sebelah kanannya keatas kepala Nana.
Yudha dan Titi meninggalkan mereka berdua dalam ruangan. Yudha tahu bahwa mereka butuh waktu
untuk bicara berdua.
“Katakan....”.
Nana menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menangis, “Kakak baik-baik saja.....cuma lecet sedikit”. Sambung Juna.
“Neng.... geulis....”.
Perkataan Juna membuat Nana semakin terisak dalam kesedihan dan merasa bersalah bahwa dia
telah memina Juna untuk menemuinya sore tadi.
“Kak..... jangan tinggalin Nana”. Dengan suara terus tersendat-sendat.
“Nana ingin mimpi Nana menjadi nyata”. Nana melanjutkan perkataanya.
“Nana ingin menjadi wanita pilihan kakak, menemani kakak dan menjadi kekasih halal kaka”.
Perkataan Nana membuat Juna tersenyum lebar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Hei....., jangan nangis terus neng.....”. Juna mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipi Nana.
“Sabar ya.... dua tahun lagi, nunggu Kakak lulus dan usia kakak genap dua puluh tujuh tahun”.
Nana mengangguk-anggukan kepalanya, bibirnya sudah tidak sanggup lagi untuk bicara. Hanya suara tangis yang terdengar jelas dari bibir Nana.
“Jika itu mimpi kamu...., maka kakak juga mempunyai satu tujuan”. Kata Juna.
Juna terus memandangi wanita yang sangat ia sayang yang sedang duduk didepannya.
“Sssttttt...... neng, denger kakak”. Juna terus mengelap air mata Nana yang masih mengalir
deras di pipinya.
“Mau tahu tujuan kakak?”.
Nana mengangguk.......................
“Tujuan Kakak adalah kakak ingin mewujudkan mimpi dari wanita yang paling kakak sayang,
wanita cantik, baik, pinter, yang sekarang ada didepan kakak”.
Mendengar perkataan Juna, Nana tersenyum bercampur air mata.
“Doakan kakak agar kuliah lancar, lulus tepat waktu, dan kita akan menyatukan mimpi dan tujuan
kita berdua”.
“Sudah, sekarang pulang.... kan sudah ketemu”.
“Jaga diri baik-baik selagi kakak masih di rumah sakit”.
Nana memengang tangan Juna, lalu menciumnya dan melangkah meninggalkan Juna. Titi mengantar
Nana sampai terminal dan terus menasehati nana dalam perjalanan.