
Besok adalah hari yang sangat di nanti bagi Juna, hari dimana akan menjadi saksi sejarah dalam pendidikannya. Gelar sarjana sudah ia dapatkan dengan predikat lulusan terbaik dari kampus terbaik yang ada di negeri ini, sesuatu yang manis pantas Juna dapatkan sebagai hadiah dari perjuangannya selama tiga tahun dalam dunia pendidikan.
Namun, semua itu tak dapat Juna nikmati tanpa Nana, semua kebahagiaan Juna tak berarti tanpa Nana disampingnya. Juna ingin Nana menjadi pendamping wisuda nya besok, Juna membelikan Nana kebaya berwarna maroon umtuk ia kenakan di acara wisudanya besok.
“Hai....gadis cantik ku.”. Juna menghampiri Nana yang sedang membaca di perpustakaan kampus.
“Hai....”. Jawab Nana datar sambil terus membaca buku yang ada di depannya.
Juna melihat kearah buku yang Nana baca, lalu menatap wajah kekasihnya dan menutup buku yang ada di depan Nana. Nana menutup mata lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
“I bring something for you. Kamu pasti suka”. Kata Juna sambil meletakan sebuah bingkisan di meja perpusatkaan.
Nana menoleh ke arah Juna, “Hadiah untuk ku?”. Tanya Nana.
“Yes”. Jawab Juna singkat sambil tersenyum.
“Buat apa?”. Tanya Nana
“Gadis hebat seperti mu pantas diberikan hadiah lebih dari yang ku bawa”. Jawab Juna.
“Actually, itu bukan hadiah untuk mu, tetapi for me”. Suara Juna pelan tepat di depan hidung Nana.
“Aku ingin kamu menjadi pendamping wisuda ku besok dengan mengenakan kebaya yang ada itu, dan kedatangan mu adalah hadiah terindah buat ku”. Juna terus menatap mata Nana dengan jarak yang semakin dekat.
Nana mengambil buku yang tadi ia baca, lalu meletakannya di rak tempat buku itu berasal, lalu keluar dari
perpustakaan. Juna mengikuti Nana dari elakang namun dengan jarang yang sangat dekat.
“Hai, cantik....tunggu!”.
Nana terus berjalan dengan langkah kaki lebih cepat dari biasanya dan Juna terus mengejar sambil membawa bingkisan yang berisi kebaya maroon.
“Please, bersikaplah seperti biasanya. Aku ingin kamu selalu mendampingi aku”. Kata Juna
Nana menghentikan langkahnya tiba-tiba, sehingga membuat Juna menabrak dirinya dari belakang.
“Maaf...........”. Kata Juna
Nana membalikan badannya dan menoleh kearah Juna, membuat sepasang bola mata saling bertemu dan berpandangan. Nana meraih bingkisan yang ada di tangan Juna.
“Thank you, aku akan pakai kebaya ini di hari wisuda mu besok, sang Arjuna cerdas”.
Nana memutar kembali badannya lalu melanjutkan langkahnya menuju lobby.
“Hai....tunggu ada satu lagi yang harus kamu tahu”. Kata Juna sambil mengejar langkah Nana.
Juna berhasil mendahului langkah Nana dan parkir didepan wajahnya dengan cepat.
“Mama mengizinkan kita menikah”. Wajah Juna penuh dengan cinta dan kebahagiaan, dia tersenyum lebar didepan Nana.
Nana membuka matanya lebar-lebar seakan tak percaya, “Sungguh?”. Tanya Nana penasaran.
“Menurut mu?”. Tanya balik Juna pada Nana
“Aku percaya dengan semua yang kakak ucapkan”. Nana tersenyum bahagia dan tanpa sengaja meneteskan air mata kebahagiaan.
Juna duduk di sofa lobby dan terdiam......... Nana menghampiri dan duduk disampingnya.
“Kenapa kak? Kakak tidak sedang mempermainkan perasaan ku kan?”. Tanya Nana penuh dengan tanda tanya.
“Listen, honey. Mama mengizinkan kita menikah tetapi setelah aku lulus S2”.
“Mama ingin aku melanjutkan kuliah ku, setelah itu mama akan merestui kita, aku sudah membuat perjanjian sama mama untuk itu”. Kata Juna dengan nada lebih pelan dari sebelumnya.
Nana terdiam dan tidak tahu harus bereaksi apa mendengar berita itu. Nana bahagia jika mama Juna
merestui mereka, namun Nana khawatir ini hanya memperlambat waktu dan membuat Juna lebih sibuk dengan kuliah magisternya sehingga Juna melupakan Nana.
“Bagaimana menurut mu?”. Tanya Juna
“Hati kecil ku menolak karena aku ingin segera menghalalkan hubungan kita tapi..........”.
“Mau kah kamu bersabar untuk menunggu ku?”. Juna meraih tangan Nana lalu menggenggamnya erat
dan memohon pada nya.
Nana masih terdiam dan bimbang denga pikirannya, dia menghapus sisa air matanya tadi yang masih
membasahi pipinya.
“Ya...., perjanjian yang sangat bagus. Aku mendukung semua keputusan kakak. Tetapi......”. Nana
menghentikan kalimatnya.
“Tetapi.... apa Na?”. Tanya Juna.
“Apakah kakak yakin akan selalu setia pada ku?
“S2 pasti lebih sibuk dari S1. Apakah kakak masih bisa menyempatkan diri menghubungi bahkan
menemui ku?”. Tanya Nana
“Pasti!” Jawab Juna tanpa ragu.
“Kamu tahu seberapa berharganya kamu buat aku Na..... dan kamu juga tahu seberapa besarnya perasaan
ku. Apakah perjuangan ku selama dua tahun ini belum membuktikan semua itu?”.
Tanya Juna.
Nana menganggung-anggukkan kepalanya, “Ya, Nana percaya”.
“Aku antar kamu pulang”. Kata Juna
kampus”. Jawab Nana.
“Yakin?”. Tanya Juna penuh kekhawatiran.
“Aku tunggu besok jam 6 pagi, aku ingin kamu menjadi pendamping wisuda paling cantik besok pagi. I
love you”. Juna melangkahkan kaki nya dan meninggalkan Nana sendiri yang masih dalam keadaan sedih dan bingung.
Sejak kejadian waktu itu di restauran, hubungan Juna dan Nana tidak seromantis dulu, Nana lebih banyak diam dan murung, bahkan lebih sering menangis. Nana percaya dan yakin dengan perjuangan Juna, namun Nana juga tahu bahwa Juna sangat menyayangi orang tuanya, terutama ibunya dan dia tidak akan pernah bisa menolak kemauan dari ibunya itu.
Nana terduduk lemas di sofa lobby sambil terus menangis, matanya yang jernih berubah menjadi sembab
akibat tangisnya itu.
Riyan yang sejak tadi melihat Nana dan Juna dari kejauhan, akhirnya dia memberanikan diri untuk
menemui Nana. Riyan duduk di samping Nana yang masih terisak oleh tangisnya.
“Neng..........., mau cerita?”. Tanya Riyan.
Nana segera menghapus air matanya walaupun masih menyisakan merah dikedua bola mata itu. Nana menoleh pada Riyan.
“Hai.... sejak kapan kamu disini hidung besar?”. Tanya Nana dengan sedikit tersenyum.
“Mau cerita atau................?”. Tanya Riyan kembali.
Nana terdiam seakan berpikir sambil menarik nafas dalam.................
“Kalau aku mau makan, boleh?”. Nana menggoda Riyan sambil melebarkan senyumnya.
“Siapa takut. Come on!”. Riyan berdiri dari duduknya dan siap melangkah kan kaki menuju pintu keluar.
Nana menarik tangan Riyan, seakan melarang Riyan untuk pergi. Riyan berhenti, dan menoleh pada Nana
yang masih duduk di sofa lobby. Riyan kembali duduk disamping Nana.
“Neng...., aku tahu kamu sedang ada masalah sama Juna”.
“Aku juga tahu Juna sangat menyayangi mu. Percayalah, semua akan baik-baik saja”. Riyan memberi
semangat pada Nana.
“Ibu Juna tidak suka dengan hubungan kami, karena aku tidak akan bisa menjadi istri yang dapat
melahirkan anak-anak Juna nanti”. Kata Nana.
“Dan ibunya ingin, Juna melanjutkan study nya di Jogja untuk ambil S2”. Lanjut Nana.
Riyan terus mendengarkan cerita Nana satu persatu sambil berpikir untuk terus memberi semangat pada Nana.
“Bagus dong S2, artinya pendidikan Juna makin tinggi dan karir Juna makin bagus. Nanti setelah
lulus, kalian kan bisa menikah”. Hibur Riyan.
“Tapi aku merasa, ibu Juna hanya ingin menjauhkan kami”. Bantah Nana
“Dari awal, ibu Juna tidak suka dengan aku bahkan setelah dia tahu kekurangan ku. Aku takut, pada
akhirnya Juna meninggalkan ku, Yan........”.
Riyan menghapus air mata Nana, hati Riyan ikut sakit melihat sahabatnya terus bersedih.
“Andai aku bisa peluk kamu Na...., akan aku berikan pelukan terbaik ku, untuk membuat kamu
merasa lebih nyaman dan tenang. Sungguh aku tidak pernah melihat mu sesedih ini”. Gumam Riyan dalam hati dan sambil terus menghapus air mata Nana.
“Aku harus apa Yan?”. Tanya Nana.
“Bersabar dan percaya pada Juna bahwa Juna akan selalu ada buat kamu”. Jawab Riyan
“Percaya pada kekuatan cinta kalian, bahwa cinta dapat megalahkan sebuah ego”.
“Dukung semua yang Juna lakukan demi masa depan kalian dan bersikaplah seperti dulu. Kasian Juna
dalam kebingungan”. Riyan terus menasehati sahabtanya itu.
“Pulang yuk....., istirahat. Besok pagi kamu harus datang di wisuda Juna. Dia sangat membutuhkan
mu, Na”.
Riyan berhasil membuat Nana sedikit lebih tenang dan mengantarnya pulang sampai terminal. Dalam
perjalanan menuju terminal, tiba-tiba Juna memarkit motor birunya didepan Nana dan Riyan.
“Neng..., pulang bareng kakak ya............?”. Ajak Juna
Kedatangan Juna membuat Nana terkejut...............
“Bukannya kakak sudah pulang lebih awal?”. Tanya Nana heran
“Aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri dalam keadaan begini”.
“Please.............”. Juna memohon pada Nana
Nana menoleh pada Riyan................. Riyan menganggukan kepalanya dan membiarkan mereka pulang bersama.
“Hati-hati..... jaga sahabat kecil ku”. Bisik Riyan pada Juna.
Riyan melihat mereka pergi meninggalkan dia sendiri di pinggir jalan, mata Riyn berkaca-kaca.
“Ya tuhan.........apakah aku suka pada Nana?”. Tanya Riyan pada dirinya sendiri.